ABOUT YOU 1998

ABOUT YOU 1998
. .THE NEXT HOME



...︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽...


...CERITA INI HANYA FIKTIF BELAKA, MOHON MAAF JIKA ADA KESAMAAN YANG HADIR TANPA DISENGAJA....


...INI HANYA CERITA FIKTIF JADI JANGAN SAMPAI TERBAWA KE DUNIA NYATA....


...SEKIAN TERIMAKASIH....


...______________________________________...


...—H A P P Y  R E A D I N G—...


...______________________________________...


TERUS menerus berjalan dan melihat ke koridor rumah sakit seorang wanita menghembuskan nafasnya dengan berat, sementara di dalam ruangan suara tangis terus terdengar sedari tadi.


“KAK ARSA MANA!!!  SAKHA MAU KETEMU KAK ARSA!!!!”


“Sakha? Bentar ya? Kak Nika dari semalam 'kan udah coba hubungin kak Arsa, kamu tau sendiri telfon kak Nika belum juga diangkat,” jawab Nika hendak menangis.


Sakha menggeleng. “SAKHA MAU KAK ARSA!!!!!!”


Pertahanan Nika runtuh, wanita itu ikut menangis, jatuh terduduk di dinginnya lantai rumah sakit. “SAKHA NGERTIIN KAKAK JUGA DONG!  KAK NIKA CAPEK, PULANG KERJA DARI KEMARIN TERUS DENGER KAMU NANGIS!”


“BISA NGERTIIN KAK NIKA NGGAK?!” bentak Nika membuat tangis Sakha semakin keras. Wanita itu mengalah, membiarkan beberapa orang yang penasaran untuk berbisik di depan pintu ruang rawat. Pandangannya memberat, bersama rasa sakit yang terus membuat kepalanya terasa ingin pecah.


“NIKA?” Panggil seseorang mengguncangkan tubuh Nika. Dengan panik, ia membopong tubuh Nika yang tampak lelah, sementara seorang wanita langsung menenangkan Sakha.


Harum wangi itu, dekap hangat yang seolah tak asing bagi Nika membuatnya dengan tenang menutup matanya.


“SAKHA!!!!”


“Nika?” ucap seseorang dengan panik menahan tubuh Nika yang hampir limbung. “Kamu tenang oke? Sakha aman, dia lagi therapy sekarang.”


Nika mengangguk, kembali berbaring pada ranjang rumah sakit. Sakitnya sudah mereda tapi, keresahan terus menghantuinya.


“Kak Fayyadh ngapain?”


“Jagain kamu, tidur kamu pules banget tadi, capek ya?”  tanya Fayyadh mengembangkan senyum.


“Nika cuma kurang tidur aja kak, dari semalem Sakha nangis terus mau ketemu sama Arsa.”


“Dokter Arsa? Kok pengen ketemu, ada apa?”


Wanita itu terdiam. Ia juga bingung, semenjak kejadian minggu lalu, dimana Arsa dengan dirinya beradu pendapat dokter muda itu menjaga jarak dengannya, tak berbicara hanya berkunjung ikut membantu menjaga Sakha. Lantas kemarin, saat ia pulang kerja, Adik kecilnya menangis, mengadu bahwa sosok Arsa tidak datang.


Sudah tak perlu bertanya berapa kali Nika menelfon, atau berapa kali ia mondar-mandir ke salah satu tempat dimana Arsa habiskan waktu untuk istirahat. Pria itu tidak ada disana, seolah sengaja menghilang untuk menghindarinya.


“Nika? Jangan ngelamun!” tegur Fayyadh.


“Jawab pertanyaan Nika, Kak! Nggak mungkin kalau Kak Fayyadh ke rumah sakit nggak punya maksud,” tanya Nika.


Fayyadh tertawa. “Saya ngaku deh!” lontarnya. “Saya pengen nyerahin dua benda ini ke kamu, takutnya kalau kelamaan saya lupa. Ternyata saya dateng diwaktu yang bisa dibilang tepat dan nggak.”


“Thanks kak, mungkin kalau Kak Fayyadh nggak dateng Nika nggak tau lagi bakal kayak gimana,” ucap Nika.


“Sama-sama Nika, jangan merasa sungkan, ya?”


“Ini undangan kak?”


“Annika ulang tahun, sabtu pagi saya bakal adain pesta kecil-kecilan di salah satu resto, kamu datang ya?” tanya Fayyadh.


Nika terdiam sesaat. “Nika ragu buat datang kak, nggak ada yang jaga Sakha, apalagi dari kemarin Nika belum ketemu sama Arsa.”


“Kamu jangan khawatir, disana aman kok, ajak aja Sakha sekalian. Saya selalu sediakan petugas medis, takut Annika kenapa-kenapa, jadi Sakha pasti aman.”


“Makasih kak, tapi, nanti Nika pikir dulu boleh?”


Fayyadh mengangguk, membasahi tenggorokannya sebelum berujar. “Nanti biar saya jemput ya Ka?”


“Gimana, kak Fayyadh?”


“Kamu bakal kesusahan kalau sendirian sambil bawa Sakha, jadi saya jemput, itu udah pilihan terbaik, jangan nolak ya?” bujuk Fayyadh.


“Mana ada ceritanya tuan rumah jemput tamu?” jawab Nika sungkan.


“Ya ada dong, nanti biar jadi cerita, maka dari itu kamu harus mau.”


“Jangan berlebihan Kak Fayyadh!” tegur Nika.


Pria itu menggeleng. “Mungkin hubungan kita emang udah selesai Ka, udah banyak luka yang saya kasih ke kamu. Tapi, seperti kata kamu, saya bolehkan jadi temen kamu? Jujur, saya semakin merasa bersalah kalau saya lepas pergi gitu aja.”


“Kenapa Kak Fayyadh ngomong gitu?”


“Sakha dia anak kam—”


“Dia anak Mamih Nika, kenapa?”


“Nggak, cuma rada mirip saya aja waktu kecil,” jawab Fayyadh canggung.


“Anak kecil mukanya pada mirip-mirip gitu si Kak, dulu waktu Nika kecil mukanya hampir mirip sama Arsa, jadi menurut Nika wajar sih,” jelas Nika tak mau ambil pusing.


Fayyadh mengalah. Pria itu menganggukan kepalanya. “Jadi, berapa lama Nika harus di ruangan ini?”


“Ah, saya panggil dokter dulu ya buat periksa kamu? Nanti kalau udah boleh keluar kita ketemu Sakha,” tawar Fayyadh, Nika hanya mengangguk. Meski setidaknya nyaman disini, ada sebuah tanggung jawab yang menunggunya. Dan itu, Sakha. Pria kecil yang membuatnya bisa bertahan selama enam tahun terakhir.


...꒰🖇꒱...


“KAK NIKAAA!!!!” panggil seorang anak laki-laki tampak melambaikan tangannya dengan riang di atas kursi roda.


Nika menyunggingkan senyum, sedikit berlari menghampiri Sakha. “Nika, jangan lari, kamu baru siuman,” peringat Fayyadh yang tak digubris Nika sama sekali.


Pria itu menghembuskan nafasnya pasrah, ia menyusul langkah Nika sembari berlari, menghampiri Sakha, dan putri kecilnya yang tampak bermain bersama Nanny yang Fayyadh pekerjakan.


“Sudah lama Sakha selesai Therapy?”


“Baru beberapa menit yang lalu pak.”


“Kalau begitu terima kasih,” jawab Fayyadh membuat wanita berseragam itu memundurkan langkah memberikan ruang untuk majikannya berbicara dengan santai.


Sakha menatap bingung ke arah Fayyadh sebelum menarik ujung baju milik Nika dan berbisik. “He is your friend?”


“Why?”


“He is not your boyfriend?” mendengar pertanyaan Sakha membuat Nika tertawa lepas, menimbulkan raut bingung Annika maupun Fayyadh.


“Ada apa Nika?”


“I'm sorry boy, i'm really really sorry, okay?”


“Kamu nggak perlu cemburu sama saya, Sakha. Kenalin nama saya, Fayyadh, temannya Kak Nika!”


“Jadi, aku harus manggil kamu apa? Kakak atau om? Kamu terlihat lebih tua dari Kak Nika,” jawab Sakha terus terang.


“Kamu nggak boleh ngomong gitu, Sakha!” tegur Nika merasa tak enak hati.


Fayyadh menggeleng, mengusap lembut rambut milik Sakha. “It's okay, lagian itu fakta Nika, saya juga nggak masalah, santai aja ya Sakha sama saya,” ucap Fayyadh.


“Makasih ya, Om Fayyadh!”


Nika menatap ke arah Fayyadh dengan sungkan sementara Fayyadh tertawa melihat kepolosan Sakha. “Papa!! Annika laper!!!!” lontar gadis kecil dengan wajah marahnya.


“Oke, siapa yang mau makan?”


“Aku! Aku! Aku!!!” teriak Annika dan Sakha saling berebut. Baik Nika dan Fayyadh saling pandang sebelum menukar tawa mereka. Dibawah sinar mentari siang yang tertutup awan itu mereka tampak asik bercanda, seolah suasana begitu mendukung.


“Saya nggak nyangka bisa ketawa bareng lagi sama kamu, Nika,” jelas Fayyadh menatap wajah teduh Nika yang tampak berseri.


“Kenapa nggak nyangka?”


“Terakhir kali, udah lama juga enam tahun lebih ya?” tanya Fayyadh pada dirinya sendiri. “cepet banget perasaan Nika, dulu kamu masih anak kecil dimata saya.”


“Kak Fayyadh ngomong kayak udah om-om aja, kita cuma beda enam tahun, jangan lebay!” jawab Nika.


Fayyadh menanggapi ucapan Nika dengan tertawa. Mendorong kursi roda milik Nika dengan Annika yang mengenggam lembut jemari tangan Nika. “Kita kayak keluarga bahagia ya Ka?”


“Hah? Gimana kak?”


“Kit—”


“Nika ambil tas dulu ya? Sekalian obat Sakha, nggak lama kok. Annika mau ikut?” tanya Nika memotong ucapan Fayyadh, gadis kecil disampingnya menggeleng memilih memeluk Papanya dengan erat. “Sakha, kamu tunggu disini ya? Kakak nggak lama kok, oke?”


Sakha mengangguk meski sedikit tidak yakin, dengan amat terpaksa Nika berlari pergi, tidak, ia tau apa yang akan dikatakan Fayyadh selanjutnya. Jika ini hanya diantara mereka berdua itu tak menjadi masalah, tapi kehadiran Sakha membuat dirinya harus menghentikan Fayyadh.


“Jadi, Kak Nika siapa kamu?” tanya Fayyadh setelah memastikan Nika menghilang dari pintu masuk rumah sakit.


“Maksudnya Om?” tanya balik Sakha kebingungan.


Setelah mendapatkan apa yang ia cari Nika bersiap kembali turun ke bawah, menuju kantin rumah sakit. Sakha tak bisa pergi jauh jika tanpa kehadiran Arsa. Wanita itu mendengus, ia khawatir, dirinya gagal mengurus Sakha jika tanpa bantuan sahabatnya tersebut. Kini ia tersadar ketergantungannya selama ini terhadap Arsa adalah hasil dari ketulusan pria tersebut.


Tapi, prinsipnya selalu teguh, terasa canggung untuknya jika mereka harus berakhir dalam hubungan resmi. Nika sadar diri, tentang statusnya dan kehadiran Sakha. Pria baik seperti Arsa pantas mendapatkan seorang wanita yang mampu menjaga harga dirinya, ia tersenyum kecut, seberusaha apapun perasaannya terkubur, otaknya terus mengharapkan kisah akhir yang indah bersama Arsa.


Tak lama lamunannya terbuyar bersama suara pintu ruang rawat terbuka, sesosok wanita dengan hijab menghampirinya. “Bunda?” sapanya sembari tersenyum.


Heningnya ruang rawat tampak menggema dengan suara tamparan yang terdengar cukup keras, Nika mematung, terkejut, sembari menahan rasa perih yang ia rasakan di pipi kirinya. “Bund—”


“Sesusah itukah untuk kamu nahan kepergian Arsa?”


“...sesusah itukah kamu untuk datang ke acara saya sebagai perkenalan terhadap keluarga saya?”


“...sesusah itukah untuk nerima perasaan Arsa?!”


Dengan terbata Nika menjawab bersama kedua matanya yang berlinang. “Ma-maksud Bunda apa?”


“Sehari sebelum Arsa ke Papua, dia datang ke acara saya, tanpa kamu! Tapi orang lain!”


“...andai kamu tau usaha Arsa yakinin saya atas masa lalu kamu! Andai kamu tau usaha Arsa buat kamu! Tapi perempuan ****** nggak tau diri kayak kamu nggak pernah sadar. Hati kamu terbuat dari apa ANNIKA!!!”


“...kalau kamu bukan anaknya Khalil! Kalau kamu bukan anak dari orang yang udah berjasa di keluarga saya! Kalau kamu bukan wanita yang dicintai sama anak saya, demi Tuhan! Saya ogah jadikan wanita yang punya anak hasil hubungan terlarang untuk jadi menantu saya!”


Wanita yang dipanggil Bunda oleh Nika itu berlalu pergi, meninggalkan Nika yang mematung mencerna perkataan wanita yang telah melahirkan sahabatnya tersebut. Butuh beberapa menit untuknya tersadar dan berjalan mengejar tapi sosok wanita itu tak kunjung ia temukan.


“Nika?” panggil seseorang yang tanpa sengaja ia temui di salah satu koridor rumah sakit.


“Bang? Nika, Nika bener-bener nggak tau apa-apa, Nik—” ucapan Nika terpotong, ketika pria yang mirip dengan Arsa membawa tubuhnya masuk ke dalam dekapan.


“Lu tenang dulu ya, Ka! Gue janji, gue bakal atur waktu yang pas buat lu jelasin semuanya ke Bunda. Bunda cuma lagi kecewa aja sama lu, Bunda tuh sayang sama lu kok Ka, gue jamin.”


Nika mengangguk. “Bang? Arsa beneran jadi ke Papua? Terus, wanita yang dimaksud Bunda siapa?”


Sembari melepaskan pelukannya pria itu menjawab. “Berangkat semalam Ka, mang tu bocah kagak cerita ke lu?” tanyanya yang dibalas gelenggan oleh Nika. “Gila juga tu bocah! Kalau soal tuh cewek gue juga kagak tau, cuma kemarin cerita sama Bunda, dia bilang dia salah satu suster disini.”


“Suster? Suster Kania?”


“I don't know. Lu nggak coba aja telfon tu bocah?”


Nika menggeleng. “Dari Nika pulang kerja udah Nika telfonin, nggak ada satupun yang diangkat.”


“Lu berdua ada masalah ya?”


“Maybe yes.”


“Gue nggak bisa bantu banyak, Ka! Ini tentang lu sama si bocah batu. Tapi, kalau lu punya masalah selain sama tu bocah gue yakin bisa bantu, jangan sungkan.”


“Thanks, Bang! Nika ngerepotin lagi.”


“Itung-itung beramal gue Ka, bantuin adek sendiri dosa emang?”


Nika mengangguk. “Kalau gitu gue pamit ya, kalau kelamaan Bunda malah marah ke gue,” jelasnya mengakhiri obrolan.


“Nika titip salam buat Bunda ya bang!”


“Santai Ka, nanti gue sampaikan!”


Pria itu menjauh pergi sempat berpapasan dengan Fayyadh yang tengah mendorong kursi roda Sakha, sorot matanya tajam siap menguliti sosok Fayyadh yang tampak tenang berjalan mendekati Nika.


“Kak Nika kok lama?” protes Sakha.


“maaf ya, tadi kakak nyari cemilan kesukaan kamu dulu.”


“Are you okay?”


Nika mengganguk sembari menepis tangan Fayyadh yang hendak menyentuh pipinya. “Nika, you can sharing story to me!”


“Dan Nika punya hak buat nggak cerita,” jawab Nika mengambil alih kursi roda milik Sakha, berjalan mendahului membiarkan Fayyadh terdiam mematung.


Pria itu yakin. Wanita berumur yang ia tak sengaja temui saat di lift tadi seperti mengenal Sakha, terlihat dari senyum Sakha yang mengembang tapi diacuhkan oleh wanita tersebut, belum lagi pandangan tajamnya menatap dirinya yang tengah kebingungan.


Siapapun dia, Fayyadh hanya berharap bahwa Nika bisa menceritakan kegelisahan padanya, karena ia berjanji akan siap menjadi rumah untuk mantan kekasihnya tersebut.


Dan ia akan berusaha mengantikan rumah yang dibangun Arsa. Fayyadh tidak akan mundur hanya karena bogeman pria tersebut, belum lagi, ini waktu yang pas untuknya, Nika berada di titik lemah dimana ia butuh sandaran, maka ia akan berusaha menjadi rumah baru untuk Annika, wanita yang namanya masih tersimpan di dalam relung hatinya.


✄  - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -- - - - -12-05-23𖠄ྀྀ