ABOUT YOU 1998

ABOUT YOU 1998
. .THE BIG PLANNING



...︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽...


...CERITA INI HANYA FIKTIF BELAKA, MOHON MAAF JIKA ADA KESAMAAN YANG HADIR TANPA DISENGAJA....


...INI HANYA CERITA FIKTIF JADI JANGAN SAMPAI TERBAWA KE DUNIA NYATA....


...SEKIAN TERIMAKASIH....


...______________________________________...


...—H A P P Y  R E A D I N G—...


...______________________________________...


MEMBALIKKAN halaman demi halaman  sebuah album foto, sebuah senyum manis mengembang. “Itu Kak Nika sama Papa Annika ya?” tanya Sakha yang ikut penasaran melihat setiap cetakan foto yang tersusun dengan rapi.


“Jadi dia siapa?”


“Temen Kak Nika.”


Merasa tak percaya dengan jawaban kakaknya tersebut Sakha menatap tajam Nika. “Jujur! Kata Kak Arsa kita nggak boleh bohong!”


“Sumpah deh, Cuma temen!”


“Itu fotonya sambil pelukan,” jawab Sakha ketus.


“I-itu, eh liat deh ini ada foto Papih juga liat! liat!  Papih Khalil ganteng ya?” tanya Nika menunjukkan sebuah foto dimana dirinya bersama Khalil saat di acara karnaval.


“Iya, ganteng kayak Sakha. Papih pasti bahagia punya anak kayak Sakha, ya 'kan kak?” mendengar pertanyaan Sakha membuat wanita itu terdiam, perasaan bersalah itu kembali muncul. “Sakha mau ketemu Papih, mau peluk Papih kayak Kak Nika peluk Papih.”


Runtuh sudah, Nika menangis, meneteskan air mata kerinduan dan rasa bersalah pada pria yang pelukannya masih terasa hangat dalam ingatannya. “Kak Nika jangan nangis ya? Sakha janji deh bakal jadi adik yang baik buat Kak Nika. Sekarang, tugas Papih biar Sakha yang gantiin ya?”


“...jangan nangis, putri kecilnya Papih,” ucap Sakha semakin membuat tangis Nika semakin kencang. Pria kecil itu sekarang kebingungan, ia berfikir bahwa ucapannya terdengar jahat hingga membuat kakak perempuannya itu menangis. “Kak Nika jangan nangis, nanti Sakha ikutan sedih,” lontar Sakha disusul suara isakan.


Tak lama suara tangis Nika tergantikan oleh tawa, wanita itu melepaskan dekapannya dan menghapus air mata yang tersisa sebelum memeluk gemas Sakha.


“Katanya mau gantiin tugas Papih, kok malah nangis sih! Nggak seru nih!”


“Mangkannya, Kak Nika jangan nangis!” protes Sakha.


“Iya - iya, Kak Nika janji nggak nangis, nanti kalau Kak Nika nangis, Sakha ikutan nangis juga. Masa udah ganteng gini mukanya sembab, aduh adik kakak yang satu ini,” ucap Nika menghapus tetes air mata milik Sakha.


“Kak Nika?”


“Ya?”


“Kalau nanti Kak Arsa nggak nikahin Kak Nika, jadi bolehkan kalau Sakha yang nikah sama Kak Nika?” tanya pria kecil itu membuat Nika mengedipkan matanya berulang kali.


“Gimana?”


“Sakha mau jadi seseorang yang bakal lindungin Kak Nika selamanya! Kayak Kak Arsa!”


Nika tersenyum kecut, ia memilih membawa Sakha ke dalam dekapannya daripada menjawab ucapan pria kecil tersebut.


“Eh, sorry saya ganggu ya?” ucap Fayyadh yang berdiri di ambang pintu masuk. Nika menggeleng sementara Sakha melepaskan pelukannya dengan Nika sembari mengeluarkan suara penuh antusias.


“PAPA FAYYADH!!!!” Panggil Sakha membuat Nika mengerutkan alisnya. Fayyadh hanya tersenyum, memperkikis jaraknya mendekati Sakha. “Ganteng banget anak papa, udah siap?”


“Iya dong!” sahut Sakha riang.


“Nika?” panggil Fayyadh melihat wanita itu tampak mematung. “Hey are you okay?”


“Jelasin sama Kak Nika, kenapa Sakha manggil Papa ke Kak Fayyadh?” tanya Nika heran.


“Karena kata Papa, Papa itu Papanya Sakha!”


“Ma-maksud saya nggak gitu, Nika,” timpal Fayyadh mengoreksi.


“So?” tanya Nika tajam.


Fayyadh menghembuskan nafasnya dalam. “Karena Sakha pengen punya Papa, karena Sakha pengen ngerasain kayak yang Annika rasain, punya Papa itu seru loh Kak!” bukan Fayyadh yang menjelaskan melainkan pria kecil yang terduduk di ranjang rumah sakit yang menjawab.


“Sakha, nggak boleh gitu ya? Bisa tolong diubah manggilnya jadi Om Fayyadh?” bujuk Nika.


“Saya nggak keberatan kok, Nika.”


“Tapi, saya yang keberatan Kak!” tegas Nika. Setelah ucapan Nika suara isakkan terdengar, Sakha menangis. Pria kecil itu menatap dengan penuh rasa bersalah ke arah Nika. “Sa-Sakha cuma pengen punya Papa. Sa-Sakh—”


“Sakha, selama ini 'kan Kak Arsa udah sama Sakha.”


“Tapi, Tapi Kak Arsa itu Kakaknya Sakha, bukan Papanya Arsa!!” kesalnya membuat Nika menghembuskan nafas frustasi.


Fayyadh langsung menggendong Sakha, berusaha menenangkan anak laki-laki berumur enam tahun lebih tersebut. “Hei, nggak apa-apa, Papa bakal ada disini nemenin Sakha, oke?”


“Tapi Kak Nika?” tanya balik Sakha menatap takut ke arah kakak tersebut.


“Kan ada Papa, nanti biar Papa yang bicara sama Kak Nika, oke?” bujuk Fayyadh terus mencoba. Sakha mengangguk, semakin mengeratkan pelukannya dengan Fayyadh. “Ka, kita berangkat sekarang aja ya? Kamu udah ijin sama dokternya Sakha 'kan?”


Nika hanya mengangguk. Tak memiliki tenaga untuk mengeluarkan kata, sambil mendorong kursi roda milik Sakha wanita itu mengekori langkah Fayyadh. Mendengarkan pria itu bercerita untuk menghibur Sakha.  Ia terhenyak, mungkin jika keputusan Fayyadh berbeda saat enam tahun yang lalu, mungkin kini bungkam raut masam yang ia pancarkan, tapi senyum kebahagiaan dimana anaknya bisa memeluk ayah kandungnya.


“Nanti Sakha mau balon, banyak-banyak! Terus, nanti mau ketemu Om badut!  Terus nanti Sakha dapet kado nggak?” tanyanya.


Fayyadh mengangguk. “Papa bakal kasih apa pun yang Sakha mau, oke? Ya 'kan Nika?”


“Gimana Kak?”


“Jangan ngelamun terus, kamu langsung masuk mobil aja ya? Biar kursi rodanya saya masukkin, oke?”


“Makasih kak.”


“Canggung banget Nika, santai aja sama saya, ya?” pinta Fayyadh. “by the way, you look so beautiful with dress.” Nika terdiam memandang gaun putih yang dihadiahkan oleh Fayyadh. hanya ini gaun yang sesuai dengan dresscode yang ditentukan untuk birthday party Annika. entah kebetulan atau tidak, tapi setidaknya ia tidak perlu repot-repot membeli baju.


“YEAY AYO PAPA BURUAN KITA JALAN!!!!” lontar Sakha dari dalam mobil. Nika memandang Sakha lekat sebelum memutuskan duduk di samping kursi pengemudi, tak pernah terpikirkan olehnya bahwa hari yang selalu ingin ia hindari akan terjadi.


“SIAP!!!!!” sahut Sakha riang. “LETS GOOOO!!!!!”


...꒰🖇꒱...


Suara riuh terdengar, beberapa langkah lari beberapa anak-anak tampak menghiasi keramaian acara. Termasuk seorang gadis cantik yang berdiri di samping Nika sembari menggenggam erat balon dalam pegangannya. “Aunty, ini ulang tahun Annika 'kan?”


Nika mengalihkan pandangannya, sebelum mengangguk membenarkan. “Aunty? Aunty itu siapanya Papa?”


“Aunty? Cuma teman, kenapa?”


“Papa bahagia banget sama Sakha.” Annika memandang nanar ke arah Fayyadh yang tampak sibuk mendampingi Sakha berinteraksi dengan seorang badut. “Annika tau, Sakha pasti kangen sama Papanya. Tapi, jangan ambil Papa ya? Annika cuma punya Papa.”


Detik itu juga Nika membawa tubuh mungil itu ke dalam dekapannya, mengusap lembut surai halus milik Annika yang panjang dan tergerai. Ia meneteskan air matanya. Nika sadar, baik Fayyadh maupun dirinya hanya cerita masa lalu. Harusnya prinsipnya tidak goyah karena melihat interaksi pria tersebut bersama Sakha. “Maafin Aunty ya? Maafin Sakha juga. Aunty janji, Aunty nggak bakal ambil Papa kamu. Baik aunty sama Papa kamu, sudah selesai Ka?”


“Tapi, boleh kalau Annika minta satu hal?”


“Apa?”


“Jangan pergi dari Annika ya?”


“Pasti, Aunty janji! Aunty bakal selalu ada buat princess cantik satu ini!” jawab Nika kembali membawa Annika ke dalam dekapannya.


“So sweet banget sih!!!” lontar seseorang mengejutkan kedua perempuan yang tengah berpelukan tersebut.


“AUNTY PRIYA!!!!” ucap Annika riang, kini gadis itu memeluk Priya yang tampak anggun dengan balutan dress berwarna putih yang jadi dresscode acara pada hari ini.


“Hai Nika?” sapa Priya canggung. “Kabar lu gimana?”


“Baik,” jawab Nika.


“Entah gue yang merasa atau emang lu berubah, Ka?”


“Berubah gimana Ya?”


Wanita berkacamata itu menggeleng. “You not Nika, lu bukan Nika yang gue kenal.”


“Gue masih sama kali! Maybe, cuma keadaan yang maksa gue buat makin dewasa,” jawab Nika diakhiri tawa.


“Sorry Ka,” ucap Priya tak enak hati. “Lu nekat banget si dateng kesini!”


“Kak Fayyadh yang ngundang gue, nggak enak aja kalau gue nggak dateng,” jelas Nika.


Priya memberikan isyarat pada Nanny Annika yang berdiri tidak jauh dari mereka, “Tolong bawa Annika ke Fayyadh dulu ya? Saya mau bicara sama Nika,” pinta Priya dibalas anggukan oleh wanita berseragam itu. Annika melambaikan tangannya tanda perpisahan sebelum berlalu pergi menghampiri Papanya.


“Ada apa ya?” tanya Nika menatap ke arah sahabatnya semasa kuliah itu dengan bingung.


“Itu anak siapa?”


“Anaknya Mamih, adik Nika.”


Priya menatap Nika tak percaya. “Jangan bohong sama gue Ka! Keluarga besar gue dateng, dan dari tadi pada ngomongin soal muka adik lu yang persis kayak si Fayyadh.”


Nika terdiam. Mau mulutnya mengatakan tidak kenyataan memang tak dapat ia tampik. Tapi bukannya memang pria itu tak mengakui janin yang enam tahun lalu Nika kandung?


“Lu sama si Fayyadh nggak ada hubungan 'kan?”


“Nggak, cuma teman.”


“Sekalipun lu sama dia cuma temenan, gue minta lu jangan deket sama dia ya Ka?” pinta Priya menatap Nika penuh iba. “Gue nggak bakal bahas soal adik lu lagi! Tapi, gue rasa nggak mungkin lu lupain kejadian enam tahun lalu 'kan? Kejadian yang buat lu menghilang, dan tiba-tiba berhenti kuliah gara-gara berita tentang hubungan dan kehamilan lu terbongkar.”


“...gue yakin sekarang lu punya kehidupan yang lebih baik. Begitupun Fayyadh, jadi lu bisa 'kan jaga jarak sama dia?”


Nika tersenyum, membalas lambaian tangan Sakha yang tampak antusias bermain dengan Annika dan didampingi Fayyadh. “Gue nggak bodoh Priya. Tapi, lu udah coba ngomong itu ke Fayyadh? Kalau belum, sama aja bohong. Mau seberusaha apa pun gue ngejau—”


“LU YANG HARUS LEBIH TEGAS!” potong Priya kesal.


“Mungkin kehadiran gue disini ganggu lu ya?”


“Iya!”


“Sorry, tapi gue udah berusaha dan coba tegas ke Kak Fayyadh. Bahkan sahabat gue sendiri udah ngomong sama Fayyadh, tapi, gue rasa lu lebih tau sifat kakak lu, Ya.”


Priya mendengus, menatap tajam ke arah Nika. “Karena gue tau siapa dia! Karena gue tau seberapa brengseknya dia! Karena gue tau seberapa banyak tangis orang yang dengan bodohnya jatuh cinta sama dia!”


“...gue cuma berharap cukup liat lu sekali menderita, bisa 'kan, Ka?” tanya Priya penuh harap.


“Thanks buat perhatiannya, tapi, gue tau apa yang baik buat gue, Ya! Jangan khawatir, tapi lu bisa tolong fokus jaga Annika? Mau sehebat apa pun Kak Fayyadh ngurus dia, dia tetep butuh sosok ibu.”


“Gue bersyukur, lu nggak tau lebih dalam tentang busuknya keluarga gue Ka! Semoga, lu bisa ketemu sama seseorang yang nerima lu dengan tulus. Gue permisi!” pamit Priya langsung berlalu pergi tanpa mendengar jawaban Nika.


Wanita itu terdiam, selama enam tahun berlalu berapa banyak momen yang ia lewatkan? Berapa banyak berita besar yang tak ia dengar. Tak ingin berlarut ia menggelengkan kepala, ia tidak boleh memikirkan sesuatu secara berlebihan, kesehatannya bisa terganggu.


“KAK NIKA!!!” panggil Sakha heboh. Mendengar itu Nika langsung berjalan ke tempat dimana Sakha berada, di dekat stand berfoto yang sudah dihias dengan indah. “Sakha mau foto sama Papa sama Kak Nika boleh?” tanyanya.


“Tadi, Sakha liat beberapa orang pada foto disini Nika, jadi kamu mau nggak?”


“Kalau Sakha yang minta, Nika nggak bisa nolak Kak.”


Fayyadh mengangguk, menyuruh salah satu fotografer yang sengaja ia sewa hari ini untuk memotret mereka berempat. Sebuah senyum mereka terbitkan bersama ragam gaya Annika yang membuat rasa penasaran untuk Sakha.


“Oke ayo kita selfie, say Cheese!!!!”


“CHEESE!!!” sahut Annika dan Sakha antusias. Nika hanya bisa tersenyum tipis di dalam foto tersebut. Entah apa yang terjadi kedepannya ia hanya ingin bersama Sakha, untuknya itu sudah cukup dari bahagia.


Setelah sesi berfoto, Fayyadh tampak sibuk dengan ponselnya sembari tersenyum lebar.


“Papa, Sakha mau pulang!”


Nika hanya terdiam, berdiri di samping Sakha, tapi matanya menyipit ketika ia menyadari kehadiran seorang wanita yang bajunya tampak mencolok dan tidak sesuai dengan dresscode yang telah ditentukan, tapi satu hal yang membuatnya semakin penasaran itu adalah gaun yang sama. gaun yang dibeli Fayyadh bersamaan dengan gaun yang tengah ia kenakan.


✄  - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -- - - - -14-05-23𖠄ྀྀ