
...︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽...
...CERITA INI HANYA FIKTIF BELAKA, MOHON MAAF JIKA ADA KESAMAAN YANG HADIR TANPA DISENGAJA. ...
...INI HANYA CERITA FIKTIF JADI JANGAN SAMPAI TERBAWA KE DUNIA NYATA. ...
...SEKIAN TERIMAKASIH. ...
...______________________________________...
...—H A P P Y R E A D I N G—...
...______________________________________...
TAWA kecil terbit dari wajah Nika, memandang geli ke arah Ega yang tampak bernyanyi sembari memberikannya sekuntum bunga mawar merah.
“Bang Ega kesambet apa?” tanya Nika setelah lama menunggu Ega menyelesaikan nyanyian miliknya.
Ega berdecak, merapihkan tatanan rambutnya yang selalu tertutup topi. “Ini itu namanya sambutan, Ka! Aduh, lu kurang spesial apa coba gue bedain dari yang lain ya 'kan?”
“Bang Ega tuh lebay!” sindir Nika. “Lagian Nika cuma ijin dua hari doang loh!”
“Ya anggap aja Ka, ini sambutan kembalinya lu dan sambutan di hari pertama lu kerja full-time,” jelas Ega ketika Nika terpaksa menerima bunga dalam genggamannya.
“Ada yang iri baru tau rasa lu Bang.”
“Santai aja Ka,” elak Ega menenangkan.
Nika menatap tajam ke arah Ega seolah meng-interogasi. “Nggak ada maksud apa-apa 'kan?”
“Ya kali. Lu mah udah gue anggep sebagai adek. Lagian, ini semua tuh permintaan Arsa,” jelas Ega.
“Bohong!”
“Nggak percaya sih yaudah, awas nyesel.”
Ega tertawa, ia mengalah menatap raut kesal sekaligus penasaran milik Nika. Perempuan itu tampak mengemaskan. “Gue serius Nika, dua minggu lalu Arsa ngobrol sama gue, dia bilang bakal pergi, jadi dia duga pasti lu bakal cuti sampai nemu perawat, dan seperti yang lu liat ini ide dia kalau lu balik kerja lagi.”
“Nggak, Nika nggak percaya! Nika tau gimana Arsa, tuh cowok Anti Romantis, jago gombal nggak jago action!” ungkap Nika tetap berpegang teguh pada prinsipnya.
“Oke gue pasrah deh, terserah mau percaya atau nggak. Tapi intinya, gue seneng lu kagak jadi out,” jawab Ega. “So, di hari yang indah ini selamat berkerja, Nika!!”
“Thanks Bang Ega.”
Saat Nika melakukan pekerjaannya menyusun beberapa gelas kosong sosok Ega kembali menghampirinya kali ini dengan raut wajah yang serius. “Ada apa Bang? Ada yang ketinggalan?”
“Gue liat pas berangkat kerja tuh cowok yang minum kopi disini ampe bergelas-gelas di parkiran mall,” ucap Ega.
“Kak Fayyadh?” tebak Nika. “Mungkin cuma mau belanja Bang.”
“Yeuh lu mah Ka, mana ada belanja ke Mall tiap hari, sekalipun dia orang kaya juga kagak gumoh maen di Mall terus mending ke tanah abang jelas,” tolak Ega tak setuju. “Tapi, lusa dia mampir kemari, beli minum nanyain lu.”
“Terus?”
“Ya nggak gue kasih tau lah! Jangan deh, gue dah bilang sama lu kalau aura tuh orang auranya red flag!”
Nika menghembuskan nafasnya pasrah. Ega tetaplah Ega. “Ngomong sama lu nggak pernah serius Bang.”
“Lu harus percaya gue, Ka! Harus!”
“Nggak boleh Bang percaya sama manusia sama dengan musyrik,” jawab Nika mendorong Ega memasuki gudang.
“Ya intinya lu harus percaya gue, Ka!”
“Iya bang, Nika percaya, lima ribu rius, sumpah!”
...꒰🖇꒱...
“Ini kenapa ya, aplikasi dari tadi error terus,” kesal Nika yang sudah sejak setengah jam lalu berusaha untuk memesan ojek online.
“Bisa nggak Ka?” tanya Ega setelah menutup Café.
Nika mengangguk. “Bisa, tapi ke cancel otomatis terus dari tadi.”
“Lu mau nunggu disini?”
“Nika tunggu di bawah aja, Ka. Kelamaan disini sama aja uji nyali,” gurau Nika.
Ega mengangguk setuju. “Kagak mau nunggu gue aja lu?”
“Nggak Bang, lu mah lama, belum nanti dandan dulu, semprot parfum,” sindir Nika disambar tawa milik Ega. “Tau aja lu, Ka!” sahut Ega pura-pura malu.
“Duluan, Bang!” pamit Nika dibalas anggukan kepala oleh Ega.
Melangkahkan kakinya menyusuri koridor yang sudah tutup membuat Nika tak nyaman, meskipun ia sudah terbiasa berjalan dengan situasi seperti ini. Hanya saja, terasa aneh untuknya, karena selama ini setiap ia berkerja part-time saat weekend mall masih tetap ramai ketika waktu pulangnya tiba.
Menghirup nafasnya dalam, Nika menjernihkan otaknya, merasakan udara malam yang tampak berbaur dengan asap kendaraan. Matanya menggadah menatap hamparan langit yang terlihat bersih tanpa sapuan bintang.
“Nika? Mau pulang?” tanya seseorang mengejutkan wanita tersebut. “Saya bikin kamu kaget ya?”
“Kenapa Kak Fayyadh disini?”
“Jemput kamu, tadi saya liat di berita ojek online pada mogok kerja. Mumpung saya ada di dekat daerah cibubur jadi saya sengaja nunggu kamu,” jelas Fayyadh mengikuti arah pandang Nika.
Nika tertawa, berhasil membuat perhatian Fayyadh teralihkan. “Mau seberusaha apapun Kak Fayyadh mengembalikan gelas yang retak pasti ada bagian yang hilang.”
“...jangan pernah berusaha jadi pelabuhan untuk kapal yang nggak pernah berniat untuk singgah.”
“Maksud kamu apa?”
“Perasaan saya ke Kak Fayyadh udah pergi, nggak bersisa. Mau Kak Fayyadh ngelakuin apapun itu nggak bakal ngerubah apa-apa.”
“Saya nggak bakal nyerah Ka, selama mungkin saya akan berusaha buat dapetin hati kamu seperti dulu,” ucap Fayyadh bersikeras.
“Nika binggung,” lontarnya. “Sebenarnya cinta atau obsesi Kak Fayyadh untuk Nika?”
“Kenapa ngomong begitu Ka?”
“Sakha udah jelas nolak kedatangan Kak Fayyadh bukan?”
Fayyadh mengangguk. “Saya cuma butuh kamu, bukan Sakha.”
“Kak Fayyadh salah. Saya sama Sakha satu kesatua—”
“Maka kamu bisa 'kan bantu saya buat yakinin Sakha?”
“Cuma ibu bodoh yang deketin anaknya ke orang yang nyuruh seorang ibu buat bunuh anaknya sendiri,” sindir Nika marah.
“Sampai kapan kamu terjebak di kesalahan saya di masa lalu, Nika?”
Menyugar rambutnya kebelakang dengan gusar sebelum mencengkram lengan kecil milik Nika. “Setiap manusia pernah bersalah, Ka. Tuhan aja maha Pemaaf.”
“NIKA BUKAN TUHAN! DAN STOP BUAT GANGGU HIDUP NIKA, BISA?”
“NGGAK!”
“Kak Fayyadh punya rasa malu nggak?” tanya Nika yang sekarang mulai takut mendapati tatapan tajam Fayyadh.
“Saya bakal malu atas rasa takut saya yang nggak bisa milikin kamu, Ka.”
“...Saya takut, kalau saya gagal buat jadi orang yang begitu berharga dalam hidup kamu!”
“..Beri saya waktu,” pinta Fayyadh memelas.
Nika menggeleng. “Jatuh ke dalam jurang itu sakit, Ka. Berjuang supaya bisa balik ke atas itu nggak mudah. Terus, Nika disuruh jatuh ke jurang lagi, setelah semua proses menyakitkan yang Nika alamin?”
“KAMU NGGAK BAKAL TAU KALAU NGGAK BERADA DI POSISI SAYA KA!”
“Sekarang Nika paham kenapa Bang Ega bilang kalau Kak Fayyadh Red Flag padahal nggak pernah kenal lama sama kamu Kak!” ungkap Nika.
“...lagipun, semisal Nika jadi Kak Fayyadh Nika bakal pilih apa yang hati Nika inginkan. Percuma ribuan kata cinta apalagi maaf Kak Fayyadh kasih buat Nika. Nika butuh itu enam tahun lalu, bukan sekarang!”
“Jadi, saya terlambat?” tanya Fayyadh putus asa. “Kalau gitu, cuma saya Ka, cuma saya yang pantas buat kamu, cuma saya.”
Nika berusaha melepaskan cengkraman tangan Fayyadh yang semakin kencang, wanita itu menangis sekarang, melihat raut wajah Fayyadh yang terus menguncang tubuh kurusnya.
Ia hanya bisa berharap orang-orang yang menontonnya dapat membantu, tapi tatapan memelasnya tampak membuat mereka semakin takut.
“WOY!” lontar seseorang menendang Fayyadh dari samping. “Maju lu banci! Berani ama perempuan, sarap lu?” tanyanya. Nika yang sudah terbebas langsung berlari berlindung di balik tubuh Ega.
Fayyadh bangkit berdiri langsung berlari menuju parkiran meninggalkan Nika yang gemetar.
“Gue udah nawarin buat turun ke bawah sama gue 'kan Ka?”
“Nika nggak tau kalau Kak Fayyadh nungguin Nika, Bang.”
Ega mengangguk mengerti. “Ayo pulang, sampai Arsa balik gue bakal antar-jemput lu setiap hari.”
“..Tenang Ka, anggep aja ini bentuk tanggung jawab gue, lagian gue juga yang maksa lu buat nerima tawaran Full-time ini.”
“Nggak Bang, Ini udah konsekuensi Nika, lagipula Nika yang hubungin Bang Ega, tanpa ada paksaan tapi kebutuhan,” jawabnya diakhiri tawa.
“Gitu dong, ketawa! Ayok dah balik, kemaleman bahaya, nanti digoda tante-tante lampu merah,” ajak Ega.
Nika tertawa. “Bukannya Bang Ega doyan sama tante-tante?”
“Eits, lu salah! Tipe gue mah janda anak satu!” bela Ega mengoreksi membuat raut bingung diwajah Nika. “Tante-tante lampu merah juga ada yang janda, Bang.”
“Lu habis sensus ya, Ka?” tanya Ega bercanda. “Tipe gue ini beda, Ka. Janda muda anak satu, eh belum janda si tapi akan menjadi janda.”
“Tobat, bang! Nggak boleh rebut bini orang!”
Ega menggeleng. “Kasian Ka, dia butuh imam yang baik, suaminya kagak pernah keliatan.”
“Tetap nggak boleh, Bang. Dosa!”
“Berarti gue harus nunggu dia sampai janda?” Ega menatap sendu anggukan Nika yang penuh semangat itu. “Buset Ka, kelamaan.”
...꒰🖇꒱...
Memandang sendu wajah lelap Sakha yang sudah tertidur sembari memeluk boneka kesayangannya membuat lelah Nika hari ini terbayarkan. Belum lagi emosinya yang sempat meledak saat menghadapi Fayyadh.
Ia menghembuskan nafasnya dalam. Ya, mungkin secara biologis Fayyadh memang ayah Sakha, tapi sampai kapanpun ia tidak akan merelakan Sakha kembali memanggil Fayyadh Papa. Pria itu tak cocok, pria itu terlalu mengerikan untuk Sakha.
“Saya harap, kamu secepatnya nyari perawat. Ingat, waktu saya cuma sebulan buat bantu kamu. Dan camkan jangan pernah hubungi Eyang kamu soal dana untuk operasi Sakha!” ancam Ning menatap putri semata wayangnya tersebut.
Sembari meneteskan air matanya Nika berhambur dalan pelukan Mamihnya menumpahkan rasa lelahnya secara fisik maupun mental. “Makasih ya Mih, udah bantu Nika ngejaga Sakha.”
“Saya disini supaya kamu tau, kalau tanggung jawab kamu itu besar. Jangan jadi anak cengeng!” peringat Ning dibalas suara isakan bercampur tawa kecil milik Nika.
“Mamih nggak mau peluk Nika emang? Nggak kangen peluk Nika, ayo mumpung momennya pas nih!”
“Saya capek, ngantuk. Saya mau balik ke hotel, kamu jangan lupa makan terus istirahat. Saya udah beli vitamin buat kamu di dalam nakas, diminum, itu mahal,” ucap Ning mengalihkan topik.
Nika tersenyum. “Makasih ya Mamihnya Nika yang cantiknya tiada tara!!!”
Ning berlalu pergi tanpa sepatah kata meninggalkan ruangan dengan keheningan. Nika menunduk lesu, jatuh terduduk dalam dinginnya lantai ruang rawat. Harusnya ia tidak boleh menunjukkan betapa lelahnya ia kepada Mamihnya. Bukannya enam tahun lalu ia berjanji untuk menjadi orang tua yang baik untuk Sakha?
Tak lama suara dering telfon terdengar, Nika yang tengah melamun langsung tersadar dan terburu merogoh kantung jaket miliknya.
“Hai, Ti! What happen?”
“Lu kemana aja sih, seharian sibuk terus,” kesal Tian. “Gue hubungin nggak pernah nyambung.”
“Biasa Ti, independent women.”
“Sakha gimana?”
“Dokter bilang kudu operasi si, gue cuma kudu nyari dana sama pendonor.”
“Mau gue bantu?” tawar Tian.
“Mau transfer nih? Asik suami lu pasti pengusaha tajir melintir,” goda Nika.
Tian hanya tertawa. “Selirnya dimana-mana,” sahutnya. “Nggak, gue bantu lu cari pendonor. Kebetulan sepupu gue kerja di bidang kesehatan, siapa tau dia bisa bantu.”
“Thanks ya sahabat gue baik banget,” puji Nika membuat Tian tersipu malu. “Apaan Nika, gue belum bantuin lu tau!”
“Gapapa seengaknya lu udah buat gue sedikit tenang.”
“Eh, Ka, udahan dulu ya suami gue tiba-tiba balik.”
“Lah gimana ceritanya tiba-tiba balik, lu LDR-an?” tanya Nika penasaran.
Tian berdecak. “Panjang deh nanti gue ceritain ke lu!”
“Oke see you ladies!!”
“See you Nika!” balas Tian yang langsung terkejut mendapati handphone miliknya dengan cepat berpindah tangan dan jatuh mengenaskan menghantam kerasnya dinding kamar.
“BERAPA KALI AKU BILANG BUAT JAUHIN NIKA!”
“She have a problem!”
“Apa?”
✄ - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -- - - - -04-06-23𖠄ྀྀ