ABOUT YOU 1998

ABOUT YOU 1998
. .THE SHOES



...︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽...


...CERITA INI HANYA FIKTIF BELAKA, MOHON MAAF JIKA ADA KESAMAAN YANG HADIR TANPA DISENGAJA....


...INI HANYA CERITA FIKTIF JADI JANGAN SAMPAI TERBAWA KE DUNIA NYATA....


...SEKIAN TERIMAKASIH....


...______________________________________...


...—H A P P Y  R E A D I N G—...


...______________________________________...


RODA koper tampak berputar menggelinding pada lantai Bandara. Seseorang dengan wajah sehabis bangun tidur adalah sang pemilik dari koper hitam tersebut.


“Aduh, udah ada yang jemput nih!” goda Kania menyenggol manja lengan milik Arsa.


“Sus Kania, itu toh cewek yang katanya calon istrinya dokter Arsa?” tanya salah satu dokter senior yang bersama mereka. Kania mengangguk. “Iya dokter, cantik ya? Kita jadi tim nunggu undangan aja nggak sih?”


Yang disana tertawa, kecuali Arsa yang tersenyum tipis sebelum berpamitan dengan yang lain. Langkahnya lebar, bersama jutaan rindu yang ia kubur selama dua bulan terakhir.


Dia disana. Wanita cantik dengan wajah teduh menantinya dengan senyum lebar, seolah rasa lelah Arsa terbayarkan oleh kehadiran Nika di hadapannya.


“Muka lu lesu amat!” sindir Nika memeluk sahabatnya tersebut. “Capek ya perjalanan jauh?”


Arsa menggeleng, mengeratkan dekapannya dengan Nika, mencium aroma wangi shampo wanita dalam dekapannya tersebut. “Lu lama nungguin gue?”


“Lumayan sih, tapi gue nggak ketiduran,” sindir Nika melepaskan dekapan diantara mereka. Arsa mendengus kesal.


“Masalah di Jogja lu inget aja si, Ra.”


“Memori otak gue tuh penuh sama kelakuan lu, Ca,” jelas Nika mulai melangkah.


Arsa menyusul berjalan di samping sahabatnya yang lebih membaik dari saat ia tinggalkan. “Mamih nggak jadi ikut?”


“Mamih cuma nganter, ada kerjaan dia, mau ketemu klien.”


“Kapan Mamih balik ke Jogja? Lu cerita sama gue di telfon katanya selesai seratus harian Sakha.”


“Iya, gue pengen Mamih disini nemenin gue aja, Ca. Tapi gue rasa, Eyang gue yang lebih butuh,” jelas Nika sendu.


Arsa terdiam, langsung mengenggam tangan Nika lembut membuat sang empunya memandang tak percaya ke arah dokter muda tersebut. “Ada gue, Ra. Gue janji nggak bakal ninggalin lu sendirian lagi.”


“Lu kesambet setan Papua, Ca?”


“Kok gitu?” tanya balik Arsa tak terima.


“Ya lu aneh, biasanya jago gombal doang, ini mah sweet sweet kayak oppa-oppa Korea.”


“Cewek itu bakal luluh sama act of service, Ra. Nggak cuma word of affirmation aja, soalnya lu nggak mempan gue kasih kata-kata.”


“Sok tau lu!” ucap Nika memukul lengan Arsa. “Berapa banyak cewek yang lu act of service-in? Suster Kania pasti sering.”


“Cemburu?”


“Najis! Yakali gue cemburuin jamet kayak lu,” balas Nika sewot.


Arsa tertawa, membawa Nika masuk ke dalam ketiaknya, membiarkan sahabatnya itu meronta untuk dilepaskan, dengan tawa ia mengalah, membiarkan Nika menghirup aroma kebebasan. “Kalau ada lu, kenapa gue harus nyoba ke orang lain?”


“Oh, jadi maksud lu gue kelinci percobaan?” ketus Nika membenarkan tatanan rambut.


“Ra, jangan menyulut api perang ya.”


“Siapa yang nyulut, gue cuma nanya.”


“Lu pasti laper, mau makan nggak?“


Sebuah senyum terbit di wajah Nika. Wanita itu langsung menarik tangan Arsa menuju restoran Jepang di bandara. “Mau mesen apa?”  tanya Arsa.


“TAKOYAKI!!!!!”


...꒰🖇꒱...


“Ka, bangun, Ka. Ada Arsa tuh diluar,” ucap Ning menggoyangkan kaki putrinya yang masih terlelap dalam tidur. “Nika?”


“Arsa suruh pulang aja, Mih. Nika baru tidur subuh tadi, kerjaan banyak banget,” jawab Nika masih terpejam. Ning menggelengkan kepalanya sembari bangkit berdiri. “Arsa bawa motor tau!”


Detik itu juga Nika bangkit berdiri, sedikit berlari untuk mengintip bersama Mamihnya dari celah jendela kamar. Diluar, ada Arsa yang tampak memberi instruksi kepada beberapa orang untuk dengan hati-hati menurunkan sepeda motor miliknya.


“Beneran kesambet setan Papua,” lontar Nika sebelum berlari ke luar rumah menghampiri Arsa yang sudah membuat kegaduhan di pagi hari.


“Aduh!” rintih Arsa memegangi bagian punggungnya. “Selamat pagi calon permaisuri Arsa, nyenyak tidurnya?”


“Nyenyak nyenyak, gue baru tidur subuh, dan ini masih jam enam tanpa ngomong dulu lu dateng ke rumah. Lagian lu nggak capek apa terbang dari Papua semalem?”


Arsa tersenyum menatap penampilan Nika, dengan rambut kusut dan mata panda wanita dihadapannya membuat Arsa langsung memeluk. “Ca! Lepas nggak!”


“Lu daripada ngamuk mending makan, gue udah bawa tiga nasi uduk buat sarapan kita,” jelas Arsa mengangkat tinggi kantung plastik dalam genggamannya. “Pak, ini ongkosnya ya, kalau sudah nanti bapak boleh pulang. Terimakasih pak, sudah bantu saya.”


Mobil pick up itu berlalu pergi, meninggalkan Nika dengan wajah menuntut. Arsa tertawa, merangkul sahabatnya tersebut berjalan memasuki rumah. “Nanti gue cerita sambil sarapan.”


“Selamat pagi, Tante,” sapa Arsa menyalami tangan Ning yang menunggu mereka di ambang pintu masuk. “Jadi, ada apa dengan keributan di pagi hari ini, Arsa?”


“Hari ini Arsa mau ajak Nika jalan tante,” jawab Arsa. Ning mengangguk. “Bagus deh, liat Nika dirumah terus saya suntuk.”


“Mih, Nika dirumah terus juga kerja tau,” bela Nika tak terima.


“Tetep aja, muka kamu kalah serem sama zombie karena kurang healing.”


Detik itu juga tawa Ning dan Arsa terdengar menyisakan wajah masam Nika yang terlihat kecut mengawali pagi yang cerah tersebut.


...꒰🖇꒱...


“Lu beneran nggak mau nyamperin dia?” tanya Arsa berhasil membuat air putih yang tengah di tenggak Nika keluar dari kedua lubang hidungnya menimbulkan rasa sakit yang sukar dijelaskan. “ARSA!!!!” pekiknya kesal.


Dengan cepat Arsa membantu Nika, membersihkan sisa air tersebut dari wajah sahabatnya. “Minum tuh pelan-pelan, ra!”


“Lu yang ngagetin.”


“Oh, gue ngagetin lu ya?” monolog Arsa membuat Nika semakin memasamkan wajahnya.


“Hari ini suram banget hidup gue, Ca!” lontar Nika tiba-tiba. “Tidur gue diganggu lu, kena satir sama Mamih, sekarang hidung gue perih gegara lu, sumpah ya, deket sama lu bikin mood gue ancur!”


Arsa tak menjawab, membiarkan Nika terus mengoceh kesal merutuki dirinya. Pria itu menyunggingkan senyum lebar, menatap penuh binar ke arah sahabatnya. Ia tau, mereka bukan remaja labil yang tengah kasmaran dengan buaian cinta, tapi baginya Nika sesuatu yang harus ia perjuangkan hingga akhir.


“LU DENGERIN GUE NGGAK?” tanya Nika meninggi. Detik itu juga Arsa mendekap Nika, membawa tubuh mungil itu dalam peluk hangat tubuhnya.


“Lu dengerin detak jantung gue nggak, Ra?”


“Nggak! Gue bukan lu yang punya stetoskop.”


Tawa Arsa terdengar. “Jangan marah-marah, gue tau lu kangen sama gue.”


“Najis!” Nika meperjauh jaraknya dengan Arsa, melepaskan dekapan diantara mereka.


“Juj—”


“JANU!!!” panggil Nika mendapati seorang pria kecil yang tampak memasang wajah datar keluar dari komplek pemakaman. “Gimana? Mau jalan sekarang?”


“Tante? Tante nggak mau ketemu sama Sakha?”


Nika tersenyum, merapihkan anak rambut milik Janu yang tertiup angin. “Belum waktunya, nanti kalau Tante Nika dahuluin takdir, Tuhan bakal marah.”


“Kayak waktu itu di rumah sakit?” tanya Janu dibalas anggukan Nika. “Tapi, bukan itu maksud aku.”


“...Tante nggak mau ketemu Sakha, kayak aku sama Dokter Arsa tadi?”


“Janu pengen ketemu Mama nggak?” pria kecil itu mengangguk, air wajah Nika berubah sendu. “Sama kayak Janu. Tante juga pengen ketemu sama malaikat tante, pria kecil yang tegar. Tapi, kalau tante ke makam Sakha yang ada tante bakal sedih dan nggak mau pulang, kita gagal jalan deh.”


“Tante?” panggil Janu pelan.


“Apa?”


“Nanti ketemu sama Sakha ya? Kata dia, dia kangen sama Tante.”


Nika mengangguk. Air matanya lolos begitu saja, ia memeluk Janu erat, melepaskan kerinduannya meski tak pernah benar-benar bisa tersampaikan.


Dunianya dan Sakha telah berbeda, dan hanya keikhlasan atasan kepergian yang masih sukar untuk Nika dapatkan.


...꒰🖇꒱...


Honda CB150R StreetFire Special Edition Raptor Black itu menghentikan laju rodanya, mesin yang tadi memanas setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh akhirnya mulai mendinginkan mesin secara perlahan. Termasuk seorang wanita yang melepaskan helm full face miliknya.


“Lu harus tanggung jawab, Ca! Tangan gue pegel bawa ni motor dari rumah terus ke puncak,” ungkap Nika memalak.


Arsa mengangguk. “Bahkan kalau lu minta jantung gue bakal gue kasih, Ra!”


“Jantung - jantung, lu kira attack on titan.” Nika memilih merebahkan tubuhnya di atas teras sebuah villa yang sudah Arsa sewa.


“Istirahat gih, Ra! Gue sama Janu jalan, sekalian nyari makan siang, atau lu mau ikut kita?”


Nika menggeleng dengan cepat. “Nyari penyakit gue ikut lu. Gampang deh ntar gue nyusul, gue mau cuci muka, debunya gila parah.”


“Siap ibu ratu, hamba sahaya pamit pergi dahulu,” ucap Arsa menunduk setengah badan sebelum berlalu pergi bersama Janu. Nika tersenyum tipis sebelum helaan nafas panjang ia keluarkan.


Sudah empat jam semenjak mereka sampai di salah satu penginapan yang berada di kawasan puncak. Tawa Janu terdengar, mengisi indahnya pemandangan hijau kebun teh, Arsa yang berlari mengejar pria kecil itu juga ikut tertawa, mengabaikan rasa lelah perjalanan mereka yang hampir memakan waktu kurang dari tiga jam tersebut.


“Dokter?” panggil Janu menyerah. “Oke, kita istirahat,” jawab Arsa duduk pada rindangnya pohon.


Janu menyusul, tampak merebahkan kepalanya pada paha milik Arsa. “Tante Nika kenapa masih belum bangun?”


“Tante Nika kecapekan, perjalanan dari rumah ke sini lumayan ya 'kan, Nu?” ungkap Arsa. “Apalagi Tante Nika tidurnya kurang, semalam jemput om dokter di bandara.”


“Om dokter kenapa nggak yang bawa motornya aja? Kan bisa gantian. Kayak Sakha yang selalu gantian minjemin mainan dia.”


Arsa tertawa mendengar pertanyaan polos Janu yang nyaman di pangkuannya. Ia mengusap surai rambut milik Janu sebelum bercerita kisah kelam yang masih membuatnya takut. “Janu mau denger cerita?”


“Nggak! Nanti Janu ngantuk!”


“Bener nih?”


“Dokter Arsa pernah kecelakaan, Janu!” lontar seseorang baru saja tiba langsung ikut bergabung duduk di hadapan Arsa dengan seutas senyum.


“Iler lu noh hapus dulu, baru senyum!”


“Apa bedanya? Seorang Arsa bukannya bakal suka sama Nika apapun yang terjadi?” goda Nika berhasil membuat wajah Arsa memerah. “Nggak usah salting, Ca! Malu sama umur.”


Arsa berdecak, raut wajahnya berubah kesal. “Gue emang ganteng, Ra! Tapi gue masih manusia, nggak sepenuhnya malaikat, jadi wajar gue salting.”


“Suka lu deh! Gue laper nih,” jelas Nika mengusap perutnya.


“Gue udah naro makan siang di meja kamar lu? Nggak liat?”


“Liat.”


“Terus?” tanya Arsa tak mengerti.


“Nggak berasa, Ca!”


“Buset, perut apa karet?”


“Diem ya, Ca! Energi gue abis gegara perjalanan jauh, penumpang no coment!”


Arsa mengalah. “Gue sama Janu nyari penjual Tak—”


“Nggak ada yang jual,” potong Nika sendu.


“Lu udah nyari?”


“Masa gue jawab pertanyaan lu sambil ngerawang,” ketus Nika. “Gue nggak bisa tidur, alhasil gue muter dari ujung ke ujung.”


“And, you can't get it?”


“Yeah, allright!”


“Get well soon, duta Takoyaki.”


Nika mendengus kesal, melempar sebuah batu kerikil di dekatnya ke sebelah kiri.


“Kamu kenapa Nu? Diem aja?” tanya Nika mengalihkan pandangannya. “Janu mau jajan? Atau berenang?”


Pria kecil itu menggeleng. “Jadi? Kenapa Om Dokter bisa kecelakaan?”


“Daritadi kamu nungguin?” Arsa memandang ke arah Janu dengan tak percaya. “Parah ya, Tante Nika ceritainnya setengah-setengah.”


“Lu ya Ca, yang ngalihin topik,” bela Nika tak terima disalahkan. Sementara Arsa berdehem, tampak bersandar pada batang pohon yang teduhnya ia nikmati.


Ia tersenyum bersama pilu yang tiba-tiba singgah. “Beberapa tahun yang lalu, di Jogja, umur Sakha berapa ya Ra waktu itu?”


“Dua tahunan lah, ada kayaknya.”


“Ya! Sore itu,” Arsa mengangguk. Kenangan pahitnya muncul, tapi mulutnya tak pernah bisa berhenti untuk bercerita, mengalir begitu saja hingga pria yang menyandang dokter muda tersebut menyingkap sebagian kemeja miliknya. “Look at this!”


“Ini masih sakit nggak?” tanya Janu penasaran memegang luka jahitan di tangan Arsa. “Kenapa aneh?”


“Karena, buat nutupin luka ini harus ambil bagian kulit yang lain,” jawab Arsa.


“Waktu itu Om Dokter nangis nggak?”


Arsa terdiam sebelum melirik Nika meminta bantuan. “Om Dokter nggak nangis, cuma teriak aja.”


“Ra?” tegur Arsa kesal.


Nika tersenyum ikut berbaring bertumpu pada kaki panjang milik Arsa. Matanya mengadah menatap ratusan daun berwarna hijau diatasnya. Ia terpejam. “Om Dokter itu kuat, Nu. Dia itu pahlawan buat Sakha dan,” Nika menghentikan ucapannya. “gue,” lanjutnya samar.


“Apa Ra?” tanya Arsa memastikan pendengarannya.


“Lu balik dari puncak mending ke dokter THT, Ca!”


“Lagian ngomong pake dikecilin, denger nggak Janu?”


Janu menggeleng dibalas cubitan kesal di pipi Nika oleh Arsa. “Sakit, Ca!”


“Janu mau sampai kapan di Panti Asuhan?” tanya Nika tiba-tiba memecah sunyi diantara mereka.


“Sampai Papa jemput aku.”


“Kalau Papa nggak jemput?”


“Ra?” tegur Arsa. “Janu mau 'kan jadi anak Tante Nika?” tanya Nika lagi berharap bahwa jawaban Janu berubah.


Janu balas menatap manik mata Nika yang begitu teduh menatapnya sebelum sebuah gelenggan Nika dapatkan. “Aku cuma punya satu Mama, itu udah cukup kok.”


“Janu nggak perlu panggil tante, Mama loh.”


“Aku bukan Sakha, Tante.” Janu langsung bangkit berdiri berjalan cepat masuk ke dalam Villa. Sementara Nika termenung, ia bangkit terduduk memandang kosong hamparan kebun teh yang menyejukkan mata.


“Gue sama Janu sama-sama kehilangan, salah nggak Ca gue harap Janu bisa ada disisi gue.”


“Dengan alasan, gantiin posisi Sakha yang hilang dari hidup lu?” tanya Arsa. “Gue kalau jadi Janu juga bakal nolak Ra, hidup dalam bayang-bayang masa lalu orang lain itu sakit.”


“Anak sekecil itu ngerti apa, Ca?” Nika tertawa kecil masih tak percaya atas penolakan tersebut.


“Nggak semua bahagia orang itu sama.”


“Janu itu menyedihkan Ca, Mamanya bunuh diri, Papanya ninggalin dia, termasuk adik mamanya yang milih kirim dia ke panti asuhan dibanding ngerawat Janu. Salahkah kalau gue pengen liat dia bahagia?”


Arsa menggeleng. “Niat lu baik. Tapi, lu nggak akan bisa maksain kaki lu masuk ke sepatu orang lain, Ra. Lu harus sadar itu.”


“Yeah, I know.”


“Biarin gini aja, Ra. Entah sampai kapan, kita jangan pernah lupa buat jenguk Janu.”


“Gue tau, Ca.”


“Ra? Mamih lu abis ziarah?” mendengar pertanyaan Arsa membut Nika reflek menggeleng. “Pas gue dateng gue nemuin bunga di atas makam Sakha, itu masih baru, ada kali kemarin. lu tau?”


“lu sama gue pasti tau siapa 'kan Ca?”


“Maksud lu?”


“Seorang Ayah berhak ngelepas rindunya 'kan Ca? meskipun punya kesalahan fatal dia di masa lalu.”


✄  - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -- - - - -13-07-23𖠄ྀྀ