
...︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽...
...CERITA INI HANYA FIKTIF BELAKA, MOHON MAAF JIKA ADA KESAMAAN YANG HADIR TANPA DISENGAJA. ...
...INI HANYA CERITA FIKTIF JADI JANGAN SAMPAI TERBAWA KE DUNIA NYATA. ...
...SEKIAN TERIMAKASIH. ...
...______________________________________...
...—H A P P Y R E A D I N G—...
...______________________________________...
DINGIN air yang membasuh wajah miliknya tak mampu menghilangkan runtut pikiran. Memandang pantulan dirinya di depan cermin berhasil membuat hembusan nafas yang terdengar berat kembali muncul.
Ia menyerah, jatuh berjongkok menatap ujung sepatunya, menahan linangan air mata yang siap tumpah jika tidak ia tahan.
Pembicaraannya bersama Bunda satu jam yang lalu berhasil membuat pikirannya kacau, apalagi jawaban yang terdengar kasar untuk ia lontarkan.
Nika tertawa miris. Benar, bukannya ia harus mundur jika takut untuk memulai? Bukannya ia harus mundur jika takut menerima setiap konsekuensi?
“Jadi, apa yang bisa gue lakuin lagi?” monolognya putus asa.
Suara dering telfon di saku cardigan yang ia kenakan berhasil membuat wanita itu bangkit berdiri, menggeser ikon berwarna hijau sembari keluar dari toilet ruang rawat rumah sakit membawa Nika pada suara berat di ujung sana.
Tubuhnya sempat terdiam, menatap sebuah ranjang yang selama setahun kurang telah kosong itu sudah terisi dengan terlelapnya anak laki-laki. Membaca sekilas nama di ranjang sebelum Nika menjawab panggilan telfon tersebut.
“Selama siang menjelang sore, Nika!!!”
“Selamat sore, Bang. So, what happen?” tanya Nika penasaran.
“Nika, gue 'kan mau basa basi napa buru-buru amat buset dah,” kesal suara di sebrang telfon.
Nika tertawa, ia mengalah. “Gimana kabar lu? Soal ambil cuti, lu jadi?”
“Gue mau resign, bang.”
“GILA LU?” secara reflek Nika menjauhkan handphone miliknya, suara Ega benar-benar membuat kupingnya berdenging.
“Nggak usah teriak bang,” peringat Nika sedikit kesal.
“Nika lu pikir dulu deh, sumpah gue tungguin deh sampai Minggu, nggak apa-apa lu jadi ajuin cuti asal jangan out.”
“Nggak bisa bang, Nika udah putusin.”
“Nika, manajer café tadi bilang ke gue, buat ngajuin nama lu jadi kerja full time. Lumayan Nik, lu nggak perlu kerja Part time, bisa nambah penghasilan lebih juga, lu pikir lagi deh ini café lagi rame-ramenya, apa nggak sayang lu?” bujuk Ega penuh harap.
Nika menghembuskan nafasnya dengan berat. “Bang, kalau Nika kerja full time nanti siapa yang jaga Sakha?”
“Perawat!”
“Sampai detik ini Nika bahkan belum nemu perawat dengan harga yang Nika punya,” jawab Nika.
“Terserah deh, pokoknya lu jangan gegabah, gue kasih lu waktu sampai Minggu, semisal lu mau tambahan hari bakal gue bilang ke Manajer, asal lu jangan buru-buru mutusin,” ucap Ega tak gentar.
“Coba deh nanti Nika pikir dulu.”
“Gitu dong! Nyerah duluan aja lu! Gue pamit dulu ya, sampai berjumpa lagi, Nika!!!” pamit Ega, Nika tak membalas hanya tersenyum terpaksa hingga suara sambungan telfon yang dimatikan terdengar, ia bersandar pada dinding, melihat Sakha yang tampak berlatih untuk berjalan dengan di dampingi oleh therapyst.
Sudut bibirnya terangkat, peluh keringat di dahi Sakha membuktikan bahwa pria kecil itu sudah berusaha untuk bisa kembali berjalan. Pikirannya lantas melayang, ke masa dimana lima tahun yang lalu, pertama kali kaki kecil Sakha melangkah untuk menghampirinya.
“KAK NIKA!!!!” panggil Sakha antusias mendapati kakaknya tampak berdiri di luar ruangan.
Nika berjalan memasuki ruangan therapy tersebut, mencoba melihat lebih dekat bagaimana Sakha berlatih.
“Ini kunjungan pertama anda untuk melihat Sakha Therapy bukan?” tanya seorang suster yang membantu Sakha therapy selama ini.
“Ya, waktu berjalan begitu cepat,” jawab Nika masih terenyuh.
“Sebentar lagi waktu akan berakhir, saya rasa mungkin anda ingin melakukan therapy bersama, siapa tau progres Sakha akan semakin baik ke depannya.”
“Bisa?”
“Tidak ada yang tidak mungkin jika itu berhubungan dengan tekad maupun cinta,” balas sang suster sebelum berlalu pergi.
...꒰🖇꒱...
Semilir lembut angin yang berhembus mengoyangkan daun-daun di ranting pohon dengan seirama. Seorang wanita tampak memejamkan matanya sebelum sebuah senyuman terukir manis diwajah cantik miliknya.
Menatap salah tingkah susunan kata yang menceritakan perasaannya terhadap seseorang yang mungkin tidak akan pernah bisa ia sampaikan. Nika lalu mengalihkan pandangannya menatap Sakha yang menatapnya juga dengan seutas senyum. “Kak?”
“Iya?”
“Coba, Kak Nika mau liat.”
“Tapi, Kak Nika jangan bantuin Sakha!” pinta Sakha sedikit mengancam dengan galak.
Wanita itu hanya mengangguk, menatap Sakha yang berusaha turun dari kursi roda dengan gemetar. Setiap kali ia bergerak mendekat Sakha selalu menatapnya dengan tajam, membuat Nika menahan langkah sambil berharap bahwa Sakha akan baik-baik saja.
Perlahan tapi pasti langkah kecil Sakha memperkikis jaraknya dengan Nika, tanpa sadar wanita itu meneteskan air matanya persis seperti dulu saat ia tahu Sakha berjalan untuk pertama kalinya.
“Sakha, kalau capek istirahat ya jangan dipaksa,” peringat Nika dibalas gelenggan oleh pria kecil tersebut.
“Kak?” panggil Sakha menatap Nika dan berjalan dengan begitu pelan.
Nika terdiam membeku, takjub atas kemajuan Sakha, perlahan pria kecil itu berjalan hingga berakhir pada dekapan hangat Nika. “Sakha bisa jalan lagi!!!” ungkapnya riang.
“Makasih ya Sakha, Makasih udah mau berjuang,” balas Nika mengusap lembut surai hitam milik Sakha. “Maafin Mommy ya.”
“Kak?”
“Ya?”
“Bisa bilang gitu lagi?”
“Bilang apa?” tanya Nika melepaskan dekapnnya.
“Mommy!”
“Hah? Mommy? Kak Nika tadi emang ngomong begitu?”
Sakha mengangguk jujur mendapati wajah Nika yang terlihat panik ia kembali memeluk wanita tersebut mengusap punggung milik Nika dengan jemari kecil miliknya. “Mommy?” lirihnya yang berhasil membuat air mata Nika jatuh.
“Kak Nika kenapa nangis?” tanya Sakha merasakan pundaknya basah.
“Nggak, cuma kelilipan aja kok,” jawab Nika melepaskan dekapan sembari mengucap air mata miliknya.
Sakha tersenyum menarik dua sudut bibir Nika hingga tercipta sebuah senyum indah yang kelengkapan wajah manisnya. “Kak Nika jangan nangis terus ya, nanti kalau stok air mata Kak Nika habis gimana? Kan kasian nanti kak Nika nggak bisa nangis lagi.”
“Kamu ini ada ada aja tau nggak! Air mata itu nggak bakal bisa habis tau,” jelas Nika.
“Berarti Om Fayyadh bohong ya?” tanya Sakha kesal.
Nika hanya tersenyum mengusap lembut pipi Sakha. “Maafin Kak Nika ya Sakha, maafin kalau Kak Nika belum bisa jadi ibu terbaik buat kamu, maafin kak Nika yang belum bisa buat kamu manggil Kak Nika sebagai Mommy, maafin Kak Nika kalau selama ini kak Nika bohongin Sakha.”
“Papa Sakha jahat ya, kak?” tanya Sakha yang langsung memeluk Nika ketika melihat wanita dihadapannya itu kembali meneteskan air mata. “Sakha janji! Sakha bakal jadi pria baik kayak kak Arsa, Sakha janji bakal jadi pelindung buat kak Nika!”
Senyuman penuh haru Nika berikan, ya, meski tak harus ia jelaskan secara mendetail Sakha berhak tau siapa jati dirinya. Tidak, kesalahannya selama ini justru membuat orang lain yang memberikan fakta tersebut.
Mengusap lembut punggung kecil Sakha membuat Nika kembali terisak. Dalam benaknya bahkan ia tidak pantas untuk menjadi seorang ibu untuk putra semata wayangnya tersebut.
Terlalu banyak duri dan luka yang menancap dalam tubuh Sakha karena ulahnya. “Jangan tinggalin Kak Nika sendirian ya Sakha?”
Sakha menganggukkan kepalanya, melepaskan dekapan dan menghapus sisa air mata Nika dengan jemari mungil miliknya sebelum mereka berdua sama-sama melontarkan senyum.
“Kak Nika punya kejutan buat kamu!”
“Apa?”
“Kamu punya temen sekamar bareng loh,” ucap Nika. “Dia laki-laki, kayaknya umurnya nggak beda jauh sama kamu.”
“Namanya siapa kak?” tanya Sakha antusias.
Nika tampak berfikir sesaat mencoba mengingat sesuatu. “Janu?”
“Janu? Dia lahir Januari ya?”
“Kak Nika nggak tau, gimana kalau kita tanya aja ke dia?” ajak Nika dibalas anggukan antusias oleh Sakha. “Oke ganteng, kembali ke kursi roda dan kita Let's go!!!”
“GO!!!!”
Roda itu berputar meninggalkan area taman, diiringi suara celotehan Sakha membuat Nika melukiskan senyum membiarkan setiap runtut berupa Sakha sebagai penutup senjanya hari ini.
Jika itu hanya bersama Sakha, Nika siap.
“Kak Nika?” panggil Sakha ketika mereka sudah setengah perjalanan.
“Kak Arsa belum telfon balik Kak Nika ya? Pesan-pesan yang Sakha kirim udah dibalas belum?” mendengar pertanyaan Sakha berhasil membuat langkah Nika terhenti. “Belum ya? Kak Arsa pasti sibuk banget, nggak apa-apa nanti Sakha mau ngambek kalau Kak Arsa udah pulang!” jelasnya menghibur diri.
Nika termenung, menatap Sakha dari atas dengan ribuan rasa penyesalannya.
“Sekali lagi, Maafin Kak Nika Sakha,” lirihnya sendu.
✄ - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -- - - - -31-05-23𖠄ྀྀ