ABOUT YOU 1998

ABOUT YOU 1998
. .THE PERFECT



...︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽...


...CERITA INI HANYA FIKTIF BELAKA, MOHON MAAF JIKA ADA KESAMAAN YANG HADIR TANPA DISENGAJA....


...INI HANYA CERITA FIKTIF JADI JANGAN SAMPAI TERBAWA KE DUNIA NYATA....


...SEKIAN TERIMAKASIH....


...______________________________________...


...—H A P P Y  R E A D I N G—...


...______________________________________...


MATA itu menatap Nika tajam, seolah siap menguliti keberaniannya yang perlahan kabur. Memainkan jemarinya dengan gelisah adalah cara terakhir bagi Nika.


“Anakmu sudah meninggal,” bukanya tanpa kata berbela sungkawa. “Bukan berarti saya akan dengan mudah merestuimu dengan anakku.”


“...putraku terlalu berharga untuk wanita yang telah jatuh harga dirinya, seperti dirimu.”


Suasana menghening. Terasa mencekam bagaikan berada di arena pertarungan. Nika mendesis, ia benci tatapan merendahkan wanita tua dihadapannya tersebut. Sebuah ide terlintas, ia menarik sudut bibir membentuk lengkungan senyum. “Benarkah? Lantas bagaimana dengan perasaan putra anda yang telah jatuh terhadap wanita yang harga dirinya telah jatuh ini?”


“...kau dan aku sama, kita wanita dan pernah muda. Bukannya sebuah cinta tak bisa dipaksa dan dilepas dengan mudah?”


“...bagaimana ya aku menjelaskan? Kemanapun aku pergi, pria itu selalu mengikutiku, fakta yang tak dapat ditampik.”


“...jika itu, cara licik apa yang akan kau lakukan, nyonya?” akhir Nika memandangi wajah bunda yang telah dihiasi beberapa keriput tersebut.


“Restu orang tua adalah segalanya.”


“Kudengar, kebahagiaan anak adalah kebahagiaan orang tua. Lantas jika anakmu terluka, kau?”


Wanita itu bangkit berdiri bersiap menuangkan cairan dalam gelas yang ia genggam dengan amarahnya. “Kau cuma anak kemarin yang tidak mengerti tentang apapun, Nika!”


“Menyedihkan, tapi terimakasih, ternyata benar, untuk menilai orang lain tidak memerlukan mata melainkan telinga.”


“Apa maksudmu?”


“Tak selamanya apa yang kau dengar dari orang lain itu sebuah kebenaran, bunda,” jawab Nika merapihkan poni miliknya.


“Jangan panggil aku seperti itu,” tolak wanita tersebut tak terima.


“Lalu?”


“Panggil aku ibu mertuamu.”


“Apa-apaan, itu sama saja kayak Nika memanggil Bunda,” protes Arjuna yang duduk di meja yang sama. Pria itu melirik adiknya yang sedari tadi hanya menonton drama singkat dari dua wanita yang ia cintai. “Beri sedikit komentar pria keras kepala.”


“Arjun, Ayah rasa mereka melimpahkan isi hati,” nilai seorang pria berumur dengan wajah serius disambut tawa Arjuna.


“Pergi, Bang! Lu jangan ninggalin istri lu sendirian di pelaminan,” usir Arsa meminum segelas kopi miliknya.


Arjuna berdecak. “Tamu nggak tau diri, ngusir yang punya hajat.”


“Tamu? Gue bantu sumbang dana, sorry?” peringat Arsa.


“Iya Iya tuan sponsor yang terhormat.” Arjuna mengalah, setelah berpamitan ia langsung berlalu pergi, mengikuti perintah Arsa yang ada benarnya juga.


Bunda tersenyum. “Jadi, anak gantengnya Bunda kapan mau nyusul abangnya?”


“Nikah?” tanya Nika terkejut.


“Iya dong, Arsa kalau nggak buru-buru nanti kebalap lagi,” jawab Ayah membuat Nika tersenyum canggung.


“Sekarang juga ayo!”


Semua disana menatap pria yang baru saja berbicara. “Gila,” lontar Nika terkejut.


“Nika masih keturunan keraton, harus nentuin tanggal baik dan jalanin adat, nggak semudah itu,” peringat Ning yang sedaritadi memilih terdiam menyaksikan obrolan di meja bundar.


Ayah dan Bunda Arsa mengangguk setuju. “Jangan ngawur kamu Arsa, Ayah yakin kamu udah nyiapin dana, tapi nikah bukan cuma perkara Finansial. Kamu kayak udah yakin aja Nika siap.”


Arsa mengalihkan pandangannya menatap Nika lekat. Pria itu tampak menimang dengan begitu serius, membuat Nika kebingungan setengah mati.


“Lu mau nikah sekarang nggak, Ra?”


“Gue bilang juga apa Arsa, otak lu kalau acara penting tuh dipake,” jawab Nika ketus memasukkan suapan dinsum dalam mulutnya.


“Oke. Lu mau.”


Arsa tak menggubris memilih bangkit berdiri menuju ke atas panggung sebelum menyiapkan posisi pas untuknya memainkan sinar gitar.


“Malam, semua. Gue Arsa adik dari Arjuna,” sapa Arsa. “Sebetulnya ini kali pertama main gitar di depan orang banyak, udah lama ya, terakhir pensi SMA. ”


“...gue mau ngasih lagu ini buat cinta kedua gue, soalnya yang pertama Bunda.” suara riuh terdengar termasuk wajah memerah Bunda.


“...so? Wanita manis yang buat gue jatuh hati, the special song for you.”


Suara petikan gitar terdengar, senyum Arsa melebar dari sorotan lampu yang tepat jatuh ke arah. Riuh para hadirin tamu terdengar, melengkapi degup jantung yang berdebar pada dada dua insan yang jatuh cinta.


Lagu perfect milik Ed Sheeran adalah pilihan Arsa, dengan hati yang berbunga serta tulus sorot matanya untuk Nika ia menyalurkan semua perasaan yang tersampaikan hanya dengan kata.


Nika hanya terdiam di tempatnya duduk, membiarkan sahutan menggoda dari Ayah maupun Bunda. Bohong, bohong jika ia tidak merasakan letupan besar di hatinya, bohong jika rasanya ia tak ingin berlari mendekap erat pria dengan gitar di pangkuannya.


“...Now I know I have met an angel in person, And she looks perfect...I don't deserve this, You look perfect tonight.” Suara Arsa terhenti, ia semakin melebarkan senyumnya, tampak bangkit berdiri dengan penuh kebanggaan. “Gue nggak perduli mau berapa banyak cowok yang jatuh cinta sama lu, Ra. Tapi, gue harap, gue bisa jadi yang terakhir dan selamanya buat lu.”


“...gue gila 'kan?”


“...lebih gila lagi gue yang udah jatuh hati sama sahabat sendiri, Ra.”


Arsa terdiam, senyumnya memudar bersama Nika yang bangkit berdiri dan berlalu pergi, meninggalkan raut wajah kebingungan beberapa orang, termasuk ketiga orang tua yang duduk di meja bersama Nika tadi.


“RA!” panggil Arsa ikut berlari menyusul, tidak, ini waktu tepat baginya, tidak saat terakhir sebelum keberangkatannya ke Papua, tidak untuk pertengkaran mereka yang begitu kekanak-kanakan. Untuk kali ini, ia harus membulatkan tekadnya.


“RA! TUNGGU!”


“APA MAKSUD LU, CA?!”


“Gue cuma mau buktiin soal keseriusan gue, Ra.”


“Lu pernah mikir kalau gue siap atau nggak? Apa perkataan Ayah tadi nggak buat lu sadar? Gue trauma Ca! Gue masih trauma sama toxic relationship yang sialnya harus gue rasain.”


Arsa terdiam, menatap lekat manik mata Nika. “Kalau gitu kita berjuang bareng-bareng, kalau selama ini kehadiran gue belum ngefek buat nyembuhin trauma lu, ayo kita mulai dari awal.”


“...bahkan sekalipun gue harus nunggu selama sepuluh tahun, gue siap, Ra.”


“Lu dapet apa, Ca, perjuangin cewek trust issues kayak gue?” tanya Nika jengah. “Lu jangan bulol, baik gue sama lu udah dewasa, jadi kita bukan AB—”


“GUE TAU!” potong Arsa cepat.


“Terus? Lu nggak perlu lak—”


“Sekalipun nanti bukan gue, bukan gue yang bakal nemenin hari tua lu, gue nggak perduli, Ra! Ya katakan gue bego! Belasan tahun gue kasih effort tapi gue malah jatuh hati sama lu.”


“...Gue ikhlas bahkan kalau bukan gue endingnya. Tapi, bisakan kita berjuang lagi, Ra? Berjuang lagi buat nyoba. Kasih gue waktu, Ra.”


Nika melangkah mendekat, memeluk Arsa dengan erat. “Ca, karir lu cemerlang, keluarga lu terpandang, prestasi lu nggak ada lawan. Bodoh kalau lu perjuangin gue, lepasin gue, Ca. Kejar perempuan high value yang seharusnya lu kejar, gue nggak pantes buat jadi tulang rusuk lu.”


“Ra, No matter what happens, i'm still into you, i'm there for you. You can have my word,” bisik Arsa penuh keyakinan. Nika hanya terdiam sedikit tidak percaya atas ucapan sahabatnya tersebut dengan lamat ia menatap mata itu, tak ada kebohongan disana. “it's ridiculous, but don't let me down, Arsa.” Nika akhirnya mengalah memilih menjawab membiarkan egonya.


Mereka sama-sama terhanyut. Penantian Arsa selama belasan tahun terbayar, bersama hembusan nafas yang terdengar dalam itu membuat senyum manis berhasil menghilangkan mata sipitnya. Nika masih terdiam sedikit terhanyut. “Gue kangen Sakha,” lontarnya tiba-tiba.


“Besok kita jenguk Sakha, dia pasti seneng denger apa yang udah terjadi diantara kita hari ini, Ka.”


“Gue belum bilang soal perasaan gue,” jawab Nika memandang lurus pemandangan di depannya. Mereka telah melepaskan dekapannya sedari tadi dengan keadaan cukup canggung. “Gimana kal—”


“Cukup gue yang jatuh hati sama lu.”


“Cinta bertepuk sebelah tangan itu sakit, Ca!” jawab Nika kesal. “Maka, biarin gue lengkapin sebelah perasaan itu.”


Arsa langsung melakukan selebrasi, tampak meloncat dan berteriak dengan girang, sebelum akhirnya memeluk Nika erat, hati mereka sama-sama berdegup kencang. Perasaan yang sukar mereka mengerti selama belasan tahun terjawab sudah, di dinginnya malam kawasan Bogor kehangatan menjalin bersama sebuah cinta yang hadir tanpa harus disembunyikan.


“Gue mau dipanggil Daddy!”


“Random amat, tiba-tiba bilang begitu,” heran Nika tak mengerti. “Gue nggak bilang mau nikah sama, lu ya?”


“Kalau lu mau dipanggil apa?”


“Mommy?”


Arsa tersenyum. “Itu artinya lu mau nikah sama gue.”


“Asumsi bodoh macam apa itu?” elak Nika tak terima. Arsa tak menjawab memilih tersenyum sembari membawa Nika masuk ke dalam dekapannya.


‘Sakha, impianmu, terkabul.’


✄  - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -- - - - -19-07-23𖠄ྀྀ