Adelle

Adelle
Liburan 2



Hari sabtu cuaca sangat cerah, secerah wajah dan hati Adelle sekeluarga. Dua hari yang lalu Ayah dan Ibu tiba-tiba mengatakan kalau mereka akan berlibur. Tentu saja berita itu di sambut baik oleh Adelle terlebih sang adik. Setelah seminggu liburan hanya di rumah saja, akhirnya Ayah memutuskan untuk pergi ke sebuah tempat pemandian yang sedang tren. Kasihan kata Ayah melihat kedua anaknya hanya di rumah sementara teman-temannya pergi ke luar kota.


Sedari subuh Ibu sudah sibuk menyiapkan bekal yang akan mereka bawa selama di perjalanan. Aneka cemilan dan juga minuman. Adelle dan Lola sang adik menyiapkan pakaian yang akan mereka bawa. Mereka akan menginap, ini adalah pengalaman pertama bagi mereka sekeluarga. Biasanya mereka hanya pergi pagi dan malam sudah ada di rumah. Dan ayah sedang menyiapkan kendaraan yang akan mereka gunakan.


"Dek, bawa bajunya jangan banyak-banyak. Kita hanya nginep, bukan pindah." Adelle menggoda adiknya yang memasukkan beberapa pakaian ke dalam tas bawaanya.


"Aku bingung kak. Kita kan akan ke tempat pemandian, tapi juga akan ke pantai nantinya. Aku mau bawa pakaian yang mana yang sesuai untuk di kedua tempat itu." wajah Lola terlihat bingung.


"Bawa yang multi fungsi dek. Jadi bisa digunakan di tempat yang panas juga dingin. Jangan bawa yang tipis, tar kamu kedinginan atau malah hitam badanmu karena terkena paparan matahari."


Adelle melihat pakaian dihadapan adiknya, mengambil beberapa dan kemudian


"Nah yang ini aja, nyaman pasti digunakan, kamu juga bisa bergerak dengan leluasa." Adelle menyerahkan dua stel pakaian kepada si bungsu yang memang sedikit tomboy berbeda jauh dengan Adelle.


"Nak, udah siap semuanya?" Ibu datang menghampiri kedua putrinya.


"Sedikit lagi bu. Nih Lola kebanyakan bawa pakaiannya. Mau pindahan sepertinya."


"Udah koq bu. Kak Adel aja yang rese godain aku."


"Kalau udah siap, ayo buruan keluar. Ayah udah nungguin di depan." Ibu mengajak keduanya keluar kamar.


Adelle dan Lola membawa tas pakaiannya masing-masing dan kemudian menyusul Ibu.


"Topimu dek, jangan lupa." Adelle berteriak saat dilihatnya topi yang sering dipakai Lola masih menggantung di belakang pintu.


"Oh iya, untung kakak ingetin aku."


Di halaman depan Ibu dan Ayah memasukkan barang bawaan ke dalam mobil. Mobil itu adalah mobil kantor yang di pinjam Ayah. Beruntung bosnya baik hati sehingga tidak keberatan untuk meminjamkannya. Adelle dan Lola menyusul meletakkan bawaannya masing-masing. Tas yang berisi cemilan di letakkan pada bagian tengah supaya mudah ketika akan mengambilnya.


"Semua udah siap? Nggak ada yang ketinggalan?" tanya Ayah.


"Sudah, Yah" Jawab Adelle dan Lola hampir bersamaan.


"Oke, kita siap berangkat. Ayah kunci pintu dulu."


Ibu, Adelle dan Lola masuk ke dalam mobil. Tak lama Ayah menyusul dan mereka siap untuk berangkat.


"Sebelum berangkat jangan lupa berdoa ya anak-anak. Mohon perlindungan pada Allah supaya kita di lindungi selama perjalanan dan juga sampai dengan selamat" Ayah mengingatkan.


"Baik yah"


Kemudian mereka mulai meninggalkan halaman rumah. Ayah mengendarai mobil dengan hati-hati. Akhir pekan selalu ramai, apalagi ini musim liburan.


Suasana di tempat pemandian nampak ramai. Kerumunan manusia yang didominasi oleh keluarga-keluarga. Ayah mengajak anggota keluarganya menuju ke pondok tempat mereka akan menginap. Untung saja Ayah telah memesan via telpon sebelumnya, jika tidak, bisa jadi mereka tidak akan mendapatkan penginapan. Karena banyak sekali orang yang datang berkunjung ke sini.


Kunci pondok Cattlea sudah ada di tangan. Meskipun namanya pondok, namun tempatnya memadai untuk menginap. Ada ruang tamu kecil, dua kamar serta mini kitchen. Dari teras, mereka bisa menikmati pemandangan alam yang sangat menyejukkan mata. Lola meletakkan tas pakaiannya di lantai. Berbaring sejenak di kasur yang empuk dan kemudian menatap Adelle.


"Kak, kita langsung mandi aja ya."


"Sabar dek, kita harus menyesuaikan suhu tubuh kita dulu supaya nggak kaget."


"Tapi jangan kelamaan ya kak, aku udah nggak sabar lagi mau mandi."


"Iya, kita lihat-lihat keluar dulu yuk dek. Pemandangannya bagus banget, betah kakak liatinnya." Adelle mengajak Lola keluar kamar.


Di teras, Ayah dan Ibu sudah duduk dengan manisnya. Lengan Ayah merangkul bahu Ibu. Keduanya nampak asyik bercerita sambil melihat sekitar.


"Ayah sama Ibu koq mesra amat sih? Bikin kita iri aja."


"Iri kenapa? Sini duduk dekat Ayah, biar Ayah peluk juga."


Adelle dan Lola menghampiri kedua orang tua mereka. Lola tanpa malu-malu duduk menyelip di antara Ayah dan Ibu.


"Yah, aku mau mandi sekarang. Ayo kita ke sana." Lola berkata sambil merangkul leher Ayah, bergelayut manja.


"Kamu tuh dek udah besar, tapi koq masih kayak anak kecil gitu ke Ayah." Adelle mengingatkan adiknya.


"Kan memang aku masih kecil kak. Lagian ini kan sama Ayah sendiri bukan orang lain."


Ayah hanya tersenyum mendengar kedua anaknya saling berargumen.


"Udah, ayo kita siap-siap mandi. Ganti baju dulu dan jangan lupa bawa alat mandi dan handuk."


"Ibu, Ayah, ayo.. kita udah siap."


Mereka berjalan beriringan menuju tempat pemandian yang sudah ramai. Lola yang paling pertama menyemplungkan badannya ke air yang memang menggoda untuk didatangi. Rasa segar segera merambat seliruh tubuhnya. Wajahnya semakin nampak ceria.


Adelle mengikuti apa yang dilakukan adiknya. Dia tak mau terlalu jauh dari sang Ibu. Berada di tempat yang ramai seperti ini memang menyenangkan, namun dalam keadaan badan yang basah kuyup membuatnya merasa malu. Ini adalah salah satu aktivitas yang paling jarang dilakukannya di tempat umum, mandi bersama. Apalagi setelah dia menggunakan jilbab.


"Adelle, sini nak." Ayah memanggil namanya.


Adelle mendekati sang ayah yang masih sangat kuat meski umurnya sudah hampir lima puluh tahun.


"Ibu koq tahu-tahu udah sama Ayah sih, nggak ngajakin aku lagi." Adelle terheran saat melihat sang Ibu sudah berada di samping Ayah.


"Ibu takut Ayah didekatin sama cewek Del. Dari tadi Ibu lihat Ayah ngobrol sama perempuan." Ibu berkata sambil melirik Ayah.


"Ibu bucin ah, mana ada cewek yang dekatin Ayah sih bu. Bilang aja Ibu nggak mau jauh-jauh dari Ayah."


Setelah puas mandi, mereka pun berganti pakaian dan menuju ke tempat makan. Berendam dalam air selama hampir satu jam membuat perut terasa lapar. Apalagi Lola yang memang terus bergerak ke mana-mana.


Mereka memilih untuk duduk lesehan. Ada beberapa keluarga lain yang juga sedang menikmati makanan. Menu makanan yang tersedia adalah menu sederhana namun menggugah selera. Nasi panas, ayam goreng, ikan bakar, sayur asem, sambel dan tak ketinggalan lalapan. Semuanya tersaji di depan mata.


Tak perlu waktu lama untuk menghabiskan semua menu makan siang mereka. Air jeruk hangat menghantarkan rasa nikmat di tenggorokan. Setelah istirahat sejenak, mereka memutuskan untuk kembali ke pondok.


"Lho, mas Gun di sini juga?" Ayah bertanya pada seorang lelaki yang tak jauh beda usianya.


"Iya. Kamu sama siapa Hen? Bawa keluarga ya?" sambung lelaki yang di panggil mas Gun oleh Ayah.


"Iya mas, kebetulan ini bawa istri dan anak-anak ke sini. Ma, kenalin ini mas Gun, senior ayah dulu di kampus." Ayah memperkenalkan sahabatnya kepada Ibu dan anak-anaknya. Mereka kemudian bersalaman.


"Mas sama siapa?"


"Itu istri dan anak-anakku." tunjuknya pada seorang wanita cantik yang di ikuti oleh seorang anak lelaki dan perempuan.


"Ma, mas dan adek, ini teman papa dulu di kampus. Dan ini anak-anaknya." wajah gantengnya terlihat sumbringah. Mereka semua kemudian bersalaman.


"Lho ini kan Yudi temennya Adelle." Ibu terlihat kaget.


"Sudah saling kenal sama anak sulungku?" Om Gun bertanya keheranan.


"Yudi ini sering ke rumah. Dia teman putri kami, Adelle." ayah menjelaskan.


"Bener mas? Koq kamu ndak pernah cerita?"


"Mana aku tahu kalau papa dan om Hendra ini temenan. Aku sama Adelle temen sekelas pa. Dia ini salah satu sahabatku." Yudi berbicara sambil menatap Adelle. Sementara yang disebut hanya tersenyum.


"Iya om, kita sahabatan dari kelas sepuluh. Yudi ketua kelas kami."


"Nggak nyangka kita bisa ketemuan di sini ya. Ternyata kita tinggal satu kota tapi nggak pernah ketemu." om Gun terlihat sangat excited. Nanti kapan-kapan main ke rumah ya. Kita makan-makan sekeluarga, biar bisa makin akrab."


Adelle melihat pada lelaki yang dia yakin dari lelaki itulah sifat baik Yudi menurun. Lelaki yang sama tampannya dengan sang anak. Betapa lelaki yang Adelle tahu pasti punya kedudukan tinggi di salah satu lembaga pemerintahan namun tidak menampakkan kesombongan sama sekali.


Sementara wanita yang berada di sampingnya juga terlihat selalu tersenyum. Keramahan juga nampak dari raut wajahnya. Mata cantiknya sama persis seperti mata sang putra. Dan sang gadis kecil yang selalu memegang lengan sang mama nampak menuruni wajah cantiknya.


"Kalian nginep di mana?" tanya om Gun lagi.


"Pondok Cattlea mas. Yang di sebelah timur." ayah menunjuk.


"Kita di ujung sana. Setelah ini kalian rencananya mau ke mana?" tanyanya lagi.


"Rencananya kita akan ke pantai mas. Anak-anak kepengen main air laut katanya."


"Ya udah, kita bareng aja nanti. Supaya lebih rame dan seru. Bagaimana?"


Semua menyetujui ide yang dilontarkan oleh om Gun, terlebih Yudi. Itu artinya mereka bisa melakukan banyak hal bersama. Itu pasti akan lebih mengasyikan dari pada hanya dengan sang adik.


Setelahnya, mereka segera bergerak menuju pantai. Hanya butuh waktu lima belas menit ke sana. Para orang tua duduk menikmati angin laut, sementara anak-anak langsung menuju pantai dan bermain bersama.


Adelle bersyukur sikap Yudi sama sekali tidak berubah padanya setelah apa yang diucapkannya di taman kota. Sehingga dirinya juga tidak merasa rikuh sama sekali. Yudi mengajak Adelle berjalan menyusuri pantai dan beberapa kali keduanya mengambil foto bersama. Sesekali Yudi terlihat menyiram air laut ke arah Adelle yang tentu saja membuat Adelle ingin melakukan hal yang sama.


Sementara Lola dan Cyntia, adik Yudi juga bermain di pantai. Keduanya nampak akrab walau baru pertama kali bertemu. Sebenarnya Yudi ingin mengajak Adelle untuk menaiki banana boat atau kanoo namun tentu saja Adelle menolak karena dia sama sekali tidak membawa pakaian ganti.


Langit sore sudah mulai menampakkan warna merah saat mereka meninggalkan pantai dan kembali ke penginapan. Kedua keluarga itu berjanji akan makan malam bersama dan kemudian lanjut akan mengunjungi salah seorang sahabat lama para papa yang rumahnya tidak jauh dari tempat mereka menginap.