
...︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽...
...CERITA INI HANYA FIKTIF BELAKA, MOHON MAAF JIKA ADA KESAMAAN YANG HADIR TANPA DISENGAJA....
...INI HANYA CERITA FIKTIF JADI JANGAN SAMPAI TERBAWA KE DUNIA NYATA....
...SEKIAN TERIMAKASIH....
...______________________________________...
...—H A P P Y R E A D I N G—...
...______________________________________...
SUARA dering telfon yang terus berbunyi sejak tadi membuat seseorang menggeliat dari nyamannya terlelap dengan dipeluk kehangatan selimut. Masih setengah terpejam ia mengambil benda pipih yang selalu ia letakkan di sekitar tempatnya tertidur. Dengkuran kecil di sebelahnya mencetak senyum tipis di wajah cantik wanita tersebut.
“Halo?”
“Lu anggep gue apa?”
“Hah? Siapa?”
“Lu anggep gue apa?!”
Dengan cepat Nika bangkit terduduk. Suara bentakan di seberang sana berhasil membuat kedua kelopak matanya terbuka sempurna. “Oh, Arsa, masih malem lu udah nelfon aja! Gila lu?” tanya Nika kesal membaca nama di layar handphone miliknya.
“Lu anggep gue apa?” sudah kali ketiga Arsa mengatakan itu, cukup sudah kesabaran Nika habis. “Dari lusa gue telfon lu! Dan jam tiga kurang tiba-tiba lu nelfon gue tanpa basa-basi sambil marah-marah mau lu apa? Lu tau kalau Sakh—”
“Liat foto yang gue kirim sekarang!” perintah Arsa membuat Nika membuka ruang obrolan pesannya dengan Arsa.
Tubuhnya membeku, foto itu. Foto yang kemarin di ambil Fayyadh di acara ulang tahun Annika. Jadi, kenapa Arsa bisa memilikinya.
“Lu anggep gue apa? Kalau gue masih jadi teman lu, kemana ucapan penuh masuk akal lu?”
“...kemana ucapan optimis lu kalau lu nggak bakal nemuin Sakha sama Si bajingan itu!”
“...mana ucapan lu yan—”
“CUKUP CA! KALAU LU NGGAK ADA DI POSISI GUE JANGAN BANYAK BACOT! LU ITU CUMA ORANG ASING! ORANG ASING YANG SOK PERDULI TAPI NINGGALIN GUE SENDIRIAN!”
suara tawa terdengar, begitu miris penuh luka. Di bagian Indonesia Timur di dinginnya detik-detik sunrise Arsa tertawa, tak percaya atas apa yang harus ia dengar, menendang kasar kerikil disekitarnya ia meluapkan emosi.
“TERUS APA KABAR SAMA LU! APA KABAR LU YANG NGGAK BILANG SOAL ULANG TAHUN BUNDA DAN PERTEMUAN KELUARGA?”
“Andai lu tau Ka, rencana gue buyar, dan satu lagi, gue bukan lu!”
Cukup sudah, hatinya hancur. Menutup sambungan telfon secara sepihak ia menyimpan air matanya dalam relung hati terdalam. Keindahan sunrise di Papua mengalahkan lukanya. Luka yang tak akan pernah bisa terlihat oleh mata telanjang sekalipun.
Ia mengalah. Bukan jawaban itu yang ia inginkan. Bukan perkataan menyakitkan itu yang ingin ia dengar. Bodoh. Harusnya kalimat kerinduan yang ia ucapkan pertama kali.
Arsa meneteskan air matanya, kali ini terisak, persetan dengan kata malu, baginya rasa menyesakkan yang menipiskan udara di sekelilingnya harus ia lepaskan. Beberapa kali ia memejamkan mata, beberapa kali ia mencoba menahan suara isakan, pertahanannya sia-sia.
Hati kecilnya berharap bahwa tak seorang pun mendengar. Cukup ia, Tuhan dan keindahan Papua dihadapannya.
“Seorang pria juga berhak menangis, anggap saja saya nggak pernah dengar,” ungkap seseorang berdiri di belakang Arsa, menjadi bayangan yang tak pernah pria yang ia cintai itu lihat.
Mengusap kasar jejak air mata, Arsa mendongakkan wajahnya. “Sekarang saya tau rasanya jadi kamu...”
“...ternyata selama ini saya jatuh cinta seorang diri, dan itu menyakitkan.”
Kania terhenyak, ‘jadi kamu’ artinya, perkenalan keluarga selama ini hanyalah jalan alternatif untuk Arsa. Tersenyum tipis, Kania langsung mendekati Arsa, memeluk pria itu dari belakang menyalurkan kehangatan dari hatinya yang hancur. Baik dirinya dan Arsa mereka sama, sang pecinta dengan kisah seorang diri.
“Maka bolehkah gadis menyedihkan ini menjadi plaster untuk lukamu?” tanya Kania penuh harap.
...꒰🖇꒱...
Sibuk menarikan pensil warna warni di atas kertas putih berhasil mengalihkan dunia Sakha, Nika setia terduduk menemani pria kecil itu menggambar. Pikirannya melayang, akan peristiwa pagi tadi, ia sadar bahwa ia salah, ia sadar perkataannya amat melukai Arsa, tapi, alam bawah sadarnya mengambil alih.
Otaknya berfikir keras, bagaimana caranya meminta maaf dengan pria tersebut saat nomer sahabatnya itu tak dapat ia hubungi sama sekali.
Hembusan nafas berat yang ia keluarkan berulang kali berhasil membuat seorang pria kecil berteriak protes padanya. “KAK NIKA STOP IT!”
“why?”
“Nafas kakak anget, dan itu ganggu konsentrasi Sakha, jadi buyar tau!”
Nika langsung menggelitik perut Sakha dengan gemas, membiarkan suara permohonan Sakha terdengar. Seakan tak perduli Nika kini mencium Sakha berulang kali, wangi keringatnya membuat Nika candu, memeluk erat Sakha membuat air mata Nika menetes, ia bahkan rela menukarkan semua yang ia miliki untuk bersama Sakha.
Baginya, Sakha terlalu berharga untuk dirinya. Baginya, Sakha adalah salah satu alasannya untuk terus bertahan hidup dan berjuang.
Dan, Sakha adalah mataharinya. Pria kecil dengan gigi kelinci itu adalah anugerah terindah yang Tuhan percayakan untuknya. “Kak Nika sakit?”
“Nggak.”
“Terus kenapa sedih gitu? Terus keluar air mata?”
“Sakha?” panggil Nika. “Apapun yang terjadi, tolong jangan ninggalin Kakak sendirian ya?”
Sakha menggeleng, menghapus air mata Nika dengan jemari mungil tangannya. “Bumi itu luas, manusianya juga banyak kok. Ada Kak Arsa, Mamih, Eyang dan Papa Fayyadh! Jadi, Kak Nika nggak sendirian, Oke?”
“Bahkan Kak Nika rela tukar nyawa sama kamu, Kha.”
“Tuhan pasti marah kalau dengar perkataan Kak Nika, apalagi Mamih! Tapi, Sakha bakalan lebih sedih, janji ya, Kak Nika jangan ngomong gitu lagi?” pinta Sakha menyodorkan jari kelingking mungil miliknya.
“Kamu juga harus janji buat temenin Kak Nika ya?”
“Asal Kak Nika nggak boleh cengeng! Masa Sakha kuat, Kak Nika nangis terus, nanti kalau Sakha ikutan nangis gimana?”
Nika tersenyum kembali membawa tubuh hangat Sakha ke dalam dekapannya. Mencium pucuk kepala pria kecil itu berulang kali. Jika itu bersama Sakha, sesulit apa pun hidupnya ia tak perduli.
“Kak Nika sayang kamu, Kha!”
“Sakha juga sayang Kak Nika, seluas Bumi!”
“Kalau gitu Kak Nika lebih sayang sama Sakha, sebesar Galaksi!”
“Ih Kak Nika nggak boleh gitu! Punya Sakha harus lebih besar, pokoknya Sakha sayang sayang sayang beribu kali sayang dari Kak Nika!!!!” lontar Sakha membuat Nika menerbitkan senyum miliknya.
“Papa juga sayang sama Kak Nika!”
“PAPA FAYYADH!!!!!” sapa Sakha riang.
“Selamat pagi, jagoan Papa?” jawab Fayyadh tersenyum lebar, “Udah sarapan belum?”
Sakha mengangguk sebelum akhirnya menggeleng membuat Fayyadh mengerutkan dahinya bingung.
“Jadi udah sarapan belum?”
“Sakha udah, Kak Nika yang belum.”
“Kamu mau sarapan apa Nika? Saya belikan, kebetulan saya juga belum sarapan,” ucap Fayyadh mengalihkan atensinya pada wanita di hadapannya.
“Nika bisa beli sendiri Kak.”
“Sarapan nggak seberapa Nika, ayo kamu mau makan apa?”
Fayyadh mengangguk. “Kalau gitu saya ke Kantin dulu, siapa tau masih ada, Oke?”
“HATI-HATI PAPA!!!!!” lontar Sakha riang, Fayyadh hanya tersenyum sebelum menatap Nika yang terdiam menatapnya.
Setelah kepergian Fayyadh, Sakha kembali melanjutkan kegiatannya, menimpa kertas putih yang kosong dengan pensil warna-warni.
“Finish!”
“What this?”
“Ini foto keluarga, liat! ada Papa, Mama dan Sakha, bagus 'kan?” ungkapnya penuh semangat.
“Who?”
“Sini, biar Sakha kenalin, ini Papa Fayyadh, ini Sakha and than ini Mam—”
“Mama?”
“Mama itu Kak Nika.”
“Gimana?”
Sakha menatap Nika lekat bersiap untuk bercerita. “Waktu itu pas Sakha habis therapy Papa Fayyadh bilang, kalau Papa Annika, bisa jadi Papanya Sakha..”
“...terus kata Papa Fayyadh, mamanya itu Kak Nika!”
“... Nanti Papa Fayyadh bilang kita bakal jalan-jalan bareng, ke Karnaval, pantai, kebun binatang main salju dan masih banyak lagi, tapi itu nanti kalau Sakha udah sembuh...”
“... Papa juga bilang, nanti Kak Nika bakal pakai gaun bagus, terus kita ke luar kota. Kata Papa itu seru banget loh Kak! Pas Papa Fayyadh cerita itu Annika ngambek, Kak Nika harus liat muka dia!!!”
Mendengar panjangnya penjelasan Sakha membuat Nika mematung. Benar kata Arsa, dia melanggar ucapannya sendiri, dan hal yang ia takutkan terjadi, Fayyadh sudah tau siapa itu Sakha.
“Kak Nika?” panggil Sakha bingung. “Kak Nika denger Sakha cerita nggak!”
“De-denger dong!”
“Nanti kita jalan sama-sama ya, pasti seru! Sakha janji, Sakha pasti bakal cepet sembuh!”
Nika hanya tersenyum, tak lama suara langkah kaki terdengar dengan seutas senyum Fayyadh muncul di ambang pintu sambil mengangkat kantung plastik berwarna kuning yang berisi sarapan yang telah ia beli. “Saya kehabisan nasi uduk, kebetulan ada bubur ayam jadi saya belikan buat kamu dan sate-nya!”
“SAKHA MAU! SAKHA MAU!!”
“Ini cuma dua, yaudah punya Papa buat kamu ya, nanti Papa beli lagi, oke? Makan yang banyak!” ucap Fayyadh membukakan wadah styrofoam itu untuk Sakha nikmati bubur yang masih panas tersebut. “Makannya pelan-pelan ya, Sayang?”
“Kak Fayyadh?” panggil Nika membuat pria pemilik nama menengok ke arah mantan kekasihnya tersebut. “Bisa kita bicara sebentar, di luar?”
Fayyadh mengangguk dengan sedikit bingung ia ikut melangkahkan kakinya, sebelum itu ia berpesan pada Sakha untuk menunggunya maupun Nika sampai mereka berdua kembali.
Langkah kaki Nika terus membawa mereka hingga ke tangga darurat dimana jarang sekali orang masuk ke arah sana. “Ada apa Nika? Kayaknya serius banget sampe ke tempat sepi gini.”
“Kakak ngomong apa aja sama Sakha?”
“Ngomong? Saya nggak pernah ngomong macem macem kok!”
Nika tertawa, langsung melempar kertas dalam genggamannya, Fayyadh mengambil lembar berwarna putih yang telah jatuh ke lantai itu dengan ekspresi kebingungan.
“Ini gambar Sakha, ada apa?”
“Dalam hidup Sakha, Kak Fayyadh itu cuma orang baru! Orang asing yang dikenal sama Sakha karena temen saya! Bisa nggak usah ikut campur dengan kasih donktrin aneh nggak masuk akal?” tanya Nika kesal.
“Maksud kamu apa?” kali ini Fayyadh kembali bertanya. “Oh saya paham, ini soal Mama di foto ini 'kan?” jelas Fayyadh. “Bukannya emang benar, kalau kamu itu Mama kandung Sakha? Bukannya Mamih kam—”
Ucapan Fayyadh terpotong ketika sebuah tamparan melesat dengan cukup keras menghantam pipinya membuat pria itu diam tak berkutik.
“IYA! KALAU NIKA MAMA KANDUNG SAKHA KENAPA!”
“...KALAU NIKA MEMANG ORANG TUA KANDUNG SAKHA KENAPA? KAK FAYYADH MAU PROTES KARENA UDAH DIBOHONGIN SAMA NIKA?!” ungkap Nika akhirnya.
“IYA! KARENA SAKHA JUGA ANAK SAYA!”
mendengar ucapan Fayyadh membuat Nika tertawa cukup keras, bahkan tawanya menggema. Wanita itu sebenarnya menangis karena rasa kecewanya yang ia simpan selama enam tahun lebih ini. Lucunya, pria dihadapannya tanpa rasa bersalah mengatakan hal itu.
“KENAPA KAMU RAHASIAIN KEHADIRAN ANAK SAYA SENDIRI? DAN TUHAN BAIK SAMA SAYA, NGASIH WAJAH SAKHA SAMA PERSIS SEPERTI SAYA WAKTU KECIL!”
“Kak Fayyadh itu badut?”
“Ini bukan waktu bercanda Nika!”
Nika tersenyum miris. “Bukannya emang yang keluar dari mulut Kak Fayyadh isinya omongan bercanda semua?”
“... Kak Fayyadh ngebadut dan Nika yang udah gila!”
“... Kalau bener berarti Sakha sial ya? Punya wajah yang mirip sama seseorang yang nyuruh dia buat nggak tau indahnya dunia, nyuruh anak yang sama sekali nggak bersalah bua—”
“APA MAKSUD KAMU?!” bentar Fayyadh.
“Nggak usah pura-pura bego Kak! Kakak sendiri yang nggak percaya anak di dalam perut Nika anak Kak Fayyadh, tapi sekarang Kak Fayyadh ngakuin itu!”
“...Kak Fayyadh sendiri yang nyuruh Nika buat aborsi dan Kak Fayyadh juga yang marah Nika sembunyiin siapa itu Sakha,”
“...Nika emang gila! Tapi Kak Fayyadh lebih gila yang nggak tau dir—”
Nika menghentikan ucapannya ketika Fayyadh hendak menampar dirinya. “KENAPA? TAMPAR AJA NIKA! TAMPAR! BIAR NIKA SADAR, ENAM TAHUN NGGAK BUAT KAK FAYYADH BERUBAH!”
Fayyadh menghembuskan nafasnya, memukul udara sambil teriak mengutarakan kekesalannya menbuat Nika terkejut sambil memejamkan matanya.
“Beri saya waktu! Beri saya waktu, buat buktiin saya pantas buat jadi Papa-nya Sakha! Beri saya waktu buat merubah hubungan kita! Beri saya waktu bu—”
“Maaf Kak, Nika udah dewasa buat nggak makan omongan bullshit Kak Fayyadh lagi. Dulu Kak Fayyadh bilang ke Nika, kalau Nika nurutin kemauan Kak Fayyadh Nika nggak bakal ditinggal sama Kak Fayyadh....”
“...Nika juga percaya kalau Kak Fayyadh bisa berfikir dewasa pas tau Nika ternyata hamil. Tapi, Nika terlalu bego, Kak Fayyadh milih lari, mutusin nyuruh Nika buat aborsi, dan sekarang Kak Fayyadh minta waktu buat Nika?”
“...Egois ya? Enam tahun Nika mati-matian pertahanin bahkan ngerawat Sakha, dan tanpa dosa bahkan permintaan maaf Kak Fayyadh mohon mohon buat dikasih waktu?”
“...kalau ada penghargaan pria terbrengsek mungkin Kak Fayyadh bakal menang!” sindir Nika mengakhiri luapan kekecewaannya.
Fayyadh tertawa mendengar ucapan Nika, respon yang tidak terduga. “Lalu kamu bisa apa Nika tanpa saya, apalagi bantuan orang lain?”
“...selama ini Dokter Arsa 'kan yang selalu bantuin kamu? Jangan sok kuat, kamu itu cuma anak Papih yang manja!”
“Ternyata kaca dikehidupan itu penting banget ya,” balas Nika sakartis sebelum berlalu pergi.
Selama perjalannya menuju ruang rawat Sakha wanita itu menangis, perasaan bahagia, kecewa, sedih dan berhasil tampak bercampur aduk. Ia harap urusannya dengan Fayyadh benar-benar berakhir, Nika cukup lelah terus bersembunyi, baginya ia ingin menghabiskan hidup tenang bersama Sakha. Malaikat kecilnya.
“Kak Nika?” panggil Sakha melihat wanita itu berdiri di ambang pintu dengan mata sembab. “Kak Nika nangis? Siapa yang buat Kak Nika nangis?” tanya Sakha heboh.
Nika tak menjawab memilih memeluk pria kecilnya tersebut menumpahkan setiap tetes bulir air matanya di pelukan darah dagingnya.
“Jadi, Papa Fayyadh jahat ya?” ungkap Sakha tiba-tiba ketika mendapati Fayyadh muncul di depan ruang rawatnya.
✄ - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -- - - - -18-05-23𖠄ྀྀ