
...︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽...
...CERITA INI HANYA FIKTIF BELAKA, MOHON MAAF JIKA ADA KESAMAAN YANG HADIR TANPA DISENGAJA. ...
...INI HANYA CERITA FIKTIF JADI JANGAN SAMPAI TERBAWA KE DUNIA NYATA. ...
...SEKIAN TERIMAKASIH. ...
...______________________________________...
...—H A P P Y R E A D I N G—...
...______________________________________...
NIKA tersenyum berusaha meyakinkan Sakha bahwa dirinya akan selalu menunggu di balik pintu keluar. Dengan amat terpaksa, Nika melepaskan genggaman tangan antara dirinya dengan Sakha.
“Kakak bakal nunggu kamu disini, sayang?” ungkapnya menenangkan. Roda ranjang itu bergulir, masuk ke dalam ruangan dengan peralatan operasi yang canggih.
Seseorang mengusap lembut pundak kanan milik Nika membuat sang empunya mengangguk. “Mamih tau ini berat buat kamu, tapi kalau kamu nggak kuat buat Sakha, anak kamu bakal rapuh. Kamu paham 'kan?”
“Nika paham, mih.” berhambur memeluk Ning membuat keresahan Nika sedikit memudar.
“Inget, kamu nggak sendirian, Nika.”
“Makasih Mih,” jawab Nika melepaskan pelukannya dengan Ning.
Perempuan berdarah keraton itu tertawa kecil, mengusap jejak air mata di pipi Nika. “Anak Mamih udah besar aja sih, perasaan kemarin masih nangis-nangis di mall gara-gara nggak diturutin Mamih beli mainan.”
“Itu 'kan dulu Mih, Nika mau belajar dari Mamih, jadi ibu yang kuat dan hebat buat anaknya,” ungkap Nika diakhiri tawa.
“Mamih nggak ada apa-apanya dibanding kamu, Annika,” sahut Ning menatap sendu pantulan dirinya pada lantai rumah sakit.
Nika tersenyum mengenggam lembut jemari milik Ning, hal itu membuat Ning menatap lekat manik mata sang anak. “Tanpa Mamih, Nika bukan apa-apa. Tanpa Mamih, Nika nggak bakal bisa sekuat sekarang.”
“Makasih udah lahir di dunia ini ya, Sayang.”
“Salah tau!” elak Nika. “Nika yang harusnya bilang makasih karena udah ngelahirin Nika ke dunia ini.”
Mereka melempar tawa sebelum menatap penuh doa pintu ruang operasi. Ning merangkul Nika memberikan kekuatan untuk anak semata wayangnya tersebut.
Tak lama suara dering telfon terdengar membuat mereka menatap ke sumber suara. Ning yang menyadari handphonenya berbunyi langsung berjalan menjauh, mengangkat panggilan telfon tersebut. Meninggalkan Nika yang bersandar pada salah satu dinding rumah sakit.
Pikirannya berantakan, hatinya tak tenang bersama detak jantung yang berdetak lebih cepat dari biasanya. Telapak tangannya terus berkeringat sejak tadi bersama deru nafas yang menggebu.
Ia hanya berharap bahwa kabar baik bagi Sakha dan dirinya kedepannya. Bahwa ia bisa melihat bagaimana senyum Sakha saat pria kecilnya itu kembali setelah hari hari melelahkannya di sekolah. Seperti mimpi Sakha, seperti besar harap Sakha atas mimpi yang belum pernah tersampaikan hingga detik ini.
“Sakha, Mommy tau kamu anak kuat.”
“Nika?” panggil Ning mendekati anaknya yang tampak merapal doa. “Mamih harus segera ke bandara, Eyang kamu sebentar lagi masuk pesawat, nanti Mamih takut telat jemput mereka.”
“Iya, Mamih hati-hati ya?” jawab Nika.
Ning mengangguk. “Kamu disini sendirian? Atau mau Mamih suruh supir Mamih tetep stay, jadi kalau kamu butuh apa-apa bisa minta dia?”
“Nggak Mih, It's okay. Mamih pergi aja, bahaya kalau Mamih nyetir sendirian jaraknya lumayan loh dari sini ke bandara Soekarno-hatta.”
Dengan enggan Ning mengangguk. Mengusap lembut punggung anaknya sebelum berlalu pergi, Nika tersenyum melambaikan tangannya supaya Ning tidak berat hati membiarkannya seorang diri.
“Mih, nggak perlu khawatir. Nika pasti bakal baik-baik aja kok.”
Nika terduduk pada salah satu kursi sembari memijit jemarinya berusaha menenangkan diri. Dalam bentuk dukungan, dua Eyangnya akan terbang dari Yogyakarta, memastikan bahwa operasi Sakha akan berjalan dengan lancar. Ia menghembuskan nafasnya dalam, berusaha meyakinkan diri untuk percaya atas tekad dan semangat hidup Sakha.
...꒰🖇꒱...
Sudah empat jam berlalu, sebentar lagi operasi Sakha seharusnya sudah selesai. Ia melirik beberapa bungkus makanan di sebelahnya dengan tidak selera. Tadi, setelah Mamihnya datang dari bandara dan mengantar Eyangnya untuk istirahat di salah satu Hotel Ning membujuk anaknya untuk makan. Tapi, semua sia-sia, perut Nika tidak berdemo minta diisi. Perutnya seolah penuh dengan kekhawatiran.
“Masih belum mau makan juga?” tanya Ning mendaratkan bokongnya di kursi kosong sebelah Nika.
“Percuma Mih, kalau Nika paksa malah muntah.”
“Mamih bakal marah sama kamu Nika, kalau Sakha sehat tapi kamunya malah sakit.”
“Nika janji! Nika pasti bakal sehat kok!”
“Makan atau Mamih buang?” ancam Ning membuat Nika meringis, dengan terpaksa wanita itu memasukkan suapan nasi putih dengan ayam tepung dari salah satu restoran Amerika terkenal ke dalam mulutnya.
“Minumnya air putih aja ya, Mamih sengaja nggak beliin kamu Soda, nanti asam lambung kamu naik.”
Nika tersenyum. “Makasih ya Mamih cantiknya Nika!!”
“Kamu mau Mamih beliin apa?” tanya Ning mengetahui maksud anaknya tersebut.
“Hmm, Nika dah lama nggak makan es krim, Mih!”
“Jam segini? Makan Es krim?”
“Nggak boleh ya?” Nika menatap Ning yang sudah bangkit berdiri.
“Kata siapa? Vanilla 'kan?”
“IYAAA!”
“Kirain Mamih salah, ternyata kamu emang bener anak kecilnya Mamih Ning.”
Nika mengerucutkan bibirnya kesal. “Nika udah besar tau,” belanya disusul tawa Ning yang mencubit gemas pipi putrinya.
“Mamih pergi dulu, bahaya kalau kehabisan es krim, nanti tuan putri marah,” goda Ning sebelum berlalu pergi sembari tertawa kecil. Nika mendengus sebal, menatap kepergian Ning yang sama persis seperti Papihnya, yang selalu senang menggoda Nika hingga ia merajuk.
Nika menautkan alisnya, mendapati handphone-nya bergetar akibat suara panggilan. “Bang Ega?”
“Halo?”
“Lu dimana, Ka?”
“Ada apa Bang? Tumben nggak basa-basi dulu?” tanya Nika heran.
“Buru Nika!” jawab Ega setengah berteriak membuat Nika reflek menjauhkan handphonenya terkejut. “Gue minta maaf tapi ini gawat, cepet lu dimana? Gue udah dirumah sakit, di ruang rawat Sakha kosong.”
Pikiran Nika bergulat untuk apa Ega bertanya? Bukannya ia sudah mengajukan cuti dengan alasan yang jelas?
“Ka?” panggil Ega.
“Jauh-jauh hari Nika udah bilang ke Bang Ega kalau Sakha bakal oper—”
“Oke ruang operasi, lu jangan kemana-mana,” perintah Ega semakin membuat Nika terheran. Selanjutnya sambungan terputus begitu saja.
Dengan raut kebingungan Nika menghabiskan suapan demi suapan nasi miliknya hingga tak bersisa sembari matanya menatap ke arah lorong menunggu kedatangan rekan kerjanya tersebut.
“NIKA!” panggil seorang wanita dengan luka lebam sedikit berlari ke arahnya.
Melihat hal yang begitu mengejutkan untuknya membuat Nika bangkit berdiri. “Lu kenapa?”
“Penjelasannya nanti aja, Ka!” pinta Ega yang berjalan dibelakang sambil menggendong bayi dalam dekapannya.
“Ini gimana? Kok bisa bareng bang Ega? Maksudnya? Gimana si ini? Nika bingung, dan lagi muka lu kenapa bisa sampai babak belur gini, Ti?” tanya Nika.
Detik selanjutnya baik Ega maupun Nika dibuat terkejut ketika Tian bersujud mencium kaki milik Nika, wanita itu mundur merasa tidak pantas diperlakukan seperti itu oleh sahabatnya. “Tian, lu kenapa? Ayo bangun!” pinta Nika merangkul sahabatnya yang terus menyatukan telapak tangan memohon.
“Ka, gue bener-bener minta maaf banget sama lu,” ungkapnya. “Gue bener-bener orang jahat di hidup orang lain, Ka. Gue manusia terbangsat di dunia ini, Ka. Gue nggak beda jauh sama pelac—”
“LU NGOMONG APA TI!” bentak Nika tak terima. “JAWAB TIAN!”
Merasa jengah dengan sahabatnya yang terus memohon tanpa memberikan alasan membuat Nika menatap Ega penuh tanya. “Soal cewek yang sering gue ceritain sama lu, soal calon janda yang jadi obrolan kita tiap pulang. Itu, Tian.”
“...shubuh tadi, gue yang kebetulan tinggal persis sebelah rumah Tian denger suara ribut, bukan cuma tadi, hampir tiap hari kalau suaminya pulang mereka selalu ribut, Ka.”
Nika melirik ke arah sahabatnya yang masih terus memohon dengan raut wajah penuh ketakutan, tubuhnya gemeter hebat dengan mata memerah. “Ti, ayo duduk diatas tenangin diri lu dulu.”
“Ada apa?”
Lagi, Tian tak menjawab. Ega menghembuskan nafasnya, duduk di sebrang Nika maupun Tian sembari menepuk pantat bayi dalam gendongannya.
“Gue nggak tau kenapa Tian bisa tau kalau gue rekan kerja lu, tapi waktu dia kabur ke rumah gue minta pertolongan detik itu juga gue tau semuanya, Ka.”
“...suami Tian, Fayyadh. Cowok yang sama, yang selalu nunggu lu setiap hari.”
Nika tertawa, memandang ke arah Tian tak percaya. Mulutnya terbuka, sembari menggusar rambutnya kasar. “Bang Ega bercanda 'kan?”
“...nggak mungkin lah. Tian tau gimana Kak Fayyadh, Tian tau kasus Nika sama Kak Fayyadh, jadi ini nggak mungkin, mustahil.”
“...jawab dong, Tian. Ini pasti bercanda 'kan? Lu nggak sebego itu 'kan? Diantara gue sama Priya cuma lu yang paling rasional. TIAN JAWAB BEGO!” bentak Nika kesal menggoyangkan tubuh lemas Tian. Wanita itu tak bergeming, malah sekarang menangis histeris. Ega yang menyimak langsung berusaha menjadi penengah, tapi usahanya gagal dengan tangis dari bayi Tian.
Mereka langsung terdiam. Memberikan ketenangan untuk bayi kecil tersebut. “Anak lu sama Kak Fayyadh?”
Tian mengangguk lemah.
“Lu kesambet apa Ti, gila lu ya?” tanya Nika. “Dari kapan lu deket sama Kak Fayyadh?”
“...ini masih nggak masuk akal di otak sempit gue, gue nggak pernah liat lu deket sama Kak Fayyadh di kampus, lu juga yang nyebarin rumor kehamilan gue, enam tahun banyak banget yang gue lewatin ya?”
“Harusnya lu mati, Ka!” lontar Tian dengan gemetar tanpa berani menatap wajah Nika. Nika maupun Ega memandang tak percaya ke arah Tian. “Apa? Bukannya bener? Lebih baik lu mati, susul bokap lu?”
Tawa terdengar begitu sumbang, Nika meneteskan air matanya tak percaya atas kalimat menyakitkan dari mulut sahabatnya. “Gue punya kesalahan yang besar banget ya Ti? lu pengen gue mati, dan Priya pengen gue nggak balik ke Jakarta, miris.”
“Kesalahan lu, karena lu berhasil buat cowok brengsek yang namanya Fayyadh jatuh cinta sama lu!”
“...bahkan sebelum lu! Sebelum lu yang deket sama dia cuma gara-gara satu divisi waktu event, gue udah suka duluan sama dia! Tanpa lu! Tanpa Priya tau! Sakit ya?”
“...lu tau? Gue benci setiap denger rumor lu sama Fayyadh pacaran cuma karena kalian deket.”
“...gue hancur ketika tau, Fayyadh nikah sama orang lain.”
“...tapi, saat gue tau lu sama Fayyadh jadian dan bahkan lu sampai hamil anak dia bikin gue gila Ka! Bohong kalau gue terpaksa nyebar rumor, NGGAK! GUE DENGAN PENUH KESADARAN SENGAJA NGELAKUIN ITU!”
Tian tersenyum, memandang jari manisnya yang tersemat sebuah cincin perak. “Begonya, beberapa bulan setelah kejadian itu gue ngerasa bersalah. Gue sadar tindakan gue salah.”
“...gue mulai cari info tentang lu dan keberadaan lu. Tapi, takdir lucu, Fayyadh sengaja nemuin gue cuma gara-gara kita punya misi yang sama.”
“...kita sama-sama nyari perempuan menyedihkan yang lari dari keadaan, dan itu lu Annika!”
Mata Nika memanas memandang tak percaya atas sorot kebencian yang terlihat dengan jelas di dua mata milik Tian.
“Fayyadh ninggalin istrinya yang hamil cuma buat nyari cewek pengecut kayak lu! Bego banget, apa si spesialnya lu?” tanya Tian meremehkan.
“Sampai suatu waktu kita putus asa, perasaan gue tumbuh lagi Ka, dan seolah cerita Happy Ending, Fayyadh bales perasaan gue itu, gila rasanya.”
“...setelah banyak luka, gue nemuin obatnya.”
“...kita berhenti nyari lu, bagi gue, gue udah nggak butuh kata maaf dari lu. Dunia gue udah lengkap karena ada Fayyadh.” Ekspresi senang yang Tian timbulkan berhasil membuat Nika jijik, bahkan perutnya bergejolak sekarang. Sementara Ega hanya menyimak tanpa ekspresi. Ini bukan ranahnya untuk ikut campur.
“Sialnya, gue ngalamin nasib sama kayak lu. Gue hamil, bedanya Fayyadh nemenin gue ke Surabaya.”
“LU MAU ABORSI?” Tanya Nika tak percaya.
“Siapa juga yang mau nanggung anak dari cowok yang masih berstatus suami orang?” tanya balik Tian tertawa geli.
“...tapi, gue aborsi di Jakarta ketika tau ternyata tuh klinik udah tutup tepat di bulan dimana lu pergi, kerjaan lu ya?”
Nika tak menjawab, tangannya gatal sekali untuk memberikan sebuah tamparan kesadaran untuk sahabatnya tersebut.
“Pelakor gila!” lontar Tian tertawa miris. “Kata yang diucapin Priya dan keluarganya ke gue waktu hubungan kita ketauan sama Adel.”
“...apa berakhir begitu aja?” Tian menggeleng, tersenyum lebar. “Adel sadar dia nggak sempurna. Ngebiarin hubungan kita sampai dia meninggal.”
“...tapi, Priya berisik! Sampai suatu hari Fayyadh mutusin sebelah pihak. Sekarang gue tau rasanya kenapa lu milih lari ke Jogja. Kita lemah dan bego gara-gara cinta ya Ka?” Tanya Tian dengan tatapan melembut.
“Nggak ada angin nggak ada hujan, tepat setahun yang lalu, Fayyadh datang ke rumah gue, ngelamar setelah kita ketemuan dan jalin hubungan diem-diem, Backstreet, allright!”
“...nggak perlu restu keluarga Fayyadh juga, jadi kita tetep Nikah! Dan seperti lu liat di tangan gue, cincin gue cantik 'kan?” Tian mengangkat tangan miliknya.
“Setelah lahiran, hubungan gue sama dia hambar, gue pikir kenapa ternyata cewek bego yang dia cinta dateng lagi tanpa malu ke Jakarta, perusak rumah tangga orang ya?”
“...lu tau apa yang lebih nyakitin? Gue disuruh deketin lu cuma buat dapet info soal Sakha, info dimana dia nggak dapet dari lu.”
“...dan soal donor jantung, sorry ya? Gue pelakunya.”
Nika menggertakkan giginya menahan kesal. “Lu boleh ngatain gue jahat Ka, gue emang pantes. Lu mau tampar, jambak, pukul, tendang persis kayak Fayyadh lakuin ke gue juga silahkan. Tapi, kemarin gue dah janji, gue nggak mau jadi budak Fayyadh. Gue nggak mau usik hidup sahabat gue yang udah bahagia sama kehidupan barunya.”
“...Ka, udah banyak luka yang lu dapetin, jadi gue rasa lu pantes buat kabur dari ketoxic-an Fayyadh. Soal kebencian gue sama Priya ke lu juga berdasar.”
“...Fayyadh udah obsesi ke lu. Sama kayak gue yang jatuh cinta secara gila ke cowok playing fictim itu.”
“...lu nggak pantes balik ke sini, lu nggak pantes dapet luka yang sama dari cowok bajingan yang nggak punya belas kasihan.”
Tian mengenggam lembut jemari tangan Nika. “Gue nggak maksa lu bakal maafin gue, tapi, gue harap, setelah operasi Sakha berhasil, lu pergi jauh dari Jakarta. Lu mulai kehidupan baru lu lagi persis kayak waktu lu di Jogja.”
“...Ka, Fayyadh bisa ngelakuin apa aja buat keinginannya terwujud. Sebelum terlambat, lu harus pikirin ini matang-matang.”
“Cukup gue dan kebegoan gue aja, lu jangan ya?” tutupnya mengakhiri pengakuan atas kebodohan yang telah ia perbuat. Tian tersenyum, menertawakan nasibnya yang mengenaskan.
“Wah, lagi serius nih?” celetuk seseorang yang baru saja tiba. “Ka, gue mau pamit balik ke Papua, lu disini tunggu kejut—”
“Eh, mbak kenapa mukanya? Ayo kita obatin dulu yuk, bahaya loh, itu ada darahnya masih ngalir, ayo ikut saya dulu,” ucap Kania.
Nika mengangguk meyakinkan Tian. “Lu obatin dulu sana, nanti kita ngobrol lagi. Tenang dia suster Kania, salah satu suster di rumah sakit ini.”
Dengan ragu Tian berjalan sambil didampingi Kania yang menanyakan tentang penyebab lukanya. Ega bangkit berdiri mendekati Nika. “Ka, Are you okay?”
“Bang Ega, susul Tian aja ya? Nika baik-baik aja kok!” ungkap Nika tersenyum palsu. Ega mengangguk sebelum berlalu pergi menyusul kepergian Tian.
Setelah keheningan menemani dirinya Nika menangis menumpahkan setiap rasa sesak yang menghimpitnya sedari tadi. Sebuah fakta yang lebih menyakitkan untuk ia dengar.
Tak lama ia berlari mencari toilet terdekat. Kejujuran Tian berhasil membuatnya bersusah payah mengeluarkan semua makanan dalam perutnya. Dengan lemas ia bersandar pada salah satu bilik kamar mandi kering di rumah sakit.
Menekan tuas toilet duduk, ia membiarkan tangisnya menggema. Sembari memukul dadanya berulang kali berusaha melepaskan rasa sesak.
“BEGO! BEGO! BEGO!!!” umpatnya masih memukul dirinya sendiri berulang kali seolah penyalahan kesalahan dimasa lalu.
...꒰🖇꒱...
Mata sembab Nika terpampang dengan jelas, ia tampak terdiam memandangi Sakha setelah lelah menangis. Bahkan ia tidak menjawab pertanyaan Ning yang khawatir akan kondisinya.
Di kasur ruang ICU hatinya hancur melihat banyak pasang alat yang menempel pada tubuh kecil Sakha, salah satunya ventilator dan suara mesin elektrodiograf yang memecah keheningan.
“Makasih udah berjuang di meja operasi ya, jagoan Mommy.”
Matanya memberat, Nika akhirnya mengalah, jatuh terlelap dengan kehangatan tubuh Sakha.
Selanjutnya hanya ada ketenangan yang menyelimutinya bersama sebuah mimpi yang terasa hangat untuk malam hari ini.
“NIKA BANGUN! CEPET PANGGIL DOKTER!!!!”
Masih dengan setengah terpejam Nika memandang nanar ke arah suara tersebut, suara yang amat ia rindukan. Matanya kembali terlelap. “SAKHA KRITIS NIKA!”
Detik itu juga ia berlari, mengabaikan kepanikan seorang dokter muda yang sejak tadi menekan tombol pemanggil dokter sambil berharap cemas.
Rasa lelah setelah penerbangan enam jam hilang ketika ia menginjakkan kakinya tak lama diruangan ICU lalu suara dan garis rendah mesin monitor seolah riuh sorai dari upacara kedatangannya.
Arsa terus merapal doa. Ia harus menepati janjinya kepada Sakha, janji yang pria kecil itu titipkan kepada Kania.
“Kakak bakal berusaha yang terbaik buat kamu Sakha, jadi kakak mohon kamu kuat ya.”
✄ - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -- - - - -17-06-23𖠄ྀྀ