Adelle

Adelle
Tetangga Baru



Sudah sebulan warga gang selimbau kedatangan warga baru. Sebuah keluarga yang terdiri dari sepasang suami istri yang usianya sekitar empat puluh tahun dengan tiga orang anak. Pak Vincent, begitu ia biasa di sapa. Memiliki wajah oriental, matanya sipit, yang akan membentuk segaris lurus saat tertawa. Kulitnya putih bersih, badannya tinggi tegap, dan sepertinya agak pendiam. Tak banyak kata yang keluar dari bibirnya saat berkenalan sengan warga saat di gelar acara ramah tamah di rumahnya.


Berbeda dengan sang istri yang lebih banyak menyapa para warga. Suara renyahnya terdengar nyaring saat menyapa para tamu yang berdatangan. Dia wanita yang cantik, rambut panjang yang diwarnai seperti rambut barbie menambah cantik penampilannya. Matanya lebih lebar dari mata sang suami dan jari-jarinya nampak lentik terawat. Jelas sekali jika mereka adalah pasangan yang sangat memperhatikan penampilan.


Anak tertua keluarga Vincent adalah seorang gadis cantik, mungkin seusia Adelle. Garis wajahnya lebih banyak mengikuti sang papa. Sekolah di sebuah SMA swasta favorit yang biaya bulanannya bisa untuk biaya hidup Adelle sekelurga selama sebulan. Adelle pernah mendengar Shella bercerita tentang sekolah itu. Dulu papanya pernah ingin mendaftarkannya di sana namun Shella menolak karena merasa lebih nyaman bersekolah di SMA umum. Lebih nyaman untuk bersosialisasi dengan banyak kalangan, alasannya.


Pernah sekali Adelle berpapasan dengan Caroline, nama sang dara jelita. Senyum manisnya mampu membuat berhenti jantung para lelaki untuk sesaat. Kulitnya memerah saat terpapar matahari. Tak ada tutur sapa diantara mereka, hanya anggukan dan senyum yang menggantikan.


Dan dua anak lainnya adalah sepasang kembar perempuan lelaki. Menurut cerita yang pernah Adelle dengar dari bu RT, kedua kembar tersebut sangat mirip. Wajah mereka perpaduan antara mama dan papanya.


Keluarga Vincent menempati rumah bekas keluarga mang Dhuha yang pulang kampung ke sumatera. Rumah yang tadinya biasa-biasa saja itu kemudian di bongkar sehingga tak meninggalkan bekas sedikitpun. Rumahnya telah berubah menjadi rumah yang sangat megah dengan arsitektur yang sangat menawan, bahkan mungkin yang termegah di lingkungan mereka.


Sebenarnya adalah hal yang biasa jika ada warga baru dalam suatu lingkungan. Sebagai seorang gadis yang sudah dari lahir tinggal di gang yang lumayan lebar jalannya, Adelle sudah sering bertemu dengan warga baru. Bahkan mungkin sudah terhitung banyak yang datang dan pergi dari lingkungan mereka.


Adelle baru saja akan melangkah menuju ruang tamu saat telinganya mendengar sayup percakapan ayah dan ibu.


"Ibu nggak tahu apa permasalahannya yah, tapi yang jelas tiba-tiba saja bu Vincent itu berubah sikapnya ke ibu beberapa hari belakangan ini." itu suara ibu. Ada nada kesedihan di sana.


"Mungkin itu hanya perasaan ibu aja. Ibu terlalu perasa, apa ibu PMS?"


"Engga lah yah, mana mungkin ibu mengada-ada. Dua minggu yang lalu bu Vincent itu masih ramah lho ketemu ibu, bahkan beliau memesan lemper dan lapis surabaya untuk acara keluarganya. Tapi beberapa hari yang lalu saat ibu lewat di depan rumahnya, bu Vincent seperti menghindar. Ibu salah apa ya yah?"


"Sudah bu, tidak baik berprasangka buruk apalagi sama tetangga. Mungkin waktu ibu lewat, kebetulan bu Vincent ga lihat ibu makanya beliau ga negur. Udah, jangan dipikirin. Yang terpenting kita tetap berbuat baik, jangan terpengaruh sama sikap orang lain pada kita."


"Iya yah, ibu ngerti."


"Nah gitu, berpikir positif aja bu. Karena kalau kita berpikiran negatif maka itu akan mempengaruhi hati dan pada akhirnya hanya akan menyakiti kita sendiri."


Adelle masih mencuri dengar pembicaraan kedua orang tua yang sangat dicintainya. Setelah mengatur nafas, dilangkahkan kakinya menuju ruang tamu.


"Ayah, ibu, Adelle ijin pergi ke masjid ya. Mau ada rapat remaja masjid, persiapan menyambut puasa ramadhan."


"Iya, langsung pulang nanti ya Del, jangan singgah-singgah lagi." pesan Ayah.


"Ya Ayah, in syaa Allah. Adelle pergi dulu ya yah, bu" pamitnya sembari mencium tangan kedua orang tuanya.


"Assalamualaikum" salam Adelle.


"Waalaikum salam" jawab keduanya hampir bersamaan.


_______


Jiwa kepemimpinan mas Ikhsan nampak jelas saat rapat remaja masjid yang baru saja selesai. Siapapun yang melihat pasti akan mengakui hal tersebut. Demikian juga Adelle. Ia mengagumi lelaki yang masih berbicara dengan pak Zainal selaku ketua pengurus masjid Di kampung mereka. Wajahnya nampak serius saat berbicara namun sesekali senyum tampil menghiasi wajah teduh itu.


Adelle baru saja akan meninggalkan masjid saat namanya di panggil oleh seseorang. Kakinya yang baru saja akan memasangkan sandal seketika berhenti. Dipalingkan wajahnya ke arah suara yang memanggil namanya. Nampak Ikhsan berjalan ke arahnya bersama Taufik.


"Del, jangan lupa untuk buat daftar kebutuhan kita tadi ya. Dan kalau sudah selesai segera hubungi aku." Ikhsan mengingatkan kembali tugasnya sebagai sekretaris.


"Iya mas, in syaa Allah segera saya serahkan sama mas Ikhsan."


"Makasih, Del." tutur katanya memang selalu sesopan itu.


"Del, kamu bawa motor kan? Aku pulang sama kamu ya. Tadi aku datang bareng Beno, tapi dia malah pergi nganterin Dewi." Taufik menatap Adelle berharap. Rumahnya memang hanya bersebelahan dengan rumah Adelle.


"Iya boleh, tapi kamu yang bawa motornya ya." jawab Adelle.


"Sip lah"


"Kenapa ga bareng aku aja Fik? Tapi aku masih ada yang harus dikerjakan tapi ga lama koq."


"Aku udah janji sama mamakku untuk cepat pulang san, sorry ya ga bisa nungguin kamu, aku bareng Adelle aja. Jangan khawatir, ga bakalan lecet koq." Taufik sengaja menambah gurauan di akhir kalimatnya. Ia bukannya tak tahu alasan mengapa Ikhsan memintanya untuk tidak pulang bersama Adelle. Dia tak rela jika Adelle pergi bersama laki-laki lain. Dia tahu jika di hati Ikhsan ada tempat yang spesial untuk seorang Adelle.


"Udah ya San, kami pulang dulu. Assalamualaikum...." Taufik mengajak Adelle untuk segera pulang.


Ikhsan memandang kedua insan yang berboncengan itu meninggalkan halaman masjid. Segera saja ditutupnya pintu sekretariat remaja masjid dan menuju parkiran motornya. Ia harus membeli beberapa keperluan untuk mencetak thesisnya. Tinta, dan juga kertas sudah hampir habis.


Baru saja akan menyalakan mesin motor, seorang gadis berkulit hitam manis menghampirinya. Dia Sitii, anggota remaja masjid, anak pak Darno yang memang sudah lama menaruh hati padanya.


"Mas Ikhsan," teriaknya.


"Iya,, ada apa Ti?" tanya Ikhsan.


"Waduh bagaimana ya Ti, aku masih harus ke toko ATK dulu. Mau beli beberapa keperluanku." Ikhsan berusaha menolak.


"Aku ga papa koq mas ikut mas Ikhsan beli-beli. Dari pada di sini sendirian." rayunya lagi. Ia sudah bertekad untuk pulang bersama Ikhsan. Sebenarnya ibunya sengaja di minta untuk tidak menjemput agar ia bisa meminta tumpangan pada Ikhsan. Hatinya selalu merasa panas karena Ikhsan tak pernah memberi perhatian lebih pada dirinya. Ikhsan lebih banyak menghabiskan waktu berbincang dengan Adelle dari pada dirinya. Setiap kali rapat atau ada kegiatan lain, Adelle selalu yang menjadi nomor satu.


"Kalau kamu ga papa ikut aku belanja, ya ayo." Ikhsan kehabisan cara untuk menolak. Tak mungkin ia membiarkan seorang cewek sendirian mencari tumpangan untuk pulang.


Siti bersorak dalam hati saat dirinya sudah duduk di belakang Ikhsan. Lenganny tanpa ragu-ragu langsung memeluk pinggang lelaki yang sedang mengendarai motor matic.


"Maaf Ti, bukan bermaksud ga sopan. Tapi tolong jangan pegang-pegang ya." Ikhsan menegur dengan halus.


Siti yang mendengar hal itu tak berniat sedikitpun untuk mengendurkan lingkar lengan di pinggang sang arjuna.


"Ga papa juga mas, peluk pinggang aja koq" belanya.


Ikhsan merasa semakin tak enak karena Siti tak kunjung melepaskan lengannya.


"Ti, aku mohon kamu hargai aku. Tolong lepaskan pelukan kamu di pinggangku"


"Aku takut jatuh mas kalau ga peluk kamu."


"Aku ga ngebut, jadi in syaa Allah kita ga bakalan apa-apa. Dan tolong duduknya jangan terlalu mepet. Aku merasa ga nyaman sama sekali. Dan kalau kamu ga mau ....artinya kamu harus mencari tumpangan lain."


Siti merasa gusar mendengar ancaman Ikhsan. Mau tak mau dia menarik lengannya. ga papa deh gak meluk, yang penting masih bisa berduaan dengan lelaki yang sudah lama membuat hatinya berdegup tak menentu.


"Mas Ikhsan koq perlakukan aku ga kayak perlakuin Adelle sih?"


Ikhsan diam, mencoba menangkap maksud Siti.


"Maksud kamu gemana Ti? Aku ga merasa membedakan antara satu dengan yang lain."


"Mas Ikhsan itu kalau sama Adelle aja peduli banget. Dikit-dikit Adelle, dikit-dikit Adelle. Aku seolah ga ada, ga pernah di anggep."


Ikhsan tak memperdulikan apa yang diucapkan Siti. Segera ia menuju toko yang menjual kertas dan tinta yang diperlukannya. Setelah semua yang dicari telah diperolehnya, bergegas ia meninggalkan toko tersebut. Tak diperdulikannya Siti yang memintanya untuk singgah di sebuah kedai minuman. Baginya yang terpenting adalah segera pulang dan lepas dari makhluk yang telah membuat moodnya berudah buruk.


______


Adelle dan ibu baru saja akan pamit pulang saat terdengar suara memberi salam di pintu.


"Permisi, bu RT." suara seorang wanita terdengar.


"Silakan masuk bu Vincent, mari silakan duduk. Kebetulan ada bu Hendra dan Adelle anaknya." bu RT mempersilakan tamunya.


"Sendiri aja bu?" ibu Adelle bertanya sekedar basa-basi.


Baru saja bertanya, dari luar terdengar suara seseorang memberi salam.


"Assalamualaikum....wah ramai tamu rupanya." semua orang kenal suara siapa itu.


"Waalaikum salam. Bu Darno, silakan masuk." bu RT mempersilakan wanita dengan tubuh tambun itu untuk masuk. Tak lama ia masuk dan kemudian keluar dengan dua gelas air teh hangat dan setoples keripik.


"Monggo, silakan di cicipi, bu Vincent, bu Darno."


Adelle melihat bagaimana wanita yang dipanggil bu Darno itu menikmati keripik pisang. Mulutnya tak berhenti mengunyah dan juga berbicara. Ibu pernah berpesan padanya untuk tidak terlalu dekat dengan keluarga bu Darno. Sudah jadi rahasia umum bagaimana perilaku keluarga itu. Mulutnya manis saat berbicara di depan kita, namun ketika di belakang apa yang kita ceritakan akan menjadi senjata untuk menjelek-jelekkan bahkan jadi bahan gosip. Itu sebabnya Adelle juga membatasi pergaulannya dengan Siti, putri tunggal bu Darno. Ibu dan anak itu sama saja sifatnya. Dan seperti pesan ibu, lebih baik menjauhi masalah kalau tidak ingin dapat masalah.


"Bu Vincent ada perlu sepertinya, tumben datang kemari"


"Oh, iya bu. Kebetulan saya memang ada sedikit keperluan sama bu RT. Tapi hmmm bagaimana ya?" bu Vincent sesaat melirik ke arah Adelle dan ibunya.


"Bu, kita permisi pulang yuk." Adelle mengerti kalau bu Vincent yang baru kali ini di lihat dari jarak dekat merasa kurang nyaman untuk bercerita dihadapan mereka.


"Iya, Del. Kita langsung pulang aja ya. Sudah lama kita di sini. Bu RT kita permisi pulang. Terima kasih sarannya tadi." ibu pamit. "Mari bu Vincent, bu Darno, kami pamit dulu." sambung ibu lagi.


Adelle hanya mengikuti langkah ibunya. Keduanya meninggalkan kediaman salah satu tetua di gang mereka. Setelah keduanya tak nampak lagi di pandangan mata, is melangkah masuk menemui tamunya.


"Baik bu Vincent, ad perlu apa?"


"Tujuan saya ke sini.....


"