Adelle

Adelle
I'm gonna miss you



Adelle baru saja keluar dari ruang operator sekolah. Ada beberapa hal yang membuatnya harus menemui Pak Budiman, operator sekolah yang selalu siap melayani siswa yang membutuhkan bantuan yang berhubungan dengan dapodik sekolah. Dan Adelle yang masih bingung bagaimana cara mengisi aplikasi pendaftaran bagi siswa-siswa berprestasi yang ingin masuk ke perguruan tinggi negeri tanpa tes merasa sangat terbantu sekali.


Sebenarnya bukan hanya dirinya sendiri yang datang ke ruangan Pak Budiman. Beberapa orang kawan yang juga ingin mendaftar telah lebih dahulu mendapatkan pelayanan. Bahkan Yudi, sang ketua kelas yang selalu langganan menjadi juara 1 di kelas juga ada di dalam . Dia lah yang tadi mengajak Adelle untuk menemui Pak Budiman.


"Del, udah beres semua kan?" sebuah suara mengagetkan Adelle yang sedang duduk di hall.


"Sudah beres semua, Yud. Maaf ya, kamu jadinya belakangan deh." Adelle merasa nggak enak hati karena Yudi selalu saja mengalah dan membiarkan Pak Budiman melayani dirinya terlebih dahulu.


"Nggak papa, Del. Seperti kata pepatah, Ladies first." Yudi tersenyum sambil menatap Adelle.


"Pepatah dari mana itu?" tanya Adelle sambil melirik Yudi.


"Pepatahnya dari negeri jauuuuuhhh banget, hahahahaha..." Yudi tertawa karena berhasil membuat Adelle terpancing.


"Jadinya kamu milih apa aja tadi, Del?" tanya Yudi.


"Pilihan pertama Ekonomi, pilihan kedua Pendidikan Matematika." jawab Adelle dengan yakin.


"Artinya kamu nggak jadi memilih jurusan psikologi seperti yang pernah kamu bilang dulu?"


"Nggak lah Yud, banyak hal yang harus aku pikirkan. Yang jelas aku nggak mungkin ninggalin rumah supaya bisa kuliah di psikologi. Di kota kita kan belum ada jurusan psikologi."


"Kamu mau buang cita-cita yang udah kamu bangun dari dulu? Kamu nggak nyesel, Del?" tanya Yudi lagi.


"In syaa Allah nggak. Keputusan ini ku ambil setelah aku berdiskusi dengan ayah dan ibu, konsultasi sama bu Sri, dan yang terpenting aku udah sholat istikharah. Dan sepertinya kedua jurusan itulah yang paling dominan untuk ku pilih. Aku nggak membuang cita-citaku yang dulu. Aku hanya mengubahnya dengan yang lain. Aku nggak menyesal sama sekali, aku hanya harus realiatis menghadapi kenyataan yang ada di hadapanku."


Adelle nampak sangat percaya diri saat mengutarakan pemikirannya yang membuat Yudi terkagum-kagum. Disaat sebagian remaja memutuskan untuk kuliah dan memilih jurusan hanya dikarenakan gengsi atau hanya sekedar ikut-ikutan teman, Adelle bisa mengambil keputusan yang sangat penting bagi dirinya dengan cara yang sangat baik.


"Aku punya cita-cita lain yang ingin ku gapai selain melanjutkan kuliah." mata itu nampak berbinar dengan indah.


"Semoga apa yang kamu cita-citakan tercapai, Del." timpal Yudi.


"Kamu sendiri tadi milih apa?"


"Aku pilih kamu, Del." senyum penuh arti hadir di bibir Yudi. Matanya menatap penuh cinta.


"Yud, aku serius."


"Aku malah lima rius"


"Kamu tahu maksud aku bukan itu, tapi milih jurusan apa Yudi!!!" nada suara Adelle naik karena merasa dipermainkan. Sementara Yudi hanya senyum-senyum melihat kelakuan cewek yang berdiri dihadapannya.


"Ya udah kalau kamu nggak mau ngasi tahu. Aku mau balik ke kelas." Adelle berbalik dan melangkahkan kakinya tanpa menunggu tanggapan dari Yudi.


"Del, tunggu woi. Koq aku di tinggal sih. Del, jangan ngambek donk." Yudi berlari menyusul Adelle.


Adelle diam tak berkata apapun, kakinya terus melangkah meninggalkan Yudi.


"Del, marah?" tanya Yudi.


"Nggak, ngapain marah."


"Kenapa jadi jutek?"


Yudi senyum-senyum sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal. Penyakit cewek nih, gawat!!!


"Del, ke kantin yuk" Yudi berusaha membujuk Adelle.


"Nggak mau, bukan jam istirahat Yud. Kamu mau dimarahi Pak Rendra karena pergi ke kantin pada jaam belajar?" Adelle berhenti sejenak seraya memandang ke arah Yudi.


"Nah gitu. Ngomong, jangan diem. Nanti di kelas deh aku kasi tahu apa pilihanku. Supaya nggak ngulang berkali-kali karena aku yakin Tri sama Shella juga bakalan nanya hal yang sama."


"Terserah kamu aja." Adelle melanjutkan langkah kakinya menuju kelas mereka. Hati kecilnya bertanya mengapa dia jadi sensitif hanya karena Yudi tak memberitahu perguruan tinggi pilihannya. Bukankah itu haknya dia? Ataukah itu karena dia merasa penasaran? Ingin tahu apakah Yudi akan kuliah di kota yang sama dengan dirinya ataukah pergi meninggalkan kota ini?


"Akh, apa juga urusanku Yudi mau kuliah di sini atau di mana pun juga. Toh sama saja." Adelle berdialog dengan dirinya sendiri.


"Del, ditanyain koq diem aja sih?" suara Yudi memecah lamunan.


"Apa Yud?"


"Kamu mikirin apa sih? Aku ngomong dari tadi lho kamunya malah dieeem aja."


"Sorry Yud, aku tadi lagi mikir adikku." dusta Adelle.


"Memangnya Lola kenapa?"


"Nggak papa." Adelle tak ingin menambah kebohongan lain.


_____&&______


Empat sekawan Yudi, Tri, Adelle dan Shella sedang duduk teras rumah Shella setelah menyelesaikan tugas pembuatan video pelajaran Bahasa Inggris yang harus diunggah pada sebuah media sosial Tik*** . Lumayan menyenangkan sebenarnya. Belajar dengan memanfaatkan sosial media. Adelle yang tadinya tak pernah mempunyai akun di aplikasi tersebut pada akhirnya harus membuatnya karena salah 1 syarat untuk penilaian adalah dengan tag akun mereka semua dan juga sang guru.


"Minum, minum, minum......" Shella datang diikuti sang asisten rumah tangga yang membawa tambahan minuman dan juga kue-kue. Panas matahari yang begitu menyengat menyebabkan sirup dan es yang tadi dihidangkan ludes dengan cepat.


"Nggak lama lagi kita ujian, terus kelulusan. Pada sibuk deh dengan aktifitas masing-masing. Bakalan sulit buat ngumpul kayak gini." Tri membuka pembicaraan.


"Iya ya, Nggak terasa bulan depan kita udah ujian. Padahal baru aja rasanya kita naik kelas XII. Taunya udah mau ujian aja." Shella menimpali.


"Bakalan kangen sama kalian semua" sambungnya lagi.


"Aku bakalan kangen nunggu jemputan ojek nih." gurau Tri.


Yudi tersenyum menanggapi hal itu.


"Aku bakalan seneng Tri, nggak perlu lagi tiap hari sebel nungguin kamu yang numpang tapi serasa tuan besar. Koq ada ya, dia yang numpang tapi dia yang ngatur-ngatur."


Tri tertawa mendengar perkataan Yudi seolah membenarkan apa yang dikatakan sahabatnya itu.


"Aku ini penumpang terbaikmu pak ojol. Mana ada penumpang yang selalu setia menemani, bahkan saat bocor ban aku juga ikut mendorong hahahaha."


Adelle dan Shella tertawa mendengar lelucon dua cowok yang memang tak terpisahkan itu. bahkan saking tak terpisahkannya mereka, ada yang mengatakan mereka adalah kembar yang tak sama.


"Aku akan kangen kamu bro," Yudi merangkul bahu Tri.


Melihat pemandangan di hadapan mereka, tak terasa ada sesak yang hadir di hati Adelle. Dia pun merasakan dejavu yang sama terhadap Shella.


"Kalian kenapa sih? Bikin hati jadi melow aja. Udah donk, kita nggak bakalan berpisah selamanya. Kita hanya akan lulusan, masih bise janjian untuk ketemuan koq. Udah donk...." Shella mencoba mengakhiri drama dihadapannya. Tak bisa dipungkiri airmatanya pasti akan jatuh jika tak cepat memalingkan wajahnya.


"Iya, kalian kayak cewek aja."Adelle menimpali perkataan Shella.


"Kamu jadinya kuliah di mana Shel? Di sini aja atau keluar?" Yudi bertanya.


Shella mengerucutkan bibirnya sehingga membuat mimik lucu diwajahnya.


"Kamu tuh ditanya koq malah ngelawak sih, Shel." Adelle menyikut lengan Shella.


"Aku masih belum bisa memutuskan. Pengennya sih di luar, mama dan papa juga maunya gitu tapi....hmmm aku masih memikirkan bagaimana hubunganku sama mas Ferdi kalau aku harus jauh dari dia." Shella berhenti sesaat, dia melihat pandangan mata teman-temannya yang seakan tidak terima dengan alasan yang disampaikan.


"Aku belum pernah LDR an. Selama ini aku sedikit tergantung sama dia, Del. Kamu jangan lihatin aku kayak gitu dong." Shella menutup wajah Adelle yang memperolok dirinya,.


Yudi dan Tri tertawa melihat interaksi kedua cewek yang telah menjadi bagian dari hari-hari mereka di bangku sekolah.


"Bucin akut" serentak keduanya berteriak pada Shella.


Tawa pecah diantara mereka mendengar Yudi dan Tri yang mendahului Adelle menggunakan julukan yang biasa diberikan Adelle pada Shella.


"Zaman udah moderen gini kamu masih aja bingung LDR an. Kamu bisa kirim pesan lewat whatsapp, email, video call, telpon, bahkan dalam sekejap kalian bisa ketemu, pilih aja penerbangan mana yang akan kamu naiki. Beres kan???" Tri berkata sambil matanya menatap Shella.


"Bener nggak, Del?" pandangannya beralih pada Adelle, meminta persetujuan.


"Iya nih, Shella.. Alasannya nggak banget deh. Lagian mas Ferdi itu tipe cowok yang setia lho sama ceweknya, dasar ceweknya aja yang kegenitan dikasi cowok sebaik mas Ferdi malah selingkuh sama preman pasar. Makanya mereka putus." Adelle membela saudaranya.


Shella merangkul Adelle dan menyandarkan kepalanya di bahu sang sahabat.


"Nanti aku pikirin dulu. Semoga sebelum kita ujian aku udah bisa menentukan akan kuliah di mana."


"Kamu gemana Yud? Jadi kemarin milih apa?"


"Pilihan pertamaku Jogja, keduanya Bandung." Yudi menjawab, pandangan matanya tertuju ke arah Adelle. Seolah menjawab apa yang ditanyakan kemarin. Ia berharap akan melihat ekspresi yang diharapkan setelah Adelle mengetahui di mana dirinya akan kuliah.


"Sepertinya bukan hanya aku dan mas Ferdi aja nih yang LDR an. Kayaknya ada yang diem-diem juga bakalan berjauhan deh." Shella tersenyum sambil mengedipkan matanya memberi isyarat ke arah Tri. Dia sempat melihat rona terkejut di mata Adelle saat mendengar perkataan Yudi.


"Gemana menurut kamu Tri? Kira-kira bakalan kuat nggak ya Yudi berjauhan sama si dia?" tanyanya lagi.


"Kalau menurut aku sih, dia juga tipe yang setia. Tapi ya nggak tau juga sih kalau nanti di sana ketemu sama seseorang yang lebih...aduuuuh" belum sempat Tri mengakhiri kalimatnya, Yudi telah menutup mulutnya dengan telapak tangan.


"Kamu tuh ya, kalau ngomong yang baik-baik aja. Doakan kawanmu ini selalu setia dan baik-baik aja nantinya. Bukan asal gitu."


Adelle hanya tersenyum melihat kelakuan Yudi. Dalam hatinya mengamini kata-kata yang diucapkan lelaki yang pernah menitipkan perasaan padanya.


"Fix, kita bakalan nggak satu kota setelah tamat nanti." Tri menyimpulkan.


"Maksud kamu? Kamu sama Adelle kan masih sama-sama di sini. Kamu bakalan kuliah di sini kan Tri?" Yudi bertanya, yang kemudian diikuti anggukan kepala Shella dan Adelle. Tentu saja mereka merasa heran dengan kata-kata Tri.


"Aku batal kuliah, ada saudara bapakku yang mengajak aku kerja. Beliau punya usaha perkebunan dan berharap aku bisa membantunya. Anaknya masih kecil-kecil, makanya om ku itu berharap padaku. Aku mau coba belajar, siapa tahu aku bisa menyerap ilmu yang diajarkan dan bisa punya usaha perkebunan sendiri."


Semua terdiam mendengar perkataan Tri. Hingga akhirnya Yudi bertanya,


"Memangnya om mu tinggal di mana?"


"Di Kalimantan Utara. Bulan lalu kebetulan om datang mengunjungi kami. Kemudian bercerita-cerita tentang usahanya. Nah, mendengar aku hampir lulus SMA, om lantas menawarkan aku untuk ikut ke sana. Tadinya aku juga berat, inginnya ya lanjut kuliah seperti kalian semua. Tapi setelah mendengar nasehat bapak trus om juga bilang aku bisa kerja sambil kuliah, ya akhirnya aku setuju. Lagi pula aku juga ingin kuliah ambil jurusan pertanian. Nggak jauh-jauh dari apa yang akan aku kerjakan di tempat om ku. So, why not? Iya kan?"


"Good luck bro, apapun yang bakalan kamu pilih aku yakin itu pasti udah kamu pikirkan. Apalagi orang tuamu juga sudah memberi restu. In syaa Allah itu adalah pilihan terbaik." Yudi menepuk-nepuk pundak sang sahabat yang sudah seperti saudara baginya.


Hening sesaat. Masing-masing larut dalam alam pikiran mereka. Terbayang perpisahan yang akan menghampiri, tak ada lagi kebersamaan seperti sekarang.


"Rasanya pengen agar ujian diundur aja ya, supaya kita masih bisa bersama." Kata Shella.


"Iya ya, ada rasa nggak iklas juga pisah sama kalian." sambung Adelle.


"Nggak iklas pisah sama kami atau kawan kami yang ini, Del?" tanya Tri iseng yang langsung mendapat gebukan buku yang sedang di pegang Adelle.


"Adooooh.... Ampuuuun...... Wah, ini sih kekerasan dalam rumah tangga." Tri meringis menahan sakit. Tangannya memijit-mijit bahunya yang baru saja di gebuk.


"Yud, hati-hati ya nanti kamu. Jangan sampai terjadi hal-hal yang lebih parah dari ini."


"Mau ku gebuk lagi? Kurang apa?" mata Adelle melotot ke arah Tri. Yudi dan Shella hanya tertawa melihat Tri yang kesakitan akibat perbuatannya.


"Udah-udah, jangan kejam gitu Del. Kasihan Tri, nanti miring sebelah bahunya karena kamu timpuk pake buku yang tebel gitu. Kalau mau, sebelahnya lagi kamu gebuk Del." kata-kata absurb Shella sukses membuat mereka semua tertawa tak terkecuali Tri.


"Bagaimana kalau sebelum kita berempat pisah, kita adakan acara perpisahan. Trus kita tukaran kado untuk saling mengingat diantara kita. Setuju nggak?" Shella memberi saran kepada teman-temannya.


"Aku setuju." Yudi cepat menyetujui.


"Kalian setuju juga kan, Del, Tri?"


"Acara gemana Shel?" tanya Adelle.


"Acara santai aja, makan, minum, ngobrol-ngobrol trus tukeran kado. Gitu aja sih. Kalau ada yang mau ngungkapin perasaan juga boleh koq." kali ini dua jari Adelle berhasil mencubit lengan Shella.


"Apaan sih, Del main cubit aja. Jangan baper gitu donk. Maksudnya bukan ungkapan rasa cinta. Bisa jadi ungkapan rasa sedih, senang, bahagia selama kita berteman. Apa yang di suka, apa yang nggak suka." Shella mencoba mengeles agar Adelle tak lagi menyerangnya dengan cubitan-cubitan kecil yang rasanya seperti di gigit semut.


Adelle memerah wajahnya, ia tahu dan yakin bahwa yang dimaksud Shella adalah unbkapan perasaan antara dirinya dan Yudi.


"Jadi pada setuju kan?" tanya sang ketua kelas yang dijawab dengan anggukan dari ketiga sahabatnya.


"Oke, jadi kapan dan di mana kita akan ngadain perpisahan akan kita bahas nanti ya. Menyesuaikan dengan jadwal kita masing-masing. Hmmm, bagaimana kalau kita buat grup aja? Supaya kita bisa lebih deket dan gampang untuk komunikasi." sekali lagi anggukan dari teman-temannya sebagai jawaban.


Pembicaraan mengalir dengan santai. Gelak tawa dan terkadang teriakan kecil dari Shella atau Adelle yang mendapatkan giliran untuk digoda oleh teman-temannya terdengar mengisi sore yang masih saja panas.


Yudi memandang Adelle yang sedang tertawa terpingkal-pingkal akibat Tri yang salah menjawab tebakan dari Shella dan mendapat hukuman harus menirukan gaya Spongebob, tokoh kartun kesukaannya. Bibirnya tersenyum tipis, ada rasa hangat yang hadir di hati mengingat bahwa tak lama lagi ia tak akan bisa dengan bebas menikmati pemandangan seperti dihadapannya.


"Del, I'm gonna miss you." batinnya sambil mengambil ponsel di meja dan mengabadikan moment dihadapannya. Biarlah akan ku simpan sebagai pengobat rasa rindu saat kelak kita tak lagi bersama....


"