
...︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽...
...CERITA INI HANYA FIKTIF BELAKA, MOHON MAAF JIKA ADA KESAMAAN YANG HADIR TANPA DISENGAJA....
...INI HANYA CERITA FIKTIF JADI JANGAN SAMPAI TERBAWA KE DUNIA NYATA....
...SEKIAN TERIMAKASIH....
...______________________________________...
...—H A P P Y R E A D I N G—...
...______________________________________...
MEMANDANG kosong langit hitam dengan taburan bintang dari bingkai jendela mobil membuat Nika menghembuskan nafasnya dalam.
Ia tampak bersandar, memandang tak semangat sembari merasakan tubuhnya yang pegal lantaran seharian harus bekerja seorang diri.
“Kak Fayyadh nggak punya kerjaan?”
“Saya 'kan pernah bilang sama kamu, saya punya usaha textile, cabangnya juga ada banyak, kenapa?”
Nika menggeleng. Memandang bingung ke arah Fayyadh yang masih fokus menyetir. Selama hampir sebulan Bang Ega menepati janjinya selalu mengantar dan menjemputnya, tapi hari ini pria itu jatuh sakit, terus meminta maaf sedari pagi ke Nika.
Dan, akhirnya seperti ini, saat pulang ia menemukan mobil Sedan dengan merk ternama sudah menunggunya bersama sang pemilik tampak tersenyum lebar ke arahnya tanpa rasa bersalah seperti biasa.
“Ngomong aja Nika,” ucap Fayyadh mendapati wanita di sebelahnya terus membungkam.
“Kalau Kak Fayyadh bisa ngomong begitu, itu artinya Kak Fayyadh orang sibuk 'kan? Terus kenapa selama sebulan terakhir selalu ganggu Nika, bahkan setiap pagi atau malam kak Fayyadh selalu berdiri nunggu ditempat yang sama,” jelas Nika disambut tawa. “Nika serius Kak!”
“Maaf Nika, lagipula saya 'kan punya karyawan jadi saya nggak perlu terlalu sibuk.”
Nika mendengus, kembali mengalihkan pandangannya menatap pemandangan di luar, membiarkan sapuan angin malam membuai wajahnya dengan lembut.
“Kamu nanti bisa masuk angin, Nika!”
“Sampai kapan Kak Fayyadh ganggu Nika?”
“Sampai saya bisa milikin kamu.”
“In your dream!”
Tawa Fayyadh kembali terdengar ketika nada ketus Nika keluarkan untuknya. “Malam ini saya nggak mau berantem sama kamu, ada satu hal penting yang harus saya bicarakan. Jadi, bolehkan kamu sabar dulu?”
Wanita itu hanya terdiam, merapatkan cardigan miliknya tanpa mau kembali mengeluarkan suara. Fayyadh hanya tersenyum sebelum membelokkan kemudi mobilnya ke salah satu angkringan yang tampak ramai.
“Jangan lama-lama, Nika nggak bisa ninggalin Sakha, Mamih harus istirahat,” peringat Nika dibalas anggukan oleh Fayyadh.
Mereka berdua tampak berjalan beriringan tanpa suara, sampai menemukan salah satu spot yang cukup jauh dari keramaian dengan cahaya terang dari lampu yang menyala di kanan kiri.
“Soal Sakha, gimana?” tanya Fayyadh ketika ia sudah selesai memesan minuman.
“Apanya?”
“Meskipun kamu nggak menerima saya mengakui Sakha adalah anak saya, bukannya ada darah saya yang ngalir di tubuh dia?”
“To the point!”
“Saya ketemu donor jantung untuk dia.”
Nika menatap terkejut ke arah Fayyadh. Merasa sesuatu yang mencurigakan dari pria tersebut. “Darimana Kak Fayyadh tau soal Sakha butuh donor jantung?”
“Saya bakal lakuin apa aja untuk Sakha.”
“Nika nggak perlu bantuan Kak Fayyadh, Nika bisa sendiri.”
“Dan kamu mempertaruhkan nyawa Sakha?” tanya Fayyadh menahan emosi.
“Buat apa orang yang niat bunuh Sakha ngomong begitu?”
“Saya ajak kamu kesini untuk membicarakan donor jantung Sakha, bukan untuk mempersalahkan masalah di masa lalu. Tolong, sedikit bersikap dewasa Nika!”
“Kak? Nika capek, Nika capek buat berjuang ngerawat Sakha. Ya, Nika emang nggak sendirian. Nika punya Mamih, Nika punya Arsa,” jawab Nika terisak.
“...Secara negara, Sakha anak Nika, tanpa ayah yang tercantum di kartu keluarga. Jadi, bisakan Kak? Biarin Nika bahagia, biarin Nika rawat dan urus kesehatan Sakha, kayak dulu, tanpa campur tangan Kak Fayyadh?”
“...mau Kak Fayyadh berusaha ngerubah kesalahan Kak Fayyadh di masa lalu. Malah nggak buat hal hal baik terjadi sekarang, kak!”
“...ngeliat Kak Fayyadh tiba-tiba datang, ngeliat kak Fayyadh biasa aja setelah apa yang terjadi, dan ngeliat kak Fayyadh hancurin setiap mimpi dan rencana Nika itu bikin jijik kak!”
“...please get out of my life.”
Fayyadh mengepalkan kedua tangannya menutup mata mendengar perkataan Nika. “Ijinin saya buat ngelakuin apa yang harusnya seorang ayah lakuin untuk anaknya Ka. Saya mohon sama kamu, saya mau nebus kesalahan saya ke kamu maupun Sakha. Saya mohon Nika,” pinta Fayyadh penuh harap.
Nika hanya diam membungkam.
“Saya janji! Saya bakalan pergi dari kehidupan kamu sama Sakha setelah ini. Sa-saya bakal lakuin apapun untuk kebahagian kamu maupun Sakha, bahkan jika saya harus pergi.” Fayyadh jatuh berlutut memegang erat kedua tangan Nika dengan wajah memelas. Nika menatap kosong ke arah Fayyadh, enggan mengeluarkan kata-kata.
...꒰🖇꒱...
Selepas mengantarkan kepergian Mamihnya kembali ke apartemen menggunakan Taksi, Nika melenggang menembus heningnya lobby rumah sakit yang terasa sunyi meski masih ada aktifitas yang berlangsung.
“NIKA!!!!” panggil seseorang berlari menuju ke arahnya. Dengan raut bingung Nika memandangi sumber suara sebelum akhirnya mulut kecilnya terbuka lantaran terkejut.
“Aduh, biasa aja dong Nika,” ungkapnya risih.
Nika menggeleng masih terkejut. “Suster Kania kok bisa di Jakarta?” tanyanya menatap ke sekeliling.
“Nyari siapa? Dokter Arsa ya?” Kania mengikuti arah pandang Nika. “Dokter Arsa nggak ikut. Soalnya saya ijin karena keluarga ada yang meninggal, susah tau Ka, minta ijin tuh.”
“Nika turut berduka cita ya, Sus.”
“Thanks ya, Ka. By the way ada yang mau saya obrolin sama kamu, Kira-kira kamu bisa nggak? Dari tadi siang saya nunggu kamu, tau.”
“Bisa kok, maaf ya Nika buat Suster Kania nunggu,” jawab Nika tak enak hati.
Kania menggeleng, mulai melangkahkan kakinya dengan Nika yang berdiri di sebelah suster cantik tersebut. “Lagian saya juga yang salah, nggak buat janji sama independen women yang satu ini.”
“Suster Kania juga independen women, 'kan?”
“Beda dong, saya kerja cuma biar nggak bosen aja. Beda dari kamu yang kerja ya emang bener-bener kerja buat nyari uang,” elak Kania mulai menekan tombol lift.
“Keadaan Nika yang maksa, Sus.”
“Oh gimana kabar Sakha? Saya denger-denger Sakha mau dioperasi ya? Kamu udah coba hubungi Dokter Arsa atau mau saya ban—”
“Nggak perlu Suster,” potong Nika. “Nika udah yakin buat nggak mau ngelibatin Arsa lagi, udah banyak yang dia lakuin buat Sakha. Jadi, Nika pengen dia fokus ngeraih mimpinya.”
Kania terdiam, memandangi wanita tinggi dengan tubuh yang terlihat kurus berbeda dengan sebulan yang lalu saat dirinya terkahir kali bertemu Nika. “Berjuang sendirian capek ya, Ka?”
“Nika nggak sendirian kok, Sus.”
“Iya tapi nyimpen semuanya sendirian,” balas Kania membuat Nika membungkam.
Pintu lift terbuka, baik Nika maupun Kania saling beriringan berjalan memasuki koridor yang tampak sepi. “Disini aja, Ka!” pinta Kania menghentikan langkah di dekat kursi tunggu yang berada di dekat ruang rawat Sakha.
“Kita nggak masuk aja, Sus?”
“Sakha pasti udah tidur,” jawab Kania menolak. “Dokter Arsa tuh hapal banget sama jadwal Sakha apalagi kamu, Nika.”
“...kadang saya mengkhayal kalau saya yang gantiin posisi kamu, pasti menyenangkan punya orang yang ngisi dunianya dengan nama kamu.”
“...angan cuma sebatas angan, Nika. Pria baik dan sempurna kayak Dokter Arsa punya pilihannya sendiri. Andai, kamu tau betapa judesnya dokter Arsa kalau ketemu adik-adik koas cewek yang jatuh cinta sama pesona, Dokter Arsa. Termasuk saya, suster yang hampir setahun selalu bareng dia.”
“...tapi tetap kamu, orang lama yang singgah tanpa pernah bisa diganti.”
“...saya boleh ambil Dokter Arsa, ka?” tanya Kania mengakhiri ucapan panjangnya. Nika hanya terdiam membeku berusaha mencerna dan mencari jawaban yang tepat.
“Nik—”
“Mau kamu bilang boleh pun, hati dokter Arsa tetap jatuh di kamu, nggak adil ya?”
“...dan nggak aneh kalau banyak orang yang kerja di rumah sakit nggak suka sama kamu, Ka. Mereka iri, termasuk saya.”
Nika menggeleng, meneteskan air matanya merasa tak pantas untuk berada di hati Arsa. Atas luka dan sikap yang ia berikan untuk pria yang selalu ada untuknya. “Suster Kania, benar. Dari dulu, dari dulu dari kita sama-sama sekolah bareng bukan hal aneh kalau banyak ribuan surat penuh kata cinta buat Arsa. Siapa si yang nggak bakal jatuh cinta sama persona Arsa?”
“Dan, kamu juga termasuk 'kan, Nika?” tembak Kania tersenyum miris. “Beri saya jawaban buat nyakinin keputusan saya.”
“Jawaban apa Suster?” tanya Nika bingung.
“Mau mulut kamu berkata Dokter Arsa nggak pantas naruh nama kamu di hati dia, tapi mata kamu nggak bisa bohong Nika.”
“....kamu punya perasaan yang sama 'kan?”
“Nggak,” jawab Nika singkat.
Kania tersenyum, mengenggam lembut jemari tangan Nika yang gemetar. “Beri saya jawaban. Selama sebulan terakhir baik saya maupun Arsa mulai dekat, meski posisi saya belum bisa gantiin kamu. Jadi, boleh kalau saya melangkah lebih dekat lagi 'kan ka?”
“Bahkan suster Kania rela pindah agama buat Dokter Arsa?”
“Kenapa nggak? Saya bakal berjuang Nika, karena saya tau Dokter Arsa pria bertanggung jawab sama pilihan dia,” jawab Kania. “Jadi, apa keputusan kamu.”
Nika menghembuskan nafasnya dengan berat sebelum tersenyum. “Suster Kania tau hati Arsa untuk siapa, tapi sudah rela meninggalkan sesuatu yang amat besar buat suster. Apa ada jaminan hanya karena rasa tanggung jawab dari Arsa?”
“Sekarang saya tau apa langkah saya selanjutnya, Nika.”
“...saya bakal berjuang sesuai dengan rencana saya. Saya bakal ngewujudin apa harapan saya ditahun ini.”
“...terimakasih Nika udah jadi salah satu inspirasi saya.”
Kania bangkit berdiri di susul oleh Nika. “Nika masih belum mengerti, jadi apa keputusan Suster Kania?”
“Saya nggak nyerah, saya bakal buktiin jaminan itu bakal nyata.”
“Jadi, suster Kania bakal serius sama Arsa?”
Wanita yang hampir menginjak kepala tiga itu hanya tersenyum sebelum berlalu meninggalkan Nika yang terdiam berusaha menyadarkan diri pada dunia nyata yang menyesakkan.
“Saya selalu bersungguh-sungguh Nika, atas mimpi dan harapan saya, persis seperti janji saya pada mendiang Mamah yang telah tenang di Surga.”
✄ - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -- - - - -11-06-23𖠄ྀྀ