Adelle

Adelle
Liburan



Tak ada yang lebih membahagiakan hati selain melihat orang yang kita cintai bahagia. Itulah yang sedang dirasakan oleh Adelle saat ini. Melihat Ibu dan Ayah tersenyum bahagia melihat pencapaian belajar yang di raih oleh kedua anaknya. Hari ini pengambilan buku laporan pendidikan selama setahun anak-anaknya sekolah. Dan Ayah menyempatkan diri untuk mengambilnya. Bagi Ayah hal tersebut amatlah penting karena beliau bisa mengetahui perkembangan yang di capai oleh kedua buah hatinya.


Adelle cukup puas dengan apa yang diraihnya setahun ini. Walau bukan yang terbaik, namun dia juga bukan siswa yang kurang dalam hal ilmu. Masuk kelompok lima besar di kelas dan tak ada nilainya yang berada di bawah angka 80.


"Alhamdulillah. Terima kasih ya Allah atas kebahagian ini" Adelle mengucap syukur. Di raih dan di simpan ke dalam lemari dokumen laporan yang tadi diserahkan Ayah setelah di tanda tangani. Setelah ini artinya mereka akan memasuki liburan yang cukup panjang. Adelle tersenyum mengingat percakapan teman-temannya di aplikasi hijau tadi malam. Masing-masing sibuk mengutarakan rencana liburan mereka. Dave cs sudah berencana untuk mengadakan touring ke luar kota, bahkan akan melakukan perjalanan lintas propinsi menggunakan kendaraan roda dua. Selain biang onar, mereka memang terkenal sering melakukan perjalanan yang menantang. Semester lalu mereka melakukan pendakian ke gunung. Memanfaatkan ilmu yang di dapat dari klub pencinta alam sekolah.


Ada juga yang akan pergi ke luar negeri, seperti si centil Siska yang sepertinya tak pernah hanya di rumah saja ketika liburan. Dan setiap pulang dari liburan bibirnya tak pernah berhenti bercerita tentang keseruan yang dia alami. Namun ada banyak juga yang hanya staycation, hanya berlibur di tempat saja. Adelle adalah salah satunya.


Masih diingatnya pertanyaan Shella saat menelpon tadi malam.


"Kamu liburan ke mana Del? Tanyanya. Aku dan mama besok berangkat ke Bali. Keluarga besar mama akan berkumpul di sana liburan ini?"


"Aku belum ada rencana ke mana-mana. Sepertinya di rumah aja deh bantuin Ibu."


"Nggak punya rencana liburan ke mana gitu Del? Lama lho liburannya. Apa kamu nggak bosan di rumah aja?" tanya Shella lagi.


"Bagaimana aku bisa bosan sih Shel, aku seneng ngelakuin itu semua. Lagian aku bukan hanya bantuin ibu koq. Aku udah punya gambaran apa aja yang bakal aku lakuin selama liburan ini." Adelle menjawab. Sudah terbayang tanaman hias yang medianya harus di ganti dan juga kebun di belakang rumah yang juga harus di benahi. Dan itu pasti akan memakan waktu beberapa hari untuk mengerjakannya. Membayangkannya saja Adelle sudah senang. Selama sekolah dia tak punya cukup waktu untuk mengurusnya. Selain urusan sekolah, dia juga masih harus membantu ibu sehingga ada beberapa tanaman yang terbengkalai tak terurus.


"Tapi kamu juga butuh liburan sayangku" Shella menyambung kalimatnya.


"Jangan khawatir Shel. Di rumah juga aku liburan koq. Aku bisa nikmatin waktu luangku untuk nonton drama korea dan juga film-film yang ku suka. Aku udah punya daftar tontonan selama liburan ini."


Shella terdiam. Tadinya ia ingin mengajak sahabatnya untuk liburan bersama namun ternyata mamanya mengatakan jika keluarga besar dari pihak mamanya akan berkumpul bersama di Bali. Tentu bukan ide yang baik jika Adelle ikut serta karena walau mama dan papa sudah menganggapnya seperti anak sendiri tapi pasti Adelle akan merasa nggak nyaman saat seluruh anggota keluarga berkumpul.


"Padahal aku pengenya liburan ini bisa bareng kamu Del. Kita bisa seru-seruan bareng."


"Enjoy your holiday sweety, I'll be okay here. Yakin deh, pasti ada masanya nanti kita bisa seru-seruan bareng. Udah sana tidur. Supaya besok nggaka kesiangan." Mereka mengakhiri perbincangan setelah saling berjanji untuk update kegiatan liburan masing-masing.


______


Asyiknya liburan adalah bisa sedikit lebih santai menjalani hari. Tak ada lagi perasaan was-was karena takut terlambat atau teringat ada tugas yang harus dikerjakan. Dan lihatlah hari ini, setelah merapikan sisa sarapan tadi pagi, kemudian membantu Ibu dengan kue-kuenya akhirnya Adelle berencana untuk menonton drama korea. Sudah lama ia tak mengunjungi oppa-oppa korea yang banyak di gandrungi oleh remaja cewek seusianya. Tapi meskipun nonton drama korea adalah salah satu hobinya, namun ia tak seperti cewek-cewek di sekolahnya yang begitu bucin dengan para oppa itu. Adelle hanya senang menonton drama aja, tapi ngak pernah yang namanya tergila-gila sampai histeris atau malah mengumpulkan berita dan pernak-pernik tentang pria-pria cantik itu.


Baru saja akan memulai aksi leyeh-leyeh nonton drakor, sebuah pesan muncul dari aplikasi hijau.


"Assalamualaikum Del"


"Waalaikum salam. Ada apa Yud?"


"Kamu liburan ke mana?"


"Aku nggak ke mana-mana Yud. Ada apa?" tanyanya lagi.


"Kebetulan deh. Gini Del, tadi aku di hubungi pak Nuryadi. Beliau menunjuk kita untuk mewakili sekolah menghadiri pembukaan acara Students' Expo di Convention Center. Sebagai perwakilan dari siswa."


"Kapan acaranya" tanya Adelle.


"Besok Del, pukul 8. Kamu bisa kan, Del?"


Adelle terdiam untuk sesaat. Berpikir apakah dia akan bisa mengikuti kegiatan tersebut.


"Kayaknya bisa, Yud." Akhirnya Adelle mengiyakan.


"Kita pergi bareng aja ya, Del. Supaya di sana nanti kita nggaka nyari-nyari lagi. Kan kalau ada temennya enak Del. Ga bengong aja."


Adelle sesaat berpikir. Ada benernya apa yang dikatakan oleh Yudi, tapi rasanya masih sungkan jika harus berboncengan dengan lawan jenis. Apalagi perginya hanya berdua, tanpa ada teman yang lain. Sesaat dia menimbang baik buruknya bila harus pergi sendiri dan pergi bersama.


"Del, kamu masih di sana? Bagaimana, kita pergi bareng ya." Tanya Yudi lagi.


"Hmmm aku bagaimana ya?" Sesaat ia diam hingga akhirnya "Baiklah, kita pergi bareng aja deh."


Yudi merasa lega. Setelah itu dengan cepat dia kembali berkata


"Aku jemput kamu ya besok. Jangan lupa pake seragam putih abu-abu. Jam 7.30 aku udah ada di rumah kamu." katanya cepat. Dia tidak ingin Adelle berubah pikiran lagi. Bukan tak pernah Yudi berusaha untuk mengajak pergi bersama, bergoncengan dengan motornya yang sangat di cintainya ataupun mobil pinjaman dari sang ayah, namun baru kali ini Adelle mengiyakan.


Adelle merasakan jantungnya berdebar lebih cepat dari biasanya. Wajahnya bersemu merah. Sama seperti Yudi, dia juga sangat antusias menunggu datangnya hari esok. Untung saja Yudi mengajaknya lewat telpon sehingga dia tak bisa melihat paras wajahnya saat ini. Setelah berbasa basi sejenak, Yudi mengakhiri panggilannya.


Adelle melanjutkan kegiatan yang baru saja akan dilakukan saat Yudi menelpon tadi. Drama korea yang sudah lama ingin ditontonnya namun tertunda akibat ulangan akhir semester. Dan sekarang dia bisa menikmati tiap episode tanpa takut mengganggu waktu belajar dan istirahatnya.


Segelas es sirup dan beberapa potong kue menemaninya. Badannya bersandar pada kepala tempat tidur. Baiklah, Adelle memposisikan dirinya senyaman mungkin. Hari ini dia hanya akan menonton tak lebih dari dua episode. Selebihnya akan dilanjutkan pada lain waktu. Dia tak ingin menghabiskan semua episode dalam sehari. Selain tak baik untuk kesehatan, dia juga ingin membagi waktunya dengan melakukan banyak hal yang berguna selama liburan ini. Termasuk menghabiskan waktu bersama ayah, ibu dan sang adik.


_______


Adelle baru saja menyelesaikan sarapan ketika telinganya menangkap suara mesin motor berhenti di halaman rumah. Dilihatnya jam dinding, baru pukul tujuh lewat dua puluh menit. Masa iya jam segini Yudi udah datang. Bukannya acara mulai jam delapan, dan gedung Convention Center tidak terlalu jauh dari rumahnya. Paling hanya memakan waktu lima belas menit perjalanan.


"Assalamualaikum" itu suara Yudi.


"Waalaikum salam. Masuk nak Yudi, Adelle baru saja selesai sarapan."


"Baik bu" Suara itu terdengar sopan.


Ibu melangkah masuk ke dapur, didapatinya Adelle sedang merapikan sisa sarapan.


"Nggak papa bu, masih lama koq acaranya. Yudi nya aja yang keawalan datang. Adelle beresin ini dulu."


"Ya udah kalau gitu." Ibu menuju ruang tamu dengan secangkir teh panas dan beberapa buah risole di piring.


"Silakan nak Yudi di cicipi risole nya. Adelle masih beres-beres di dapur. Sebentar lagi juga kelar."


"Terima kasih bu. Wah kebetulan saya sudah lama sekali nggak makan risole buatan Ibu." Yudi mengambil sebuah dan langsung menikmatinya.


"Alhamdulillah, enak bu. Terimakasih"


Tak lama kemudian Adelle muncul. Yudi menatapnya sekilas, wajah yang ayu dan sederhana tanpa polesan make up sedikitpun. Bahkan Yudi juga ragu apakah Adelle menyapukan bedak pada wajahnya. Sangat alami, dan Yudi suka itu. Jilbab putih menutupi dadanya, hanya bros kecil yang penjadi hiasan pada kain itu.


"Udah siap Del, kita pergi sekarang?" tanya Yudi.


"Habisin dulu Yud risole nya. Baru kita pergi. Masih keawalan juga ini. Tar di sana kita pasti nunggu lagi deh."


Yudi menuruti usulan Adelle. Selain karena risole itu enak, dia juga memang lapar. Tadi dia tak sempat sarapan gara-gara bangun kesiangan karena setelah sholat subuh dia memutuskan untuk tidur lagi. Untung saja panggilan telpon dari sang Mama membangunkannya. Dan ternyata sudah pukul tujuh kurang lima belas menit.


Adelle menyodorkan tisu saat dilihatnya Yudi telah menghabiskan risole di piring. Sudut bibirnya sedikit berminyak dan ada sisa mayones menempel. Yudi segera mengambil dan membersihkan sisa-sisa makanan di mulutnya. Setelah itu keduanya bangkit dan berpamitan.


"Bu, Yah, Adelle berangkat dulu. Assalamualaikum" Adelle menjabat tangan kedua orang tuanya yang kemudian diikuti oleh Yudi.


"Hati-hati naik motornya nak. Jangan ngebut." pesan Ibu.


"Iya bu" Yudi menyahut dengan sopan.


Keduanya berlalu dari hadapan Ayah dan Ibu. Tak lama kemudian terdengar suara motor meninggalkan rumah.


_________


Upacara pembukaan Students' Expo berlangsung lancar. Seperti yang sudah bisa di tebak, acara baru di mulai ketika jam menunjukkan angka delapan lewat tiga puluh menit. Gedung Convention Center yang begitu besar dipenuhi dengan orang-orang berseragam sekolah. Mulai dari putih merah hingga putih abu-abu, ada juga perwakilan mahasiswa. Beberapa stand nampak berdiri dan hampir semua menampilkan hasil karya dan kegiatan sekolah. Ada juga beberapa perusahaan yang bergerak di bidang pendidikan yang ikut ambil bagian.


Adelle dan Yudi sedang menikmati bakso bakar dan segelas es kelapa muda. Tadi setelah berkeliling melihat stand yang ada, mereka memutuskan untuk segera keluar. Dan di sinilah mereka sekarang. Adelle yang tadinya ingin segera pulang harus menerima tawaran Yudi untuk menikmati pagi di taman kota.


"Del, aku mau ngomong sama kamu." Yudi memutuskan kesunyian diantara mereka.


"Dari tadi juga kita memang sudah bicara Yud." Adelle mencoba bercanda.


"Iya, tapi maksudku aku mau bicara tentang sesuatu yang serius sama kamu."


"Bicara apa Yud? Penting ya?" Adelle bertanya lagi. Hatinya bertanya-tanya hal apa yang akan dibicarakan oleh Yudi. Diliriknya Yudi sekilas, wajahnya terlihat serius dan ada keraguan yang coba disembunyikannya.


Yudi menarik nafas panjang. Dia mencoba menata hatinya yang berdetak tak menentu. Perlahan dia mulai berbicara.


"Del, aku ga tau apakah kamu menyadari atau tidak tentang perasaan yang aku miliki sama kamu. Aku suka sama kamu Del. Mau nggak kamu jadi pacar aku?" akhirnya apa yang selama ini dipendam berhasil dikeluarkan. Yudi memandang ke arah Adelle yang tertunduk sedari tadi.


Adelle terdiam, dia tak menyangka jika Yudi akan mengutarakan isi hatinya hari ini. Dia sama sekali tak berani mengangkat wajahnya. Dia tak ingin Yudi bisa membaca isi hatinya.


"Del....say something, please..." Yudi kembali bersuara setelah menunggu beberapa sat namun Adelle tak kunjung bereaksi atas pernyataannya.


"Yud, apa menurut kamu pacaran itu penting untuk remaja seperti kita? Apa remaja seperti kita nggak bisa hidup tanpa pacaran?" lirih Adelle bertanya.


"Aku nggak tau Del. Ini baru pertama kali aku suka dengan seorang perempuan selain mamaku. Aku nggak berharap kalau kita akan selalu bersama ke mana-mana berdua. Aku hanya ingin ada seseorang yang bisa menjadi tempatku berbagi rasa, yang bisa memberi support saat aku membutuhkannya."


Adelle menghela nafas panjang.


"Kita kan selama ini sudah berteman baik Yud. Kita saling mendukung, saling perduli dan saling berbagi rasa dalam keadaan bagaimanapun. Apa menurutmu kita selama ini tidak seperti itu?" tanya Adelle.


"Apa kamu tidak suka sama aku Del? Kamu nggak punya rasa yang lain sama aku selain rasa suka seorang kawan? katakan padaku Del, jujur." Yudi menatap wajah Adelle menuntut jawaban.


"Jujur, aku rasa aku juga punya perasaan lebih terhadap kamu. Namun aku nggak mau menjadikan alasan untuk kita punya hubungan yang lebih jauh."


"Kenapa Del?"


"Maaf Yud, aku punya komitmen untuk tidak menjalin hubungan dengan lawan jenis selama aku sekolah. Pertama, kita masih muda, masih labil. Aku nggak mau kalau hubungan kita akan menghancurkan persahabatan kita jika terjadi salah paham. Yang kedua, kita masih muda, masih jauh dari masa menjalin hubungan serius selain persahabatan. Dan yang terpenting, agama kita melarang hubungan seperti itu Yud. Bukankah kamu tahu hal itu?" Adelle menarik nafas seraya menatap Yudi sesaat.


"Aku ingin menjaga rasa yang kumiliki sama kamu dengan baik. Aku nggak ingin mengotorinya dengan keegoisanku yang ingin memiliki kamu yang pada akhirnya akan membatasi ruang gerakmu. Jika kita memang berjodoh, datanglah kelak menemui Ayah dan Ibuku saat kita telah sama-sama dewasa. Mari kita saling mendukung dan menjaga dalam doa."


Yudi menatap gadis yang duduk disampingnya. Tak pernah dia berpikir Adelle akan mengucapkan kalimat panjang yang begitu dalam. Semua yang dikatakannya benar adanya, dan dia menyetujui apa yang diucapkan Adelle.


"Kamu janji akan menunggu aku Del? Sampai aku datang menemui orang tua mu?" Yudi bertanya sambil matanya menatap dalam ke manik mata yang selalu nampak tenang.


"Aku nggak bisa janji Yud, aku hanya bisa meminta kepada Allah yang memiliki hatiku agar bisa menjaga perasaan ini. Namun jika suatu saat Dia menaruh hati ini kepada orang lain, aku tak bisa apa-apa ."


Rasa kagum mengalir mengisi liang hati Yudi. Dia berjanji akan menjaga hatinya hanya untuk Adelle dan akan berusaha keras menjadi manusia terbaik yang pantas untuk Adelle.


Benar kata Adelle, jalan mereka masih panjang. Dan mereka masih harus berjuang untuk dapat memantaskan diri agar bisa bersaing mendapatkan apa yang dicita-citakan.