ABOUT YOU 1998

ABOUT YOU 1998
. .THE NIGHT WITH YOU



...︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽...


...CERITA INI HANYA FIKTIF BELAKA, MOHON MAAF JIKA ADA KESAMAAN YANG HADIR TANPA DISENGAJA....


...INI HANYA CERITA FIKTIF JADI JANGAN SAMPAI TERBAWA KE DUNIA NYATA....


...SEKIAN TERIMAKASIH....


...______________________________________...


...—H A P P Y  R E A D I N G—...


...______________________________________...


MENATAP penuh senyum seorang anak laki-laki yang tampak tertidur pulas di atas ranjang rumah sakit. Arsa mengusap lengan Nika yang terbalut cardigan. “Dia kelamaan nungguin lu noh!”


“Sok tau!”


“Nyampe beneran yang kalah traktir mie ayam!” tantang Arsa.


“Ih curang! Masa ngajak taruhan!” protes Nika tak terima.


Arsa mengangkat kedua bahunya acuh. “Mau nggak? Gue juga pengen ngerasain kali di traktir mie ayam sama lu!”


“Dih, kayak nggak pernah aja lu gue traktir mie ayam!” sewot Nika memandang Arsa sinis.


“Emang nggak pern—”


“LU LUPA?” lontar Nika. “Jangan teriak kali!” sindir Arsa yang terduduk di sofa sembari melihat Sakha yang masih tertidur dengan nyenyak. “Lupa apaan?”


“Di Jogja. Waktu gajian pertama gue jadi kasir?” mendengar penuturan Nika membuat pria itu mengangguk. “Sekali doang itu, mana berasa.”


“Pala lu sekali, jaman gue dapet bonus juga gue traktir lu makan mie ayam,” jelas Nika tak terima.


Arsa menatap Nika dengan serius. “Coba lu inget berapa kali lu traktir gue?”


“Dih, lu mau perhitungan sama gue?” detik itu juga tawa Arsa terlontar. “Emang ya cewek tuh lucu, jadi pengen makan gue!”


“Ca lepasin!”


“Nggak mau Dora!” jawab Arsa masih menaruh kepala Nika dalam ketiaknya.“CA LEPAS LU BAU!!!” kesal Nika mencubit perut sahabatnya tersebut.


“Sakit woy!” Arsa mengalah, melepaskan Nika dengan merintih kesakitan. Sementara gadis itu menatapnya dengan nyalang. “Udah, gue udah lepasin lu juga.”


“Leher gue ni sakit! Tanggung jawab lu!”


“Dih, ogah!”


“CA!!”


“AP—”


“Kak? Sakha haus,” ucap seorang anak kecil sembari mengucek kedua matanya.


“Sayang, jangan dikucek matanya nanti sakit, ini minum!” ujar Arsa memberikan segelas air minum untuk adik kesayangannya itu. “Maafin ya, Kak Nika berisik banget emang.”


“Lu duluan ya yang mulai!” bela Nika tak terima.


“Kak, es krim pesenan Sakha mana?” tanya Sakha menatap ke arah Nika. “Hah? Eskrim apaan?” tanya balik Nika panik berjalan ke arah Sakha.


Sakha memandang ke arah Nika tajam, menutupi wajahnya dengan selimut. “Sakha marah sama Kak Nika!”


“Lu sih sibuk sama tuh cowok,” sindir Arsa ketus.


“Pacar Kak Nika?” tanya Sakha menyibak selimut yang ia gunakan.


Arsa menggeleng menatap kesal ke arah Nika yang hanya terkejut. “Bukan, dia orang jahat! Pacar Kak Nika 'kan, Kak Arsa,” jawab Arsa berhasil mendapat pukulan dari Nika.


“In Your Dream!”


“Kak Nika nggak diculik?” mendengar perkataan Sakha, membuat Arsa maupun Nika menatap pria kecil itu sebelum seutas senyum di terbitkan di wajah Arsa. “Kak Arsa 'kan hero buat Kakak kamu jadi tenang aja.”


Nika berdecak. “Hero apaan yang takut sama kecoak!” sindirnya.


“Itu beda lagi,” bela Arsa.


“Gopal Kak! Gopal takut sama kecoak!” lontar Sakha heboh.


“Ya jangan Gopal juga dong, Kha.”


Sakha menggeleng. “Nggak papa tau Kak, nanti Sakha bisa makan es krim gratis, kalau kak Arsa jadi Gopal.”


“Kalau timbang es krim mah kak Arsa beliin sama pabriknya, ayo beli es krim!” ajak Arsa menatap Sakha yang matanya berbinar itu. “Ka, lu pakein Sakha jaket, gue ambil kursi roda dulu di bawah ya!”


“Iya, jangan sampe lu nyangkut ngobrol sama suster Kani—”


“Nggak ya, Ka!” lontar Arsa dibalas tawa oleh Nika.


“Kak Arsa buru, Sakha mau es krim!”


“Go Arsa,” sindir Nika.


...꒰🖇꒱...


Semilir angin malam yang menyapa dengan lembut membuat seseorang merapatkan jaket miliknya. “Dingin?”


“Nggak panas, Ca.”


“Yeuh sensi lu?” sindir Arsa mendorong kursi roda milik Sakha.


“Kak Arsa mau nggak?” tawar Sakha mengangkat es krim cone miliknya. “Ayo Kak, Es krim Sakha keburu mencair!” protes Sakha.


Arsa tertawa dengan gemas sembari melahap es krim milik Sakha membuat sang pemilik merenggut kesal. “Kak, Es krim Sakha tinggal setengah!”


“Kamu tuh aneh, kalau nggak mau es krimnya habis ya jangan nawarin,” ucap Nika asik melahap es krim miliknya. “ARSA! BELI SENDIRI!” lontar Nika kesal menatap es krimnya yang tinggal sedikit.


“Itu gue beli pake duit gue, nggak salah dong gue makan?” bela Arsa tak merasa bersalah memakan es krim milik sahabatnya tersebut.


Pria itu hanya menggeleng geli, berhasil membuat Nika maupun Sakha marah terhadap dirinya. “Yaudah, sekarang mau jajan apa lagi?”


“TAKOYAKI!!!!!!” lontar Nika maupun Sakha bersamaan.


“Martabak juga belum dimakan,” tolak Arsa. “Lagian kata lu mau bergadang, makan banyak bikin lu ngantuk Ka,” peringat Arsa.


Nika menggeleng, menatap penuh harap ke arah sahabatnya itu. “Kak Arsa, please?”


“Najis gue geli, Ka!” ujarnya langsung mendapatkan jitakan andalan Nika. “Sebagai umat manusia dan kakak yang baik untuk Sakha, gue harus jujur Nika.”


“Pala lu jujur,” balas Nika jengah. “Bodo amat, bakal gue habisin nanti, gue udah tidur siang sama Sakha jadi bisa dipastikan nggak bakal ngantuk!”


“Yakin?” tanya Sakha ragu.


“Lu nggak percaya?” tanya balik Nika menyombongkan diri.


Di menit berikutnya, di ruang rawat rumah sakit suara dengkuran berhasil menerbitkan senyum Arsa. Pria itu tertawa melihat Nika yang tampak tertidur pulas di atas meja di dampingi beberapa makanan yang sisa setengah.


“Kak Nika payah! Masa gitu aja udah ngantuk,” ujar Sakha yang sudah terduduk rapi diatas ranjangnya.


“Tidur gih! Besok pagi kita olahraga bareng,” jelas Arsa membujuk. Sakha reflek menggeleng. “Nggak. Olahraga diatas kursi roda itu nggak seru tau!” protesnya.


“Yaudah, besok kamu 'kan therapy, nanti abis therapy kita makan mie ayam sama Kak Nika yuk?” bujuk Arsa.


“Tapi, Sakha boleh ya minum es jeruk?”


Arsa menggeleng. “Hari ini kamu udah minum es, gimana kalau besok minumannya jeruk hangat aja?”


“Tapi, janji ya Kak Arsa jangan sibuk besok, kalau cuma sama Kak Nika nggak seru tau!”


“Kok gitu?” tanya Arsa heran.


Sakha mendengus, menatap kesal ke arah kakak perempuannya tersebut. “Kak Nika ngelamun terus, apa bener kak Nika udah punya pacar?”


“Apasi kecil-kecil pacaran,” jawab Arsa. “Udah kamu tidur, mau kakak temenin?”


Anggukan antusias adalah jawaban dari pertanyaan Arsa. Menyunggingkan senyumnya pria itu memberikan jempol, mengambil selimut untuk Nika sebelum menaiki ranjang rumah sakit memberikan pelukan hangat untuk Sakha.


“Kak, Mamih sama Eyang kok nggak kesini ya? Sakha kangen banget,” ucap pria kecil itu bersembunyi pada dekapan hangat Arsa.


“Kata Eyang, nanti ke Jakarta kok akhir tahun, Sakha sabar ya, kan Mamih di Jogja kerja. Besok kita video call mau?” tawar Arsa.


Sakha menggeleng. “Sakha maunya sekarang!”


“Sakha, coba liat Kak Nika lagi apa?” tanya Arsa. “Tidur?” jawab Sakha meragu. “Betul, jadi sekarang Mamih Sakha juga lagi tidur, besok lagi ya? Oke?”


Dengan tak semangat Sakha mengangguk, Arsa hanya diam mengusap lembut punggung pria kecil itu. Kenyataan dalam hidup Sakha sudah terlalu pahit, tapi hanya Nika dan Arsa yang pria kecil itu miliki.


“Kak, jangan tinggalin Sakha sama Kak Nika ya?”


“Kenapa?”


Arsa tertawa memeluk gemas anak kecil berumur enam tahun itu, mencium pucuk kepalanya dengan penuh cinta sebelum Arsa berujar. “Pasti Kha, pasti, Kak Arsa janji!”


...꒰🖇꒱...


“Gue dapet tawaran jadi relawan di Papua,” ungkap Arsa membuat perhatian Nika yang menyaksikan Sakha melakukan therapy teralihkan.


“Lu terima?”


Arsa menggeleng, tersenyum lembut menatap wajah sahabatnya tersebut. “Gue masih mikir-mikir.”


“Lu tau 'kan kalau Sakha nggak bisa tanpa lu?” tanya Nika.


“Yang nggak bisa tanpa gue itu lu atau Sakha?” goda Arsa diakhiri tawa. “Yakali gue nggak bisa tanpa lu!” elak Nika memalingkan wajahnya.


“Gue udah cerita sama Sakh—”


“Kata dia apa?” tanya Nika memotong.


“Persis kata lu! Dia nggak bisa kalau tanpa gue, lu terlalu banyak minusnya,” jawab Arsa dibalas decakan kesal oleh Nika. “Kalau semisal gue beneran perg—”


“Gue marah sama lu, puas!”


Arsa menggelengkan kepalanya, memamerkan senyum miliknya sembari menatap wajah kesal Nika. “Tinggal lu utarain aja Nika kalau sebenernya lu juga nggak rela kalau gue pergi jauh.”


“Semisal gue bilang lu jangan pergi apa lu bisa wujudin perkataan gue?” tanya Nika.


“I don't know, nggak ada yang tau 'kan sama takdir?” tanya balik Arsa. “Lu udah gede nggak bisa nentuin pilihan, aneh!” sindir Nika.


“Lu sensi amat dari semalem,” curiga Arsa.


“Biar!”


“Coba cerita, lu pasti mendem sesuatu 'kan?” bujuk Arsa dibalas gelanggan oleh Nika.


“hmm, lu kalau misal ke Papua berapa bulan, Ca?”


“Oh, jadi lu ngarepin gue pergi?”


Nika berdecak disambut tawa milik Arsa. “Gue paling ambil dua bulan, nggak bisa lama-lama gue takut ada yang kangen,” goda Arsa.


“Dih! Najis!”


“Bukan lu kali santai.”


“Oh suster Kania?” tebak Nika dibalas jitakan oleh Arsa. “Sakha elah, otak lu kenapa si!”


“Ca! Mumpung ada yang jatuh cinta dengan sepenuh hati dan jiwa raga, harusnya lu kudu terima,” goda Nika menahan tawa.


“Apasi Ka, gue nggak mau ngasih harapan palsu ke anak orang, lagipula bukan dia yang gue suka,” jawab Arsa.


“Terus? Siapa?” mendapat jawaban itu sukses membuat Arsa gelagapan. “Cielah tadi bilang ‘bukan dia yang gue suka’ giliran gue tanya lu suka sama siapa malah diem!” sindir Nika.


Arsa berdecak, menatap manik mata Nika tajam. “Lu! Puas??”


“Sorry gue nggak suka jamet,” jawab Nika mendapat jitakan dari Arsa. “Nih, makan tuh jitakan jamet!” kesalnya.


“Wah lu KDRS!” lontar Nika meringis sembari memegangi dahi miliknya.


“Apaan tuh?”


“Kekerasan Dalam Rumah Sakit!”


“Gila lu!”


“Ngaca masbro!”


“KAK ARSA! KAK NIKA!!!” panggil Sakha yang tampak selesai menjalankan therapy-nya, bersama suster Kania kursi roda milik Sakha berhasil membuat pria kecil itu mendekati Nika maupun Arsa.


“Your girl, Arsa,” goda Nika.


“Pala lu!”


“Selamat Siang dokter Arsa, hari ini mau makan siang dimana? Hari ini Kania free, kita makan bareng yuk?” tanya Kania tersenyum lembut.


Sekedar basa basi, mau tak mau Arsa membalas senyum itu dengan kikuk. “Maaf suster Kania, saya sudah ada janji dengan pangeran kecil saya, mungkin lain kali?”


“Beneran nih dok? Dokter nggak bohong 'kan?” sahut Kania girang. Arsa hanya mengangguk, sepertinya ia salah berbicara apalagi mendengar tawa Nika yang tertahan. “Oh ya dok? Soal keberangkatan ke Papua, dokter Arsa ikut?”


“Saya belum bisa pastikan, masih menimbang,” jawab Arsa.


Senyum di wajah Kania semakin lebar, wanita dengan balutan seragam putih itu menatap Arsa penuh binar. “Dokter, nanti kalau sudah ambil keputusan chat saya ya? Soalnya kalau dokter Arsa ikut saya juga pasti ikut, kan seru ya dok kita bisa jadi patner di Papua?”


“Bukannya disini kita juga patner, Kania?”


“Iya si dok, siapa tau habis di Papua kita bisa jadi patner hidup eaa!!!” jawab wanita itu sebelum akhirnya salah tingkah.


Arsa hanya bisa tersenyum masam, melirik ke arah Nika meminta bantuan sementara Sakha yang merasa perutnya berbunyi angkat bicara. “Suster! Sakha udah laper nih, masih lama nggak ngobrol sama Kak Arsa?”


“Ya ampun, calon adik ipar aku udah kelaperan, maafin suster Kania ya?” ucap Kania mensejajarkan tingginya dengan kursi roda Sakha. “Sekarang kamu boleh pergi, makan yang banyak ya!”


“Dah, Suster Kania!!!” pamit Sakha.


“Yuk bisa yuk, jadi istri dokter Arsa,” ujar Kania yang merasa berhasil sudah mendapatkan hati Sakha.


Dengan wajah berbinar Arsa mendorong kursi roda milik Sakha menjauhi ruangan Therapy. Pria itu sedari tadi mengucapkan terimakasih pada pria kecil yang tampak memainkan jemari tangannya.


“Good Job, Sakha!! I like your action!” pujinya.


“Siapa dulu dong, Sakha!”


“Siapa tau pulang dari Papua kita bisa jadi patner hidup!” lontar Nika tiba-tiba.


Sakha tertawa. “Tapi, Suster Kania cantik loh, Kak! Kak Arsa nggak mau?”


“Kamu apaan si Kha, jangan ikut ikutan sama Nika deh, dia itu cemburu!” jawab Arsa menyindir.


“Dih, siapa yang cemburu?” sewot Nika.


“Lu lah!”


“Cemburu karena jamet macam lu? Sorry, Ca. Males duluan gue!”


Arsa berdecih. “Yakin lu? Nanti gue benaran berangkat belum sejam juga lu dah voice note. ‘Arsa gue butuh lu’ semua cewek sama aja!” sindirnya.


“Nggak kali!” jawab Nika percaya diri.


“Kak Arsa mau pergi ke Papua? Ninggalin Sakha sama Kak Nika sendirian?”


Arsa menghentikan kegiatannya mendorong kursi roda milik Sakha. Berjalan ke arah depan, lantas berjongkok untuk menyamai tingginya. “Sakha, Kak Arsa masih mikir-mikir dulu, jadi Sakha bisa 'kan kasih Kak Sakha waktu?”


“Jangan tinggalin Sakha ya, please! Kalau sama Kak Nika doang mah, kurang seru! Apalagi Eyang sama Mamih ke Jakarta masih lama!” rengek pria kecil itu.


“Hei, anak cowok harus kuat, nanti kalau Sakha kuat 'kan bisa bantu kak Arsa jaga Kak Nika, Sakha sayang 'kan sama Kak Nika?” tanya Arsa dibalas gelenggan oleh Sakha. “Eh, kok enggak?”


“Sakha cuma sayang sama Kak Arsa, jadi jangan pergi ya?” bujuk Sakha memeluk pria dihadapannya tersebut.


Nika tersenyum miris mengalihkan pandangannya pada momen drama yang membuat hati kecilnya kesal. ‘jadi, siapa yang kakak kandung Sakha disini?’ tanyanya heran. Tapi, kekesalannya terhenti melihat sosok Fayyadh yang masuk lobby rumah sakit sambil membawa paper bag.


“Ca!” panggil Nika panik.


“Apaan?”


“Lu keparkiran sekarang, bawa Sakha ke mobil, ada yang harus gue urus,” pinta Nika membuat rasa penasaran Arsa memuncak. Mengikuti arah pandang sahabatnya itu ia mengerti.


“Kenapa nggak lu aja yang pergi?” tanya Arsa curiga.


Tatapan tajam reflek Nika berikan. “Dia jalan kesini karena liat gue, kalau gue pergi sambil bawa Sakha yang ada dia malah curiga, BURUAN!!!” jelas Nika kesal.


Arsa mengalah. Memilih berjalan santai keluar dari rumah sakit lewat pintu lain, bisa bahaya jika dirinya dan Sakha berpapasan dengan Fayyadh. Sejujurnya ia ingin menumpahkan kekesalannya enam tahun yang lalu tapi sayangnya bukan sekarang waktu yang tepat untuknya.


“NIKA!” panggil Fayyadh sedikit berlari menghampiri Nika.


“Eh Kak Fayyadh, ada apa?” tanya Nika bingung.


Fayyadh menengok ke arah belakang Nika. Ia tak salah lihat, itu Arsa. “Tadi dokter Arsa?”


Dengan gugup Nika mengangguk, ikut melihat arah pandang Fayyadh. Setidaknya ia bisa bernafas lega baik Arsa maupun Sakha sudah menghilang di balik koridor.


“Ada apa ya kak?”


“Ini, ada sesuatu yang harus gue kasih ke lu enam tahun yang lalu,” ucap Fayyadh menyodorkan sebuah Paper Bag berwarna army.


Dengan sedikit ragu Nika menerimanya. “Buka, Ka!” Apa yang berada di dalamnya membuat Nika gemetar, sesuatu yang telah ia lupakan selama ini menyeruak masuk tanpa permisi.


“Ka? Are you okay?”


✄  - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -- - - - -17-04-23𖠄ྀྀ