
...︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽...
...CERITA INI HANYA FIKTIF BELAKA, MOHON MAAF JIKA ADA KESAMAAN YANG HADIR TANPA DISENGAJA....
...INI HANYA CERITA FIKTIF JADI JANGAN SAMPAI TERBAWA KE DUNIA NYATA....
...SEKIAN TERIMAKASIH....
...______________________________________...
...—H A P P Y R E A D I N G—...
...______________________________________...
TAMPAK sibuk menggeser layarnya handphone ke bawah dua insan anak manusia terhanyut dalam dunia mereka sendiri, mengabaikan dua buah mangkuk dengan isinya yang telah berpindah pada lambung mereka.
“Ka?” panggil Arsa membuat wanita yang duduk disampingnya menoleh. “Megumi versus Gojo!”
“Hah? Demi apaan lu?”
“Nih lu liat sendiri!”
Menyambar handphone milik Arsa, wanita itu dengan serius membaca trending di twitter. “Nggak bisa nih Ca! Gimanapun gue nggak bakal rela kalau Megumi kalah terus nyusul bapaknya, nasib pernikahan gue sama Megumi dipertaruhkan.”
“Yeuh lu!” kesal Arsa merebut benda pipih ditangan Nika.
“Sumpah, kemarin si Sukuna pindah wadah ke Megumi, sekarang lawan Gojo, nggak mau!!!!!”
“Gojo nggak mungkin lawan Megumi kalau dia bukan wadah Sukuna,” jelas Arsa. “Lagian dari awal 'kan emang si Sukuna ngincer Megumi.”
“Tetep nggak ada ceritanya husbu Nika jadi mayat nggak! Nggak boleh!”
“Fiksi lu tangisin, sebelah lu nih nyata!” Sindir Arsa.
“Mendingan fiksi daripada lu, Ca!”
Arsa berdecak menatap tajam ke arah Nika. “Misal di dunia ini, cowoknya tinggal gue dan lu nggak punya pilihan lain, gimana?”
“Misal ya?” tanya Nika tampak berfikir, dengan semangat Arsa mengangguk. “Gue lebih milik jomblo!”
“Gila lu!”
“Gue dah punya Sakha, jadi nggak butuh cowok lain.”
“Kalau suatu saat lu jatuh cinta sama gue gimana?” tanya Arsa tiba-tiba.
“Ngarep amat lu!” balas Nika pedas.
Arsa terdiam. “Sedikitpun lu nggak ada rasa buat gue, Ka?” lirih Arsa sendu.
“Ada!” jawab Nika berhasil membuat mata Arsa berbinar. “Tapi sebagai sahabat.” redup sudah harapan Arsa pria itu memandang Nika kesal. “Lu marah? Terus mau gue jawab apaan?” tanya Nika mengikuti langkah Arsa keluar dari kedai soto mie, pria itu berjalan cepat mengabaikan Nika yang sibuk membayar. Arsa benar-benar.
“ARSA! TUNGGU!”
Tak menggubris Arsa semakin melangkahkan kakinya dengan cepat membiarkan Nika sedikit berlari mengejarnya. “Okey, gue minta maaf, lu kenapa jadi kayak ABG gini sih! Kita udah pernah ribut perkara ginian loh, Ca!”
“Gue udah berusaha yakinin keluarga gue tentang lu, Ka! Apa yang lu raguin? Lu masih ada rasa 'kan ama tuh cowok?”
“LU GILA?”
“Antara gue sama dia lu pilih siapa?”
“Apasi Ca! Nggak ada angin nggak ada hujan lu begini?” tanya Nika frustasi.
“Lu semalem bisa nolak Nika, lu bisa nolak ajakan dia!”
Nika tertawa. “Terus mau sampe jam berapa gue nunggu hujan berhenti? nunggu Subuh? Lu jemput gue aja nggak mau, Ca!”
“Ya gue emang sal—”
“EMANG!” lontar Nika kesal.
“Tapi, lu tinggal bilang GUE! atau DIA!”
“Ca! Sumpah mending lu pulang deh, nggak usah temuin Sakha, gue harus balik kerja, nanti obrolin ini.”
“Ngusir gue?”
“Ca! Liat waktu!”
Arsa tertawa. “Liat waktu apa gue harus liat si bajingan itu di sekitar lu, Ka?” sindir Arsa menatap kesal ke arah pria dibelakang Nika.
Melihat wajah kesal sahabatnya membuat Nika menoleh mendapati Fayyadh melambaikan tangan ke arahnya. ‘Ya Tuhan! Apalagi ini?’ tanyanya dalam hati.
“Gue turutin ucapan lu, gue balik! Tapi, tungguin gue kalau lu udah pulang, inget, TUNGGU GUE!” perjelas Arsa sebelum berlalu pergi.
Nika hanya bisa menghembuskan nafas kesal, berjalan gontai menuju pintu samping masuk Mall dimana Fayyadh berdiri. Percuma jika ia harus menghindar sekarang, tak ada waktu.
“Siang Nika?” sapa Fayyadh mendekati Nika.
“Siang kak, ngapain disini?” tanya Nika buka suara.
Fayyadh tersenyum, menatap dari samping mantan kekasihnya tersebut. “Saya mau nyari hadiah kesini.”
“Oh, kirain.”
“Kirain apa?” tanya Fayyadh tersenyum jahil. “Kirain saya bakal ganggu kamu kayak kemarin?”
“Maybe?”
“Sebetulnya saya kesini pengen minta bantuan kamu, Ka!” lontar Fayyadh.
“Bantuan? Soal apa?”
“Gift. Seseorang yang saya kenal sebentar lagi ulang tahun, Kira-kira kamu mau nggak bantuin saya?”
Tampak menimang Nika terdiam sesaat sebelum panggilan Fayyadh membuyarkan pikirannya. “Tapi kalau kamu nggak bisa nggak apa-apa sih Ka!”
“Saya masih ad—” belum sempat Nika menyelesaikan ucapannya, Fayyadh langsung menarik wanita itu masuk ke dalam mall menyusuri setiap toko pernak pernik wanita yang hanya bisa dibalas tatapan heran oleh Nika. “So, buat siapa hadiah itu? Annika?”
“Kamu mau saya kasih hadiah?”
“Bukan Annika saya, maksudnya anak Kak Fayyadh,” jelas Nika panik.
Fayyadh tertawa. “Just kidding, Nika!”
“Oh ya gimana kabar Annika, Nika udah lama nggak ketemu dia,” tanya Nika.
“Kamu lucu, bukannya nanyain saya malah nanyain anak saya,” jawab Fayyadh sedikit kesal.
“Kan Kak Fayyadh ada disebelah Nika, buat apa Nika tanyain Kak Fayyadh kalau Nika bisa liat Kak Fayyadh secara langsung?”
Fayyadh tertawa. “Kamu benar!” Sambil memilih sebuah dress Fayyadh menyunggingkan senyum. “Ini gimana?”
“Cantik,” jawab Nika.
“Dress-nya minder duluan, Ka! Dia tau mana yang lebih cantik!”
“Kak Fayyadh jangan mulai ya?” peringat Nika jengah.
“Okey, okey. Coba deh Ka, kamu cobain.”
Nika menyatukan kedua alisnya. “Me?”
“Ya! It's you!” jawab Fayyadh langsung mendorong Nika ke ruang ganti. Sambil memandang dirinya ke pantulan cermin Nika terdiam, isi otaknya benar-benar membuatnya frustasi.
Dengan langkah gontai ia berjalan keluar, sebuah dress yang dipilih oleh Fayyadh tampak cocok untuknya. “You very pretty, Nika.”
“Karena saya perempuan, Kak!”
“Ini bahannya nyaman sih Kak, jadi kalau buat hadiah saya rasa orang yang Kak Fayyadh kasih bakal suka,” jelas Nika memberikan nilai. Fayyadh mengangguk. “Kamu ganti pakaian lagi ya, okey? Bajunya nanti bawa sekalian saya tunggu di meja kasir,” jelas Fayyadh.
Nika menuruti perkataan Fayyadh sementara pria itu mengambil asal salah satu baju yang ada disana sebelum mengantri di barisan depan kasir, tak lama Nika menyusul, berdiri tepat di samping pria tersebut. “Ini kak!” ucapnya menyerahkan dress berwarna putih tersebut.
“Kamu tunggu disana ya, saya mau bayar,” jelas Fayyadh membuat Nika menganggukkan kepalanya.
Berdiri di dekat pintu masuk Nika terdiam menatap layar handphone miliknya, sebentar lagi jam masuk untuknya bekerja. Melihat ke dalam memastikan antrian Fayyadh, wanita itu bernafas lega melihat mantan kekasihnya berdiri di depan meja kasir.
Seorang pegawai tampak membungkus salah satu dress yang Nika ketahui itu bukan pilihan pertama yang Fayyadh pilih. Dress putih yang ia pilih bahkan lebih baik dibandingkan dress yang dibungkus dalam paper bag berwarna hitam tersebut.
“For you!” ucap Fayyadh menyerahkan sebuah kantung dengan tulisan toko tersebut.
“Ini, dress yang tadi bukan, Kak?” tanya Nika bingung. Fayyadh mengangguk sembari berjalan pelan mereka meninggalkan toko. “Dress ini lebih cocok buat kado kak, dibanding yang ada di paper bag itu!”
Fayyadh menatap Nika lekat. “Bukannya hak saya untuk memilih Nika? Lagipula dress itu lebih cocok kamu pakai,” jelas Fayyadh.
“Tapi, Nika bener-bener nggak bisa nerima ini, Kak!”
“Kenapa?” tanya Fayyadh heran. “Just dress, Nika.”
“Anggep aja itu hadiah saya buat kamu.”
Nika menggeleng. “Ulang tahun saya masih lama kak.”
“Lucu ya? Dulu waktu saya beliin kamu cardigan kamu masih mau nerima, tapi dengan ekspresi malu-malu. Jadi, kenapa kamu sekarang beda Nika?” tanya Fayyadh getir.
“Berhenti buat bahas masa lalu, Kak! Itu udah enam tahun yang lalu!” pertegas Nika.
“Ajarin saya buat move on dari kamu Ka, menetap dalam kenangan masa lalu itu menyakitkan, melepaskan rasa bersalah bertahun-tahun lamanya itu susah, di hati saya masih ada kamu Ka.”
“...liat kamu udah sama orang lain saya sakit, Ka! Dunia nggak adil ya?” ungkap Fayyadh.
“Aneh 'kan Kak?” tanya Nika. “Hukum karma berlaku, sekarang Kak Fayyadh rasain gimana posisi Nika enam tahun yang lalu. Gimana rasanya Nika harus berjuang sendirian disaat Kak Fayyadh punya orang-orang yang selalu ada buat Kakak. Hidup Nika udah membaik, bisa 'kan kak?”
Fayyadh menggeleng, menatap lekat manik mata wanita di hadapannya sebelum membawa tubuh mantan kekasihnya itu ke dalam pelukannya. “Saya mohon Nika, beri saya kesempatan lagi buat buktiin perasaan saya. Saya hancur tanpa kamu, bukannya manusia pernah melakukan kesalahan?”
“Maaf kak, Nika nggak mau hancur buat kedua kalinya,” jawab Nika melepas paksa pelukannya dengan Fayyadh sebelum berjalan menjauh meninggalkan pria itu dengan raut putus asa.
Sementara Fayyadh termenung, hangat tubuh Nika masih membekas membalut hatinya yang rapuh. Pria itu sadar, seharusnya ia tidak nekat, tapi sisi hati kecilnya menolak untuk mundur sebelum mendapatkan apa yang ia harapkan. Sebuah pukulan ia layangkan pada dinding di sebelahnya sebelum berlalu pergi meninggalkan area Mall dengan kesal.
...꒰🖇꒱...
“WOY!” panggil seseorang membuat langkah kaki Fayyadh terhenti, ia membalikkan badannya mendapati sesosok pria dengan tubuh tegap mendekatinya.
“Anda belum pulang?” tanya Fayyadh. “Atau sengaja menunggu saya, Dokter Arsa?”
“Bisa dibilang nggak, tapi sebenarnya iya. Gue nungguin lu selama enam tahun terakhir,” balas Arsa tajam.
“So? What?” Pertanyaan Fayyadh langsung disambut bogeman mentah dari Arsa tepat mendarat pada tulang rahang pria dihadapannya.
“ITU BUAT LU YANG NGELANGGAR JANJI KE PAPIH KHALIL!!!”
“INI BUAT LU YANG UDAH BUAT NIKA HANCUR DIHARI DIMANA PAPIH KHALIL NINGGAL!!!”
Lagi, Seolah emosi menguasai Arsa pria itu terus menerus menekan Fayyadh membuat pria itu terjungkal kebelakang membentur kap mobil miliknya. Tapi, Arsa tak puas apalagi melihat senyum menjijikan Fayyadh. “INI BUAT LU YANG UDAH HAMILIN NIKA!”
“BUAT LU YANG KHIANATIN NIKA!!!!”
“BUAT LU YANG NYURUH PEREMPUAN TULUS KAYAK NIKA BUAT ABORSI!!!”
“BUAT LU YANG UDAH BEGO NGGAK TAU DIRI BALIK LAGI TANPA RASA BERSALAH!!!!!” Lontar Arsa mengakhiri pukulannya dengan cukup keras.
Fayyadh bersandar lemas, menahan rasa nyeri disekujur tubuhnya, melihat dengan mata memburam Arsa yang tampak mengontrol emosinya.
“haha, dokter Arsa! ternyata Nika udah salah milih lu!” ucap Fayyadh mengejek. “Gue bisa bawa lu ke penjara!”
Arsa tertawa mendengar ucapan Fayyadh. “Iya, Nika emang salah milih cowok kayak gue, tapi gue nggak sebajingan lu! Dan silahkan lu nuntut gue, tapi gue pastiin lu duluan yang masuk ke penjara!!!” jawab Arsa melemparkan beberapa kertas hasil bantuan penyelidikan oleh kakaknya tersebut.
“Lu emang berduit, tapi orang berduit bakal kalah sama yang berkuasa,” sindir Arsa membuang ludahnya tepat dihadapan Fayyadh.
“SIALAN!!!” racau Fayyadh kesal membaca beberapa lembar kertas digenggamannya.
Dengan langkah gontai berserta senyum Arsa melangkah memasuki toilet mall, membasuh buku tangannya yang sedikit terluka, tatkala air itu menyentuh lukanya, Arsa tersenyum, ia menepati ucapannya pada Nika, menepati janjinya pada mendiang Khalil, dan menepati sumpahnya pada Mamih beserta eyang Nika.
Karena Arsa tahu, Nika tidak akan pernah mengotori tangannya untuk pria busuk seperti Fayyadh, maka seperti dahulu tugas Arsa yang siap menjadi pelindung untuk Nika.
“Woy!” panggil seseorang mengejutkan Arsa.
“Bang Ega ngapain lu disini?” tanya Arsa terkejut. “Hapunteun atuh, kalau lu kaget.”
Pernyataan Ega langsung dibalas gelenggan oleh Arsa. “Ya biasa abis setora— eh bujug itu tangan lu ngapa!” lontar Ega terkejut melihat beberapa luka di tangan milik Arsa. “Lu abis ribut lu yak?”
“Kagak bang, gue abis jatoh!” elak Arsa.
Ega berdecih. “Lu emang dokter Sa! Tapi ini gue udah ahli perkara luka apalagi berantem, lu ikut gue dah!” ajak Ega langsung menarik pria itu ke toko tempatnya bekerja. Nika yang saat itu tengah melayani pengunjung terkejut melihat kehadiran Arsa dengan senyum lebar pria itu.
“Ka? Biar gue aja yang lanjutin, lu urus nih pacar lu!” ujar Ega melirik tangan Arsa, dengan sedikit kebingungan Nika mengangguk membawa pria itu masuk ke dalam ruang karyawan.
“So?”
“What?”
“Your hand!”
“My hands?”
“Ca, lu abis berantem?” tanya Nika kesal.
Arsa tertawa lantas menggeleng. “Jatuh Ka gue, biasa!”
“Pala lu!” lontar Nika menoyor kepala pria tersebut. Sementara Arsa memilih terdiam menatap lama wajah serius Nika yang mengobati lukanya.
“Lu udah janji Ca, buat nggak ribut lagi setelah keterima di Universitas Negri. Bisa nggak sih jangan nyari perkara? Lu itu dokter!”
“Dokter juga manusia, Ka! Wajar emosi,” jawab Arsa.
“Siapa?”
“Apanya?”
“Siapa yang bikin lu emosi?”
Arsa tak menjawab memilih menatap lekat manik mata tajam milik Nika. “Nanti sabtu Bunda ulang tahun, gue disuruh pulang.”
“Kenapa lu ngalihin topik?” tanya Nika menahan kesal.
“Karena bunda lebih penting dari emosi gue,” jawab Arsa. “Lu mau temenin gue 'kan? Bunda pengen ngenalin lu ke keluarg—”
“G-gue nggak bisa, Ca!” potong Nika.
“Why?”
“Masa lalu gue, lu tau itu 'kan?”
Arsa menggeleng. “Ka! Masa lalu itu nggak penting gue juga nggak perduli.”
“Gue aja butuh setahun buat yakinin keluarga gue sendiri Ca, dan lu tau itu nggak gampang 'kan?” tanya Nika. “Ca, perempuan diluar sana banyak, perempuan diluar sana ada yang lebih baik daripada gue yang udah rusak ini.”
“Lu ngomong apa di Ka?”
“Ca, gue tetep nggak pantes. Lu dari keluarga baik-baik, lu orang baik jad—”
“Apa gue juga harus rusak dulu biar bisa bareng sama lu Ka? Nika, lu yang selama ini kena dampak buruk, tapi lu liat bajingan itu berkeliaran tanpa rasa bersala—”
Nika menggeleng. “Cukup buat gue tersiksa liat Eyang sama Mamih nanggung malu sama sikap bego gue waktu kuliah, Ca! Cukup di keluarga gue, tapi jangan ke keluarga lu, bisa 'kan? Lu pantes Ca, lu pantes dapat wanita yang lebih baik dari gue,” jelas Nika terisak, wanita itu mendekap Arsa, seperti biasa menumpahkan tangisnya pada dada bidang sahabatnya.
“Tapi, dimata gue lu wanita baik yang gue kenal setelah bunda, Ka!” bisik Arsa lirih.