
...︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽...
...CERITA INI HANYA FIKTIF BELAKA, MOHON MAAF JIKA ADA KESAMAAN YANG HADIR TANPA DISENGAJA. ...
...INI HANYA CERITA FIKTIF JADI JANGAN SAMPAI TERBAWA KE DUNIA NYATA. ...
...SEKIAN TERIMAKASIH. ...
...______________________________________...
...—H A P P Y R E A D I N G—...
...______________________________________...
SAPUAN lembut angin yang menerbangkan rambut panjang seorang wanita dengan ukiran senyum lebar yang terpatri dengan indah diwajahnya. Melebarkan telapak tangan, merasa dengan lembut belaian angin yang menerobos memasuki kulit.
“Mommy seneng banget nih, cie!” goda seorang pria kecil tampak menyembul dari celah lebar kursi pengemudi.
“Sakha, ayo duduk yang bener di kursi. Daddy lagi nyetir, bisa bahaya loh.”
Sakha mengangguk. “Aye aye captain!”
“Nika?” panggil seseorang dengan lembut. “Jendelanya tutup ya, angin di luar kenceng, kita lagi di tol. Kamu bisa masuk angin nanti.”
“Kenapa harus takut, kan ada kamu yang bisa ngobatin.”
“Nggak gitu ceritanya, Nika.”
Sebuah senyum ledekkan Nika terbitkan. “Coba ceritain dong pak Dokter ganteng-nya Nika.”
“Apasih Ka, geli!”
“Come on Daddy, share story with me!!!!!!” pinta Sakha merajuk. “You can hear?” timpal Nika tertawa kecil.
“Yaudah, nanti Daddy bakal cerita kalau kita udah sampai ya? Selamat menikmati perjalanan cinta-Nya Daddy,” jawab Arsa mengalah.
Nika menatap wajah serius Arsa yang tengah mengemudi sebelum ia jatuh terlelap pada ayunan lembut alam mimpi.
“Sakha laper!!” lontar pria kecil, mereka bertiga telah sampai pada salah satu tempat wisata dengan susunan tanaman teh yang menyejukkan mata.
“Mau makan apa?” tanya Arsa, “Nika kamu makan ya?”
“Suapin dong.”
Arsa tertawa, mencubit gemas pipi milik Nika. “Istri aku manja banget, tau deh yang nggak bisa lepas dari pesona Arsa.”
“Ingat ya dokter Arsa. Ini bawaan bayi,” pertegas Nika membela diri. Arsa hanya terkekeh geli.
“Sakha percaya nggak kalau adik bayinya yang minta?”
“Mommy 'kan emang manja ke Daddy. Sakha jadi nggak bisa main leggo bareng Daddy gara-gara Mommy.”
Tangis milik Nika berhasil menghentikan tawa Arsa. Pria itu panik langsung membawa tubuh Nika yang mulai berisi itu ke dalam dekapannya, menenangkan wanita yang tengah hamil semester awal tersebut. “Maafin Mommy ya,” ungkap Nika sembari sesenggukan.
“Nggak, Sakha yang harusnya minta maaf sama Mommy.” Sakha dengan rasa bersalah langsung memeluk Nika dengan erat. Arsa hanya tersenyum mendekap lembut dua orang yang amat ia cintai dalam hidupnya.
Nika dan Sakha, adalah keluarga yang ia ciptakan sembari membenahi mimpi dan mengobati traumanya di masa lalu.
“Daddy harap, Sakha bisa jadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain, serta bisa jadi kakak yang baik untuk adik-adiknya.”
“Nanti adik Sakha ada berapa ya kira-kira?” tanya Sakha penasaran. “Sakha mau berapa?” tanya balik Arsa dengan senyum lebar. “Sebelas! Biar bisa main bola bareng.”
“Yang bener aja dong, Sakha!” keluh Nika tak terima, Arsa hanya bisa menggelengkan kepalanya menatap penuh haru interaksi keluarga kecilnya.
“Makasih, udah hadir di dunia ini Sakha.”
...____________________________________________________________________________________________...
...Sebuah ending yang kalian harapkan bukan? ...
...Santai, ini belum part 30 jadi masih ada plotwist di part selanjutnya. ...
...Jangan bosen nunggu ya:) ...
...____________________________________________________________________________________________...
Sebuah gundukkan tanah dengan taburan bunga yang harum begitu indah tampak menjadi pusat perhatian bagi beberapa orang. Derai tangis air mata dan suara isakan semenjak tadi terus terdengar.
Sama seperti yang seorang wanita alami, duduk bersimpuh beralaskan tanah merah ia meneteskan air matanya, memeluk erat sebuah nisan kayu dengan nama indah yang pernah ia rangkai.
Tangisnya masih sama, hancur hatinya tak perlu dijelaskan. Beberapa usapan dan kalimat semangat beberapa orang berikan. Ia tak bergeming, dari awal proses pemandian, pengajian hingga proses pemakaman berakhir deras air matanya tak kunjung berhenti. Seolah dunia runtuh tanpa terbit sinar mentari.
Ia terguncang. Dunianya hancur. Cintanya pergi. Terbang tinggi meninggalkan jutaan mimpi yang belum terlaksana. Menyisakan seorang ibu yang kehilangan anak semata wayangnya.
“Untuk apa kamu kemari?” hingar suara ribut dengan intonasi tinggi terdengar. Ia masih setia terduduk memandang kosong pemakaman anaknya. “Kamu lihat dia! Kamu lihat betapa hancurnya dia!”
“...enam tahun berlalu dan kamu baru muncul di depan saya untuk minta maaf? DIMANA RASA MALU KAMU!”
“Saya mohon ke tante, saya kesini untuk menghadiri pemakaman anak say—”
Sebuah tamparan melesat, suaranya terdengar nyaring membuat suara riuh pelayat langsung terbungkam. “DIA! DIA ANAK KANDUNG ANNIKA! DIA CUCU SAYA! JANGAN PERNAH SEKALIPUN KAMU MENGATAKAN KALIMAT MENJIJIKAN ITU!”
“...hanya orang tua bodoh yang mengharapkan anaknya untuk mati! Dan kamu, orang tua yang tidak pernah bertanggung jawab atas kesalahan di masa lalu.”
“Ning, selesaikan ini di tempat yang bagus, kasian Sakha, ayo Ning,” bujuk pria tua, merangkul pundak putrinya dengan penuh hangat. “Ning, ayo selesaikan ini, tenangkan dulu emosimu. Ayo, semua tidak akan pernah selesai kalau kamu emosi.”
“Ayo Nak, kita ke tempat yang nyaman,” ajaknya melirik ke arah Fayyadh. Dengan enggan pria itu mengekor sebelum ia melihat betapa hancurnya Nika seorang diri.
“Cah ayu, ayo pulang nduk.”
Nika menggeleng menolak ajakan eyangnya. “Ini kali pertama Mamih kamu berkunjung ke Khalil ya?” wanita tua itu menatap sebuah makam di samping gundukkan Sakha.
“...kenapa kamu buru-buru beli tanah makam Nika? Kamu kesepian tanpa Papihmu?”
Dengan tertatih dan dibantu beberapa penjaga wanita tua itu berjalan menjauh. Para pelayat juga sudah pergi, menyisakan keheningan antara dirinya dan dingin tubuh Sakha yang sudah menyatu dengan tanah.
Nika jatuh terduduk, mengabaikan bajunya yang nanti akan kotor. Memeluk gundukkan tanah itu dengan selimut tangis. “Kenapa Tuhan lebih sayang kamu ya, Sakha? Kenapa nggak mommy aja yang Tuhan ambil lebih dulu ya?”
“...Sakha?”
“Bangun yuk!”
“Di dalam gelap, kan kamu takut gelap. Ayo, Mommy disini sendirian loh!”
“Sakha?”
“Nanti siapa yang bakal kasih semangat ke Mommy?”
“Anak ganteng Mommy, bangun yuk. Janu nungguin kamu loh!”
“Sakha? Sakha?”
“Sakha?”
“Sakha?”
“Please.”
Kali ini, tangis Nika turun dengan begitu deras. Suara isakannya terdengar lebih ke arah meraung. Ia bingung. Ia hilang arah. Dunianya menggelap seolah tenggelam pada dasar jurang yang tak berujung.
“Nika?” panggil seseorang membuat Nika menegakkan tubuhnya. Seorang pria dengan wajah lelah tampak tersenyum langsung membawa Nika dalam dekapannya.
Mereka sama-sama hancur. Peluk hangat pelukan mereka adalah ikatan dimana tangis masing-masing perwakilan rasa kehilangan yang begitu besar.
Nika menenggelamkan wajahnya, pada dada bidang milik Arsa, membiarkan begitu saja kemeja hitamnya yang basah oleh tangis.
Ia juga kehilangan, sama seperti Nika.
Seperti deja vu yang menyakitkan. Dia memberikan dua adzan yang begitu berarti bagi Sakha. Saat bayi kecil itu menangis ketika pertama kali matanya membuka untuk melihat dunia dan saat matanya terpejam setelah tau apa itu dunia.
Hatinya hancur. Meski dirinya tak memiliki ikatan darah, tapi membesarkan Sakha bersama Nika selama enam tahun berhasil membuat Arsa memiliki beribu kenangan yang tak bisa dijelaskan secara singkat.
“Dora? Tuhan denger doa-doa lu, doa-doa gue, doa-doa orang yang sayang sama Sakha,” ucap Arsa. “Doa kita buat kesembuhan Sakha.”
“...Sakha nggak bakal lagi ngerasain sakit.”
“And I lost him, Ca!” jawab Nika.
“I can't hug my son again.”
Arsa tak menjawab, memeluk erat Nika sembari mencium pucuk kepala sahabatnya tersebut, baginya hanya ini yang bisa ia lakukan. Usahanya semalam hanya berakhir sia-sia ketika suara nyaring dan garis tipis mesin elektrodiograf memecah sunyi ruangan.
“Maafin, gue Ra.”
...꒰🖇꒱...
Tangis tanpa suara, adalah bentuk penyesalan yang bisa Arsa tunjukkan. Tangannya gemetar, mengenggam dengan kuat benda pipih dalam cengkramannya.
Ratusan Chat yang dikirimkan Sakha, dan beberapa video yang semakin membuat hatinya hancur berantakan.
Tiga puluh hari yang begitu menyiksa, untuknya, Sakha maupun Nika. Katakan ia pengecut, memilih lari dan meninggalkan Sakha tentang rindu dan kesepiannya.
Betapa hangat bibir mungil pria kecil itu tersenyum sembari mengucapkan kalimat kerinduan dan cerita hari-harinya tanpa Arsa di setiap video yang dokter muda itu tonton. Pertahanannya rapuh, ia hancur. Semua terlambat. Tak ada yang dapat diperbaiki. Nika benar, mereka berdua kehilangan Sakha, yang dimana dekapan hangat pria kecil itu masih membekas begitu dalam.
“Maafin kakak ya, Sakha. Kak Arsa minta maaf,” lirihnya mulai meracau menyalahi dirinya sendiri.
Cukup lama ia berdiam diri di kamar mandi ruang rawat bekas Sakha. Ia tak memiliki tenaga bahkan untuk melihat ke arah Nika berusaha kuat untuk menegarkan sahabatnya tersebut.
“Gue harus gimana, Ra? Gue bego ya?”
Suara ketukan pintu yang tiba-tiba membuat Arsa bangkit berdiri. Disana ada pria kecil yang berdiri di depan pintu dengan wajah manis. “Om dokter, Janu mau pakai kamar mandinya, udah nggak tahan. Om dokter masih lama nggak?”
Arsa berjongkok mensejajarkan tingginya dengan Janu. Tersenyum lembut memberikan tepukan ringan di pipi pria kecil tersebut. Sebelum bangkit berdiri mempersilahkan Janu masuk ke dalam kamar mandi.
“Ra?” panggil Arsa mendapati Nika duduk di atas ranjang Sakha dengan pandangan kosong.
“Dokter Arsa, saya udah bantu Nika, ngelakuin therapy, kita tunggu kabar baiknya ya,” ucap seorang dokter yang baru saja selesai memeriksa Nika.
Arsa mengangguk. “Makasih dokter.” Memperkikis jaraknya dengan Nika hampir membuat Arsa melemah. “Ka?” panggilnya parau.
“Gue harus balik besok ke Papua. Lu nggak perlu nganter gue, cukup jaga diri lu baik-baik disini. Maaf, maaf gue nggak bisa lebih lama nemenin lu. Gue nggak bisa lebih lama bantuin lu, gue ngg—”
Ucapan Arsa terpotong ketika Nika langsung menubrukan dirinya begitu saja pada dada bidang sahabatnya tersebut. Ia menangis, menangis dalam dekapan hangat Arsa. “Ca, Hati-hati ya.”
Dengan senyum yang begitu berat Arsa mengangguk. Ia mengusap lembut surai rambut panjang Nika yang tampak berantakan. Mereka berdua sama-sama lelah, sama-sama terpukul dan kehilangan, tapi kehidupan harus terus berjalan bukan? Bersama rasa sakit yang perlahan meski butuh waktu dan perjuangan untuk sembuh.
“Tunggu gue ya, Ra. Tunggu gue di bandara dua bulan lagi. Kita perbaiki semua dan lanjutin apa yang tertunda.” Nika mengangguk, senyum tipis ia berikan.
“Ra, makasih udah jadi ibu yang kuat buat Sakha. Makasih, udah mau jadi wanita kuat buat merelakan mimpi besar lu.”
“...makasih Ra. Udah lahir dan jadi sahabat gue.”
“Ca?” panggil Nika dengan suara serak. Arsa melepaskan dekapan di antara mereka sebelum menatap Nika penuh kelembutan. “Makasih, makasih udah beri kesempatan buat Sakha ngerasain figur ayah dari lu.”
Arsa menggeleng. “Gue yang yakinin lu buat pertahanin Sakha. Dan gue udah janji buat bantu lu, Ka. Dari awal Sakha nggak salah apa-apa. Cuma takdir yang buat dia lahir di situasi yang cukup rumit.”
“Makasih udah kasih nama yang bagus buat anak gue, Ca. Thanks to everything, lu berharga banget dalam hidup gue,” jelas Nika kembali meneteskan air mata.
Arsa hanya mengangguk. ‘Arsa dan Annika berlayar, Ra. Berlayar dalam nama Sakha. Berlayar dalam harap cinta gue yang nggak berbalas. Tapi, gue sadar, Sakha segalanya buat lu.’
“Makasih, Ra.”
✄ - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -- - - - -30-06-23𖠄ྀྀ