
Sujut terakhir Adelle sedikit lebih lama dari biasanya. Dilantunkan syukur yang tak terhingga kepada Yang Maha Pemberi atas nikmat yang telah diberikan padanya hari ini. Begitu syahdu dan khusuk, Alhamdulillah.
Setelah salam tak henti-hentinya ucap syukur melantun dari bibir tipis berwarna merah muda itu. Baginya, bisa lulus masuk perguruan tinggi negeri tanpa mengikuti tes adalah merupakan suatu karunia yang amat besar. Di saat yang lain masih harus berjuang untuk mendapatkan 1 kursi di perguruan tinggi negeri, dia bisa melenggang dengan mudahnya.
Beberapa saat kemudian Adelle keluar dari kamar dan menemui sang Ibu yang sedang beristirahat di kamar. Setelah mengetuk pintu dan mendengar suara sang ibu yang menyuruhnya untuk masuk, Adelle melangkah menghampiri wanita yang telah melahirkannya serta memeluk dan menyampaikan berita bahagia yang baru saja diterimanya.
"Bu, Alhamdulillah aku lulus SNMPTN bu. Aku diterima di perguruan tinggi negeri." mata Adelle berkaca-kaca saat menyampaikan hasil pengumuman.
"Alhamdulillah, nak. Ibu bahagia sekali, terima kasih karena telah berjuang keras untuk ini." Ibu memeluk putrinya erat. Air mata bahagia mengalir dari kedua mata yang sudah mulai nampak keriput itu.
"Aku yang harus berterima kasih karena ibu dan ayah telah mendidik dan mengantarkan aku sampai ke jenjang ini bu." Adelle mengusap matanya.
"Tanpa kasih sayang ayah dan ibu, aku nggak bakalan bisa lulus bu." kedua ibu dan anak itu semakin erat berpelukan.
"Kamu lulus di mana nak?" tanya ibu lagi.
"Aku lulus di ekonomi internasional bu. Maaf aku nggak di terima di fakultas keguruan." Adelle menatap sang ibu dengan rasa penyesalan. Ia tahu, ibunyalah yang menginginkan dirinya menjadi guru sementara ayah menyerahkan pilihan pada Adelle.
"Nak, kita boleh berencana, namun Allah lah yang menentukan mana yang terbaik bagimu. Kalau kamu lulusnya di ekonomi itu artinya itu adalah yang terbaik untukmu. Nggak ada yang bisa merubahnya."
"Iya, bu." Adelle bergelayut manja di pelukan sang bunda.
"Ayah sudah tahu hasil pengumuman ini?" tanya ibu yang dijawab dengan gelengan oleh Adelle.
"Ibu orang pertama yang aku beritahu."
"Kalau gitu, sekarang kamu kasi tahu ayah. Jangan sampai ayah belakangan tahu hasil ini, Del."
"Iya, aku mau telpon ayah dulu ya, bu." Adelle keluar setelah melihat ibu mengangguk.
"Mungkin kamu kirim pesan aja, siapa tahu sekarang ayah sedang sibuk. Tahutnya malah menggangu jam kerjanya." ibu memberi saran. Adelle menyetujui perkataan ibu, saat ini bukan jam istirahat jadi ayah pasti masih sibuk di kantor.
Adelle mengambil ponsel yang tadi diletakkan di atas meja belajar setelah ia melihat hasil pengumuman. Dibukanya aplikasi berwarna hijau untuk mengirim pesan. Dilihatnya ada beberapa pesan yang belum dibacanya, namun diabaikan saja. Prioritasnya sekarang adalah pemberitahu ayah hasil pengumuman SNMPTN.
Diketiknya pesan untuk sang ayah tercinta,
"Assalamualaikum.
Ayah, Alhamdulillah Adelle keterima di perguruan tinggi."
Kemudian di tekannya tombol kirim. Ayah terlihat sedang online. Centang dua, pesan telah di terima ayah. Tak lama kemudian centang dua itu berubah warna menjadi biru.
Adelle baru saja akan mengetik pesan baru saat panggilan dari ayah muncul di layar.
"Assalamualaikum, yah," Adelle membuka percakapan dengan salam.
"Waalaikumusalam.... Del, kamu lulus nak?" tanya ayah di seberang sana.
"Alhamdulillah, ayah. Aku diterima di fakultas ekonomi."
"Alhamdulillah..... Selamat ya, nak. Kamu udah berusaha keras untuk mendapatkan posisi ini." suara sang ayah terdengar serak. Adelle yakin ayah sedang menahan tangis karena berita ini.
"Terima kasih, ayah."
"Nanti kita cerita lagi setelah ayah pulang ya, nak. Ayah mau lanjut kerja lagi. Sekali lagi selamat anakku. Assalamualaikum..." Pembicaraan ayah dan anak itu pun berakhir.
Adelle menutup pembicaraan dan kemudian menekan tombol merah yang ada di layar ponselnya. Hatinya dibaluri rasa bahagia karena telah menyampaikan berita tersebut pada sang ayah. Setelah itu dilihatnya beberapa percakapan di aplikasi itu. Dan pada grup empat sekawan dilihatnya sudah ada beberapa percakapan diantara ketiga sahabatnya.
"Halllooooollll....." itu dari Shella.
"Adelle, Yudi, bagaimana hasilnya?" masih dari Shella.
"Belum lihat pengumuman x Shel." itu Tri yang mengirim.
"Nggak percaya aku" Shella lagi.
"Bisa aja kan." Tri lagi.
"Adelle bukan kamu, Tri. Ake kenal betul bagaimana dia. Nggak mungkin dia lalai."
"Atau mungkin masih bantu ibu nganterin pesanan?"
"Bisa jadi sih."
"Yud, Yudi..... Oi Yud."
Sampai sejauh itu belum ada tanggapan dari Yudi. Adelle melanjutkan membaca percakapan di grup aplikasi wha**** mereka.
"Masa iya mereka belum lihat pengumuman sih. Di grup kelas kita udah pada heboh ngasi kabar siapa-siaoa yang lulus SNMPTN."
"Iya, tapi mereka berdua memang belum ada komen kan, Tri?"
"Iya, belum ada."
"Yudi, oi muncul donk. Adelle.... Pada ke mana sih berdua?"
"Jangan-jangan berdua chat sendiri nih, kita dilupaian. Coba cek japri dulu. Kamu ngubungin Yudi, aku ngubungin Adelle ya."
Adelle tersenyum membaca percakapan antara Tri dan Shella. Mungkin Shella menghubungi dirinya saat ia menemui ibu mengabarkan tentang pengumuman itu.
"Adelle nggak respon. Aktifnya beberapa jam yang lalu." itu Shella yang membuat laporan.
"Yudi juga nggak ngangkat panggilan telponku. Mencurigakan."
"Apa mereka udah janjian untuk ngerjain kita ya, Shel?"
"Mana aku tahu. Kemarin nggak kelihatan gitu."
Beberapa menit percakapan itu kosong sehingga
"Maaf ya kawan, tadi lagi ke belakang. Kebelet."
"Udah jangan banyak alasan. Laporan donk."
"Laporan apa?"
"Ish, pura-pura lagi. Kamu keterima nggak?"
"Alhamdulillah, aku keterima."
"Alhamdulillah. Di mana?"
"Bandung."
"Wes, selamat ya bro."
"Selamat ya bapak ketua kelas."
Adelle mengucap syukur membaca percakapan. Ternyata Yudi di terima di salah satu universitas negeri di Bandung. Sukurlah.
"Yud, udah tahu kabar Adelle? Lulus nggak dia?"
"Aku udah nanya, tapi belum dapat jawaban. Di baca aja belum pesanku."
"Adelle kemana ya?"
"Kamu nggak nanya Shel?"
"Udah, tapi nggak dianggkat."
"Kita tunggu aja"
Adelle mulai mengetik ingin memberi kabar sahabat-sahabat yang telah menunggu kabar darinya.
"Nah, tuh Adelle sedang mengetik." Tri yang memang nggak bisa diam memberitahu di grup.
"Assalamualaikum guys....." Adelle membuka percakapan.
"Waalaikum salam" itu Shella dan Yudi yang membalas.
"Udah Del, buruan. Keterima di mana?" rupanya Tri benar-benar nggak sabar.
"Seharusnya nanyanya keterima atau nggak, Tri" protes Adelle.
"Alamak..pake betulin pertanyaan lagi. Dah mirip guru bahasa Indonesi aja kamu Del."
"Del, kamu keterima kan?" tanya Yudi.
"Adel, keterima nggak?" itu Shella.
"Alhamdulillah aku lulus."
"Alhamdulillah. Selamat sayangkuh." Shella memberikan respon pertama yang diikuti dengan emotikon mata yang penuh cinta.
"Selamat, ya Del. Alhamdulillah." itu pesan dari Yudi.
"Selamat, Del. Kalian berdua memang bintang di grup ini." itu Tri lagi.
"Terima kasih buanyaaak. Kalian juga hebat koq." (Adelle)
"Makin cinta deh jadinya." (Tri)
"Siapa?" (Shella)
"Ada deh." (Tri)
"Aku kenal nggak?" (Shella)
"Kenal donk" (Tri)
"Ini berdua ngomongin apa sih?" (Adelle)
"Tau tuh." (Yudi)
"Ngomongin sepasang pengantin. Emotikon ketawa ngakak" (Tri)
"Seneng bangeets ya Tri?" (Shella)
"Iya donk. Kamu nggak?" (Tri)
"Ikutan bahagia dunk, secara sahabat kita kan." (Shella)
"Kamu kapan ke sekolah, Del? Bareng ya." (Yudi)
"Ciiieeee janjian nih. Kita nggak di ajakin Shel." (Tri)
"Kamu rencananya kapan?" (Adelle)
"Kita dicuekin Tri, nggak di anggep" (Shella)
"Besok gemana? Aku jemput ya" (Yudi)
"Ih, asli. Kita nggak dianggap ada." (Tri)
"emotikon menangis" (Shella)
"Ntar aku kabarin deh ya bisa apa nggak besok." (Adelle)
"Shel, kabur yuk. Dianggurin kita, nggak nyambung lagi nih." (Tri)
"Kabur ke mana?" (Shella)
"Kumat" (Adelle)
Diam, tak ada balasan dari Tri maupun Shella.
"Shel, Shella.... Ih koq ngilang." (Adelle)
"Tri, two, one" (Yudi)
Masih tak ada respon dari kedua sahabat mereka.
"Yud, kalau mereka nggak respon lagi ya udah aku mau cabut dulu yah. Nggak ada yang perlu di omongin lagi kan?" (Adelle)
"Tar aku japri aja deh kalau ada perlu ya, Del." (Yudi)
Adelle menunggu beberapa detik, hingga akhirnya...
"Eh, main kabur aja. Mentang-mentang udah yakin jadi mahasiswa." emotikon marah (Shella)
"Tega banget ama temen." (Tri)
"Akhirnya muncul juga kalian." (Yudi)
"Kirain bener-bener nggak mau muncul lagi." emotikon senyum lebar (Adelle)
"Makan-makan donk ngerayain kalian keterima kuliah" (Tri)
"Setujuuuuuuu" (Shella)
"Aku sih oke aja" (Adelle)
"Atur aja kapan dan di mana. Aku yang traktir." (Yudi)
"Siiip....." emotikon tertawa (Shella)
"Emang kompak pasangan terdebes kita ini" (Tri)
"Giliran makan aja kamu bilang terdebes" (Yudi)
"Seneng ya, bisa melewati fase SMA ini." (Shella)
"Nggak terasa kita udah mau tamat ya." (Tri)
"Iya, padahal rasa baru aja kita sama-sama daftar masuk SMA ya Tri." (Yudi)
"Iya, rasanya belum lama kita kenalan trus bersahabat dan nyatu jadi genk kayak gini" (Shella)
"Padahal kan belum lama kita terima raport, koq sekarang malah udah mau lulusan aja ya" (Tri)
Adelle hanya tersenyum membaca percakapan ketiga sahabatnya di grup W***app. Memang semuanya seperti baru saja terjadi, namun sekarang mereka akan segera berpisah untuk melangkah dan melanjutkan langkah mereka masing-masing. Dan sepertinya mereka semua tak akan ada yang bisa bersama dalam satu atap perguruan tinggi.
"Del, koq diem? Mikirin apa?" (Shella)
"Jangan-jangan tidur tuh anak" (Tri)
"Atau malah boker" (Shella) yang diikuti dengan emotikon tertawa ngakak.
"Ih, jorok lho si Shella" (Adelle)
"Muncul kan dia. Malu ketahuan boker" (Shella)
"Shella memang cocok sama Tri, 1 frekuensi." (Yudi)
"Ya, iya lah. Kita emang cocok." (Tri)
"Mbah mu yang cocok." (Shella)
"Tuh kan, berantem akhirnya." (Yudi)
Tiba-tiba Adelle mendengar suara ketokan di pintu yang diijuti suara ibu yang memanggil namanya.
"Guys, udah dulu ya. Aku di panggil sama ibu. Byee" (Adelle)
"Del, jangan lupa besok ku jemput ya." (Yudi)
"Oke, aku cabut juga yah, mau mandi." (Shella) emotikon lari kabur
"Asem nih Shella, cewek males mandi" (Tri)
"Tapi kamu tetep suka kan sama Shella.?" (Yudi)
Setelah itu ruang percakapan grup sepi, masing-masing melanjutkan kegiatannya.
______
Hari ini Adelle kembali berkunjung ke rumah Oma Tita untuk menemani Putri belajar, begitu Adelle menyebut kegiatannya dengan Putri. Sebenarnya dalam seminggu hanya 2 kali saja Adelle datang, namun pada akhirnya berubah menjadi 3 kali setelah Putri membujuknya dengan alasan sering mendapat tugas daari guru. Padahal Adelle yakin bukan itu yang menjadi aalasan utamanya karena sering kali ia datang hanya untuk menemani Putri bermain atau bercerita saja.
Dan seperti biasa sebelum Adelle datang, Putri telah rapi dan menyiapkan buku-bukunya. Rambut hitam panjangnya di ikat ekor kuda. Dan senyum manisnya sudah terpasang dengan indah di bibirnya yang merah. Sementara di atas meja telah siap sebuah tas kertas yang berisi kotak yang telah dibungkus dengan cantik.
Oma Tita tersenyum memandang cucunya. Setiap jadwal les bersama Adelle, Putri selalu terlihat ceria dan bersemangat. Berbeda dengan les lainnya yang terkadang penuh drama jika akan berangkat. Entah apa yang membuat cucu tercintanya begitu menyukai Adelle. Setiap hari les pelajaran anak itu akan mempersiapkan dirinya sendiri, tak butuh bantuan pengasuhnya lagi. Seolah bersama Adelle dia memperoleh sebuah hadiah yang sangat besar. Bahkan pernah ketika Adelle sedang kurang sehat dan tak bisa memberikan les, Putri memaksa agar dia yang mendatangi ke rumah Adelle. Tentu saja Oma Tita tidak mengijinkannya karena Adelle butuh istirahat.
Bel rumah berbunyi, bi Marni bergegas membukakan pintu. Dan seperti yang diharapkan, Adelle datang dengan membawa sebuah kantong berisi makanan. Diserahkannya kantong tersebut pada Oma.
"Maaf terlambat oma, tadi aku nganterin pesanan langganan ibu. Kebetulan searah dan nggak jauh dari sini."
"Ini apa, Del?" tanya oma Tita sembari membuka bungkusan yang disodorkan Adelle.
"Wah, harum sekali. Bi Marni, tolong masukkan piring dan sekalian buatkan minuman untuk kami ya." oma menyerahkan kantong berisi makanan tersebut pada sang ART.
Bi Marni membawa kantong itu ke dapur dan tak lama kemudian keluar dengan membawa kue yang sudah disajikan dalam piring dan juga beberapa gelas teh hangat. Bersamaan dengan itu langkah kaki kecil yang berlari terdengar menuju ruang keluarga.
"Kak Adelle....." nyaring terdengar suara Putri. Adelle tertawa sambil membuka kedua belah tangan menyambut sang bocah. Selalu begitu setiap Adelle datang, Putri akan menyambutnya dengan hangat seperti bertemu kembali dengan seseorang yang sudah lama tak bertemu.
"Kak Adelle kenapa lama datangnya? Aku udah nungguin kakak dari tadi." suara Putri begitu manja yang membuat oma Tita tersenyum.
"Maaf ya sayang, kakak tadi nganterin kue pesanan orang makanya kakak terlambat." Adelle mencoel dagu Putri dengan gemas.
"Ibumu jualan kue ya Del?" tany oma Tita sembari mengambil sebuah kue dan memakannya.
"Iya, oma. Di titipkan di beberapa tempat, kadang ada pesanan dari orang-orang yang mengadakan hajatan seperti tadi." jawab Adelle.
"Hmmmm, enak lho kue buatan ibumu. Putri mau? Nih coba rasain kue buatan kak Adelle." oma Tita mengambil lagi sebuah kue dan memberikannya kepada Putri.
"Oma, aku..." Putri sepertinya enggan untuk memakan kue yang diberikan sanb oma namun tak lama kemudian
"Hmmmm ini enak oma, aku suka." Putri kembali memasukkan kue ke dalam mulutnya.
"Itu buatan ibunya kak Adelle." oma menjelaskan.
"Kak Adelle juga bisa buat kue yang enak?" mata bulat itu menatap Adelle sementara mulutnya masih terus mengunyah.
"Bisa, tapi belum sehebat ibu aku."
"Kak Adelle hebat! Pinter di sekolah dan juga pinter buat kue." Putri nampak begitu bahagia.
"Apa nggak punya niat untuk buka outlet aja Del? Jadi nggak perlu nganterin dari satu tempat ke tempat lain. Lebih praktis dan efisien." Oma bertanya sembari mencomot satu lagi sajian di atas piring.
"Ada sih oma, hanya saja modal untuk menyewanya belum cukup. Aku juga kasian lihat ibu yang harus nganterin ke sana sini kalau aku sekolah."
"Om Andrew..... Sini om." tiba-tiba saja Putri berteriak memanggil nama om yang entah kapan muncul di dekat mereka.
"Sini om, duduk dekat aku."
"Ponakan om apa kabarnya hari ini? Koq udah cantik gini? Mau ke mana?" tanya Andrew seraya mencium pucuk kepala sang ponakan. Harum parfum yang lembut tercium jelas di sana.
"Aku mau les sama kak Adelle. Om dari mana?" tanya Putri lagi.
"Mau ketemu sama oma, ada yang mau dibicarakan."
"Oh, mau ngomong sama oma. Om duduk dulu, rasain deh kuenya enak banget lho." Putri menawarkan kue yang ada dihadapannya. Andrew mengambil sebuah kemudian memakannya.
"Mama beli di toko langganan ya? Enak banget rasanya, lebih enak dari yang biasa di beli." Amdrew memandang sang mama. Sekilas ia bisa melihat kehadiran Adelle yang duduk di samping mamanya.
"Enggak, bukan mama yang beli. Kue itu Adelle yang bawa, buatan ibunya Adelle. Enak kan? Malah lebih enak dari kue yang dijual di toko-toko langganan kamu itu." oma Tita menjelaskan. Andrew hanya diam, walau hatinya mengakui jika kue itu memang lebih enak dibandingkan yang biasa ia makan, namum gengsinya tak mau mengakui dihadapan Adelle. Entahlah, ia sendiri tak tahu mengapa ia masih belum bisa berbicara bebas dengan remaja yang menjadi buru les keponakannya seperti orang lain.
"Oh ya, Drew ruko kamu yang di jalan Merdeka itu sudah ada yang isi lagi? Kalau mama nggak salah, bulan lalu sudah dikosongkan ya?" Oma Tita bertanya dengan memandang wajah sang anak yang masih menikmati makanan yang ada.
"Udah kosong ma, aku belum punya rencana mau digunain untuk apa." Andrew menjawab setelah membersihkan tangannya dengan menggunakan tisu.
""Kebetulan donk kalau gitu."
"Memangnya ada apa, Ma? Mama mau gunain untuk apa?" Andrew memandang sang mama ingin tahu.
"Bukan untuk mama, tapi untuk ibunya Adelle. Jadi, Adelle ini punya keinginan untuk membuka toko kue untuk usaha ibunya. Dari pada ibunya harus ke sana ke mari nganterin kue, kan mendingan dibukakan toko jadi siapa yang mau bisa beli di toko itu." Oma berbicara tanpa aba-aba sehingga Adelle terbengong-bengong dibuatnya. Kenapa oma tiba-tiba bicara seperti itu kepada Om Andrew?
Andrew hanya diam mendengar penjelasan mamanya. Ia yakin ini murni permintaan sang mama. Ia kenal betul bagaimana sifat sang bunda, spontanitasnya tak bisa ditahan. Diliriknya Adelle yang duduk tertunduk tanpa bicara disamping sang mama. Sesaat tadi ia sempat menangkap rona terkejut dari wajah gadis muda yang tak banyak bicara jika berada didkatnya.
"Mama yakin?" tanyanya lagi.
"Ya yakin lah, masa nggak. Dari pada ruko itu kosong nggak ada yang ngurus, terbengkalai dan kotor, mending di pakai ibunya Adelle kan. Kamu juga nggak bakalan rugi lah. Bagaimana menurut kamu?" oma menatap anaknya sekali lagi.
"Terserah mama aja deh."
Oma Tita tersenyum, ia yakin anaknya pasti setuju. Andrew bukan orang yang perhitungan, sifat yang menurun dari dirinya.
"Bagaimana, Del? Tokonya udah ada, jadi kamu bisa mewujudkan cita-citamu sekarang kan. Ibumu pasti senang. Kira-kira kapan kamu akan memulai membuka toko kuenya?" Adelle terdiam. Oma Tita berbicara seolah membuka toko kue seperti sebuah lakon sulap. Hanya dengan sekali ayunan tongkat maka semuanya jadi.
Ditariknya nafas panjang sebelum menjawab,
"Aku belum tahu, oma. Aku belum melihat lokasinya, aku juga belum cerita sama ibu dan ayah. Lagi pula kami harus mempersiapkan segala sesuatunya sebelum memulai toko itu." Adelle berbicara pelan namun sangat jelas di dengar oleh Andrew.
"Gini deh, kamu omongkan dulu sama ayah dan ibu kamu. Nanti masalah rukonya biar oma yang urus."
"Ya, oma. Nanti akan aku bicarakan sama ayah dan ibu." Adelle berhenti sejenak, ekor matanya melirik ke arah Andrew yang nampak asyik dengan ponselnya.
"Kalau boleh tahu, berapa sewanya oma?" hatinya menduga-duga nominal yang harus dikeluarkannya jika mereka akan mengontrak toko tersebut. Apakah uang yang mereka punya akan cukup untuk membayar sewa?
Oma Tita tersenyum, senyum yang sangat menenangkan hati bagi siapa saja yang melihatnya.
"Kamu nggak perlu bayar, Del. Kamu gunakan aja, nanti kalau Andrew ada perlu baru kamu cari toko lain. Tapi oma yakin deh dia nggak bakalan gunain toko itu. Yang di dekat mall aja nggak keurus sama dia.
Adelle menghela nafas panjang. Berita ini sangat tiba-tiba. Ada rasa bahagia yang sulit untuk dijelaskan dengan kata-kata.
"Kamu mau lihat lokasinya nggak? Kalau mau, kita pergi aja sekarang." Sekali lagi oma berbicara yang membuat jantung Adelle berdebar. Melihat lokasi tokonya sekarang? Bukankah ia dan Putri akan belajar?
" Kenapa diam? Mau nggak kalau lihat tokonya sekarang?" tqnya oma lagi.
"Tapi aku kan harus nemani Putri belajar, Oma."
"Ah udah, hari ini nggak usah belajar dulu. Putri juga bukan anak SMA yang pelajarannya sulit. Ntar biar mamanya aja yang ngerjain kalau memang harus dikerjain hari ini. Kamu mau ikut nggak Put?" oma bertanya pada Putri yang asyik melihat om Andrewnya bermain game di ponsel.
"Aku ikut kalau kak Adelle pergi."
"Nah, ayo tunggu apa lagi, kita berangkat sekarang supaya nanti Adelle pulangnya nggak kemalaman. Drew, ayo kita ke sana" Kata-kata oma seperti sebuah perintah yang tak terbantahkan.
Adelle melihat Andrew yang sama sekali tak membantah apapun perkataan sang mama. Berempat mereka kemudian berangkat menuju ruko yang dibicarakan oleh oma tadi. Putri nampak sangat bahagia, berkali-kali ia tertawa bahagia sembari memeluk Adelle.
Òma Tita duduk di depan bersama Andrew, sementara Adelle dan Putri duduk di kursi belakang. Sepanjang perjalanan Putri tak henti-hentinya bercerita ataupun bertanya tentang apa saja yang dilihatnya atau menarik perhatiannya. Adelle dengan telaten menjawab semua pertanyaan dengan menggunakan kata-kata yang bisa dipahami oleh anak SD.
Oma membiarkan saja Adelle melayani Putri. Hatinya senang karena cucu kesayangannya menemukan orang yang tepat untuk membimbingnya belajar. Sementara Adelle bertanya-tanya dalam hati bagaimana nanti ia akan menjelaskan kepada ayah dan ibu tentang semua ini. Setelah babak baru tentang Perguruan Tinggi Negeri, hari ini ia diberikan pula 1 episode baru dalam hidup. Bismillah, semoga apa yang akan dilakukannya penuh berkah, aamiin.