Adelle

Adelle
Mr. Palak



Sebagai anak tertua, Adelle tentunya sudah lebih paham akan keadaan kedua orang tuanya. Dia bisa mengerti lebih baik daripada sang adik. Dia juga akan paham bahwa ada sesuatu yang tak baik-baik saja dalam keluarganya. Walaupun Ayah dan juga Ibu tidak mengatakan apapun padanya.


Dan saat ini, ketika melihat wajah ibu yang sedikit sayu, matanya yang masih menyisakan butir-butir air...dia yakin bahwa ada sesuatu.


Adelle berpikir bagaimana caranya agar ia bisa mengetahui apa yang terjadi pada kedua orang tuanya. Melihat cara ibu menyembunyikan airmatanya, Adelle yakin ibu tak akan memberitahu jika dirinya bertanya di hadapan ayah dan Lola.


Dan disinilah mereka sekarang setelah Shella dan Ferdi pamit pulang. Dengan alasan membeli tisu dan air mineral, Adelle berhasil mengajak ibu untuk pergi ke kafetaria rumah sakit.


"Bu, kita duduk di sini dulu ya sebentar. Adelle ingin menghirup udara yang lebih segar."


"Tapi jangan lama-lama ya Del, kasihan ayahmu di tinggal sendiri."


"Iya, bu. Sebentar aja koq." Adelle melihat sekeliling kafetaria, kebetulan sedang tidak ramai.


"Bu, ada apa? Apa yang terjadi?" Adelle menggenggam tangan ibunya tercinta.


"Ada apa , apanya Del? Ibu ga ngerti maksud kamu." jawab sang ibu.


"Bu..." Adelle menggenggam erat tangan yang selalu bekerja keras untuk keluarganya.


"Ceritakan sama Adelle apa yang terjadi? Adelle tahu ada yang ibu sembunyikan. Adelle tahu ibu habis menangis."


Ibu hanya terdiam, mulutnya masih terkunci rapat. Ia masih mempertimbangkan baik buruknya jika menceritakan hal ini pada anak sulungnya.


"Ibu..." panggil Adelle lagi.


"Bukannya ibu dan ayah yang selalu mengingatkan Adelle bahwa kita harus saling menghargai? Bahwa kita harus saling berbagi segala hal, baik itu hal yang menyenangkan ataupun tidak menyenangkan?"


"Nak, ini masalah orang tua, tak layak kamu ikut campur."


"Aku enggak berniat ikut campur bu, aku hanya ingin tahu apa yang terjadi? Aku akan menjaga rahasia kalau memang ini harus dirahasiakan."


Ibu menatap putri sulungnya yang sebentar lagi akan tamat SMA, menarik nafas kemudian berkata,


"Bu Darno tadi pagi datang ke rumah, Del. Beliau marah-marah dan meminta ganti rugi."


"Marah kenapa bu? Dan minta ganti rugi apa?" tanya Adelle tak mengerti.


Menurut beliau Lola telah membawa sial. Gara-gara berboncengan dengan Lola makanya Siti kecelakaan sehingga motor yang baru saja di beli itu rusak."


Ibu menarik nafasnya, kemudian menghembuskan dengan perlahan.


"Dan tadi sore ketika ibu baru saja tiba di rumah, beliau datang dan berteriak marah-marah di depan rumah. Ibu malu, Del. Banyak orang-orang yang melihat kejadian itu. Bu Darno minta uang ganti rugi sebesar lima juta."


"Lima juta? Untuk apa bu uang sebanyak itu?" Adelle bertanya lagi.


"Untuk biaya perbaikan motor yang baru di beli itu. Katanya lagi, kalau kita tidak membayar ganti rugi maka Lola akan dilaporkan ke Polisi. Ibu takut nak, bagaimana nasib adikmu kalau benar bu Darno berbuat nekat seperti itu. Kasihan Lola kalau sampai dilaporkan ke Polisi. Kamu tahu ibu itu kan Del."


"Jadi itu yang membuat ibu menangis?"


Ibu mengangguk lemah.


"Ibu ga mau Lola masuk penjara, ibu ga mau anak ibu kenapa-kenapa."


Adelle memeluk ibunya penuh kasih sayang.


"Bu, Lola ga bakalan kenapa-kenapa. Bu Darno ga mungkin melaporkan ke Polisi."


"Del, bu Darno itu orang yang bisa melakukan apapun juga demi apa yang diinginkannya. Ibu enggak bisa ngebayangin kalau Lola di penjara. Ibu ga bakalan bisa tidur, Del." airmata mengalir di pipi ibu yang polos tanpa polesan apapun.


"Bu, percaya sama aku. Bu Darno ga bakalan bisa memenjarakan Lola. Lola korban, bu. Bukan dia yang membawa motor, tapi Siti anaknya bu Darno. Seharusnya kalau kita mau jahat, kita lah yang meminta pertanggungjawaban Siti. Gara-gara dia Lola sekarang berada di rumah sakit."


Adelle menghapus air mata yang masih mengalir di pipi wanita yang paling dikasihinya.


"Ayo kita kembali ke ruangan bu. Ayah bisa lapor polisi nanti kalau kita ga segera muncul di ruangan." canda Adelle yang membuat ibu tersenyum.


Ibu dan anak itu berjalan beriringan menuju ruangan. Sesekali mereka berpapasan dengan pengunjung lainnya.


Pukul sembilan malam, ayah dan ibu meninggalkan rumah sakit. Seperti yang telah disepakati, malam ini Adelle akan menemani Lola di rumah sakit.


______


Dari sejak pukul sepuluh pagi Shella dan Ferdi sudah muncul di hadapan Adelle. Suara tawanya terdengar memenuhi ruangan. Gadis manis yang sedang berada pada zona bucin itu memang sudah berjanji bahwa mereka akan mengantar Lola jika sudah boleh pulang.


Ayah dan ibu muncul ketika mereka berempat sedang bercanda. Kehadiran Shella memang selalu membawa tawa, ada-ada saja yang dilakukannya untuk memancing tawa orang-orang yang berada di sekitarnya.


"Sudah selesai, yah urusan administrasinya?" tanya Adelle.


"Udah, Del."


"Jadi kita sudah bisa pulang sekarang?"


"Sudah. Ayo kita pulang."


Mereka kemudian membawa barang-barang yang ada.


"Ibu ga usah bawa apa-apa. Biar aku aja yang bawain. Ibu gandeng anak bungsu ibu aja deh. Jangan sampai dia kabur, hahahahaha." Adelle mengambil tas yang berisi pakaian Lola.


"Udah semua kan, ga ada yang ketinggalan lagi?" Ferdi bertanya sembari melihat sekeliling ruangan.


"Yuk kita pulang. Bye bye ruangan, jangan kangen ya." selorohnya yang membuat seisi penghuni ruangan tertawa.


"Aku yang bakalan kangen sama kamu, beb." Shella menjawab seraya menggandeng lengan Ferdi.


"Aduh, stop kebucinan kalian dari hadapan ku.... Oh no, mataku ternodai." canda Adelle. Kembali tawa terdengar di antara mereka.


"Ibu ikut Ferdi aja, biar ayah naik motor sendiri." kata ayah saat mereka tiba di parkiran.


"Iya, bu. Ibu ikut kita aja."


Ibu hanya mengangguk dan mengikuti apa yang dikatakan ayah. Mereka masuk ke dalam mobil dan kemudian pergi meninggalkan halaman rumah sakit.


Azan zuhur baru saja selesai saat mobil merah marun milik Ferdi memasuki halaman rumah. Satu persatu penumpang keluar dengan bawaan masing-masing. Pintu rumah nampak sudah terbuka. Ayah sudah sampai terlebih dahulu.


"Welcome home, dek. Kangen ya sama rumah?" tanya Adelle.


Lola tersenyum, dia memang sangat merindukan rumah yang sudah dua hari tak dilihatnya. Segera langkahnya diseret menuju ruang keluarga, dan dihempaskan bokongnya di kursi "kekuasaannya" yang terletak tepat di depan tivi.


Ayah tersenyum melihat si bungsu telah duduk di kursinya dan kemudian meraih remote kontrol tivi. Suara khas dari film kartun anak-anak terdengar memenuhi ruangan. Semua penghuni rumah tahu, saat Lola sudah berada pada mode 'ON' seperti itu, berarti tak ada yang bisa mengalihkan saluran televisi.


"Dek, sholat dulu gih. Nanti baru nonton tivi lagi. Kamu harus bersyukur udah boleh pulang dan bisa menikmati acara tivi kesukaanmu."


Lola segera beranjak dan menuju ke belakang. Tak lama bunyi suara air mengalir terdengar.


"Kamu ga sholat, Shel?" tanya Adelle saat dilihatnya Shella hanya duduk. Ayah dan Ferdi sudah menuju ke masjid tadi.


"Aku lagi dapet, Del."


"Oh, ya udah kamu minum aja dulu ya. Aku mau sholat dulu."


"Iya, take your time." Shella kembali menatap ponselnya. Jarinya dengan lincah menscrol benda pipih bergambar buah apel.


"Kita makan siang dulu, pasti udah pada lapar kan."


Tawaran ibu di sambut dengan suka cita. Bagi Shella, rumah Adelle bukanlah rumah asing baginya. Dia hapal betul seluk beluk rumah ini, begitu juga dengan makanannya. Dia tahu apapun yang ibu masak, pasti akan terasa enak.


"Yuk makan. Shella, Ferdi ayo ke belakang. Makan siang dulu kita." ayah mengajak sekali lagi.


Tak ada penolakan dari siapapun. Lola nampak lahap memakan makanan hasil tangan ibunda. Ikan goreng, tempe dan tahu goreng, sayur asem, lalapan, dan yang selalu menggugah selera, sambel yang pedas buatan ibu. Dua hari dia merindukan masakan ibu.


"Makan Shel, jangan malu-malu, Ferdi juga. Maaf ibu hanya bisa menyajikan makanan sederhana gini."


"Ini enak banget bu, aku kangen masakan ibu. Udah lama banget rasanya aku ga menikmati makanan buatan ibu." Shella berkata sambil terus menikmati suapan demi suapan.


"Ya iyalah udah lama, secara sejak pacaran sama mas Ferdi kamu jadinya jarang main kemari." ejek Adelle.


"Bucin akut" sambungnya lagi seraya menambah sambel ke piringnya.


"Iri bilang bos." kali ini suara Ferdi yang terdengar.


"Makanya Yudi jangan dicuekin. Ada yang sayang malah dianggurin gitu." ledek Shella.


Wajah Adelle memerah, dia tidak menduga akan mendapat serangan balik dari sahabatnya.


"Bang Yudi atau mas Ikhsan sih pacarnya kak Adelle?" tanya Lola.


"Bukannya mas Ikhsan itu naksir sama kakak? Koq banyak amat kak. Jangan maruk dong, bagi aku satu." kata-kata Lola sanggup membuat wajah Adelle memerah.


"Oh jadi bukan hanya Yudi nih yang suka sama Adelle. Pantesan Yudi ga keterima cintanya....."


Shella mengangguk-anggukan kepalanya. Ia baru saja menyelesaikan makannya.


"Jadi gitu ya, Del. Kamu banyak penggemar makanya ga nerima cintanya Yudi?"


"Apaan sih Shella? Ga ada ya yang kek gitu. Jangan ngawur deh." Adelle merasa sangat malu. Tak menduga jika hal yang selama ini ditutupi dari kedua orang tuanya, malah dijadikan bahan pembicaraan di atas meja makan.


Adelle melirik ke arah ayah dan ibu, namun keduanya sama sekali tidak menampakkan reaksi apapun. Adelle merasa lega. Dia tak tahu harus menjawab apa jika ayah atau ibu bertanya tentang Yudi atau Ikhsan.


Ayah dan mas Ferdi telah meninggalkan meja makan dan pindah ke ruang tamu, sementara Lola kembali bertemu dengan kartun-kartun kesayangannya.


Adelle dan Shella baru saja selesai membersihkan meja makan dan mencuci piring. Keduanya masih berbincang di dapur. Shella yang merasa penasaran tentang Ikhsan berusaha mengorek keterangan dari mulut Adelle.


"Jadi Ikhsan itu siapa, Del?"


"Shella, mas Ikhsan itu...."


"Ciee mas Ikhsan nih panggilannya. So sweet banget"


Adelle tersenyum mendengar candaan sahabatnya. Baru saja akan membuka mulutnya lagi, ketika dari arah depan didengarnya suara orang yang berteriak-teriak. Keduanya saling berpandangan kemudian bergegas menuju ruang tamu.


Suara orang berteriak makin jelas terdengar. Di teras, ayah dan mas Ferdi sedang menenangkan bu Darno yang marah-marah meminta ganti rugi. Sementara Lola terlihat ketakutan.


Adelle mendekati sang adik dan kemudian memeluk berusaha menenangkannya. Dibawanya sang adik ke dalam kamar agar tak lagi mendengar kata-kata kasar yang keluar dari mulut bu Darno.


Sesaat kemudian terdengar beberapa orang memasuki ruang tamu. Ayah berhasil mengajak bu Darno untuk masuk karena tak enak hati menjadi tontonan para tetangga. Dan atas inisiatif dari salah seorang tetangga, pak RT dipanggil untuk membantu menyelesaikan masalah tersebut.


"Shel, kamu temanin Lola dulu ya. Aku mau buat minuman."


Adelle keluar dari kamar, dan dilihatnya di ruang tamu sudah ada bu Darno dan seseorang berseragam polisi. Di sebelahnya ada pak RT. Ibu, ayah dan mas Ferdi duduk dihadapan mereka.


"Apa ini polisi yang diceritakan ibu?" batin Adelle.


Adelle melangkah menuju dapur, membuat teh panas untuk semua orang yang ada di ruangan tersebut kemudian menyajikannya di atas meja. Setelah itu dia kembali masuk ke dalam kamar.


"Jadi maksud kedatangan bu Darno ke sini apa?" tanya pak RT. Suaranya pelan, namun tegas.


"Saya mau minta ganti rugi pak. Gara-gara berboncengan dengan anak pak Hendra ini, anak saya mengalami kecelakaan dan kendaraan saya yang baru saya beli jadi rusak." bu Darno berbicara dengan berapi-api.


"Bisa ibu ceritakan bagaimana kronologinya sampai terjadi kecelakaan itu?" pak RT buka suara.


"Kronologinya, anak saya sedang mencoba motor yang baru saya beli beberapa hari yang lalu. Kemudian anak pak Hendra yang kepo itu ingin ikut merasakan naik motor baru, maklum pak mereka kan punyanya motor buluk."


Ayah yang duduk bersebelahan dengan ibu menahan tangan ibu saat dilihatnya ibu akan bangkit dan membalas apa yang diucapkan bu Darno.


"Trus mereka jalan-jalan sampai ke taman kota. Tapi di perjalanan pulang mereka mengalami kecelakaan akibat si Lola itu ga bisa diem. Maklum pak, dia itu maruk ga pernah di bawa jalan-jalan sama orang tuanya."


Lelaki tua yang nampak kharismatik itu menghela nafas panjang. Dia sudah hapal bagaimana karakter wanita yang duduk dihadapannya.


"Jadi ibu maunya bagaimana?"


"Saya mau keluarga pak Hendra ganti rugi. Motor itu baru dan sekarang jadi rusak gara-gara Lola. Kalau tidak mau, saya akan melaporkan ke polisi. Nah, ini saya sudah membawa polisi ke sini."


Pak RT tersenyum,


"Anak ibu bagaimana kabarnya? Apa masuk rumah sakit seperti anak pak Hendra?"


"Hhhmmmm enggak, anak saya hanya lecet sedikit. Lagi pula dia memakai helm."


"Nah, bukankah seharusnya ibu ikut prihatin atas musibah yang menimpa anak pak Hendra? Dia harus di rawat di rumah sakit."


Bu Darno nampak mulai kalut. Dipandanginya lelaki berseragam polisi yang duduk disampingnya.


"Bapak harus bertanggung jawab. Kalau tidak, maka urusan ini akan panjang."


"Maksud bapak bagaimana?" tanya ayah.


"Kami akan membawa ini ke kantor polisi. Anak bapak akan kami tuntut."


Adelle, Shella dan Lola mendengarkan pembicaraan para orang tua.


"Bagaimana pak? Mau ganti rugi atau anak bapak bisa dipenjarakan?"


Shella nampak berfikir sejenak kemudian beranjak ke luar kamar.


"Shel, mau ke mana?"


Shella diam tak menjawab. Wajahnya nampak serius dan kemudian menatap lelaki yang berseragam coklat muda itu.


"Om Zul? Ngapain di sini?" Adelle menatap tajam.


Sementara lelaki yang di panggil Zul nampak pucat pasi.


"Nak Adelle kenal sama pak polisi ini?" ayah bertanya pada Adelle sambil menunjuk pak polisi yang nampak semakin tertunduk.


"Dia polisi gadungan ayah. Bulan lalu udah di penjara karena menipu papa. Dia juga mengaku sebagai polisi yang meminta uang pelicin pada papa. Untung saja om Leo yang kerja sebagai intel di Polda cepat mengetahui dan kemudian menangkapnya."


Pias wajah polisi gadungan itu. Begitu pula bu Darno yang tadi banyak bicara, tiba-tiba terdiam. Dan tanpa banyak bunyi kedua manusia yang tak tahu malu itu kemudian menghilang tanpa permisi.


______


Happy reading ya bestiee