
...CERITA INI HANYA FIKTIF BELAKA, MOHON MAAF JIKA ADA KESAMAAN YANG HADIR TANPA DISENGAJA....
...INI HANYA CERITA FIKTIF JADI JANGAN SAMPAI TERBAWA KE DUNIA NYATA....
...SEKIAN TERIMAKASIH....
...______________________________________...
...—H A P P Y R E A D I N G—...
...______________________________________...
MENATAP dengan pandangan nanar sebuah senyuman terpaksa terbit dari wajah Nika. Menghembuskan nafasnya dengan kasar ia semakin mempererat pelukannya dengan Khalil.
“Sekarang Mamih benar-benar pergi ya Pih, nggak bakal balik lagi,” ungkapnya.
Seminggu telah berlalu semenjak Eyangnya yang datang jauh-jauh dari Jogja hanya untuk mengambil seluruh barang-barang milik wanita yang telah melahirkan Nika. Butuh dua hari untuk merapihkan dan mengangkut semuanya. Dan butuh dua hari bagi pasangan paruh baya itu untuk membujuk Nika, tapi hasil tetap sama, ia bertahan bersama Khalil di Jakarta.
“Makasih ya sayang, makasih kamu lebih milih tinggal sama orang tua kayak Papih,” jelas Khalil merasa bersalah.
Nika menggeleng. “Papih ngomong apa? Lagipula 'kan Papih orang tua Nika, Nika udah dewasa berhak nentuin mau tinggal dimana bukan?” tanya Nika menatap manik sendu milik Khalil. Sebuah guratan kesedihan dan kerinduan amat terasa dari sana.
“Disana,” ucap Khalil menghentikan ucapannya. “Disana kamu akan lebih terjamin, Nika. Kamu pasti bakal dapat perhatian lebih besar,” jelas Khalil dengan suara gemetar.
“Papih ngomong apa si? Rumah Nika disini, jangan berusaha bujuk Nika pergi dari rumah. Nika cuma butuh rumah untuk Nika pulang, dan itu Papih!” protes Nika sembari nangis.
Khalil tertawa kecil melihat putrinya yang telah tumbuh dewasa itu menangis karena ulahnya. “Maafin Papih ya belum bisa bikin kamu bahagia.”
“KATA SIAPA?” tanya gadis itu duduk dengan tegap sambil memandang wajah Khalil tegas. “Itu kamu nangis,” goda Khalil. “Papih, Nika nangis terharu tau!” kesalnya kembali berhambur pada pelukan milik Khalil.
“Maaf Papih terlambat berubah ya Nika,” hibur Khalil pada dirinya sendiri.
Nika menggeleng. “Manusia nggak ada yang sempurna Pih, baik Nika maupun Papih. Dengan Papih berusaha memperbaiki kesalahan masa lalu bagi Nika itu udah cukup,” jelasnya.
“Nggak sayang, keluarga kita kurang lengkap,” elak Khalil memandang sendu jemari manis tangan miliknya yang tersemat cincin pernikahan.
“Pih, ini udah hampir empat tahun. Keputusan Mamih mungkin udah bulat, mungkin emang dengan cara itu Mamih bisa bahagia,” jawab Nika tersenyum hambar. “Sekarang Nika punya Papih, begitupun sebaliknya, jadi jangan pernah bahas kalau keluarga kita kurang lengkap ya?”
“Empat belas tahun Papih sibuk kerja Nika, nggak pernah liat tumbuh kembang kamu, nggak pernah ajak kamu atau Mamih kamu liburan bareng. Cuma foto kalian berdua aja yang tercetak, Papih ngerasa bersalah, andai boleh diulang Papih pengen kita foto bertiga, foto di tempat dimana kita liburan, pasti seru 'kan?” tanya Khalil dengan pikiran yang melayang jauh.
Nika mengangguk tanpa sadar. “Kalau gitu, ayo kita liburan bareng Pih, ketempat seru yang harus Papih datengin, ketempat seru yang lagi viral. Terus kita foto bareng, intinya refresing!” bujuk Nika disambut tawa milik Khalil.
Pria itu mendekap Nika erat, mencium pucuk kepala Nika dengan lembut. Ia meneteskan air matanya merasakan tangan kecil milik Nika sudah menjadi lebih besar, atau manik mata Nika yang sama persis seperti mantan istrinya.
“Nika, jangan tinggalin Papih ya?” lontar Khalil tiba-tiba.
“Pih, Nika janji bakal nemenin Papih bahkan kalau Nika nikah dan punya anak bahkan sampai punya cucu,” jawab Nika optimis. “Kalau sampai kamu punya cucu yang ada Papih udah pergi duluan, Nika!” gurau Khalil.
“Kok Papih ngomong gitu sih!” protes Nika tak terima.
“Coba kita berfikir rasion—”
“Nggak mau! Nika ngambek!” kesal Nika memandang malas ke arah Khalil. Sementara pria yang sudah menginjak kepala empat itu hanya tersenyum kembali membawa Nika dalam dekapannya. Kini, hidupnya hanya untuk Sabrina Annika Theodora seorang.
“Gimana kalau kita mandi bola?” usul Khalil.
Nika menggeleng dengan keras. “Papih kalau random kebangetan, ya kali Nika udah besar diajak mandi bola!”
Khalil tertawa, seperti biasa gadis kecilnya itu selalu memprotes setiap usulannya. “Kalau makan Mie Ayam gimana?”
“Nika udah makan minggu lalu sama Kak Fayyadh,” tolak Nika.
“Oh jadi gitu, karena udah makan sama cowok lain sama Papih nggak mau?” sindir Khalil. “Yaudah kalau gitu Papih beli aja sendiri!”
“Papih kok ngambekan sih kayak ABG labil! Nggak! Nika ikut! Kemanapun Papih pergi Nika harus ikut!” protes Nika tak terima.
Khalil tersenyum meledek, “Kalau Papih pergi ke surga gimana, masih mau ikut?”
“Tuh 'kan Papih mulai ngelantur lagi!” kesal Nika. “Tapi nggak papa, nanti tunggu Nika nyusul!”
“Ngawur kamu!”
“Lagian Papih ngaco, sok-sokan bahas kematian kayak besok mau pergi aja,” ujar Nika memandang kesal ke arah Khalil.
Khalil hanya tersenyum. “Papih bercanda sayang, Papih mau liat kamu nikah dulu,” jawab Khalil.
“Calon aja belum ada, Papih diajak ngobrol lama kelamaan makin ngawur, nih!”
“Itu Fayyadh, gimana belum ada status?” goda Khalil.
“Udah Papih selalu begitu, Nika mau mandi dulu bye!” pamit Nika berlalu pergi.
Khalil tersenyum, wajah kesal Nika adalah obat baginya. Menghabiskan waktu yang selama ini ia gunakan untuk membangun bisnis ia harap bisa mengobati luka di hati Nika.
Cukup mantan istrinya yang memilih pergi setelah bertahan selama empat belas tahun, tapi tidak untuk Nika. Ia sudah berjanji untuk tidak menjadi pribadi workaholic yang menjengkelkan. Seiring berjalannya waktu dan kepergian mantan istrinya ia sadar, meskipun ia berusaha dengan keras mencari uang untuk keluarganya, waktu adalah hal yang amat penting bagi keluarganya.
Tapi, nasi sudah menjadi bubur. Dengan kerinduan ia berusaha mengikhlaskan perpisahan itu. Meskipun cukup berat membesarkan Nika sendirian kurang lebih selama empat tahun terakhir, tapi lagi, senyum Nika dan bagaimana gadis itu tumbuh menjadi dewasa adalah obat dari setiap mimpi Khalil.
“Nika, Papih harap kamu bisa bertemu dengan pria baik, jangan seperti Papih ya,” lirih Khalil sebelum memejamkan matanya.
Ia lelah. Tapi, ia bingung kemana ia harus bercerita jika bukan kepada Tuhan.
Rumahnya telah pergi. Wanita cantik yang masih keturunan keraton itu telah pergi bersama senyum yang menjadi salam perpisahan terakhir mereka. Tapi bagi Khalil, Ning masih menetap menjadi pengisi di ruang hatinya, bahkan sampai ajalnya menjemput nanti.
“PAPIH, AYO KITA MAKAN MIE AYAM!” lontar Nika yang terburu-buru turun dari tangga.
Membuka matanya lebar Khalil tersenyum menatap putrinya yang telah tampil dengan cantik.
‘Ning, Nika sudah lebih besar dari waktu kamu meninggalkan rumah ini,’ bisik Khalil di relung hatinya yang hampa.
...꒰🖇꒱...
“PAPIH KHALIL!!!” panggil seseorang membuat Nika maupun Papihnya menengok ke sumber suara.
Suasana ramai dari karnaval membuat mereka kebingungan, tapi sesosok gadis dengan kacamata model eye cat tampak berlari menghampiri Nika maupun Khalil. “Priya?” sapa Nika masih terkejut.
“Selamat sore, Pih!” Priya memberikan senyum terbaiknya menatap penuh binar ke arah orang tua Nika.
“Pih, dia ini Priya. Yang suka Nika ceritain itu loh!” bisik Nika membuat Khalil mengangguk.
“Saya Khalil, Papihnya Nika,” ucap Khalil menyodorkan tangannya. “Hei, Priya, are you okay?” tanya Khalil khawatir.
“YA!” Panggil Nika membuat gadis itu tertawa kikuk. “Anu Pih, maaf, saya Priya,” jawab Priya memperkenalkan diri.
“Sorry, you call me Papih?” Khalil menatap Priya, sementara gadis itu gelagapan tak karuan.
“Pih, Priya penggemar berat Papih,” bisik Nika. Khalil hanya tersenyum kecil.
“Maaf, Om,” ucap Priya tak enak.
Khalil menganggukan kepalanya, memandangi area sekitar tempatnya berdiri. “Kamu kesini sendiri?”
“Tadi saya sam—”
“PRIYA! LU KEBIASAAN NINGGALIN GUE!” protes seseorang yang berlari sambil memegangi beberapa jajanan milik Priya termasuk sebuah cotton candy yang besarnya dua kali lipat dari kepalanya.
“Gitu aja ngeluh lu!” sindir Priya tajam.
“Fayyadh?” sapa Khalil memandangi pria dengan tubuh sedikit berisi tersebut yang tengah berusaha mengatur nafasnya. “Sore Om, Sore Nika!” sapa Fayyadh.
“Kalian?”
Mendengar penjelasan itu membuat Nika tertawa membungkam suara dibalik tubuh tegap milik Khalil. “Nika?” panggil Khalil.
“Cie Papih ada yang suka,” goda Nika masih tertawa.
“Om Khalil sama Nika udah lama disini?”
Khalil menggeleng. “Kita baru aja sampai, Nika maksa saya buat kesini, katanya mau mandi bola.”
“PAPIH FITNAH! PAPIH SENDIRI YANG MAU MANDI BOLA JUGA!” protes Nika tak terima.
“Gimana kalau bareng aja, Om?” tawar Priya berharap. “Kebetulan saya baru sampe disini jadi belum banyak eksplor permainannya.”
“Baru darimana jajanan lu sebany—” ucapan Fayyadh terhenti ketika mulutnya dibekap oleh Priya dengan tatapan tajam gadis itu berbisik. “Jangan ganggu rencana gue ya!” ancamnya.
Khalil hanya terdiam, mengikuti arahan Priya yang seolah bertindak sebagai tour guide untuknya. Sementara baik Nika maupun Fayyadh tampak berjalan beriringan dibelakang.
“Mau Nika bantuin Kak?” tawar Nika membuka obrolan.
Fayyadh menggeleng. “Ini enteng Nika, nggak apa-apa. Lagipula gue pernah bawa yang lebih berat dari ini.”
“Kak Fayyadh sama Priya udah lama disini? Maksud Nika main di acara karnaval?”
“Boro-boro Ka, dari gerbang masuk gue udah diseret amat tu bocah ke stand makanan, lu bisa liat sendiri 'kan?” tanya Fayyadh mengangkat beberapa kantung plastik dalam genggamannya.
Tawa Nika terdengar, melihat bagaimana masam wajah Fayyadh bisa dibayangkan bagaimana Priya memaksa kakaknya tersebut. “Priya pernah main kerumah lu?” tanya Fayyadh.
“Belum sih Kak, kenapa?”
“Tuh bocah deket banget sama Papih lu,” lontar Fayyadh menunjuk adiknya yang berdiri persis di samping Khalil.
“Bukannya Priya emang mudah berbaur ya Kak?”
“Kalau temen sebaya atau yang lebih muda gue percaya, ini 'kan sama bokap temennya, tuh liat centil banget, Jangan-janga—”
“Jangan-jangan kenapa?”
“Tuh bocah kagak naksir bokap lu 'kan?” tebak Fayyadh yang sepenuhnya benar, sementara Nika hanya bisa tersenyum lebar. “Gila tuh bocah, lu rela mahkluk kayak dia jadi perusak keluarga lu?” tanya Fayyadh.
“Perusak gimana?”
“Perusak hubungan nyokap bokap lu lah!”
Nika menggeleng. “Udah rusak Kak, jadi kalau Papih deket sama wanita lain Nika nggak masalah selagi Papih bahagia, tapi kalau buat Priya,” ucap Nika tampak berfikir.
“Jangan dah, yang ada lu mimpi buruk terus tiap hari kayak gue,” timpal Fayyadh membuat Nika menatap seniornya itu tak percaya.
“Tega banget Kak Fayyadh sama Priya,” jawab Nika.
“Lu udah tau gimana Priya, Ka. Secara lu pernah satu sekolah 'kan pas SMP dul—”
“SMA kak!” koreksi Nika memotong ucapan Fayyadh. “Sorry Ka, gue ulang. Lu 'kan pernah satu sekolah sama dia, lu tau gimana tabiat dia dah, dan ada yang lebih-lebih dari itu, jadi gue tidak amat menyarankan lu ngasih restu ke tu bocah!” jelas Fayyadh panjang lebar.
“Kak Fayyadh belum ikhlas ya dilangkahin sama Priya?”
Fayyadh menggeleng. “Kalau Priya berhasil dapetin hati Om Khalil, terus usaha gue selama ini gagal, Ka.”
“Usaha apa?” tanya Nika berhasil membuat pria itu gelagapan.
“WOY YANG DIBELAKANG ASIK AMAT NGOBROL BERDUA!!” lontar Priya menarik beberapa atensi pengunjung karena teriakannya. “I'm sorry,” ucapnya meringis malu.
“Masih punya malu lu?” sindir Fayyadh. Ia bernafas lega, berkat adiknya itu ia sedikit terselamatkan.
“Bahas apa?” tanya Khalil ketika Nika dan Fayyadh mendekatinya.
Nika hanya menggeleng sementara Fayyadh berusaha membasahi tenggorokannya yang tiba-tiba terasa kering. “Om, naik bianglala yuk!” ajak Priya yang jengah menunggu jawaban dari Fayyadh maupun Nika.
“Papih phobia ketinggian,” jelas Nika membuat Priya menatap Khalil terkejut. “Om, Sorry, Priya nggak tau,” ucapnya merasa bersalah
“It's okay, kalian kalau mau naik bianglala silahkan. Nanti biar saya yang jaga barang-barang disini,” tawar Khalil.
Dengan gerakan cepat Priya menggelengkan kepalanya tanda tak setuju. “Saya mau disini sama Om, lagian itu semua 'kan barang saya, biar mereka berdua aja yang naik!” putus Priya cepat. Khalil hanya mengangguk, lantas menyuruh Nika maupun Fayyadh untuk naik Bianglala.
“Maaf ya sayang, Papih nggak bisa naik bianglala sama kamu,” ungkap Khalil merasa bersalah.
“It's okay Pih, nanti Nika fotoin pemandangan dari atas biar Papih bisa liat, mau?” tanya Nika langsung dibalas anggukan oleh Khalil. “Kamu hati-hati ya, Fayyadh tolong jagain Nika,” peringat Khalil. “Pasti Om, kalau gitu kita pamit pergi dulu,” ucap Fayyadh sebelum berlalu pergi ia menyerahkan kantung belanjaan serta cotton candy kepada sang pemililk , Khalil hanya tersenyum menatap kepergian Nika bersama Fayyadh yang sekarang sudah berbaur dengan beberapa pengunjung karnaval yang lain.
“Om? Sampai kapan niat jadi duda?” tanya Priya tiba-tiba.
Sementara itu sambil menunggu gilirannya Nika tampak melamun, “Lu beneran nggak apa-apa ninggalin Om Khalil sama Priya?” tanya Fayyadh cemas.
“Itu 'kan orang tua Nika, kenapa jadi Kak Fayyadh yang khawatir?” tanyanya balik.
“Muka Priya mencurigakan,” tuduh Fayyadh. Nika hanya tertawa. “Lu nggak takut ketinggian 'kan?”
“Ya enggaklah Kak, tenang. Jangan-jangan Kak Fayyadh lagi yang takut?” goda Nika.
“Ngawur!” jawab Fayyadh tegas.
“Ayo Kak!” ajaknya ketika sudah tiba gilirannya. “Hati-hati,” ucap Fayyadh membantu Nika masuk kedalam permainan tersebut.
Setelah terduduk dengan rapi, secara perlahan Bianglala itu bergerak, Nika menyunggingkan senyum, bersiap mengabadikan momen untuk ia pamerkan ke Papihnya.
Dibawah sana, tampak Khalil dan Priya melambaikan tangan. Nika mengerutkan dahinya sambil membalas lambaian tangan itu. “Kak Fayyadh ngerasa aneh nggak sama muka Priya?”
Mendengar itu Fayyadh berusaha melihat air wajah milik adiknya. “Bener, tuh bocah kayak abis nyobain es krim rendang,” sahutnya.
“Apasih Kak, masa nyambungnya ke es krim rendang!” protes Nika tak mengerti.
“Ibaratkan filosofi, Priya itu suka es krim, sesuatu yang bisa buat dia bahagia, tapi disatu sisi ada yang bikin dia selalu terpana yaitu rendang. Ya intinya semoga lu ngerti dah,” jelas Fayyadh. “Ngerti nggak?”
“Nika jujur bingung, tapi rada ngerti dikit. Kesimpulannya ada sesuatu bahagia yang bikin dia terharu sampai mau nangis?”
“Right!” jawab Fayyadh bangga.
Percakapan pun terhenti. Bianglala itu masih berputar, bahkan sekarang sudah sampai putaran ke tiga. Sekali lagi Nika asik memotret sementara Fayyadh hanya tersenyum memandangi kesibukan gadis itu.
“Ka?” panggil Fayyadh lembut.
“Iya Kak?” tanya Nika membenarkan posisi duduknya. “Ada apa?”
Fayyadh menarik nafasnya dalam sebelum menghembuskannya dengan berat, meremas jemari tangannya ia berusaha menatap manik mata milik Nika. Sementara Nika yang menyadari kepanikan Fayyadh menjadi salah tingkah.
“Gue nggak mau lama-lama, kalau kelamaan takut lu diambil orang, jadi, gue rasa proses pdktnya cukup sampai disini,” ungkap Fayyadh.
“Eh?” Nika terkejut bukan main. Fayyadh hanya tersenyum meraih tangan kanan milik Nika.
“Ka? Sebulan lebih gue kenal lu, jujur gue sadar ini kecepetan. Tapi, gue nggak mau lama-lama, So will you be mine?” tanya Fayyadh dengan tatapan penuh harap.
“Kak Fayyadh kepalanya habis kejedot ya?” tanya balik Nika masih tak percaya.
“Santai Ka, ini gue waras seribu persen,” jawab Fayyadh meyakinkan.
“So?”
“Kak, Nika rasa ini cepet banget,” jelas Nika menimang, ia menarik nafas dalam sebelum melanjutkan ucapannya.
Fayyadh tersenyum lembut menatap Nika dengan mata berlinang. “Maaf atas kelancangan gue, Nika.”
✄ - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -- - - - -09-04-23𖠄ྀྀ