
...︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽...
...CERITA INI HANYA FIKTIF BELAKA, MOHON MAAF JIKA ADA KESAMAAN YANG HADIR TANPA DISENGAJA....
...INI HANYA CERITA FIKTIF JADI JANGAN SAMPAI TERBAWA KE DUNIA NYATA....
...SEKIAN TERIMAKASIH....
...______________________________________...
...—H A P P Y R E A D I N G—...
...______________________________________...
DUA bulan berlalu. Nika memberanikan diri menghampiri Fayyadh yang setelah kejadian itu tak gentar untuk kembali tanpa merasa bersalah. Tidak, ada sesuatu yang harus Nika beritahu.
“Hai!” sapa Fayyadh tersenyum lebar. Sedari tadi ia menunggu Nika di depan kelasnya. Bisa menyempatkan waktu ke kampus saat persiapan sidangnya sangat menguras waktu bagi Fayyadh.
Nika tersenyum kecil. Merasa kekasihnya butuh bantuan pria itu mengambil alih tumpukkan buku dengan ratusan halaman di genggaman Nika.
“Gimana kuliahnya? Udah lama ya nggak ngobrol begini,” ucap Fayyadh basa basi. “Baik,” balas Nika singkat.
“Mau kemana hari ini? Aku bakal temenin kamu kemanapun itu, anggep aja ini permintaan maaf aku,” jelas Fayyadh, Nika menatap lekat manik mata pria tersebut sebelum tersenyum dengan makna yang sulit ditafsirkan.
“Toko buku dekat rumah Nika, ada buku bagus yang cocok buat Nika,” jawab Nika sebelum berjalan terlebih dahulu.
“Buat kebutuhan kuliah?” tanya Fayyadh yang tak digubris Nika, menyadari itu Fayyadh langsung mengenggam tangan Nika untuk ia bawa ke parkiran kampus. “Kenapa si sekarang pendiem banget, masih marah?”
Mendengar pertanyaan Fayyadh membuat gadis itu memandang lekat ke arah Fayyadh. “Jangan lama-lama kak,Nika mau ngerjain tugas kelompok.”
“Berapa kali aku bilang sama kamu jangan panggil ‘kak’ kalau cuma ada kita berdua” protes Fayyadh. Nika mendengus kesal sebelum memeluk kekasihnya tersebut. “Ayo!” ajak Nika melihat Fayyadh memamerkan senyum miliknya.
“Sini aku pakein,” ucap Fayyadh mengambil alih helm dalam genggaman Nika. “Kamu kurusan Nika, liat pipi kamu nambah tirus!” sindir Fayyadh tak melihat gumpalan bulat yang biasanya ia lihat ketika Nika memakai helm miliknya.
Nika menggeleng langsung menaiki motor Fayyadh sembari memeluk dari belakang tubuh pria tersebut. “Nika cuma banyak pikiran aja,” jawabnya menenggelamkan wajahnya mencium aroma parfum milik Fayyadh.
“Pokoknya hari ini kamu harus have fun sama aku, kelar dari toko mau makan apa?” tanya Fayyadh melajukan kendaraannya keluar dari area kampus membelah padatnya jalan siang itu. “Lumayan Ka, sekalian makan siang. Mau Mie Ayam?”
“Nika mau bakso aja, tapi yang super pedes!”
Fayyadh mengeryitkan dahinya bingung. “Kamu 'kan nggak bisa makan pedes ka.”
“Nggak tau, Nika cuma pengen makan kuah hangat bakso yang pedes, kayaknya seger aja gitu,” jelas Nika membuyarkan kekhawatiran Fayyadh.
“Oke! Meluncur!” sahut Fayyadh menambah gas motornya menuju Jakarta, siang itu matahari tak terlalu menyengat, cahayanya bahkan tertutupi oleh abunya awan.
Nika mendangak, masih memeluk erat tubuh Fayyadh bersama aroma parfum yang menguar pikirannya tak karuan. Ia hanya takut bahwa kesendirian adalah akhir dari hidupnya. Nika takut, bahwa orang yang ia sayang akan kembali pergi. Persis seperti Khalil.
Tak lama deru mesin motor Fayyadh tak terdengar, pria itu telah memakirkan kendaraan miliknya di teras sebuah toko buku yang namanya sudah tersohor. Nika turun, seperti biasa Fayyadh melakukan tugasnya melepas helm yang dikenakan oleh kekasihnya tersebut.
“Semangat banget kayaknya,” goda Fayyadh melihat senyum Nika yang mengembang. “Nggak tau Nika ngerasa excited aja,” balas Nika.
Fayyadh mengangguk. Melepas helm miliknya lalu turun dari motor. “Ayo!” ajaknya menautkan jemari tangan miliknya dengan sang kekasih.
“Mau beli Novel yang bahasa Inggris?” tanya Fayyadh yang sedari tadi menemani Nika berkeliling. Gadis itu menggeleng. “Buku parenting!” jawabnya. “Buat apaan?”
Nika tak menjawab memilih bertanya kepada pria berumur penjaga toko yang duduk di tengah toko sambil membaca buku tebal yang tampak kuno. “Cari di tengah rak, di bagian kiri toko ini. Itu buku tentang pendidikan dan bimbingan,” jelas pria itu membuat Nika menganggukan kepalanya.
“Buat siapa?”
“Buat Nika!”
“Kamu masih kuliah Ka, lagian jurusan kamu nggak ada sangkut pautnya tentang ilmu parenting,” komentar Fayyadh melihat Nika membawa dua buah buku dalam genggamannya. Gadis itu tak menjawab, kembali ke tengah toko bersiap untuk membayar. Dengan nafas gusar Fayyadh menyusul.
“Ayo, Nika udah laper!” protes Nika menggandeng lengan milik Fayyadh membawa pria itu keluar dari toko buku. “Itu, ada tukang bakso, kita makan di sana aja mumpung sepi!” ajak Nika terus menarik tangan Fayyadh.
“Kamu yakin? Justru yang sepi biasanya nggak enak loh,” lontar Fayyadh ragu.
Nika terdiam menghentikan langkahnya sambil menatap Fayyadh dengan senyum lebar. Baiklah, pria itu mengalah. Mereka akhirnya memesan dua porsi bakso persis seperti yang Nika inginkan.
“Enak nggak?” tanya Fayyadh melihat Nika menyelesaikan suapan terakhirnya.
“Keinginan Nika tercapai!” jawab Nika. Fayyadh terdiam. Seperti ada sesuatu yang Nika tutupi. “Oh ya gimana kalau nanti malem kita nonton?” tawar Fayyadh membuat Nika menganggukkan kepalanya.“Kita langsung ketemuan di Mall aja, tapi sorry aku nggak bisa jemput kamu,” jelas Fayyadh.
“Santai aja, kan ada ojek online. Jam tujuh gimana?” ucap Nika.
Fayyadh menganggukan kepalanya. “Mau pulang sekarang?”
Nika menggeleng. “Ada yang mau Nika bicarain.”
“Apa?” gadis itu tak menjawab memilih menyodorkan salah satu buku parenting yang tadi ia beli ke arah Fayyadh. “Maksudnya apa ka?”
“Malam itu, malam Papih meninggal, Nika rasa Kak Fayyadh masih ingat 'kan?”
Fayyadh mengangguk dengan ragu.
“Nika hamil.”
“LU BERCANDA 'KAN?” tanya Fayyadh tak percaya. “JAWAB GUE LU BERCANDA!!!”
Nika yang terkejut atas bentakan Fayyadh memilih memejamkan matanya. “JAWAB NIKA!”
Dengan tangan gemetar Nika menunjukkan hasil testpack miliknya. Melihat dua garis merah membuat tubuh Fayyadh mematung. Pria itu menghembuskan nafasnya berat sebelum mengacak surai rambutnya frustasi. “Kita pulang sekarang!” putusnya berjalan terlebih dahulu setelah membayar dua mangkuk bakso. Nika meneteskan air matanya. Ketakutannya benar.
Selama perjalanan pulang hanya ada kebungkaman diantara mereka. Perasaan asing itu seolah memperlambat siang yang teduh. Di jok belakang Nika termenung meremas ujung kemeja milik Fayyadh sambil meneteskan air matanya.
Jujur saja, jika harus menghadapinya seorang diri Nika tak sanggup. “Nika?” panggil Fayyadh ketika kekasihnya itu menyerahkan helm miliknya.
“Iya?”
“Aku bakal cari cara Ka, kamu tenang aja ya. Aku janji bakal cari jalan keluarnya,” ucap Fayyadh menatap manik mata milik Nika lembut. Gadis itu mengangguk membuat tangan Fayyadh tergerak untuk mencubit pipi milik Nika.
“Sakit tau!”
“Maaf ya, kamu masuk gih!”
“Nanti malem jangan lupa soal agenda nonton kita ya!” peringat Nika dibalas suara klakson dari motor milik Fayyadh. Sedikit bernafas lega Nika menyunggingkan senyum sembari berjalan masuk ke dalam rumah.
Ia harap semuanya akan baik-baik saja.
...꒰🖇꒱...
“Nika?” sapa seseorang menepuk pundak gadis yang tampak menyendiri tersebut.
“Tian? Lu ngapain disini?” tanya Nika terkejut.
Tian dengan bangga memamerkan seragam kerjanya. “Gue ambil part time di tempat bermain, keren nggak?”
“Keren banget, sahabat gue emang nggak ada lawan!” puji Nika memberikan dua jempolnya.
“Lu? Ngapain disini? Udah mau nutup loh ni Mall,” peringat Tian mengedarkan pandangannya ke penjuru arah. Beberapa lampu dari toko sudah mati.
“Lagi nunggu seseorang. Kebetulan ada janji nonton.”
“Widih siapa tuh pacar lu?” tanya Tian. “Gue pikir lu kesini mau nyari baju.”
“Bukan Ti, cuma kak Fayyadh kok. Nyari baju? Buat apaan?”
“Dari jam tujuh sih, kebetulan motor dia di service jadi kita nggak bisa berangkat bar—”
“Lu nggak tau?” potong Tian.
“Apa?” tanya Nika bingung. Penjelasan Tian selanjutnya membuat gadis itu mematung dengan degup jantung yang berdetak tak karuan.
...꒰🖇꒱...
Genggaman tangan yang begitu hangat dirasakan oleh Nika. Jujur, ini pertama kalinya hadir dalam sebuah acara dimana namanya tak tertera di undangan. Tapi bujukan Tian berhasil membuat gadis itu membulatkan tekad. “Gue yakin lu bisa, Ka!” ucap Tian membisikkan kata penuh dukungan itu.
Langkah mereka berdua semakin masuk ke dalam loby hotel. Lalu karangan bunga dan sebuah foto pre-wedding menyadarkan mereka bahwa tempat yang harus mereka datangi benar ada di dalam. “Lu dateng kesini sama gue, Ka. Ada gue.” jelas Tian melihat senyum hambar sahabatnya tersebut. Dengan lemah Nika mengangguk.
“Kenapa mereka nggak kasih undangan ke gue ya Ti?” tanya Nika heran. “I don't know,” balas Tian bingung.
“TIAN!!!” panggil beberapa orang yang berkumpul pada salah satu meja. “Ka, itu temen-temen organisasi gue, lu mau ikut gabung nggak?”
Nika menggeleng. Ia tau diri, bahkan ia tidak mengenal wajah beberapa orang disana. Gadis itu memilih pergi seorang diri bersikap layaknya tamu yang lain.
Tak berniat mengisi perutnya yang dengan ajaib tidak merengek minta diisi Nika hanya berdiri terdiam menatap pelaminan dari jauh. Dimana kedua mempelai tampak serasi dengan balutan pakaian adat yang begitu mewah. Nika terkagum, ia yakin pihak keluarga perempuan adalah orang penting.
Tapi, siapa sangka jarak yang ia rasa sudah cukup jauh ternyata masih berhasil membuat perhatian mempelai pria menatap ke arahnya sebelum terburu-buru menghampiri Nika.
Tau kehadirannya diketahui, Nika memilih berjalan cepat menjauhi keramaian, ia tidak mau membuat keributan di hari bahagia orang lain. Tidak, Nika masih waras.
“Disini aja Ka!” putusnya sembari mengatur nafas. Gadis itu membalikkan badannya menatap dengan mata berlinang ke lawan bicaranya.
“Semalam, hampir empat jam Nika nunggu. Hujan, Nika kehujanan, Nika kedinginan, tapi baru sekarang sakitnya. Kenapa nggak bilang dari awal? Pernikahan itu butuh waktu lama untuk pembahasan, jadi dari kapan kak?” runtuh sudah semua pertahanan Nika, gadis itu terisak membuat sang pria terdiam.
“Kak? Nika cuma pelarian aja 'kan? Nika, cuma benalu ya 'kan kak?” tanya Nika.
“NGGAK NIKA! KAMU BUKAN BENALU APALAGI PELARIAN DI HIDUP AKU!”
“Terus apa kak? Kalau bukan, kenapa sekarang Kak Fayyadh nikah sama orang lain, bahkan lebih sakitnya Nika nggak dapet undangan?”
“Karena aku nggak mau kehilangan kamu, PUAS! TOLONG NGERTIIN POSISI AKU!”
Nika tertawa hambar memandang Fayyadh tak percaya. “NGERTIIN KAK? NGERTIIN?! Selama ini Nika selalu terbuka sama Kak Fayyadh, tapi nyatanya Kak Fayyadh yang nggak pernah terbuka sama Nika. Lucu 'kan kak? Jangan merasa paling bersalah.”
“SEKARANG KAMU MAU APA HAH? MAU NGERUSAK ACARA HARI INI? MAU BILANG KE ORANG YANG HADIR DISINI?”
“.. SAYA SABRINA ANNIKA THEODORA, KEKASIH MAHESWARA FAYYADH SAAT INI TENGAH MENGANDUNG ANAK DARI MEMPELAI PRIA, ITU 'KAN?”
Emosi Nika tak tertahan. Tangannya ia angkat ke udara bersiap memberikan tamparan untuk pria itu. Tapi apa daya, tangannya hanya melayang di udara tanpa mendarat. Hanya isakan tangis yang terdengar. “Kak? Nika bener-bener nggak nyangka kalau tuduhan menyakitkan itu keluar dari mulut kak Fayyadh.”
“Aku emang jahat Ka, puas 'kan kamu sekarang? Ini aku yang asli, liat? Kamu masih mau sama aku? Status aku suami orang, masih berusaha minta pertanggungjawaban? Belum tentu anak dikandungan kamu anak aku!”
“SELAMA INI NIKA SELALU SAMA KAK FAYYADH. NEMENIN KAK FAYYADH NGERJAIN SKRIPSI, TAPI, BISA-BISANYA KAK FAYYADH NUDUH NIKA BEGITU, NIKA BUKAN PELACUR KAK!”
Fayyadh tertawa cukup keras. “Oke, kalau gitu hubungan kita selesai disini. Kamu gugurin anak dikandungan kamu, gampang 'kan? Nanti aku kirim alamat tempat aborsi terbaik,” ucap Fayyadh enteng.
“..aku bakal tanggungjawab kalau kamu ngelakuin apa yang aku bilang tadi.”
“Apa kak?”
“Ngaku, kalau kamu udah hamil anak aku!!”
Nika terdiam pikirannya beradu. Disatu sisi ia masih waras untuk tidak melakukan tindakan merugikan itu. Tapi, disatu sisi Nika juga bingung dengan nasib kandungannya dalam beberapa bulan ke depan, tidak mungkin jika Nika harus membesarkannya seorang diri.
“Gimana?” tanya Fayyadh jengah. Gadis itu tampak menimang sebelum decakan kesal Fayyadh mengejutkannya. “LAMA!”
“Nika tunggu alamat tempat aborsi yang kata Kak Fayyadh bagus, permisi,” jawab Nika sebelum berlalu pergi.
“BENER 'KAN! LU NGGAK CINTA SAMA GUE! ATAU EMANG BENER ANAK DIKANDUNGAN LU ITU BUKAN ANAK GUE? JAWAB PELACUR!!!”
Nika meremas kuat dress miliknya. Kini, ucapan Priya benar-benar terbukti. Dengan langkah yang ia paksakan Nika berjalan menjauhi Fayyadh. Tak ada gunanya jika ia membalas perkataan Fayyadh, pria itu hanya terus menerus mencari kesalahannya. Ia tahu, Fayyadh tak akan pernah mengakui anak dalam kandungannya.
“BEGO LU!” umpat seseorang langsung menampar Fayyadh dengan kencang. Fayyadh yang masih menatap kepergian Nika hampir terjungkal kebelakang lantaran terkejut.
“MAKSUD LU APA HAH?!”
“GUE! GUE DENGER SEMUANYA! GUE, GUE TAU SEBERAPA BANGSAT-NYA LU! PENGECUT!” lontarnya kembali menampar Fayyadh, kali ini ia terus melayangkannya berulang kali mengabaikan rasa perih di telapak tangannya.
Fayyadh hanya terdiam pasrah. “KALAU NIKA NGGAK BISA NAMPAR COWOK NGGAK TAU DIRI KAYAK LU, ANGGEP AJA GUE SEBAGAI PERANTARA!”
“MAU LU APA HAH?!” tanya Fayyadh kesal menahan tangan wanita di hadapannya, cukup harga dirinya serasa diinjak. “MAU LU KASIH TAU KE ORANG ‘WOY! FAYYADH KETUA BEM YANG HARI INI NIKAH HAMILIN PACARNYA’ GITU?”
“..DENGER YA, GUE AJA NGGAK YAKIN ITU ANAK GUE APA BUKAN, JANGAN SOK IKUT CAMPUR!” bentak Fayyadh tak terima.
“Sekarang gue tanya, bagi lu dan perasaan lu ke Nika gim—”
“GUE SAYANG SAMA DIA! GUE CINTA!!!” perjelas Fayyadh dengan nafas menggebu.
“Lu. Lu punya banyak waktu dan kesempatan buat ngomong, tapi apa? Lu milih nyembunyiin hubungan lu sama Nika, dan sekarang apa? Gila lu! Nyuruh cewek yang katanya lu cinta buat gugurin tuh anak lu!”
“GUE DAH BILANG BELUM TENTU ITU ANAK GUE!” Lontar Fayyadh langsung mendapatkan sebuah tamparan kembali. “Kalau lu nggak tau rasanya jadi gue lu diem aja!”
Priya tertawa begitu keras menyadari betapa bodohnya Fayyadh. “Kalau gue ditakdirin jadi lu, gue nggak bakal jadi pengecut buat bicara apa yang ada dihati gue Yadh!” sindir Priya tajam.
“Dan lu pertaruhin nasib ekonomi keluarga kita?” tanya Fayyadh tajam.
“Nggak begitu cara nyelesain masalah, apa si yang ada di otak lu? UANG?! lu sadar nggak, mungkin bukan cuma Nika yang bakal terluka gegara sikap PENGECUT LU FAYYADH!” tekan Priya diakhir dengan kesal. “Satu yang harus lu tau, gue malu ngakuin lu jadi kakak gue!”
...꒰🖇꒱...
“NIKA LU NGAPAIN NANGIS?” tanya Adri yang tampak berdiri di pintu masuk hotel.
Menghapus sisa air mata miliknya Nika menggeleng sembari tersenyum. “Lu bener nggak apa-apa?” Adri, terlihat begitu cemas.
“I-ya kak.”
“Lu mau balik? Sama siapa?”
“Iya, kalau gitu Nika pamit kak,” ucap Nika dengan suara gemetar.
Adri hanya menganggukkan kepalanya, bukan urusannya untuk ikut campur. “ADRI!” panggil Deena heboh.
“Apasi lu berisik!” sindir pria tersebut menyesap kopi miliknya.
Deena tersenyum lebar. “Itu si Nika?”
“Ya lu pikir siapa lagi, anak organisasi yang gampang nangis,” kesal Adri.
“Biasa aja kali! Lucu lagian, pacaran sama siapa, Nikahnya sama siapa.”
“Hah? Maksud lu gimana?” tanya Adri tak mengerti. Deena hanya tersenyum membisikkan sesuatu yang membuat Adri tanpa sengaja menumpahkan kopi miliknya. “Muka gila tuh cowok, ketipu cover gue! Kasian amat yak tu cewek mana masih muda.”
“Adri! Lu liat heels gue kotor kena kopi lu!” kesal Deena.
Sementara itu di lain tempat Nika tampak terduduk di sebuah halte menunggu taksi pesanannya datang. Memandang sendu langit bandung bersama matanya yang membengkak. Gadis itu kembali terisak. Pikirannya benar-benar buntu, ia bahkan tidak tau harus bagaimana kedepannya.
“Pih, Nika sekarang harus gimana?”
✄ - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -- - - - -14-04-23𖠄ྀྀ