
...︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽...
...CERITA INI HANYA FIKTIF BELAKA, MOHON MAAF JIKA ADA KESAMAAN YANG HADIR TANPA DISENGAJA....
...INI HANYA CERITA FIKTIF JADI JANGAN SAMPAI TERBAWA KE DUNIA NYATA....
...SEKIAN TERIMAKASIH....
...______________________________________...
...—H A P P Y R E A D I N G—...
...______________________________________...
TABURAN bunga yang tampak memenuhi sebuah gundukan tanah membuat air mata sang gadis jatuh. Seusai mengirimkan doa dan memberi air mawar gadis itu tersenyum.
“Pih, maaf Nika nggak bisa jaga nama baik Papih. Maaf, Nika udah nggak bisa jadi anak baik buat Papih. Pih, Nika sekarang sendirian, tapi, Nika bakal pergi ninggalin kota ini Pih.”
“..kota dimana Nika dilahirkan dan kota dimana setiap kenangan itu hadir. Pih, Nika janji, Nika bakal ngunjungin Papih lagi, Nika nggak bakal bohong kok.”
Sebuah usapan lembut diberikan oleh seseorang yang sedari tadi mendampingi Nika. “Non, ikhlaskan Tuan ya? Biar Tuan sama Non sama-sama tenang,” jelasnya.
Nika tersenyum samar, mencium nisan milik Khalil membuat tangisnya kembali terdengar. Nani yang sudah menganggap Nika sebagai anaknya itu memeluk gadis itu dengan erat.
“Bi, Ayo pergi, semakin lama disini Nika malah nggak mau buat pergi,” ungkap Nika.
“Pak, ini uang untuk memperbaiki makam Papih saya, nanti kalau sudah selesai tolong hubungi Pak Yanto ya, supir saya, biar kekurangannya dibayarkan.”
“Baik neng, semoga selamat sampai tujuan ya,” jawab sang penjaga makam.
Nika mengangguk sebelum berlalu pergi dengan senyuman. Mau bagaimanapun ia harus bisa menata dan memulai hidupnya yang baru. Diiringi hujan yang mengantarkan kepergiannya, mobil yang ditumpangi Nika terhenti pada sebuah halaman parkir stasiun. “Non, kopernya biar saya yang bawa, Non Nika sama Bi Nani langsung masuk aja. Nanti Non sakit kalau kehujanan,” ucap Yanto.
“Saya sudah besar tau Pak Yanto,” gurau Nika berjalan keluar diikuti oleh Nani.
Pelataran pintu masuk stasiun tampak padat, beberapa penumpang yang turun dari kereta tampak tertahan lantaran hujan yang tiba-tiba mengguyur Jakarta. “Non Nika pakai jaket ya?” tawar Nani melihat anak majikannya itu tampak membuka telapak tangan kanannya menampung derasnya air hujan.
“Nggak Bi,” jawab Nika. Sensasi dingin air hujan berhasil menerbitkan senyumnya. “Bi, kalau Papih masih hidup pasti Papih bakal marahin Nika gara-gara main hujan-hujanan. Tapi, Papih juga ikutan main hujan-hujanan bareng sama Nika.”
“Non, bibi doain Non Nika dapat suami sebaik Tuan Khalil,” lontar Nani menatap lurus ke arah pedagang kaki lima yang berteduh dibawah payung warna warni.
“Baiknya aja Bi, gila kerjanya jangan,” gurau Nika diakhiri tawa.
“Si Non, lagipula Tuan Khalil 'kan begitu demi kebaikan Non juga.”
“Bener juga ya Bi? Tapi kenapa Mamih nggak bisa liat kebaikan Papih ya?”
“Saya kurang tau Non, tapi selama empat tahun terakhir Tuan udah berusaha sebaik mungkin demi Non Nika.” Nani menatap wajah Nika lekat. “Di sana nanti tolong bahagia ya Non, senyum Non Nika itu manis, pasti banyak yang ngantri.”
“Bi Nani ngomong apa sih! Nika kesana 'kan mau kuliah. Nggak mau cinta-cintaan lagi,” jawab Nika diakhiri tawa.
‘lebih tepatnya Nika trauma, Bi.’
“Non, itu Pak Yanto kita langsung aja masuk ya, biar gampang.”
Nika mengangguk mengekor Nani yang selalu mengenggam tangannya seolah takut kehilangan. Begitupun Yanto yang bersiaga di belakang memperhatikan Nika. Ini kali pertama baginya untuk menaiki kendaraan yang berjalan di atau rel tersebut. Biasanya ia menggunakan mobil atau pesawat. Pengalaman pertamanya menggunakan kereta berhasil membuat gadis itu gugup, belum lagi tanpa kehadiran kedua orang tuanya.
“Non Nika tenang aja, ada Bibi disamping Non,” ucap Nani seolah penenang.
Menghembuskan nafasnya dengan berat Nika mengangguk. Setelah menaruh koper Nika dan Tas Nani di bagasi, sebuah kata pamit diberikan oleh Yanto. “Non, Hati-hati ya. Salamkan terimakasih saya ke Nyonya, selama delapan belas tahun ini sudah dipercayakan untuk berkerja bersama keluarga Non Nika.”
“Pak Yanto tenang aja, jangan putus komunikasi. Sehat-sehat di Jakarta ya. Nanti jangan ragu tanya ke Mas Pandu. Dia sekarang atasan Pak Yanto meskipun dia dulu bawahan Papih,” perjelas Nika.
“Baik Non saya permisi dulu. Bi, saya nitip Non Nika ya, tolong dijaga baik-baik,” ujar Yanto.
“Kamu tenang aja To! Nika udah saya anggap sebagai anak sendiri,” jawab Nani.
Pria itu mengangguk membelah kerumunan orang yang berjalan memasuki kereta mencari tempat duduk. Mengetahui supirnya telah pergi Nika memilih melihat pemandangan di luar jendela. Melihat ramainya peron dengan beberapa kegiatan manusia yang sama persis setiap hari.
“Walau agak bising, kehidupan mereka punya makna, Non!” lontar Nani ikut melihat pemandangan dari jendela kereta.
“Iya Bi, liat mereka semangat, liat mereka tersenyum saling bantu padahal mereka juga capek habis perjalanan jauh, adem Bi.”
“..Nika jadi pengen keliling Indonesia Bi. Tapi, difikir lagi Nika terlalu penakut buat hal baru, jadi ragu.”
Nani menggeleng, mengenggam erat tangan Nika. “Non, kita nggak akan pernah tau kalau kita nggak mencobanya bukan? Jadi saya pastikan Non Nika banyak belajar dari pengalaman, maka untuk tahu semuanya jangan ragu buat memulai.”
“Makasih, Bi. Makasih selalu ada buat Nika selama ini,” ucap Nika memeluk asisten rumah tangganya yang ikut mengatarnya ke Jogja. “Bi, nanti Bibi turun di kota Bibi aja. Nggak perlu ikut ke Jogja. Nika bisa kok sendirian.”
“Bibi bakal ikutin perkataan Non Nika kalau Non Nika hubungin sahabat Non di Jogja.”
“Siapa Bi?”
“Itu loh Non, yang mukanya muka penjajah itu,” jawab Nani tampak berfikir.
“Bibi nggak boleh Rasis ih!” gurau Nika menahan tawa. “Jepang kali maksud bibi.”
“IYA ITU! DEN AMADA!” sahut Bi Nani antusias yang mengundang beberapa perhatian pasang mata.
“Bibi ada-ada aja, Ini Nika telfon sekarang juga ya,” ujar Nika dibalas anggukan oleh Nani. “Kalau gini Bibi udah tenang Non.”
Nika hanya bisa menggelengkan kepalanya heran. Sikap Bi Nani memang selalu diluar perkiraanya. Ia tersenyum, wanita itu memilih pulang ke kampung halamannya dibanding harus berkerja pada orang lain.
“Non, liatin saya terus, saya malu Non,” lontar Nani menutup wajahnya.
“Bi, nanti baik-baik disana ya Bi. Kalau kangen sama Nika telfon aja oke? Jangan sungkan.”
Nani mengangguk. “Bibi masih nggak nyangka Non, pertama kali ke Jakarta udah harus urus bayi yang masih merah, sekarang bayi itu usah besar, udah cantik.”
Nika tersenyum kembali memeluk Nani sebagai salam perpisahan yang begitu berat untuknya. Tak ada cara lain, kehidupan Nika harus berjalan bukan? Jika ia terus berada di Jakarta hanya akan ada luka yang semakin menyesakkan. Dan ini adalah jalannya memilih lari dan menghilangkan jejaknya dari orang-orang yang pernah ia kenal.
“Selamat tinggal Jakarta,” lirihnya ketika masinis mulai membunyikan peluitnya tanda kereta akan berjalan.
...꒰🖇꒱...
Dengan mata yang memerah seorang pria langsung bangkit berdiri tatkala suara riuh terdengar, sedikit sempoyongan ia melirik arloji dipergelangan tangannya mendapati sudah dua jam lebih waktu dari kedatangan kereta. Mengusap wajahnya dengan kasar pria itu berkacak pinggang.
“Mas-nya nyari siapa?” mendengar pertanyaan itu membuat sang pria menengok ke sumber suara.
“DORA!!!” Pekiknya riang.
“Sumpah lu ya Ca, lu nggak liat rambut gue dah panjang apa?” sindir sang wanita sinis.
Pria itu masih menyunggingkan senyum. “Lu dah lama disini?”
“Menurut lu?” ketusnya. “Dengerin ya, Amada Bentang Arsa Ilham. Gue dua jam nungguin lu tidur, belum lagi pake drama nyariin lu dulu, untung gue kenal sama tampilan lu yang nggak beda jauh ama anak punk,” jelas Nika memandang tampilan Arsa dengan kaus oblong dan celana levis sobek miliknya.
“Cakep gini juga Ra. Lagian gue tadi buru-buru, kelar ngampus balik kosan terus jalan ke Stasiun,” ungkap Arsa dengan wajah lelahnya.
Nika menatap lekat wajah Arsa tersenyum lembut membuat pria itu mendelik takut. “Jangan liat gue kayak gitu Dora! Lu mirip tante-tante yang suka nawarin diri tau nggak?”
“Enak aja lu!”
“Lagian lu yang aneh.”
“Thanks ya Ca,” lontar Nika menyadarkan kepalanya pada bahu pria itu. “Thanks udah mau repot-repot buat jemput gue.”
“Santai elah, gue juga kagak repot. By the way bukannya lu ada rencana ke Jogja liburan semester dua?”
“Panjang ceritanya Ca, jalan tol juga bakal kalah,” sahut Nika tertawa hambar.
“Dora?” panggil Arsa. “Gue turut berduka cita ya atas meninggalnya Papih,” ucap Arsa menatap Nika yang menyamankan posisinya.
Nika mengangguk. “Gue mau mulai hidup baru gue disini, lu mau 'kan bantu gue?”
“Yailah gitu aja pake nanya, apapun bakal gue lakuin buat lu!”
“Dih, nggak percaya gue!”
“Sumpah Dora! Beneran!”
“Iya Iya.”
“By the way, rencana lu apa?” tanya Arsa penasaran.
“Gue bakal kuliah disini, ngulang dari semester awal,” jawab Nika.
“Universitas Negri or Swasta? Kalau saran gue lu kejar aja Negri. Sayang Ka, lu kemarin berhasil masuk tuh Universitas di Depok, masa pindah ke Jogja malah jadi anak swasta.” mendengar ucapan Arsa membuat Nika tertawa. “Itu nggak penting Ca, sekarang fokus utama gue gimana bisa ketemu sama keluarga Mamih setelah penolakan gue waktu itu,” jawab Nika tersenyum getir.
“Yaudah, kita sekarang cari penginapan sekitar sini aja, bahaya kalau balik sekarang, lu tau sendirilah gimana Jogja,” ungkap Arsa.
Nika mengangguk. Bangkit berdiri terlebih dahulu sambil menyeret koper miliknya. “Dora?” panggil Arsa.
“Apa?”
“Pake jaket gue nih! Jogja dingin abis hujan, koper lu biar gue yang bawa,” tawar Arsa. “Aduh sahabat gue perhatian banget sih!” jawab Nika mengambil alih jaket di tangan Arsa.
“Jadi, hubungan kita cuma sebatas sahabat aja Ra?” tanya Arsa sendu.
Nika mendelik heran. “Yaudah kalau lu mau lebih dari sahabat gue, gue rekrut lu jadi supir pribadi gantiin Pak Yanto!”
“Diterima Non,” jawab Arsa girang. “Gila lu Ca!”
...꒰🖇꒱...
“Tempat apaan ni Ra?”
“Ini? Klinik!” jawab Nika hendak membuka pintu mobil.
Melihat Nika yang hendak membuka pintu mobil membuat Arsa menguncinya dari dalam. “Lu sakit apaan? Kalau lu sakit harusnya bilang dari awal, nggak usah jauh-jauh kesini, gue punya kenalan orang rumah sakit terbagus di Jogja. Ya masa lu sakit ke klinik yang ada di Surabaya, ada sesuatu 'kan?”
“Udah dokter Arsa?”
“Gue belum jadi dokter, Dora!” elak Arsa.
“Lagian lu lebay banget emang gue nggak boleh dateng ke klinik yang ada di Surabaya? Dan lagi gue nggak sakit, cuma mau check aja, jadi nggak usah lebay,” jelas Nika kesal. “Sekarang buka pintu mobilnya!”
Dengan enggan Arsa menuruti ucapan Nika. Ia hanya mengikuti kemana langkah sahabatnya itu pergi. Di Loby Klinik seorang petugas berjaga di meja resepsionis, mengundang langkah Nika untuk mendekat.
“Mbak, atas nama Sabrina Annika Theodora. Kebetulan teman sama sudah buat janji sebelumnya namanya Maheswara Fayyadh,” jelas Nika memperkenalkan diri.
Wanita dengan baju seragam itu mengangguk, mengotak atik layar komputer di depannya sebelum menunjuk salah satu lorong. Nika tersenyum mengucapkan kata terimakasih sebelum melanjutkan langkahnya.
“Dora, ini kenapa banyak ibu hamil gini, lu nggak salah masuk lorong 'kan?” tanya Arsa curiga ditambah melihat pasangan yang bisa ia duga baru kelas sepuluh menengah atas tersebut.
“Ra?” panggil Arsa mendapati Nika sudah terduduk anggun pada kursi pengunjung.
Nika mendengus. “Ca, gue cuma minta lu anterin gue aja. Nanti kalau semua udah selesai gue kasih tau ke lu. Dan lagi gue laper, daripada lu banyak nanya mending beliin gue makan,” lontar Nika.
“Iya Iya, mau makan apaan lu?” tawar Arsa menunggu.
“Apa aja perut gue laper banget, intinya apapun yang lu beli pasti gue makan.”
Arsa mengangguk. Sedikit enggan meninggalkan Nika seorang diri disana tapi senyuman Nika berhasil membuatnya memilih untuk pergi.
Selepas kepergian Arsa, Nika meneteskan air matanya. Dengan tangan gemetar ia terus merapal doa, sembari mengusap perutnya. Ia tau apa yang ia lakukan saat ini amat sangat dibenci oleh Tuhan.
Tapi, dia tidak punya pilihan lain. Jalan pikirannya sudah buntu. Cukup dirinya, ia tak mau merepotkan orang lain lagi termasuk Arsa.
“Dek, yang kuat ya.” Nika menengok mendapati seorang wanita berusia tiga puluh empat tahun yang menatapnya lembut. “Sudah berapa bulan Dek?”
“Sa-saya jalan dua bulan, Mbak.”
“Yang tadi pacarnya? Maaf saya banyak nanya,” jelas wanita itu.
“Tak kira, jadi wanita banyak ruginya ya dek. Yang nanggung malu juga pihak wanita. Kamu yang tabah ya dek.” mendengar itu Nika mengangguk. Berarti bukan hanya dia, tapi beberapa wanita yang lain akan melakukan tindakan ilegal itu disini.
Pikirannya melayang, bagaimana seorang Fayyadh bisa mengetahui tempat kotor ini? Bagaimana pria itu bisa mendapatkan informasi dengan cepat. “Mbak, Klinik ini udah terkenal soal ‘itu’ ya?”
“Bisa dibilang Iya dan nggak. Informasi tentang Klinik ini benar-benar rahasia Dek, ngeri takut ada penggrebekan, nanti saya yang kerjaanya jadi PSK malah bingung.”
“Gitu ya mbak,” jawab Nika tersenyum miris.
...꒰🖇꒱...
Memainkan kunci mobil miliknya Arsa sedikit bersenandung. Ia merindukan waktunya bermain band bersama teman-temannya di Jakarta dulu, tapi kesibukannya kuliah kedokteran di Jogja membuat pria itu tak pernah lagi menyentuh sinar gitar miliknya.
“TUNGGU!” panggil seseorang membuat Arsa menghentikan langkah kakinya. “Lu Arsa 'kan anak kedokteran tahun ini?”
“Iya? Maaf siapa ya?”
“Buset dah, mangkannya lu jangan diem-diem di kelas. Gue temen satu Angkatan lu anjir! Satu Fakultas kita, bisa-bisanya lu!” ungkapnya kesal.
“Sorry,” jawab Arsa tak enak hati.
“Lu abis keluar dari tuh lorong?” mendengar pertanyaan itu membuat Arsa mengangguk. “widih hamilin siapa lu bro?”
“Maksudnya gimana?”
“Itu lorong tuh biasanya diisi sama cewek-cewek yang mau aborsi, biasanya gara-gara kecelakaan,” bisiknya membuat Arsa terkejut tak percaya.
Dengan gerakan cepat Arsa kembali masuk ke dalam lorong. “THANKS BRO!” ucapnya sebelum menghilang dari balik pintu.
Dengan panik ia mencari keberadaan Nika di kursi tunggu tapi gadis itu tak ditemukan. “Dek, maaf, liat perempuan yang datang sama saya tadi nggak?” tanya Arsa dengan terburu-buru menghampiri pasangan sekolah menengah atas yang selalu berpegangan tangan itu.
“Itu Kak, tadi udah masuk ke dalam.”
“Thanks!”
Membuka pintu tanpa permisi mata milik Arsa langsung disuguhkan oleh layar monitor yang menampilkan gambar USG. Pria itu mematung mengabaikan tatapan beberapa orang yang menatap ke arahnya dengan bingung.
“Itu pacarnya?” tanya sang dokter.
“Mas, pintunya tolong ditutup lagi ya?” ucap sang suster dituruti Arsa.
Pria berjas putih itu bangkit berdiri, kembali duduk ke meja kerjanya. Nika mengikuti langkah sang dokter dibantu perawat. “Ayo, duduk,” pinta dokter menunjuk kursi kosong di samping Nika.
“Kandungan kamu sehat, yakin mau lanjut? Kamu cuma perlu jaga nutrisi kamu, lagipula kamu liat sendiri pertumbuhan anak kalian, memang belum terbentuk secara sempurna tapi saya yakin nanti bakal jadi anak yang pintar, sebaiknya pikir dulu matang-matang,” jelas sang dokter memberikan pengertian.
Arsa menghembuskan nafasnya berat, masih tak percaya atas tindakan nekat sahabatnya tersebut. “Saya dengan sadar mau melanjutkan ke proses berikutny—”
“Boleh kami berdua diskusi dulu?” pinta Arsa memotong ucapan Nika.
“Memang harus begitu,” jawab sang dokter sadar sedari masuk pasien wanita menujukkan wajah ragunya.
Dengan langkah gontai Nika mengekori Arsa hingga mereka sampai di parkiran dimana mobil milik Arsa berada. “Masuk Ra,” ucap Arsa penuh penekanan.
“Lu gila?” tanya Arsa menatap Nika yang baru saja menutup pintu mobil.
“Ini jalan satu-satunya, Ca! Tolong ngertiin gue kal—”
“Siapa bajingan itu Annika!” tanya Arsa dengan menggebu-gebu.
Nika langsung meneteskan air matanya, Arsa sudah menyebut nama tengahnya itu artinya sahabatnya tengah emosi. Dengan terbata-bata Nika menceritakan semuanya dengan rasa sesak yang terus menekan dadanya.
“Gue butuh nama lengkap, alamat dan jurusan dia, Ra!” ucap Arsa mencengkram kemudi miliknya.
“Mau lu apain?”
“Mau gue sebarin ke temen-temen band gue,” jawab Arsa kesal.
“Lu sama aja buka aib gue Ca!”
Arsa menggeleng. “Tenang aja, itu biar gue atur seengaknya tuh cowok tau rasanya linu.”
“Lu nggak takut dia laporin tindakan main hakim lu ke polisi?”
“Dia siapa? Anak pejabat? Bokapnya punya kekuasaan? Kalau bukan, laporan dia cuma angin lalu dikepolisian.”
“Lu gila, Ca!” sahut Nika tak habis pikir.
“Atau gue bilang ke Kakak gue biar gampang, kalau soal lu Kakak gue pasti usahain seratus persen tuh cowok masuk penjara!” jelas Arsa dengan penuh emosi. “Atau, apa harus dengan tangan gue sendiri, Ra?”
Nika menggeleng, meraih tangan Arsa lalu menggenggamnya. Pria itu hanya terdiam tak mampu berkata. “Nggak perlu, Ca! Biar Tuhan aja yang bales ya?”
“..Jadi ijinin gue buat abors—”
“NGGAK!” tegas Arsa. “Gue bisa lakuin apapun buat lu Ra. Lu butuh bokap buat anak lu? Gue siap!”
Dengan kesal Nika langsung mencubit lengan Arsa membuat pria itu mengaduh kesakitan. “Anak gue nggak boleh punya bapak modelan lu, Ca!”
“Kok gitu? Nanti anak lu bisa bangga. ‘bokap gue dokter nih!’ seru Ra!” jawab Arsa membela.
“Lu bisa ngomong seenteng itu ke keluarga lu?” tantang Nika.
“it-itu—” jawab Arsa terbata. “Intinya lu nggak sendirian Ra, ada gue sampai kapanpun jangan pernah bunuh anak yang nggak bersalah dalam perut lu! Dia nggak tau apa-apa.”
“..pertama, gue bakal nemenin lu ngomong ke Mamih dan Eyang lu! Soal keluarga gue biar gue yang ngatur, inget! Lu nggak sendiri!” jelas Arsa lantang.
Nika tertawa kecil. “Thanks, tapi gue nggak bisa jadiin lu bokap buat anak ini.”
“Kenapa? lu masih punya rasa sama bajingan itu?”
...꒰🖇꒱...
Menatap tajam ke arah Nika maupun Arsa seorang wanita yang sedari tadi bersedekap tangan akhirnya membuka suara. “Mau apa kamu kemari?” sindirnya.
“Papih meningga—”
“Oh pahlawan kamu udah nggak ada? Jadi, tanpa malu kamu kesini? Masih punya muka ternyata?” tanyanya sinis.
“Mamih, orang tua Nika cuma Mami—”
“Kalau Papih tersayang kamu nggak mati kamu juga amnesia bukan sama saya?”
“Mih, bisa tolong dengerin Nika dulu?” pinta Nika meneteskan air matanya. Dengan gemetar Nika menunjukkan dua buah foto hasil USG-nya tadi siang di Surabaya.
“Anak kamu?” tanya Ning ke Arsa.
“Saya bak—”
“Papih kamu emang nggak becus ya ngurus anaknya. Saya nggak nyangka anak saya malah jadi pelacur di Jakarta, dan kamu! Jangan membela dia, kamu cuma orang asing Arsa!” perjelas Ning dengan tajam memotong ucapan Arsa.
“Sampai kapan Mamih mau jelekin Papih?”
“Nggak usah bahas masalah lain, mau kamu apa?”
Nika menatap wajah wanita yang telah melahirkannya itu dengan mata memerah. “Saya nggak mau ada anak haram yang masuk ke rumah ini. Kamu tau orang tua saya siapa bukan? Kecuali kamu gugurin dia baru kamu bisa tinggal disini!” jelas Ning bangkit berdiri.
“Apa Nika harus bersujud biar Mamih puas dan maafin Nika?” tanya Nika yang sedari tadi menahan kesabarannya.
Ning berdecih. “Mau kamu nyusul Papih kamu yang selalu kamu banggain itu pun saya nggak bakal terima kehadiran anak haram dirumah ini!”
“Yang salah Nika!”
“Kamu udah tau 'kan? Harusnya sebelum kamu datang kesini, kamu sudah sadar diri,” sindir Ning berlalu pergi.
Nika berlari, mencium kaki Ning, tapi wanita itu menghempaskan tubuh kurus Nika dengan kasar membuat gadis itu tersungkur, melihat itu dengan cekatan membuat Arsa berlari membantu sahabatnya.
“Lu jangan gila, Ra!”
“Lu balik ya, Ca! Biar gue yang selesain masalah ini,” jawab Nika tersenyum samar.
“Nggak!”
“Lu tenang aja, Mamih itu cuma keras kepala,” jelas Nika menyakinkan. Dengan hembusan nafas kasar Arsa mengalah. Benar kata Mamih Nika, dia hanya orang asing dalam keluarga Ning.
...꒰🖇꒱...
“DORA LU DAH BANGUN?” tanya Arsa histeris.
“Lebay lu!”
“Lu gila! Gue dah bilang jangan guguri—”
“Mamih minta gue gugurin dia, berhasil?” tanya Nika berharap.
Arsa menggeleng. Menatap wajah Nika kesal. “Lu marah ya sama gue?”
“Menurut lu?” tanya balik Arsa ketus. “Dimana dapet Pil itu?”
“Ya di klinik di Surabaya lah,” jawab Nika enteng.
Arsa menghembuskan nafasnya lega. “Berarti pengajuan laporan gue nggak salah!”
“Maksud lu gimana?”
“Lu tau nggak? Lu hampir mati Ra! Untung aja anak dikandungan lu sama lu bisa diselametin,” jelas Arsa emosi.
Nika tertawa. “Siapa yang bawa gue kerumah sakit?”
“Eyang lu!”
“Harusnya mereka nggak pulang cepet.”
“JADI LU MILIH MATI?”
“Soal laporan maksudnya apa?” tanya Nika mengalihkan topik pembicaraan.
Arsa berdecak kesal. Sifat Nika yang satu itu tak pernah berubah. “Gue buat pengaduan ke klinik itu soal tindakan ilegal mereka, termasuk pil yang lu minum tadi efeknya bahaya banget, Ra.”
“Lebay lu!”
“Ra, ini di lu bisa ketolong. Gimana efek tuh pil ke orang lain?”
“Lu emang paling bener jadi Dokter.” Nika tersenyum. “Kata lu Eyang yang bawa gue ke rumah sakit, terus mereka dimana?”
Arsa menatap wajah Nika lekat. “Lu itu cucu satu-satunya mereka jadi ya seperti yang lu duga.”
“Apa? Eyang marahin Mami—” belum sempat Nika menyelesaikan ucapannya pintu ruang rawatnya terbuka menampilkan Ning dengan pipi kiri yang memerah. “Saya mau bicara dengan dia, bisa kamu keluar?” tanyanya dengan wajah datar.
Dengan cekatan Arsa mengangguk langsung melangkah keluar dari ruangan itu sementara Ning mendekati ranjang Nika.
“Mih, maafin Nika ya?”
“Kamu boleh tinggal dirumah orang tua saya selama anak kamu belum lahir, selanjutnya saya nggak perduli lagi mau kamu netap atau balik lagi ke Jakarta,” jelas Ning sebelum berlalu pergi.
“Di hati kecil Mamih, Nika itu siapa?”
“Bukannya udah jelas kamu anak saya?” jawab Ning ketus. “Tapi, sampai kapanpun saya nggak mau mengakui anak dikandungan kamu. Kamu boleh nge-judge saya jahat, whatever!”
“Thanks Mamih,” jawab Nika sebelum Ning berlalu pergi.
✄ - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -- - - - -15-04-23𖠄ྀྀ