Adelle

Adelle
Shella



Menikmati secangkir teh hangat dan risole serta alunan murotal adalah kenikmatan hakiki yang di sukai Adelle. Baru setengah jam yang lalu dia menyelesaikan misi belajar untuk ulangan akhir semester. Besok hanya ada satu mata pelajaran yang diujikan. Jadi tidak terlalu menyita waktu belajar. Apalagi dia memang selalu rajin mengulang pelajaran yang telah diberikan di sekolah.


Diseruputnya teh hangat yang ada di atas meja, kemudian di ambilnya sebuah risole dan menikmati setiap kunyahan. Hmmm alhamdulillah, kue buatan ibu memang selalu enak. Belum pernah Adelle merasa kecewa dengan produk buatan ibu. Makanya tak heran jika banyak yang memesan kue ibu. Tak jarang ibu harus meminta bantuan bulek Atun jika ibu tak mampu mengerjakannya sendiri.


Adelle meraih ponsel yang berada di nakas. Dilihatnya jam yang ada, pukul delapan malam. Masih terlalu awal jika ia memutuskan untuk tidur. Senyum terbit di bibirnya saat melihat notifikasi yang ada. Tiga panggilan tak terjawab dari Shella dan beberapa chat room. Adelle memang memasang mode silent saat belajar tadi sehingga dia tidak menyadari jika ada panggilan ataupun pesan yang masuk.


Adelle membuka applikasi percakapan berwarna hijau. Di bukanya room chat dengan nama Shella cantik, nama yang yang dibuat sendiri oleh si pemilik nama.


"Del,...."


"Adelle sayang...."


"Adelle, ada di mana sih kamu? Jawab dong Del"


Tiga pesan masuk dari Shella setelah tiga panggilannya tak terjawab olehnya. Baru saja Adelle akan mengetik balasan, sebuah panggilan masuk dengan nama "Mas Ferdi" tampil pada layar hapenya. Tumben pikir Adelle.


"Assalamualaikum."


"Waalaikum salam. Del, maaf ya mas gangguin kamu" Ferdi membuka pembicaraan.


"Nggak ganggu koq mas. Adelle udah kelar belajarnya."


"Syukur deh kalo aku nggak gangguin kamu."


"Ada apa mas? Om dan tante sehat-sehat aja kan?" tanya Adelle.


"Mama sama papa sehat Del, alhamdulillah."


"Syukur deh. Mas Ferdi ada perlu sama Adelle?"


"Wah, jadi ga enak nih di tembak sama Adelle." Ferdi menjawab dengan sungkan.


"Gini Del, aku ade sedikt keperluan sama kamu. Hhhm gemana ya, aku bingung mau bilangnya."


"Apa sih mas, ngomong aja. Siapa tahu aku bisa bantuin."


"Gini Del. Masih ingatkan waktu nikahan kak Aida kita ketemu trus kamu ngajakin temen kamu yang cantik untuk foto sama kita-kita."


"Iya, inget mas. Trus..."


"Nah, aku to the point aja ya. Jadi gini Del. Sebenarnya, sejak lihat teman kamu hari itu aku tuh langsung merasa tertarik sama dia. Ya, aku akuin dia cantik, dan wajahnya nggak bosan untuk diliatin lagi dan lagi."


Adelle hanya diam tanpa berusaha untuk memotong atau memberi pendapat.


"Setelah sesi foto itu Del, aku sempet ngajakin dia kenalan. Tadinya aku masih mau ngobrol lama sama dia, tapi keburu dia diajakin pulang sama mama papanya. Nah, gitu Del"


"Trus masalahnya apa mas?" Tanya Adelle setelah Ferdi tak melanjutkan penjelasannya.


"Masalahnya, mas mu ini bingung harus bagaimana. Satu-satunya cara adalah lewat kamu. Kamu kan sahabatnya. Kamu pasti tau bagaimana dia yang sebenarnya."


"Maksudnya bagaimana sih? Aku jadi bingung." keluh Adelle. "Apa mas Ferdi udah pernah kontak sama Shella?" teringat akan Shella yang meminta no telpon mas Ferdi setelah resepsi pernikahan. Apakah Shella benar-benar menghubungi Ferdi?


"Udah, kita udah kontakan. Jadi setelah itu, kan dia ada posting foto kita itu dengan tag akun kamu dan kak Aida. Aku kan lihat, setelah itu aku kirim DM ke dia."


"Oh gitu" gumam Adelle. Jadi bukan Shella yang memulai menghubungi mas Ferdi.


"Iya Del. Setelah itu lanjut deh aku minta nomor kontaknya dan kita ngobrol deh."


"So...?" tanya Adelle lagi.


"Menurut kamu apa ada kemungkinan aku bisa jadian sama Shella? Aku yakin dengan wajah yang secantik itu dia pasti punya banyak penggemar di mana-mana. Apalagi aku yakin dia anak orang kaya Del. Aku ga mau perasaanku padanya berkembang tapi pada akhirnya aku kecewa. Kamu ngerti kan Del maksud aku."


Adelle diam untuk sesaat. Dia tau Shella sudah punya pacar, namun dia juga tahu jika Shella juga menyukai mas Ferdi seperti pengakuannya waktu itu. Tak mungkin dia mengatakan yang sesungguhnya bagaimana perasaan Shella. Dia tak ingin ikut campur. Biarlah Shella sendiri yang memutuskan apakah akan melanjutkan hubungannya dengan Joy atau memilih untuk bersama mas Ferdi.


"Aku nggak bisa jawab apakah kemungkinan itu ada apa nggak mas. Semua tergantung Shella. Dia emang banyak penggemar, tapi bukan tipe Shella untuk gampang tebar pesona. Dia malah seolah nggak nyadar jika punya pesona itu. Mas Ferdi lanjutin aja komunikasinya. Masih jauh juga mas mau ngomongin jodoh, secara kita masih belasan umurnya."


"Jadi kamu dukung aku untuk lanjut Del?" tanya Ferdi lagi.


"Ga masalah kan mas kalau sekedar komunikasi? Asal jangan yang aneh-aneh aja."


"Iya lah Del, memangnya aku mau aneh-aneh gemana coba. Secara kita juga berjauhan gini. Makasih ya Del, lega aku."


"Sama-sama mas."


Pembicaraan mereka berakhir setelah mereka bercerita tentang kegiatan Ferdi di sekolahnya.


_______


Adelle yang sudah sangat mengenal bagaimana sifat sahabatnya itu hanya tersenyum tanpa membalas sedikitpun kemarahan Shella. Setelah obrolan yang panjang, Shella meminta Adelle hari ini untuk ikut dengannya ke sekolah dengan menggunakan mobil. Alasannya, pulang sekolah mereka akan pergi ke suatu tempat yang masih dirahasiakan.


Suara deruman mobil yang memasuki halaman rumah membuyarkan lamunan Adelle. Bergegas dia menuju ke teras setelah berpamitan pada sang ibu.


"Yuk, berangkat." ajak Adelle.


Shella mengendarai mobil perlahan. Pada jam-jam sibuk seperti ini jalanan pasti sangat padat. Jika tidak berhati-hati maka bisa terjadi kecelakaan. Pukul tujuh kurang sepuluh menit keduanya tiba di sekolah. Beriringan kedua sahabat itu menuju ruang ulangannya.


"Del, Shella, jangan lupa setelah usai ulangan nanti kita kumpul di ruang kekas kita ya. Jangan langsung kabur." Yudi sang ketua kelas mengingatkan. Dia menatap Adelle dan Shella bergantian. Shella memberi tanda oke dengan jari-jarinya. Sementara Adelle hanya mengangguk. Sempat matanya melihat wajah ketua kelas yang tanpa disadarinya telah mengisi hatinya, namun selalu pula dipendam dalam-dalam. Ah, kenapa dia begitu menawan ya Allah, batin Adelle. Namun tak lama dia mengusap wajahnya seraya mengucap astagfirullah.....


Sesaat kemudian bel tanda masuk berbunyi. Semua menuju tempat duduknya masing-masing. Wajah mereka nampak penuh semangat, ulangan terakhir seperti membawa tanda bahwa beban belajar yang selama ini membebani mereka akan segera berlalu dan akan berganti dengan class meeting yang tentu saja sangat ditunggu-tunggu.


Pengawas memasuki ruangan, suasana yang tadi terdengar sedikit riuh perlahan berubah menjadi sunyi. Satu persatu mereka menerima soal yang harus dikerjakan. Tiap mata mulai membaca satu persatu soal dan mulai menjawabnya. Tak terdengar suara yang tadi sibuk membicarakan tentang rencana yang akan mereka lakukan sepulang sekolah. Semua hanyut dalam pikirannya masing-masing.


Adelle mengucap syukur karena sebagian besar apa yang dipelajarinya tadi malam bisa membantunya untuk menjawab soal-soal ulangan. Di baca ulang soal dan jawaban yang telah selesai dikerjakannya. Dia harus memastikan jawabannya tidak salah sebelum diserahkan kepada pengawas. Peraturan sekolah mewajibkan mereka meninggalkan ruangan setelah bel tanda selesai berbunyi. Jadi walaupun sudah selesai, para siswa tidak diijinkan untuk meninggalkan ruangan.


________


Suasana di kantin masih ramai. Pengunjungnya rata-rata adalah siswa kelas sebelas dan dua belas. Mereka sudah tidak ada mata pelajaran yang diulangan lagi. Sementara siswa kelas sepuluh yang memang jumlah mata pelajarannya lebih banyak masih harus menyelesaikan satu lagi mata pelajaran.


Adelle dan Shella sedang menikmati semangkok bakso dan teh es. Rasa pedas dan asam bercampur dengan manis kecap. Rasanya sungguh menggoda lidah, apalagi saat sedang lapar akibat memikirkan soal ulangan.


"Makan saat lapar memang enak ya Del."


"Memangnya kamu ga sempat sarapan tadi?" tanya Adelle.


"Sarapan roti doang. Lagian kebanyakan mikir menguras otak, jadinya lapar deh." jawab Shella asal.


"Kamu tuh aneh. Mana ada hukum yang mengatakan capek mikir jadi lapar."


"Ada dong. Hukum Shella hahahahaha" Shella terbahak menjawab pertanyaan Adelle. Tak urung Adelle juga ikut tertawa mendengar jawaban yang seakan tak perlu dipikirkan oleh Shella.


"Udah jam sepuluh. Yuk ke kelas, anak-anak udah pada nungguin. Tar diomelin Yudi loh kalau kita telat. Kamu tau kan Yudi orangnya tepat waktu."


"Hayuuuk"


Keduanya meninggalkan kantin menuju kelas mereka. Tadi malam lewat percakapan grup kelas, Yudi mengajak warga kelas untuk rapat membahas lomba dalam rangka class meeting yang akan di mulai hari senin yang akan datang.


Kelas sudah hampir penuh saat mereka tiba. Sang pimpinan kelas maju dan membuka percakapan.


"Baik kawan-kawan. Kita mulai aja yah. Nggak perlu formal, kita hanya akan membahas siapa yang akan ikut berpartisipasi mewakili kelas kita dalam class meeting nanti. Ada beberapa yang udah menyatakan keinginannya untuk ikut, seperti evelyn untuk fashion show. Yang cowok siapa nih yang wakilin? Ada saran?"


"Menurutku Rahmat oke untuk fashion show. Body kamu keren, tinggi, good looking dan pinter bahasa Inggris. Itu kan syarat yang bagus untuk jadi model. Bagaimana Mat" Eka buka suara.


Rahmat yang ditunjuk dengan tiba-tiba oleh Eka terkejut "Koq aku sih? Cari yang lain deh. Aku nggak punya pengalaman."


"Nggak perlu yang berpengalaman untuk ikut kegiatan ini. Hanya skala sekolah kita aja. Nggak penting kalah atau menang. Yang terpenting adalah kita berpartisipasi." suara tegas Yudi terdengar.


"Mau ya Mat?" tanya Eka lagi.


"Oke deh, tapi tar ajarin aku yah."


"Iya, tar kita latihan bareng deh Mat" Evelyn memberikan saran.


"Sip dah"


"Oke kita lanjut ke basket. Kira-kira yang main siapa?" tanya Yudi lagi.


"Tim biasa lah udah solid. Yudi, Tri, Septian dan Aditya."


"Jika ada yang mau main, aku bisa skip teman-teman." Yudi berkata yang langsung di sambut dengan huuuui berjamaah dari yang lain.


"Kamu ga main ya mana mungkin kelas kita bisa menang. Semua juga tahu kamu tuh ketua tim basket sekolah." kali ini Shella yang buka suara.


"Nah itu dia Shel. Aku udah terlalu sering ikut pertandingan. Siapa tahu ada yang berminat ikut basket. Gantian gitu maksudku." sambung Yudi namun tak seorang pun ada yang mengajukan diri untuk menggantikan Yudi.


"Udah, tim basket oke. Selanjutnya voli mix. Roy, kamu lebih tau siapa-siapa yang bisa diandalkan untuk voli."


"Tim voli mix udah ku pilih. Aku. Bagas, Deki, Dave. Ceweknya Adelle, Sinta, Beta dan Hoky."


Adelle sebenarnya ingin mengatakan keberatannya untuk bergabung dengan tim voli namun dia yakin alasannya tidak akan diterima oleh kawan-kawan sekelasnya. Maka solusi terbaik adalah mengiyakan saja.


Diskusi tentang lomba dan pertandingan masih berlanjut hingga pukul sebelas. Setelah semua beres, mereka pun membubarkan diri.