
...︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽...
...CERITA INI HANYA FIKTIF BELAKA, MOHON MAAF JIKA ADA KESAMAAN YANG HADIR TANPA DISENGAJA....
...INI HANYA CERITA FIKTIF JADI JANGAN SAMPAI TERBAWA KE DUNIA NYATA....
...SEKIAN TERIMAKASIH....
...______________________________________...
...—H A P P Y R E A D I N G—...
...______________________________________...
“Ka? Are you okay?” tanya Fayyadh melihat Nika yang diam mematung.
Dengan gugup Nika berujar, “I-ini apa kak?”
“Lu lupa? dulu, sambil nunggu rapat kita buat album foto bareng, Ka. Kamu inget 'kan, kamu selalu ngajak foto bareng dimana dan kemanapun kita pergi?” jelas Fayyadh menerbitkan senyumnya. Tapi tak lama senyum itu luntur ketika Nika memberikan kembali paper bag digenggamannya.
“Nika nggak bisa ambil, Kak!”
“Kenapa?”
Hembusan nafas terdengar berat, menatap wajah Fayyadh dengan serius sebelum Nika mengeluarkan isi hatinya. “Udah berapa kali Nika bilang hubungan kita udah selesai dari enam tahun lalu! Bukannya Kak Fayyadh sendiri yang mutusin itu?”
“..dan lagi, Nika udah punya tunangan, Kak! Kalau Nika bisa hormatin keputusan Kak Fayyadh yang nikah sama orang lain, kali ini tolong bersikap dewasa,” jelas wanita itu menggebu-gebu.
“Tapi saya masih cinta sama kamu Ka!” lontar Fayyadh menatap sendu ke arah mantan kekasihnya tersebut.
“Ibaratkan nasi, penjelasan Kak Fayyadh sama perlakuan Kak Fayyadh ke Nika udah basi Kak! Enam tahun berlalu, jadi bisa 'kan kita jalanin hidup kita masing masing?” pinta Nika penuh harap.
Fayyadh menggeleng. “Nggak Ka! Selagi kamu sama Dokter Arsa belum menikah saya nggak bakal nyerah, lagipula gimana nasib anak kita?”
“Anak? Kita?” tanya balik Nika tertawa. “Enam tahun berlalu, Kak Fayyadh baru ngakuin? Persis kayak jilat ludah sendiri tau, Kak!” sindir Nika tajam.
“..Nika nggak sekuat dan sebodoh itu buat besarin anak yang bahkan bapaknya aja nggak akuin! Seperti kata Kak Fayyadh, Nika ngelakuin apa yang Kak Fayyadh bilang, Nika datengin klinik aborsi itu, SENDIRIAN!” jelas Nika kini terisak.
Melihat Nika terisak membuat Fayyadh tak kuasa, pria itu langsung membawa Nika masuk ke dalam dekapannya membiarkan wanita yang ia cintai itu menumpahkan kesedihannya. Tapi seseorang dengan kasar menarik Nika dalam dekapannya, membawa tubuh lemah Nika beralih memeluk erat tubuh yang dibalut jas putih tersebut. Membuat isi dari Paper Bag dalam genggaman Fayyadh berceceran.
“Nggak cukup lu lukain dia enam tahun lalu!” sindir Arsa sebelum membawa Nika berlalu pergi bersamanya.
Merasa tempat mereka sudah aman Arsa melepaskan dekapannya, menatap Nika yang masih meneteskan air matanya. “Ka?” panggilnya. “KA! LU JANGAN GILA NANGISIN TUH COWOK SIALAN!”
“Gu-gue nggak bisa, Ca. Kenapa dia harus balik lagi saat hi-hidup gue udah tertata?” tanya Nika sembari terisak. “Ke-kenapa dia nggak pergi jauh aja daripada harus dateng la-lagi? Gue sa-sakit Ca! Tan-tanpa rasa ber-bersalah dia muncul!” jelas Nika kembali memeluk tubuh Arsa.
Arsa terdiam, memandang kaca depan mobilnya, disana ada Sakha yang memandang bingung ke arah mereka berdua. “Ka? Ada gue, lu jangan khawatir ya?” ucap Arsa. “Ada gue sekali lagi, lu nggak sendirian, nanti gue usahain buat ngomong sama dia.”
Sembari sesenggukan Nika mengangguk, kalimat Arsa berhasil membuatnya tenang. Pria itu memang sulit ditebak. “Ca, Thanks ya!”
“Di dunia ini nggak ada yang gratis, Ka!”
“Maksud lu?”
...꒰🖇꒱...
Menatap heran ke seorang wanita di sebrangnya yang tampak lahap memakan semangkuk mie ayam membuat Arsa melontarkan tawanya. “Kak! Sakha udah kenyang!” ujar pria kecil itu mendorong mangkuk mie ayamnya menjauh.
“Sini, Kak Nika habisin!” ucap Nika menarik mangkuk itu untuk mendekatinya.
“Gue heran sama lu!” lontar Arsa masih menatap Nika. Mie ayamnya sudah habis sedaritadi apalagi porsi yang bisa dibilang cukup banyak membuat perutnya penuh. “Lu makan sebanyak itu nggak ada kenyangnya? Gemuk kagak pipi lu makin gede!”
“Diem, Ca! Nangis tuh butuh tenaga tau!” jelas Nika beralih ke mangkuk Sakha.
Arsa menopang wajahnya di atas meja, “Kalau lu ngambek gampang ya, kasih mie ayam juga dan baikkan.”
“Siapa yang ngambek?”
“Gue! Puas lu!”
“Jangan ganggu gue Ca, ni gue lagi nge-date,” ucap Nika memberi tambahan sambal pada mangkuk mie ayam miliknya.
“Jangan banyak-banyak Nika,” peringat Arsa menjauhi mangkuk hijau berisi sambal andalan warung bakso tersebut.
“Nggak pedes kurang nikmat tau, Ca!” protes Nika dibalas gelenggan oleh Arsa. “Jadi, lu lebih memilih nge-date sama Mie ayam daripada sama gue?” sindir Arsa.
Nika berdecak, mengusap bibirnya dengan tissue memastikan bahwa cipratan kuah tak bersisa. “Mie ayam bikin gue happy, Ca! Ibaratkan narkoba, nikmat bikin candu!”
“Kayak udah pernah nyoba aja lu!”
“Gue bilang 'kan ibarat, dokter Arsa yang terhormat!” kesal Nika ingin meraup wajah milik Arsa.
“Buru, kelarin makan lu, jadwal istirahat gue udah mau habis, Sakha juga harus tidur siang,” jelas Arsa melirik pergelangan tangannya.
Sakha menggeleng. “Kak Nika makannya lamain ya? Sakha nggak mau tidur siang, Sakha mau main aja berdua sama Kak Nika!”
“Katanya kalau main sama Kak Nika kurang seru,” sindir Nika menghabiskan es jeruk miliknya.
“Ini beda lagi Kak! Bantuin Sakha ya, hari ini aja Sakha nggak usah tidur siang, please?”
“Nggak Sakha!” jawab Arsa maupun Nika kompak. “Copy paste ae lu,” sewot Nika. “Lu noh!” sahut Arsa membela.
Sakha memandang kesal. Sebuah drama yang setiap hari ia tonton. Pertengkaran antara kedua kakaknya. “Terserah kalian berantem aja, intinya Sakha nggak mau tidur siang, titik!”
“Nggak bisa gitu, Sakha!” protes Nika tak terima. “Kamu mau sembuh 'kan? Mau ke karnaval bareng sama Kak Arsa? Jadi, kamu harus banyak istirahat, okey?” bujuk Nika.
“Sakha capek Kak, dirumah sakit jenuh. Belum lagi bau obatnya nggak tahan setiap Sakha ke kamar mandi, please ya Sakha mau balik lagi aja ketemu Mamih!” jelas pria kecil itu sendu.
Arsa tersenyum, mengusap bahu milik Sakha. “Kata Kak Nika bener, kalau kamu pengen keluar dari rumah sakit, jalan-jalan dan balik lagi ke Jogja, kamu harus berjuang, banyak istirahat dan cepet sembuh,” ujar Arsa, Sakha mengangguk pasrah.
“Ka, dah seles—”
“Bentar, Ca! Gue liat seseorang!” lontar Nika bangkit berdiri, sedikit berlari wanita itu berjalan ke toko sebelah. Seperti yang ia duga, Nika bertemu dengan seseorang, seseorang dari masa lalunya.
“Tian!” sapanya membuat seorang ibu muda yang menggendong seorang anak bayi menengok ke arahnya. “Maaf, And—”
“Yah, Tian, lu amnesia sampe nggak inget gue? Ini gue Nika, Sabrina Annika Theodora!” jelas Nika.
Mendengar pertanyaan lawan bicaranya membuat Tian langsung bersujud mencium kaki milik sahabatnya tersebut, wanita itu menangis sejadinya, menangisi setiap perlakuannya terhadap Nika.
“Eh, lu kenapa nih Ti?” tanya Nika panik.
“Ka, gue minta maaf, bener-bener minta maaf sama lu, Ka!” jelas Tian berulang kali. Beberapa orang yang berada disekitar mereka tampak memandang penuh tanya. “Ti, bangun! Kasian anak lu!” lontar Nika tak enak hati, apalagi tangisan bayi kecil dalam gendongan Tian berhasil membuat hatinya meringis.
Tian bangkit berdiri, sedikit panik melihat anaknya dengan wajah memerah. Melihat bayi kecilnya menangis membuat Tian ikut menangis. “Sini anak lu gue gendong, lu ikut gue dulu yuk ke sebelah, kita ngobrol sambil duduk!” ajak Nika mengambil alih bayi mungil yang terus menerus menangis tersebut.
“Lu ibu-able banget, Ka!” puji Tian di sela tangisannya. “Lu tuh kenapa sih, dari dulu nggak pernah berubah?” tanya Nika heran dengan tangisan Tian. Wanita itu hanya menggeleng enggan menjawab.
“Kak Arsa, liat Kak Nika gendong bayi!!!!” lontar Sakha antusias.
“Bayi, Tian. Oh ya Tian kenalin ini Arsa, Arsa kenalin ini Tian,” jelas Nika mencoba memperkenalkan kedua sahabatnya tersebut.
Arsa tersenyum. “Gue Arsa, tunangan Nika.”
“Gue Tian, teman kuliahnya Nika.”
“Lu kenal Fayyadh?” tanya Arsa tiba-tiba. “Arsa apasih malah nanyain Kak Fayyadh!” kesal Nika.
“Hmm, gue boleh minta waktu buat ngobrol berdua sama Nika?” tanya Tian ragu.
“Mau bahas apa? Soal Fayyadh?” tanya balik Arsa penasaran.
“Arsa?” peringat Nika memberikan tatapan tajamnya. “Okey!” putus Arsa bangkit berdiri. “Bayinya biar gue yang gendong, udah lewat dari enam bulan 'kan?”
Tian mengangguk. “Lu tenang aja Ti, si Arsa udah pengalaman sering bantuin gue ngurus Sakha,” jelas Nika menyerahkan bayi itu ke dalam dekapan Arsa.
“Asik! Adik bayi!!! Kak Arsa, ayo buat adik bayi, Sakha mau punya adik bayi yang kayak gini, gemes tuh liat!” seru Sakha antusias.
Melirik ke arah Nika, Arsa menyunggingkan senyum jahil. “Bujuk Kak Nika dulu gih, biar mau ke KUA,” bisik Arsa dibalas anggukan oleh pria kecil di sampingnya.
“KAK NIKA, AYO KE KUA SAMA KAK ARSA!!!”
“Arsa! Lu jangan ajarin Sakha macem-macem ya!” peringat Nika, Arsa tertawa membawa Sakha maupun bayi dalam gendongannya menjauh, ia puas menjahili sahabatnya itu, seperti biasa.
“Gue seneng, Ka!” lontar Tian menerbitkan wajah tanda tanya milik Nika. “Lu udah nemuin seseorang yang bisa bikin lu ketawa, lu bisa nemuin seseorang yang buat lu ngerasa lebih baik dari masa lalu.”
“Ketawa dari mana, Ti! Yang ada gue gondok setiap hari,” jelas Nika mengelak.
Tian tertawa memandang sahabatnya itu lamat. Ia benar-benar memiliki rasa bersalah yang amat besar yang menghantui hidupnya selama ini. “Lu kenapa sih, Ti! Liatin gue gitu amat?”
“Gue mau buat pengakuan,” ungkap Tian, Nika pantas membenarkan posisi duduknya menatap ke arah Tian lamat. “Nika, lu malah makin bikin gue tegang!” protesnya.
“Sorry, Ti! Apa?”
“Soal enam tahun lalu yang ngebuat lu menghilang dari gue, Priya dan temen-temen yang lain.”
Nika menghembuskan nafasnya kasar. “Yaelah, Ti! Santai aja, gue ngg—”
“Please, Nika! Gue capek mendem ini sendirian, ya?” harap Tian seolah tau atas apa yang akan terjadi, sedikit menimbang akhirnya Nika mengalah.
Dengan suara gemetar dan menunduk takut semua cerita mengalir begitu saja. “Waktu lu mutusin pergi sendirian di pesta pernikahan Kak Fayyadh, Kak Deena nggak sengaja denger lu sama Kak Fayyadh lagi berantem. Besoknya, gue sebagai penanggung jawab akun sosial media info buat anak-anak kampus dipaksa buat sebarin berita itu, beserta foto dan cuplikan video waktu lu minta tangg—” Tian tak kuasa, wanita itu menghentikan ucapannya menangis terisak tersadar bahwa dirinyalah yang membuat luka di hati Nika semakin dalam.
“..Lu boleh nampar gue, Ka! Liat lu dengan senyum tadi bikin gue ngerasa makin bersalah, harusnya saat itu gue nemenin lu! Bukannya gue ikut nyebar rumor dan mulai jauhin lu, Ka gue bener-bener minta maaf,” ungkap Tian penuh penyesalan.
Membawa masuk tubuh sahabatnya itu dalam dekapannya membuat Nika tersenyum. “Ti, gue udah berdamai sama masalah itu. Nggak ada niatan juga buat nyari tau dalang dari rumor itu, tapi gue apresiasi lu, keren juga sahabat gue berani ngakuin kayak lu!”
“Ma-maafin gue, Ka.” Tian kembali terisak. “Udah Ti, udah. Sekarang lu bisa balik ke kehidupan lu yang sekarang, jangan ada beban lagi ya? Gue udah nggak apa-apa kok!” jawab Nika tersenyum lembut.
“Ka, kalau sewaktu-waktu gue mau buat pengakuan lagi, boleh?” tanya Tian dengan gemetar. “Lu buat salah apa lagi, Ti?” tanya Nika heran.
Tian menggeleng, menggedarkan pandangan ke arah lain dengan penuh ketakutan. “Ti?”
“Ka, gue minta nomer lu! Gue nggak bisa lama-lama disini, Ka! Gue takut dia nyariin gue,” jelas Tian panik.
“Dia? Siapa?”
“Please, Ka!”
“Oke,” jawab Nika langsung mengetikkan nomer handphone-nya. Mengantarkan kepergian Tian untuk menyusul Arsa dan mengambil anaknya membuat Nika tak habis pikir. Sedari dulu, Tian tak pernah bisa menyembunyikan masalahnya. Jadi, kali ini apa yang membuat wanita itu ketakutan bukan main.
“Itu temen lu kayak ketakutan gitu, serius nggak mau kita anter?” tanya Arsa khawatir.
Nika menggeleng. “Kita udah bujuk berapa kali, Ca? Tian nolak 'kan?”
“Yaudah ayo kita pulang, Sakha udah badmood tuh nungguin lu,” jelas Arsa melirik seorang pria kecil yang terus menerus mengetuk pelan kaca jendela mobil. “Lu tadi ngobrolin apa sama dia? Serius banget kayaknya?”
“Gue pernah cerita 'kan sama lu? Sehari sebelum keberangkatan gue ke Jogja, grup jurusan rame sama rumor tentang hubungan gue sama Kak Fayyadh, termasuk soal kehamilan gue?” tanya Nika.
“Terus kenapa? Lu sama si bajingan itu 'kan udah nggak ada hubungan,” jawab Arsa kesal.
Nika tertawa menatap lekat manik mata Arsa. “Dia orang dibalik rumor itu, Ca!”
“Dan, lu masih anggep dia sahabat?”
“Setiap orang pernah ngelakuin kesalahan bukan? Gue juga bukan orang baik kali, Ca! Jadi, kalau Tuhan aja maha pemaaf masa gue ngg—”
“Lu bukan Tuhan, Ka!” potong Arsa.
Nika mengangguk. “Justru karena itu kalau Tuhan bisa masa gue nggak?”
“Lu kalau mau marah, gue persilahkan, Ka!”
Sebuah senyum Nika torehkan, wanita itu memilih berhambur pada dekapan Arsa, tempat ternyaman dimana lukanya bisa diobati.
“Kalau nggak ada lu, gue nggak sekuat sekarang, Ca!”
“Bisa aja, kalau gue nggak ada lu, hidup gue suram, Ka!”
“INI KALIAN MASIH LAMA NGGAK?” tanya Sakha berteriak dari sela jendela mobil. Selanjutnya hanya tawa Nika maupun Arsa yang terdengar sambil melepaskan pelukan mereka Arsa menatap Nika dengan seutas senyum.
“Ka?” panggil Arsa berjalan ke arah mobil.
“Apa?”
Arsa menggeleng, ia tersenyum yang membuat Nika keheranan. “Gila lu!”
“Iya, gue gila karena suka sama sahabat sendiri,” terangnya dibalas gelenggan geli Nika.
“Stres!”
“Because of you!”
“Lagi persiapan ya, gombalin suster Kania?”
“Dih!” elak Arsa tak terima.
Nika tertawa. “Nggak boleh gitu, Ca! jodoh beneran baru tau rasa lu!”
“Dihati gue cuma ada lu, Nika! jadi, kalau sampe gue bisa dapetin hati lu, gue pasti Amada Bentang Arsa Ilham, buat seorang Nika jadi wanita bahagia di dunia ini!” jelas Arsa.
"Cih, mau nyapres lu, manis banget janjinya.”
“CHUAAKS!!!” sahut Arsa dan Nika bersamaan disusul suara tawa mereka berdua.
✄ - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -- - - - -19-04-23𖠄ྀྀ