ABOUT YOU 1998

ABOUT YOU 1998
. .THE MESSAGE



...︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽...


...CERITA INI HANYA FIKTIF BELAKA, MOHON MAAF JIKA ADA KESAMAAN YANG HADIR TANPA DISENGAJA. ...


...INI HANYA CERITA FIKTIF JADI JANGAN SAMPAI TERBAWA KE DUNIA NYATA. ...


...SEKIAN TERIMAKASIH. ...


...______________________________________...


...—H A P P Y  R E A D I N G—...


...______________________________________...


SEBUAH usapan lembut berhasil membuat seorang wanita menghentikan aktivitasnya, memandangi sapuan lembut jemari kecil dari kulit yang begitu halus tersebut.


“Ada apa?” tanya Nika heran.


Sakha menggeleng, masih mengelus punggung tangan milik Nika. “Mau peluk Kakak?” tawar Nika yang dibalas anggukan pria kecil itu.


Cukup lama mereka saling berdekapan, saling menukar rasa hangat bersama detak jantung yang berdetak dengan irama tenang. Sakha tersenyum meneteskan air matanya sementara mulutnya masih membungkam.


“Sakha ada apa?” tanya Nika lagi merasa sesuatu tidak beres untuknya.


Dan lagi, Sakha menggeleng, mengeratkan pelukannya kepada Nika. “Sakha, jangan bikin Kak Nika khawatir ya?”


“Kak?” panggil Sakha dengan suara parau.


“Ya, sayang?”


“Terimakasih sudah membesarkan Sakha, terimakasih telah memberikan cinta yang begitu besar untuk Sakha, terimakasih sudah mau menjadi bidadari tanpa sayap untuk Sakha,” ungkap pria kecil itu berhasil meloloskan setetes bening air mata milik Nika.


“Ada apa Sakha?”


“Sakha belajar dari Janu. Sakha nggak bisa kasih hadiah buat Kak Nika, kata Janu, kita bisa kasih kata-kata penuh cinta buat orang yang kita sayang,” jelasnya.


Nika tersenyum menatap dengan kata berlinang bayi kecilnya yang telah bertumbuh besar. Tangisnya semakin kencang, kembali membawa tubuh kurus Sakha dalam dekapannya. “Maafin Kakak ya Sakha, Kakak minta maaf. Kalau misalkan kakak nggak minum obat itu, kalau kak Nika nggak nekat mungkin kamu udah sehat, Sakha, nggak perlu repot minum obat dan therapy. Nggak perlu nahan sakit kena jarum sunti—”


“Kak Nika salah!” potong Sakha. “Kata Mamih, kehadiran Sakha berhasil buat Kak Nika jadi kuat. Karena Sakha, Kak Nika udah jadi bidadari tak bersayap buat orang lain. Kak Nika hebat!!” pujinya semakin membuat tubuh Nika terguncang.


Matanya kembali memanas, meredam isakannya sembari memeluk Sakha adalah salah satu jalan untuknya. “Dan kamu, tetap malaikat terbaik untuk aku, Sakha. Kamu, malaikat terbaik dari Tuhan yang dikirim dengan cara yang nggak pernah Kak Nika sangka.”


...꒰🖇꒱...


Keheningan melanda, semenjak kedatangannya ke ruang rawat, berdiri menatap jendela kecil di salah satu sudut rumah sakit membuat pikiran Nika terdiam.


“Lu mau gimana Ka?”


“Gue bingung.”


“Dia bisa aja nekat, lu tau itu 'kan?”


“Ya, dan bisa beri gue waktu buat berfikir, Priya?” pinta Nika berharap.


Priya menggeleng. “Nunggu lu berfikir kelamaan, sekarang intinya, lu mau ngakuin Sakha ke keluarga gue, atau keluarga gue bakal nekat buat ngajuin tes DNA.”


“Mau keluarga lu apaan, Ya?”


“Gue juga nggak tau, Ka. Isi kepala orang gila sulit buat dimengerti.


Nika bersandar pada salah satu dinding, memejamkan mata berusaha mengatur nafas, Priya tak membantunya, malah semakin mendesaknya terus menerus.


“Lu akuin dan lu bakal masuk ke keluarga gue lebih dalam atau lu terus nolak tapi siap buat di tuntut buat tes DNA.”


“Menurut lu Ya, mana yang terbaik?”


“Menurut gue?” tanya balik Priya diakhiri tawa. “Menurut gue lu nggak harus balik ke sini lagi, Ka! Lu harusnya kabur ke Jogja tanpa nekat buat balik ke Jakarta.”


“Jahat lu, Ya!”


“Baru sadar lu?” sewot Priya mendengus kesal. “Oh I see, berarti lu nggak ketemu dia di pesta Annika, atau selama ini lu di Jakarta lu nggak pernah ketemu sama dia?”


Nika menatap Priya penuh tanda tanya. “Dia siapa maksud lu?”


“Tian.”


“Kenapa Tian?”


Priya menggeleng. “Tujuan gue kesini buat minta tes DNA dan kasih bantuan donor jantung beserta biaya operasi buat keponakan gue. Itu intinya.”


“Kak Fayyadh nggak bilang apa-apa semalam, cuma bilang dia nemu pendonor yang tepat buat Sakha, udah, kenapa sekarang malah makin runyam?” tanya Nika tak mengerti.


“Apa yang lu harepin dari dia?” sinis Priya. “Dan lagi, keluarga gue bakal acc kalau lu setuju buat DNA. Keluarga gue bakal bantuin lu sampai Sakha sembuh.”


“Telat nggak sih, Ya?”


“Mulut lu masih berfungsi 'kan Ka, buat ketemu orang tua gue di hari pernikahan si Fayyadh enam tahun lalu?”


“Antagonis dong, gue,” ungkap Nika diakhiri tawa sumbang.


Priya berdecak. “Lu nggak antagonis, tapi bego!”


“Lu tetep judes ya, Ya. Nggak pernah berubah,” ucap Nika.


“Jangan ngulur waktu, Ka. Waktu gue nggak banyak, lu tinggal tanda tangan dan semua beres,” jawab Priya setelah merotasikan kedua matanya kesal.


“Perlu banget DNA? dari fisik juga udah keliatan,” gurau Nika mengambil pulpen.


“I don't kn—”


Baru saja Nika mendaratkan ujung pulpen pada kertas, seseorang mengambilnya dengan kasar, langsung merobeknya menjadi dua. “Keluarga saya nggak sehina itu hanya untuk membiayai anak haram.”


“Anak haram,” lontar Priya memandang sinis ke arah Nika. “Saya kesini atas permintaan keluarga dan kakak saya atas keputusan Nika semalam, so?”


“Apa? Soal donor jantung untuk Sakha?”


Dengan ragu Priya mengangguk. “Baik saya maupun Nika nggak perlu bantuan keluarga kamu. Keluarga saya masih mampu, bahkan lebih dari mampu!” jawab Ning sedikit meninggi.


“Kamu pikir saya bodoh Nika?”


“Tapi, sampai detik ini Nika belum nemu pendonor yang pas sama Sakha.” Nika meneteskan air matanya tak percaya dengan ucapan mamihnya. Ia tau bahwa dari awal wanita yang telah melahirkannya itu menolak permintaan tolongnya dalam membiayai pengobatan Sakha, maka saat Ning menolak tawaran Priya membuat Nika tak habis pikir dengan jalan pikiran Mamihnya tersebut.


“Bisa kamu keluar sekarang dan sampaikan penolakan saya ke keluarga kamu?” ucap Ning, Priya mendengus kesal sebelum berlalu pergi dengan harga dirinya yang terinjak.


“Mih?” panggil Nika yang sudah jatuh terduduk di kaki Ning. “Nika memang belum bisa jadi anak yang bisa banggain Mamih. Selama ini Nika cuma bikin Mamih repot.”


“...tapi, Mih? Nika udah berusaha selama sebulan terakhir. Nika nanya sana-sini nyari pendonor dan Nika kerja pagi sampai malam setiap hari? Mih? Nika buntu, kalau bukan karena bantuan Kak Fayyadh, Sakha nggak bis—”


“Dan kamu, abaikan saya?” tanya Ning tiba-tiba.


Nika langsung menggeleng. “Mamih sendiri bukan yang nolak waktu Nika minta tolong soal biaya rumah sakit Sakha?”


“Ya, terus?” Ning menatap Nika yang memandang kosong ke arahnya. “Orang tua kamu masih hidup, Annika. Saya, Mamih kamu masih bernafas sampai detik ini. Apa dimata kamu saya sudah sejahat itu biarin anak saya berjuang sendirian?”


Tangis Nika pecah, langsung bersujud mencium kaki milik Ning. Memeluk erat kaki putih wanita yang masih memiliki darah keturunan keraton itu penuh haru. Tetes air matanya terus tumpah, bersama beribu perasaan yang meledak dalam hatinya.


“Makasih, Mih. Makasih, makasih udah bantuin, Nika,” ungkapnya terisak. “Mih, Nika janji! Nika nggak bakal repotin Mamih, lagi. Nika janji Mih!”


Ning menggeleng, langsung berjongkok dan memeluk putri cantiknya, membawa masuk kedalam hangat dekapan seorang ibu untuk Nika. “Nika, Mamih cuma pengen liat bentuk tanggung jawab kamu atas keputusan kamu enam tahun lalu.”


“...ya katakan, Mamih bodoh. Mamih jahat, Eyang kamu benar. Tapi, dihati kecil Mamih, ngeliat kamu banting tulang buat urus anak kamu sendirian itu bikin Mamih nangis setiap hari.”


“...Nika? Kamu anak mamih, kamu anak mamih yang kuat, kamu anak mamih yang buat mamih terharu sama apa yang kamu lalui selama ini.”


“...sekarang, biar tugas Mamih, tugas Mamih buat sama-sama bantu kamu.” Ning mengeratkan pelukannya membiarkan Nika menangis sepuasnya.


“Maafin mamih yang udah ninggalin kamu ya, Nika?”


Nika hanya bisa mengangguk, wanita itu menenggelamkan wajahnya pada pundak Ning. Menyalurkan rasa lelahnya yang ia tanggung seorang diri. Menyalurkan rasa putus asanya pada rumah yang selama ini ia rindukan.


“Mih, makasih ya,” tutup Nika sebelum melepaskan dekapannya dengan Ning.


...꒰🖇꒱...


Mulutnya terbuka ketika mendapati beberapa tumpukan mainan baru tampak berserakan di tengah ruang rawat, sekat pemisah antara ranjang Sakha dan Janu terbuka membuat dua pria kecil itu saling berebut ingin membuka satu persatu kotak mainan yang menarik perhatian.


“INI! SAKHA MAU INI!”


“AKU INI!” lontar Janu mengangkat mainan mobil Jeep ternama dengan bangga. “Aku boleh ambil yang ini 'kan, Sakha?”


“Ambil aja Janu, yang banyak ya,” jawab Sakha mengambilkan sebuah kotak berisi kereta mainan untuk temannya tersebut.


Janu menggeleng. Baginya sebuah mobil ini cukup berarti untuknya. “Janu ini aja, Janu suka ini.”


“Beneran?” Sakha menatap Janu meragu.


“Iya. Makasih ya, Sakha.”


“Sama-sama Janu.”


Senyum milik Nika terukir, sembari menggelengkan kepalanya ia mengusir ingatan masa lalu bersama Arsa saat mereka bermain dan memperebutkan boneka beruang kesayangan Nika. Wanita itu tertawa geli, merasa aneh dengan kenyataan yang terasa menyakitkan ini.


“Mih?” panggil Nika ketika netra matanya melihat sosok wanita yang menginjak umur akhir kepala empat itu masuk ke dalam ruangan. “Makasih ya udah beliin Sakha mainan.”


“Anggep aja ini hadiah penyemangat buat operasi dia.” Ning duduk pada salah satu kursi membuka sebuah majalah. “Dan lagi, saya beliin dia mainan karena dia anak kamu.”


“Dan cucu Mamih?” tanya Nika pelan.


Ning tak menjawab berlarut pada baris kata dan foto produk yang akan perusahaannya luncurkan. Memandang penuh luka ke arah Sakha membuat Nika memberikan senyum palsu untuk anak laki-lakinya tersebut.


“Kemarin, Nika fikir, Mamih udah nerima Sakha,” ungkap Nika getir. “Ternyata Nika yang terlalu berharap ya?”


“Kamu anak saya.”


“Bukan itu jawaban yang Nika mau.”


“Apa yang kamu harapkan dari saya?” tanya Ning tegas.


Nika menggeleng. “Mamih gampang banget buat berubah, ego Mamih besar ya di depan Sakha?”


“Saya mungkin sudah bisa nerima kalau Sakha itu anak kamu, setelah perjalanan panjang selama enam tahun, tapi buat anak itu jadi cucu saya, saya belum bisa. Paham?” perjelas Ning. “Dan karena kamu ibunya, saya nggak bakal biarin gitu aja kamu berjuang sendirian.”


“...suatu saat saya bakal ketemu sama ayah dari anak kamu. Saya bakal buat dia mengerti atas kesalahan yang kamu tanggung sendirian.”


“Arsa udah lakuin it—”


“Tapi, saya belum!” potong Ning.


“Mih?” panggil Nika membuat Ning menatapnya. “Kalau Papih ada disini, pasti kalian bakal bela Nika habis-habisan 'kan?”


Ning tertawa. “Bahkan tanpa dia, saya bisa.”


Melihat Mamih dan Nika yang tampak berbicara serius membuat Sakha menatap mereka dengan raut bingung.


“Sakha?”


“Ya?”


“Aku denger besok kamu mau di operasi ya?” tanya Janu dibalas anggukan pria kecil tersebut.


“Nanti kita keluar dari rumah sakit bareng yuk Janu! Kita jalan-jalan ke karnaval keliling ke tempat seru,” ajak Sakha antusias.


Janu menggeleng. “Aku cuma pengen ketemu Mama.”


“Janu, kalau misal Sakha ketemu Mama kamu, kamu mau bilang apa?”


“Sakha jangan ketemu Mama aku sendirian ya, ajak aku!” pinta Janu memaksa.


Sakha hanya tersenyum sebelum memeluk temannya tersebut. “Kalau gitu Tuhan sayangnya sama kita berdua.”


✄  - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -- - - - -15-06-23𖠄ྀྀ