Adelle

Adelle
Pengalaman Pertama



Kejadian di rumah keluarga pak Hendra yang berakhir dengan terungkapnya polisi gadungan sewaan bu Darno membawa dampak pada hubungan keluarga bu Darno kepada keluarga pak Hendra.


Sejak hari itu, bu Darno seperti meniupkan genderang perang. Setiap kali berpapasan dengan anggota keluarga pak Hendra, maka ia akan segera memalingkan wajahnya. Atau wanita tambun itu akan menyindir mereka sebagai orang yang tak tahu malu.


Dan ternyata bukan hanya bu Darno saja yang bertingkah seperti itu. Pak Darno dan Siti anak semata wayangnya juga melakukaan hal yang sama.


"Huhhh....dasar ga tahu malu, miskin aja belagu." sindir Siti pada Adelle suatu hari.


Adelle hanya diam tak berusaha untuk membalas perkataan Siti.


Jujur Adelle sama sekali tidak tahu apa yang membuat keluarga bu Darno membenci mereka. Padahal mereka jarang berinteraksi bahkan boleh di bilang tidak pernah.


"Bu, tadi aku main di rumah Bela. Trus ada Siti lewat bareng ibunya. Mereka ngata-ngatain aku bu. Aku di bilang manusia nggak bertanggung jawab, setelah merusak nggak mau bertanggung jawab. Di bilang perusak, pokoknya aku dikata-katain yang jelek-jelek."


Lola mengadu pada sang ibu saat keduanya sedang duduk di ruang keluarga. Wajahnya menampakkan kesedihan.


Ibu merangkul bahu anak bontotnya. Memeluk, memberi kekuatan.


"Sabar ya nak, jangan di ambil hati apa yang mereka katakan. Lola bukan orang yang seperti mereka katakan. Lola tahu kan kejadian yang sebenarnya seperti apa?" nasehat ibu.


"Iya, bu. Tapi aku malu dikata-katain seperti itu. Kawan-kawanku malah ada yang menjauhiku, nggak mau lagi berteman dengan aku."


"Lola, dengar ya nak. Kita tidak perlu menjelaskan kepada orang siapa diri kita. Karena itu nggak akan ada gunanya. Mereka yang jahat nggak akan mempercayainya."


Ibu diam sesaat, menatap sang putri kemudian melanjutkan lagi.


"Kita juga nggak perlu menjelaskan kepada orang-orang bagaimana keluarga bu Darno yang sebenarnya. Biarkan mereka sendiri yang akan mengetahuinya. Lola tetaplah jadi Lola yang baik, yang hormat sama orang yang lebih tua dan sayang pada sesama."


"Tapi bu....."


"Nak, jangan pernah berniat untuk membalas apa yang telah mereka lakukan pada kita. Biar tangan Allah saja yang bekerja. Allah tidak tidur nak. Dia Maha Mengetahui apa yang terjadi pada kita."


Lola mendengarkan nasehat ibunya, dalam hatinya membenarkan semua yang Ibu sampaikan.


Sementara Adelle yang berada di dalam kamar ikut mendengarkan percakapan antara ibu dan adiknya. Bukan hanya Lola, dirinya pun mengalami hal yang sama di sekolah. Siti menghasut dan menyindir dirinya dengan kata-kata yang sama seperti yang dialami Lola sang adik.


_____


Keesokan harinya....


Bel istirahat baru saja berbunyi. Pak Rendra, wali kelas yang baik hati itu baru saja meninggalkan ruang kelas.


Adelle memasukkan buku-bukunya ke dalam tas.


"Yuk ke kantin, Del. Laper banget aku. Belajar lama-lama menguras energi,"


Adelle tersenyum mendengar gurauan Shella.


"Kamu selalu bilang gitu, belajar menguras energi. Seolah-olah kamu itu berfikir keras saat belajar, padahal.....aauuuu" Adelle tak melanjutkan kalimatnya karena lengannya sudah mendapat serangan dari jari-jari Shella.


"Ayo cepetan, Del." Shella menarik lengan Adelle.


"Adelle, Shella, kalian mau ke mana?" tanya Yudi yang sedang ngobrol dengan Tri.


"Ke kantin. Kalian nggak lapar?" tanya Shella.


"Bareng yuk, aku juga lapar. Ayo Tri, kita isi perut dulu supaya kuat menghadapi pelajaran selanjutnya." ajak Yudi pada Tri.


Bersama mereka menuju kantin sekolah. Obrolan diselingi canda dan tawa mengiringi langkah mereka. Koridor sekolah tak begitu ramai karena sebagian besar penghuni sekolah sedang mengisi perut.


Kantin sekolah nampak ramai. Sebagian siswa sudah ada yang menikmati makanannya, sementara sebagian yang lain masih memilih memilih menu makanan mereka.


Adelle memesan siomay dan teh botol. Sementara Shella lebih memilih bakso. Setelah mendapatkan pesanan mereka mencari kursi kosong.


Lambaian tangan Tri melegakan keduanya. Saat istirahat seperti ini akan sulit mencari tempat duduk kosong. Hampir semua kursi telah terisi.


"Thank's ya udah nyariin kursi buat kita." Shella membuka suara ketika keduanya tiba.


Shella mengambil tempat duduk dihadapan Tri dan Adelle mau tak mau duduk di depan Yudi. Mereka kemudian makan dengan tenang.


Ketika Adelle akan mengambil kecap yang ada di atas meja, di saat yang sama Yudi juga berniat mengambil kecap. Sehingga tangan keduanya bersentuhan. Adelle melihat ke arah Yudi, begitu juga sebaliknya. Hal itu tentu saja mengundang olok-olokan dari Shella dan Tri.


"Cie cie cie....pegangan tangan nih..."


"Kalau emang udah ada chemistry tuh emang nggak bisa dibohongi ya Shel. Saling lirik, senyum-senyum dan sekarang pegangan tangan."


Adelle merasa wajahnya memerah, begitu juga Yudi. Sungguh kejadian tadi bukan di sengaja. Namun tak urung, hati keduanya merasa berdebar.


"Udah dong Shel, ga sengaja juga." Adelle menyikut lengan Shella.


Mereka kembali menghabiskan makanan yang ada dihadapan mereka.


Beberapa saat kemudian mereka pun beranjak meninggalkan kantin, namun baru saja akan keluar Shella meminta Adelle untuk menunggu sebab dia akan membeli tissu.


"Del, aku lupa beli tisu, kamu duluan aja bareng Yudi dan Tri. Aku nyusul nanti." Shella berlalu menuju kantin yang menjual tisu.


Tri sengaja berjalan lambat-lambat dan membiarkan Adelle dan Yudi jalan berdampingan. Sesekali tanpa sengaja lengan keduanya bersentuhan. Yudi merasa sangat bahagia, jarang sekali mereka bisa jalan berdampingan seperti ini. Andai boleh, ia ingin setiap hari bisa berjalan berdua dengan gadis yang dicintainya. Ia ingin menggenggam tangannya sepanjang jalan menuju kelas, dan mengantarkannya pulang.


Sementara Adelle menunduk sesaat, hatinya juga berdegub lebih kencang dari biasanya. Ia merasakan hadirnya rasa nyaman saat dekat dengan Yudi, namun ia tak ingin rasa itu berlama-lama berdiam di hatinya.


Adelle mengangkat wajahnya saat mendengar suara yang sudah sangat dikenalnya.


"Kalian tahu ga sih, di sekolah kita ini ada lho anak orang miskin yang gaya banget. Maunya temanan sama anak orang kaya, supaya apa? Supaya disangka anak orang kaya juga!" Siti mencibir sambil melirik Adelle yang terdiam mendengar celotehnnya.


"Gayanya sok alim, pakai jilbab besar, baju longgar, tahu-tahunya sama aja kayak yang buka-bukaan." Adelle menatap tajam ke arah Siti. Hatinya mulai panas. Sementara dua orang teman Siti ikut menunjuk dengan wajah jutek.


Sementara beberapa orang yang berjalan di sekitar mereka berhenti mendengar suara Siti yang memang sengaja dikeraskan.


Yudi menatap Adelle, dia menyadari perubahan pada wajah sang dara. Saat melihat Adelle mulai tak nyaman dengan kalimat demi kalimat yang diucapkan oleh Siti, disentuhnya perlahan lengan yang ditutupi lengan baju itu. Dia ingin Adelle merasakan bahwa dia ada disisinya.


"Tuh lihat, ngakunya nggak mau pacaran tapi di sekolah diam-diam menjalin hubungan dengan ketua kelas. Dan apa kalian tahu? Di rumah dia juga kegatelan dengan mahasiswa yang udah mau kelar kuliahnya. Jahatnya lagi, dia sengaja menghasut lelaki itu sehingga mas Ikhsan menjauhi cewek-cewek." Adelle menggeleng-gelengkan kepalanya.


Senyum kemenangan terukir di bibir Siti. Dia merasa sudah menang selangkah karena Adelle tak memberikan respon atas apa yang dikatakannya.


Gerombolan siswa mulai berbisik- bisik.


"Dan beberapa hari yang lalu, adiknya merusak motor yang baru di beli sama bapakku. Bukannya mengganti rugi kerusakan, eh malah bapaknya nyalahin keluargaku. Dasar keluarga toxic."


Adelle semakin tersulut kemarahannya. Betapa kuat pun dia berusaha menahan, namun kata-kata yang terucap dari bibir Siti sudah sangat keterlaluan. Apa lagi sudah membawa-bawa adik dan ayahnya.


"Udah puas kamu? Atau masih ada yang mau disampaikan?" Adelle buka suara.


"Kamu sadar nggak apa yang kamu ucapkan itu? Aku nggak mau kamu malu, jadi sebaiknya kamu pergi deh." lanjut Adelle lagi.


"Tika, kamu bawa deh temanmu ini pergi. Aku nggak mau berantem." Adelle berkata pada salah seorang teman Siti.


"Berani kamu ya? Memang dasar enggak tahu malu!!!" Siti maju selangkah.


"Memang benarkan apa yang aku bilang tadi. Kalian sekeluarga tuh memang jahat."


"Siti!!" teriak Adelle.


"Sabar Del, jangan terpancing sama ucapannya." Yudi menarik tangan Adelle yang melangkah maju selangkah lagi.


"Ada apa ini? Kenapa pada ramai?" Shella muncul. Dilihatnya wajah Adelle yang memerah menahan marah. Lengannya masih digenggam Yudi. Sementara di depannya Siti nampak cengar-cengir.


"Ini kenapa si Siti? Mau ngelanjutin yang kemarin lagi Del?" tanya Shella pada Adelle yang hanya di jawab dengan aggukan. Sementara Siti tampak mulai tak nyaman.


"Kamu mau nyalahin Adelle dan keluarganya lagi kayak ibu kamu? Mau malakin lagi? Nggak malu apa? Kamu yang bawa kendaraan, kamu yang nabrak, kamu nggak parah malah adiknya Adelle yang harus opname. Apa kalian ada datang menjenguk? Ada menyatakan empati? Enggak! Yang ada malah bawa polisi gadungan untuk mencari keuntungan sendiri."


Siti makin salah tingkah. Begitu juga kedua temannya yang tadi begitu sombong. Sebenarnya Siti ingin segera pergi sebelum Shella memongkar kejadian kemarin, tapi gengsinya mengalahkan rasa malunya.


"Kamu jangan ikut campur, ya. Ini nggak ada hubungannya sama kamu." Siti menghadap ke arah Shella. Dagunya terangkat, kedua tangannya bertolak pinggang.


"Eh, bener-bener nih anak keturunan emaknya. Ga tahu malu. Udah salah malah nyolot." Shella ikut tersulut emosinya.


"Udah Shel, jangan di laden. Orang kayak dia nggak bakalan mau mengalah walau tahu dirinya salah."


"Kalian ini beraninya keroyokan" ucap Siti.


"Ayo Del, Shella, kita masuk kelas aja. Nggak ada faedah melayani orang seperti dia. Mending kita kabur." Yudi buka suara.


"Hey Yudi. Kamu tuh ya, nggak sadar kalau kamu itu hanya dipermainkan oleh Adelle. Dia itu di rumah juga ada hubungan dengan Mas Ikhsan. Wajahnya aja polos, tapi hatinya jahat." Siti makin menjadi.


Baru saja akan melanjutkan kalimatnya, tiba-tiba...


"Ada apa ini? Kenapa ramai-ramai di sini?" bu Endang datang. Matanya meneliti satu persatu siswa yang berkerumun mengharapkan penjelasan atas apa yang baru saja terjadi.


"Yudi, bisa kamu jelaskan ada apa?" Mata tajam bu Endang mengarah pada Yudi.


Yudi diam, dia tak tahu harus menjawab apa.


"Siapa yang mau menjelaskan? jangan diam!" Nada suara bu Endang meninggi saat tak satupun yang menjawab.


Adelle tertunduk, malu karena harus berada pada keadaan ini.


Sementara Yudi dan Shella merasa serba salah. Shella menatap Siti yang tak menampakkan rasa salah sama sekali.


"Oke, kalau kalian tidak ada yang mau menjelaskan. Sekarang kalian pergi ke ruangan BP/BK. Temui bu Siti, kita selesaikan semuanya di sana."


Adelle menarik nafas dalam. Ini pengalaman pertamanya harus berhadapan dengan salah satu guru yang menjadi panutannya karena melakukan kesalahan. Sungguh memalukan.


"Adelle, Siti, ayo ikut ibu ke ruang BP" bu Endang beranjak meninggalkan koridor yang menjadi lokasi pertengkaran mereka.


"Saya juga harus ikut bu." Shella menawarkan diri.


"Saya saksi mata yang paling tahu duduk permasalahan yang terjadi."


"Oke, kamu ikut. Yang lain masuk ke kelas, itu bel tanda masuk udah berbunyi."


Adelle dan Shella jalan beriringan mengikuti langkah bu Endang. Sementara Siti berjalan di belakang mereka.


Pikiran Adelle melayang sesaat. Ya Allah, mengapa ini harus terjadi di sekolah. Malu sekali rasanya bertengkar dan ditonton banyak orang. Bagaiman jika ayah atau ibu harus dipanggil ke sekolah karena kejadian hari ini? Mereka pasti akan kecewa....


Adelle menarik nafas kemudian menghembuskan perlahan.


Ayah, ibu, maafkan Adelle katanya dalam hati. Di langkahkannya kaki ke dalam ruangan yang selama ini didatangi ketika akan berdiskusi tentang sesuatu.


Namun hari ini...