
...︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽...
...CERITA INI HANYA FIKTIF BELAKA, MOHON MAAF JIKA ADA KESAMAAN YANG HADIR TANPA DISENGAJA....
...INI HANYA CERITA FIKTIF JADI JANGAN SAMPAI TERBAWA KE DUNIA NYATA....
...SEKIAN TERIMAKASIH....
...______________________________________...
...—H A P P Y R E A D I N G—...
...______________________________________...
MENAPAKI kakinya pada tangga terakhir jembatan penyeberangan orang membuat Nika menghembuskan nafasnya yang tampak terengah-engah. Ia menggeleng tak percaya, usianya tahun ini akan menginjak dua puluh lima tahun tapi menuruni tangga amat sangat menguras tenaga miliknya.
Berdecak kesal ia menatap layar handphone miliknya, lima belas menit sebelum jam masuknya tapi ia harus tertinggal busway hanya karena tak tega atas rengekan Sakha.
“Ni, gue bakal kena omel lagi!” lontarnya kesal mengedarkan pandangan berharap bertemu angkutan umum. Yah, andai aplikasi ojek online miliknya sedang tidak bermasalah mungkin ia bisa bernafas lega sekarang. “Ya Tuhan, apalagi ini, bisa-bisanya nguji Nika barengan gini!”
Merasa putus asa Nika berjalan gontai sembari berusaha menelfon atasannya bersiap mendengar omelan yang membuat suasana hatinya bertambah buruk. “NIKA!!!!” Panggil seseorang bersamaan suara deru kendaraan bermotor yang berhenti di sebelahnya.
“Kak Fayyadh?” sapa Nika heran.
“Lu mau kemana?” tanya Fayyadh melihat Nika dari atas sampai bawah. “Ngelamar kerja?”
“Nika mau kerja,” Jawab Nika seadanya.
Melirik arloji di pergelangannya membuat Fayyadh mengerutkan dahi. “Udah jam segini, lu kerja apaa—”
“Sorry ya kak Fayyadh, ini Nika udah hampir terlambat kalau mau basa basi lain waktu aja, Okey?” tanya Nika diakhiri senyum sebelum melanjutkan langkahnya.
Melihat Nika yang pergi menjauh membuat Fayyadh dengan cepat menyusul wanita itu dengan motor miliknya. “Naik, Ka! Saya anter kamu!”
“Thanks Kak, tapi sebaiknya jangan.”
“Kamu mau terlambat?”
“Nika lebih baik terlambat dibanding dianter sama Kak Fayyadh,” tolak Nika halus.
“Dokter Arsa?” tebak Fayyadh. “Biar dia jadi urusan saya, sekarang kamu saya anter, dimana tempat kerja kamu?”
“Salah satu Mall di daerah Cibubur,” jelas Nika. “Ayo Naik!” ajak Fayyadh.
“Kak Fayyadh serius? Jam segini Cibubur lagi rame-ramenya kak.”
Fayyadh menghembuskan nafasnya dalam. “Karena itu kamu buruan naik, lagian kamu meragukan skill saya naik motor?” tanya Fayyadh sedikit menyindir.
Dengan amat terpaksa Nika menaiki motor itu. Kembali terduduk di jok belakang dengan aroma parfum milik Fayyadh yang menguar bersama terpaan angin, Nika tiba-tiba kembali pada masa lalu, masa dimana cinta dan jatuh menemuinya secara berurutan.
“Nika?” panggil Fayyadh yang melirik mantan kekasihnya itu dari spion motor. “Nika?”
“..ka! Jangan ngelamun!” tegurnya.
“Ada apa Kak?”
“Dokter Arsa lagi jaga sampe nggak bisa anter lu?” tanya Fayyadh.
Nika mengangguk tak sengaja menatap balik manik mata Fayyadh dari kaca spion sebelum membuang pandangan ke arah lain. “Lagipula Nika udah biasa berangkat kerja sendiri, jadi nggak perlu dianter Arsa.”
“Namanya tunangan tuh harus treat pasangan yang baik, Ka! Gimana nanti kalau lu sama dia nikah?” sindir Fayyadh.
“I think, this not your business,” jelas Nika malas beradu pendapat dengan pria di depannya tersebut.
Sedikit berdehem membasahi tenggorokan atas kata tajam Nika, Fayyadh sedikit ragu untuk mengeluarkan kalimat basa basi, tapi tidak ada cara lain, ia harus kembali berjuang mencari cara untuk mendapatkan kembali hati Nika.
“Ini hari sabtu, biasanya orang libur, kamu kerja apa?”
“Part time,” jawab Nika singkat.
Fayyadh mengangguk. Perjalanan mereka akhirnya terhenti ketika salah satu gedung bertingkat di area Cibubur sudah tampak. Membelokkan stang motor Fayyadh membawa masuk ke dalam parkiran Mall.
“Kak Fayyadh nggak perlu repot-repot masuk ke parkiran, Nika bisa turun di depan,” ucap Nika saat ia sudah turun dari motor Fayyadh.
“Saya pengen tau kamu kerja dimana Ka, kebetulan saya belum sarapan jadi sekalian,” jelas Fayyadh menerbitkan senyum.
Nika mengangkat kedua bahunya acuh. “Whatever, tapi Thanks buat tumpangannya.”
“You're welcome, kalau lu butuh tumpangan kabarin gue aja, eh by the way gue belum punya nomer baru lu bole—”
“Sorry, I can't. This my private. Dan lagi Nika memang nggak berniat putus silaturahmi sama Kak Fayyadh tapi Nika cuma mengantisipasi hal yang nggak diinginkan terjadi.”
“Apa?” tanya Fayyadh bingung. “Soal perasaan kamu ke saya?”
“Bukan. Tapi tentang hubungan saya sama Arsa yang nggak butuh kehadiran orang ketiga,” jawab Nika mantab. “Sekali lagi terimakasih, see you!”
Menatap kepergian Nika dengan kalimat tajamnya membuat Fayyadh tertawa kecil. Wanita yang ia cintai itu telah banyak berubah. “Lu makin menarik dimata gue Ka! Dan lu harus jadi milik gue, persis seperti harapan gue enam tahun lalu!”
Setelah menyelesaikan kegiatannya menyapu Nika berdiri dibalik meja kasir, bersiap menanti dan menyambut kedatangan pembeli. Suara lonceng yang terdengar dari pintu utama membuat Nika terdiam. Sesosok pria yang berdiri di ambang pintu memberikan senyum untuknya.
“Selamat datang!” sapa Nika bersikap profesional. “Mau pesan apa, Mas?”
“Hmm,” membaca satu persatu nama hidangan yang tersaji pada menu membuat seorang pria berhasil membuat Nika berdecak kesal di dalam hatinya. “Hmm, caffé americano , satu!” jelasnya.
Sedikit tersenyum Nika mempersilahkan pelanggannya itu untuk duduk di salah satu kursi. Ia berjalan menuju meja dibelakang mempersiapkan pesanan pria tersebut.
“Kusut amat muka lu neng geulis, udah dateng telat malah badmood gitu, padahal hari ini gue nggak ngomel?” goda seseorang yang berpakaian sama seperti milik Nika.
Dengan wajah memelas Nika menatap pria tersebut. “Bang, lu bikinin pesenan tuh cowok ya, gue males sumpah!”
“Nggak boleh gitu Nika sama pelanggan. Kenapa si? Dia naksir sama lu?” tanya pria tersebut melirik ke pria yang tampak duduk seorang diri di salah satu meja.
“Menurut lu Bang Ega? Udah ya please!!!!”
Ega menggeleng. “Ini tempat kerja, Ka. Profesional oke!”
Menghembuskan nafas dengan kasar membuat Nika menyelesaikan pesanannya dengan cepat. “Santai Nika, tuh cowok nggak bakal kabur,” goda Ega semakin membuat Nika jengkel.
“Bang, lu kalau nggak niat bantu mending diem!”
“Iya gue diem buru lu samperin gih, liat mulu ke sini dari tadi, kan gue jadi salah tingkah.”
“Bang Ega masih normal 'kan?” tanya Nika heboh.
Ega berdecak sebelum mengusir Nika untuk berlalu pergi mengantarkan pesanan. “Sana, hush!!!!”
Memandang kesal ke arah seniornya Nika mau tak mau berjalan menuju meja Fayyadh.
“Ini pesanannya.” Dengan kehati-hatian Nika menaruh secangkir Caffé Americano serta sebuah sepotong cake manik dengan hiasan stroberi.
“Saya bukannya tadi cuma mesen Caffé Americano?” tanya Fayyadh heran. “Anggep aja ini ucapan terimakasih dari Nika karena kak Fayyadh udah anter Nika tadi,” jawab Nika meluruskan kesalahpahaman.
Fayyadh mengangguk. “Saya ikhlas, Ka! Nggak perlu kamu kasih imbalan kayak gini.”
“Okey, kalau Kak Fayyadh nggak mau biar Nika amb—”
“Saya makan!” potong Fayyadh menahan tangan Nika untuk mengambil kue tersebut.
“Ada lagi?” tanya Nika memastikan. Fayyadh menggeleng. “Kamu bisa duduk disini, Nika? Temani saya? Ada yang harus saya bicarakan,” pinta Fayyadh. “Nika disini kerja, Kak! Jadi, setelah melayani pelanggan Nika harus pergi, masih banyak yang harus Nika lakuin, permisi!” pamit Nika tanpa persetujuan Fayyadh.
Wanita itu berjalan cepat menuju ruangan khusus karyawan. Ega yang baru selesai dari gudang memandang bingung ke arah Nika yang tampak meneteskan air mata.
“Neng geulis, kunaha atuh ceurik? Sok cerita ka abang Ega,” ucap Ega.
Nika menggeleng, menghapus jejak air matanya dengan kasar. “Ulah ceurik atuh nyak! Tong gede.”
“Makasih Bang Ega,” ujar Nika ketika seniornya itu berlalu pergi. Mengambil nafasnya dalam ia bersandar, menatap kosong langit-langit ruangan tersebut.
Tidak. Ia tidak boleh menghancurkan benteng yang dengan susah payah ia bangun bersama Arsa. “Ka, lu harus nepatin janji lu sama Arsa, lu harus bales setiap kehadiran dia dalam hidup lu Ka!!” lontar Nika menyadarkan dirinya sendiri.
Sudah gelas ke empat, secangkir kopi kembali dihidangkan dengan jengah dan tak nyaman Nika bertanya. “Kak Fayyadh nggak kembung minum kopi?”
“Selagi kopi ini bikinan kamu Nik, perut saya siap nampung,” jawab Fayyadh menatap lembut wajah lawan bicaranya tersebut.
“Kalau gitu, Nika permisi Kak!” balas Nika berlalu pergi. Kembali ke balik meja kasir, Nika membantu Ega melayani beberapa pengunjung. Mungkin karena ini weekend tempat dimana Nika bekerja menjadi ramai, apalagi aroma seduhan kopi yang terus menguar mengundang siapa saja untuk berkunjung.
“Jadi, dia mau pesen sampe gelas berapa, Neng?” tanya Ega heran.
Ega menggeleng. “Lu kalau nggak nyaman bilang ke gue, nanti gue bicara sama dia.”
“Nggak perlu bang, dia keras kepala. Omongan Nika sama Arsa aja nggak dianggap,” jelas Nika kesal.
“Lu pulang minta jemput si Arsa gih, diliat-liat tuh orang serem juga, lu tau aura, ini kalau kata ciwi-ciwi jaman sekarang dia itu tipe-tipe cowok red flag,” curiga Ega berbisik.
Nika tertawa kecil memandang heran ke arah rekan kerjanya tersebut. “Sok banget lu bang, ngomongin aura!”
“Kali-kali Nika, walaupun aura gue lebih aur-auran. Tapi, feeling gue nggak pernah bohong,” bela Ega.
“Nika nggak bisa, nggak enak sama Arsa, dia tadi pas istirahat cerita kalau pasiennya lagi banyak,” jawab Nika sembari mencuci piring dan gelas kotor bekas pengunjung.
“Yaudah, kalau gitu lu nanti pulang bareng gue aja, biar aman, okey?”
“Liat nanti deh bang,” jawab Nika masih bingung.
Tak lama derit kursi yang bergesekan dengan lantai terdengar dari salah satu meja, Fayyadh bangkit berdiri menghampiri Nika yang bertugas di meja kasir. “Totalnya berapa, Ka?”
“Caffé Americano 3, Cappuccino, 1, totalnya jadi seratus empat puluh tiga ribu kak,” jawab Nika menerima uang berwarna merah dan biru.
“Saya pulang dulu ya, Nika! Ada sedikit urusan, kamu nanti pulang jam berapa?” tanya Fayyadh.
“Buat apa kak Fayyadh nanya jam pulang saya?”
“Saya mau jemput kamu,” jelas Fayyadh. “Lagipula dokter Arsa belum tentu bakal jemput kamu 'kan?”
Nika tersenyum hambar. “Ini kembaliannya, bisa kak Fayyadh pergi? Ada pengunjung lain yang harus Nika layani,” ucap wanita itu.
“Sorry, Ka! Semangat kerjanya,” lontar Fayyadh memberikan semangat sebelum berlalu pergi, Nika hanya membalas sekenanya. Benar-benar hari yang buruk untuknya.
Ega yang tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya berdehem mengalihkan atensi Nika yang tampak fokus mencatat pesanan pengunjung. “Lu jangan resign ya, Ka! Lu kerja disini walaupun cuma part time tapi udah setahun, kinerja lu bagus, kalau lu resign gue bingung buat kasih tau alasan ke atasan,” bujuk Ega.
“Banyak orang yang butuh pekerjaan di Indonesia, bang! Tenang aja pasti ada pengganti Nika,” jawab Nika santai sembari mempersilahkan seorang pengunjung untuk duduk.
“Emang banyak, Ka! Tapi namanya dunia kerja yang dibutuhin tuh skill, apalagi tempat ini lu tau syarat masuknya kudu paham tuh bahasa Inggris, gampang-gampang susah, tau 'kan lu?”
“Tenang Bang, nanti kalau Nika niat keluar pasti bantu cari pegawai dulu kok, nggak bakal Nika langsung keluar gitu aja.” Wanita itu tampak sibuk membuatkan pesanan dibantu oleh Ega.
Ega berdecak. “Point-nya bukan itu Nika! Tapi terserah dah,” jawab Ega. “By the way lu tau, kado yang bagus buat cewek apaan?”
“Tumben amat, mau ngasih kado ke siapa bang? Lu pacar aja nggak punya,” sindir Nika diakhiri tawa.
“Serius gue ka, kali ini. Ya emang belum punya tapi akan.”
“Yakin bang, bakal jadian?” goda Nika langsung berjalan menjauh menghindari amukan Ega. “Silahkan dinikmati minumannya.”
...꒰🖇꒱...
“Udah pulang?” tanya seseorang disebrang sana.
“Baru aja, tapi gue kejebak ujan, nggak percaya nih dengerin!” jawab Nika menjauhkan handphone miliknya.
Decakan kesal terdengar dari sambungan telfon. “Disini juga hujan kali, mangkannya gue telfon lu. Gue nggak bisa pulang ke apart, paling langsung ke ruangan Sakha, jangan lama-lama balik lu, kalau diculik kasian orang yang nyulik lu!”
“Sialan lu Ca! Effort dikit gitu jemput, ini malah nakutin,” sindir Nika.
“Mau dijemput?” tawar Arsa. “Nggak deh, hujan Ka! Kalau gue keluar kena air terus jadi duyung lu mau tanggung jawab?”
“Duyung apaan lu?”
“Terus lu mau balik kapan, Ka?”
“Ya nanti lah, Ca! Hujannya aja masih deres gini, gue juga nggak bawa payung, lu kalau nggak bisa ngasih solusi mending diem!”
Arsa terdiam beberapa saat. “Ca! Lu masih hidup?” tanya Nika. “Lu ikhlas kalau gue mati? Gini deh gue pesenin lu taksi online mau nggak?”
“Nggak, kemahalan!”
“Baru kali ini keturunan keraton bilang ongkos taksi online kemahalan,” sindir Arsa diakhiri tawa.
“Yang kaya itu Eyang sama Mamih gue, Ca! Gue mah dapet hikmahnya aja dah syukur!” balas Nika.
“Mangkannya jadi Nyonya Ilham, nanti lu duduk manis dirumah nikmatin gaji gue kalau bisa lu habisin!”
“Gaya lu sok iye bener, lu masih dokter Arsa belum jadi kepala rumah sakit!”
“Bener juga ya.”
“NIKA!!!!” panggil seseorang membuat Nika menjauhkan sambungan telfon mikirnya. “Ka, siapa?” tanya Arsa. “Ca, gue matiin dulu ya ada Kak Fayyadh.”
Baru saja hendak membuka suara sambungan terputus begitu saja membuat tubuh Arsa yang tampak duduk bersandar di dalam ruangan miliknya langsung berdiri tegap, berjalan tergesa-gesa keluar rumah sakit. “Sus, punya payung?”
“Kak Fayyadh ada apa?” tanya Nika melihat keberadaan pria itu yang turun dari mobil menerjang tirai hujan untuk menemuinya.
“Dokter Arsa nggak jemput kamu?”
“Arsa baru selesai tug—”
“Kamu pulang sama saya aja ya?” potong Fayyadh menawarkan diri. “Ini udah mau tengah malem, Ka. Mau nunggu disini sampe hujan reda? Nanti kamu bakal ketinggalan bus, naik ojek atau taksi online? Terlalu beresiko buat kamu. Pulang sama saya ya?”
Nika tersenyum. “Jadi, menurut Kak Fayyadh, pulang sama Kakak, Nika bakal aman?”
Fayyadh terdiam, ia mengerti maksud perkataan Nika, sedikit gelagapan ia menatap manik mata gadis itu. “Saya janji, saya nggak bakal macem-macem sama kamu! Saya serius, Nika!”
Berusaha mencari sorot kebohongan dalam mata Fayyadh membuat Nika putus asa, dengan pasrah dan melirik arloji dipergelangan tangannya ia mengangguk. Harusnya ia tidak menolak tawaran Bang Ega hanya karena ia berfikir bahwa Fayyadh telah pergi dari Café tempatnya bekerja.
“Kamu mau kemana?” tanya Fayyadh membuka jaket miliknya untuk melindungi Nika. “Rumah sakit.”
“Ada keluarga kamu yang sakit, Nika?”
“Adik saya.”
“Saya baru tau kamu punya adik, umur berapa?”
“Enam tahun.”
Fayyadh mengerutkan dahinya heran. “Dia benar adik kamu?”
“Kenapa? kak Fayyadh nggak percaya sama Nika?”
“Bukan gitu bukannya, Mamih kamu sama mendiang Om Khalil udah lama bercerai?”
Nika tersenyum sinis. “Apa orang yang sudah berpisah nggak berhak buat punya kehidupan baru dengan memiliki pasangan?” tanya balik Nika sedikit menyindir.
“Ah, Maaf, saya nggak tau kalau Mamih kamu menikah lagi,” jawab Fayyadh. “Ayo Ka!” pria org membentangkan jaket miliknya untuk menutupi kepala Nika agar tidak terkena derasnya air hujan. Memastikan bahwa wanita itu telah aman masuk ke dalam mobilnya Fayyadh berjalan memutar sebelum terduduk tenang di kursi pengemudi.
Suara mesin mobil yang dinyalakan terdengar, bersama gemuruh suara hujan yang bertabrakan dengan mobil membuat Nika terhanyut dalam suasana. “Pakai sabuk pengamannya, Nika!” tegur Fayyadh langsung menarik tali berwarna hitam itu untuk melindungi Nika.
“Kalau dulu saya selalu anter jemput kamu pakai motor, selalu bantu kamu pakai dan copot helm. Sekarang saya udah punya mobil, Ka! Jadi kita nggak bakal kehujanan apalagi kepanasan seperti dulu,” jelas Fayyadh bernostalgia.
“Sorry kak? Bisa jalan sekarang?”
“Bisa,” jawab Fayyadh tersenyum. “Ada yang mau saya tanyakan ka.”
“Apa?”
“Kamu, enam tahun lalu benar 'kan sudah menggugurkan kandungan kamu?” tanya Fayyadh dibalas tawa hambar oleh Nika. “Kak Fayyadh beneran nggak percaya?”
“Bukan gitu Kak, beberapa bulan setelah saya menikah, saya iseng kesana, tempat itu udah nggak ada, cuma tinggal bangunan kosong, jad—”
“Berapa kali Nika harus tegasin kalau Nika nggak mungkin senekat itu buat besarin anak di luar nikah yang kehadirannya nggak diakui oleh pria yang dulu pernah Nika cintai,” jawab Nika menahan kesal.
“Sekali lagi saya minta maaf, Ka! Saya bakal berusaha buat nebus kesalahan saya ke kamu,” ucap Fayyadh. “Jadi beri saya kesempatan buat berjuang dapetin hati kam—”
“Sekalipun Nika nggak gugurin anak dalam kandungan Nika, omongan Kak Fayyadh saat ini nggak ada gunanya. Kakak yang mutusin hubungan kita enam tahun, jadi dimohon kalau Kak Fayyadh jangan berharap lebih, karena nggak ada lagi ruang kosong di hati Nika,” jelas Nika tegas. “Tapi, Nika bakal nerima Kak Fayyadh sebagai seorang teman nggak lebih, paham?”
Fayyadh mengangguk, kembali terfokus pada jalanan, mencengkram erat kemudi miliknya membiarkan Nika menatap pemandangan di luar jendela dengan linangan air mata.
Mau seberusaha apa pun hubungan mereka telah berakhir, seperti sebuah kertas yang dibakar kisah di antara mereka hanyalah abu yang akan menghilang oleh tiupan angin.
“Terimakasih, Kak!” ucap Nika sebelum berlalu keluar dari mobil Fayyadh. “Sama-sama,” balas Fayyadh lesu. Ia menatap spion tengah melihat Nika yang berlari berhambur pada dekapan Arsa yang menunggunya tak jauh dari pintu masuk rumah sakit.
Kali ini gagal. Tapi bukan berarti ia akan menyerah.
✄ - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -- - - - -20-04-23𖠄ྀྀ