ABOUT YOU 1998

ABOUT YOU 1998
. .THE CONFUSION



...︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽...


...CERITA INI HANYA FIKTIF BELAKA, MOHON MAAF JIKA ADA KESAMAAN YANG HADIR TANPA DISENGAJA. ...


...INI HANYA CERITA FIKTIF JADI JANGAN SAMPAI TERBAWA KE DUNIA NYATA. ...


...SEKIAN TERIMAKASIH. ...


...______________________________________...


...—H A P P Y  R E A D I N G—...


...______________________________________...


SUDAH sejak tadi, Nika terus mendekap dan berusaha menutup kedua telinga Sakha dengan earphones miliknya sembari mendengarkan acara kartun favorit Sakha.


Di ranjang sebelah, di kamar yang sama, seorang pria kecil terus menangis, berusaha meminta ampun setelah suara pukulan beserta tamparan yang menghantam tubuh kecilnya.


Tidak. Bukannya Nika tak perduli, hanya saja bukannya dia hanya orang asing? Lagipula jika ia menegur sekarang malah akan bertambah buruk.


Sakha menatapnya, Nika sadar pria kecilnya itu mendengar semuanya meskipun samar. Sebuah senyum ia berikan bahwa semua akan baik-baik saja.


“..KALAU BUKAN KARENA BAPAKMU YANG GILA ITU SELINGKUHIN KAKAK SAYA, MUNGKIN, MUNGKIN KAKAK SAYA MASIH HIDUP!”


“...KAKAK SAYA NGGAK BAKAL BUNUH DIRI! MUNGKIN HIDUP KAMU NGGAK SEMENGENASKAN INI!”


“..SAYA NGGAK MAU TAU, TERSERAH JAWABAN KAMU SAYA NGGAK PERDULI, KELUAR DARI RUMAH SAKIT KAMU SAYA ANTARKAN KE PANTI ASUHAN!” putusnya mengakhiri, bangkit pergi sembari memandang tajam kehadiran keponakannya tersebut.


“Om kenapa ninggalin aku sendirian disini? Ajak aku pergi juga om,” pinta pria kecil itu memelas.


“SAMPAI KAPANPUN SAYA NGGAK MAU NAMPUNG KAMU! APALAGI LIAT WAJAH PRIA ITU DI DIRI KAMU!”


“Kalau gitu, anterin aku ketemu Mama, boleh ya om? Bawa aku pulang, biar aku bisa lakuin apa yang mama lakuin.”


Pria dewasa itu berdecih menendang kursi ruang rawat sebelum berlalu pergi dengan balutan emosi.


“Sakha tunggu disini dulu ya?” pinta Nika dibalas anggukan Sakha.


Wanita itu bangkit berdiri sempat melihat kondisi pria kecil bernama Janu yang tampak mengenaskan.


Ia sedikit berlari, tidak boleh sampai kehilangan jejak. “Permisi?” panggilnya langsung mendapati sesosok pria yang memandangnya dengan tajam. “Kenapa anda setega itu bersikap kasar terhadap anak kecil?”


“Kamu siapa? Ikut campur masalah orang? Urus saja urusanmu sendiri,” jawabnya tajam.


“Ya, saya tau saya cuma orang asing, jad—”


“Jangan ikut campur!”


“Saya bisa laporkan perilaku anda ke Komnas anak dan perempuan,” tantang Nika tak gentar.


Pria itu tertawa cukup keras memandang Nika tajam sebelum menampar kencang pipi Nika. “Bahkan sekalipun saya di penjara saya tidak takut! Keponakan saya pantas mendapatkan apa yang menjadi akibat dari ulah bapaknya.”


“Anda gila?”


“Anda yang lebih gila ikut campur urusan orang lain!” balasnya berhasil membuat Nika terdiam. “Jangan banyak bicara, kalau anda mau nampung anak pembawa sial itu silahkan, ini kartu nama saya kalau anda mau melaporkan saya.”


Nika terdiam, memandang nanar sebuah kartu nama yang dilemparkan begitu saya, dengan merintih menahan sakit di bagian pipi ia menunduk membaca nama pria tersebut. “Hakim gila!”


“Jadi, kamu bukan lahir di bulan Januari ya? Tapi kenapa nama kamu Janu?” tanya Sakha heran.


“Hai, gimana kondisi kamu?” Nika yang baru saja memasuki ruang rawat langsung bergabung.


Sakha menatap senyum kedatangan Nika. “Kak, dia bukan lahir bulan Januari tau!” jelasnya. “Ih pipi Kak Nika kok merah? Ada yang jahat ya?”


“Nggak kok, ini tadi ada nyamuk gigit pipi kakak, jadi kak Nika pukul deh!” jawab Nika riang membuat tawa muncul di wajah Janu.


“Kak, Sakha boleh ya main bareng sama Janu?”


“Ya boleh dong, masa kak Nika larang sih.”


“YEAY!” Sakha antusias berlari menuju ranjang miliknya mengambil beberapa leggo mainan. “Sakha, kalau lari nanti kamu jatuh,” peringat Nika hendak menyusul kepergian pria kecil tersebut.


“Tante?”


“Ya?”


“Selingkuh itu apa?”


Nika terdiam, menatap balik pria kecil dengan luka memar di wajah dan beberapa bagian tubuh yang lain. Senyum lebar diterbitkan seolah menjawab bahwa pria kecil itu tidak apa-apa. “Mama sama Om selalu bilang Bapak selingkuh, tapi aku nggak tau selingkuh itu apa. Jadi, apa tante?”


“It—”


“Kak Nika! Beliin Sakha makanan ya, nanti Sakha mau ajak Janu main kemah - kemahan, nanti biar Sakha buat tenda, Kak Nika beliin makanannya oke?” pinta Sakha antusias. Nika mengalah sebelum menatap balik ke arah Janu dengan senyum.


“Janu, nanti tante kasih tau ya? Kamu tunggu disini sama Sakha, boleh?” tanya Nika dibalas anggukan. “Dan untuk pria kecilnya Kak Nika, mainnya pelan-pelan ya? Nanti kalau kecapekan Sakha drop lagi, oke?”


“Aye aye komandan! Sersan Sakha siap menuruti perintah!” jawab Sakha penuh semangat. Nika tertawa mengusap kepala Sakha sebelum berlalu pergi.


Janu memandangi kepergian wanita tersebut sebelum beralih pandang menatap teman seusianya tersebut. “Kamu beruntung ya?”


“Kenapa?”


“Punya Kakak sehebat dan sayang sama kamu,” ungkap Janu.


“Dia Mommy aku!”


“Mommy itu apa?”


“Kamu nggak ngerti bahasa Inggris ya?” tanya Sakha dibalas gelenggan Janu. Menghembuskan nafas dalam Sakha berlari mengambil sesuatu di atas nakas samping ranjangnya. “Sini! Aku ajarin!”


“Wah bagus warna-warni!”


“Mommy itu Mama, jadi Kak Nika itu Mama-nya Sakha, Kak Nika cantik 'kan?”


Janu mengangguk. “Kenapa kamu manggilnya Kakak bukan Mama?”


“Kakak kamu benci kamu ya Sakha?”


“Nggak kok! Janu jangan ngomong gitu ya!” peringat Sakha marah.


“Maaf ya, aku pikir Mama kita sama, soalnya Mama aku nggak suka aku panggil Mama. Katanya, dia benci sama aku,” jelasnya diakhiri senyum.


“Terus, sekarang Mama kamu dimana?”


“Mama aku ada di langit-langit rumah, dia pakai kalung dari tali loh! Mama cantik deh, dia senyum ke aku waktu aku nangis,” ucap Janu yang sama sekali tak dimengerti oleh Sakha.


“Kalau Papa kamu Janu?”


Janu menggeleng, sebelum kembali tersenyum. “Kata Mama sama Om, Papa selingkuh. Selingkuh itu apa Sakha? Kamu tau nggak?”


Menenteng plastik bening dalam tangan kanannya membuat Nika buru-buru kembali ke ruang rawat, ia tidak bisa lama meninggalkan Sakha, apalagi pria kecilnya itu sudah bisa kembali berjalan.


“NIKA!!!” panggil seseorang sedikit berlari ketika Nika hendak berbelok memasuki Lift.


Sebuah senyum terbit dari wajah Nika sembari memberikan pelukan hangat untuk temannya tersebut. “Tian, lu ngapain di rumah sakit?”


“Habis konsultasi gue, sengaja mau jengukin lu sama Sakha.”


“Yaudah yuk, gue nggak bisa lama-lama di bawah, kita ngobrol di ruangan Sakha aja,” ajak Nika. “Sini bayi lu biar gue gendong, pasti lu capek!”


“Aduh sahabat gue pengertian abis sih!” jawab Tian senang sembari menyerahkan bayinya ke Nika.


Mereka berdua berjalan beriringan menuju lift, sebelum mata Nika mendapati sesosok pria yang memandang terkejut ke arahnya. “Tian, lu liat Kak Fayyadh tadi?”


“Kak Fayyadh? Ngapain di rumah sakit?” tanya Tian heran.


“Aduh, lu harus tau deh, semenjak gue ketemu dia di rumah sakit, dia selalu nyamperin gue,” jawab Nika tak suka.


“Lu 'kan udah punya tunangan Ka, dia emang nggak tau?”


Nika berdecak kesal. “Capek deh gue sama manusia batu itu.”


“Di hati lu masih ada rasa buat dia?”


“Yakali Ti, ini kenapa si? Nggak Arsa, nggak Priya, dan lu selalu nanya soal begitu, ya gue nggak sebodoh itu kali buat jatuh di lubang yang sama,” jelas Nika membuat Tian tersenyum.


“Lu kenapa senyum?” tanya Nika curiga.


Tian langsung menyenggol Nika. “Karena gue beruntung punya sahabat pinter kayak lu!”


“Harus lah,” ucap Nika bercanda sambil menyombongkan diri.


Sembari diiringi tawa, Nika berjalan menuju ruangan Sakha, menyambut senyum sebelum tubuhnya membeku menatap ruang rawat yang tampak berantakan. “Janu, Sakha dimana?”


Pria kecil itu membisu membuat Nika terdiam menatap bercak darah di lantai.


...꒰🖇꒱...


“Lebih cepat lebih baik, pihak rumah sakit tetap akan berusaha mencari donor terbaik untuk Sakha,” jelas pria berjas putih memandang ke arah Nika yang tampak terpukul. “Saya akan usahakan yang terbaik untuk Sakha, jadi saya mohon anda harus kuat.”


Nika hanya mematung, memandang kosong ke arah pria dihadapannya. “Dokter yang bilang bukan kondisi Sakha membaik?”


“Nyonya Nika? Anda tau 'kan kalau Autoimun Sakha sudah menyebar ke jantung?” jelas dokter tersebut.


“Se-secepatnya saya akan cari dana dan donor untuk Sakha.”


“Mau saya beritahu Dokter Arsa? Saya yakin Dokter Arsa bisa bantu anda.”


“Sakha anak saya, bukan anaknya Arsa. Jadi, Dokter bisa hargai keputusan saya 'kan?” pinta Nika bangkit berdiri sebelum pamit pergi meninggalkan ruangan dengan pikiran yang hampa.


Wanita itu melemas menjatuhkan tubuhnya begitu saja pada dinginnya lantai ruangan.


Ia bingung. Mungkin tabungannya saat ini hanya cukup membiayai dana operasi Sakha, jika bukan karena bantuan asuransi kesehatan miliknya mungkin dia akan kebingungan juga dihadapi biaya ruang rawat Sakha.


Dan lagi, dimana ia bisa dengan cepat mendapatkan donor jantung yang sesuai dengan Sakha.


Egonya yang terlalu tinggi tidak mau melibatkan Arsa malah membuatnya semakin tertekan. Memencet layar handphone miliknya ia menghubungi seseorang.


“Selamat malam Mih.”


“Ada apa?”


“Sakha drop Mih, kata dokter harus segera operas—”


“Kamu mau pinjam uang 'kan? Untuk anak haram itu? Sampai kapanpun Nika saya nggak mau ngurusin bahkan membuang uang saya untuk anak itu!”


“Apa salah Sakha Mih! Yang salah itu Nika, yang harusnya Mamih benci itu Nika, bukan Sakha!” lontar Nika sembari menangis.


“Kalau begitu harusnya kamu nggak nelfon saya, Nika. Kamu nelfon orang yang salah.” Belum sempat Nika menjawab sambungan telfon segera diputus membuat Nika menangis sejadinya.


“Mih, seengaknya Mamih denger Nika ngomong dulu. Nika cuma pengen ada telinga buat dengerin hancurnya Nika, Mih,” lirih Nika menenggelamkan wajahnya pada lipatan kaki.


Ia menangis di Koridor, memeluk rasa sakitnya di dinginnya kegelapan.


Sekarang, kemana langkahnya akan berlari.


...꒰🖇꒱...


“Tante?” panggil seseorang mendapati jendela ruang rawatnya dibuka dengan lebar. “Tante ngapain di jendela, dingin loh!”


“Ada yang mau kamu sampaikan ke Mama kamu, Janu?”


Janu tersenyum mendekat, memegang lembut tangan milik Nika. “Bilang sama Mama ya, jangan tinggalin Janu sendirian, disini Janu ketakutan.”


Dan selanjutnya hanya ada tangis yang menyibak heningnya ruang rawat, mendekat tubuh kecil Janu membuat Nika tersadar.


“Tante, tetap jadi hangat ya, jangan dingin kayak Mama.”


✄  - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -- - - - -03-06-23𖠄ྀྀ