ABOUT YOU 1998

ABOUT YOU 1998
. .YOU & ME



...︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽...


...CERITA INI HANYA FIKTIF BELAKA, MOHON MAAF JIKA ADA KESAMAAN YANG HADIR TANPA DISENGAJA....


...INI HANYA CERITA FIKTIF JADI JANGAN SAMPAI TERBAWA KE DUNIA NYATA....


...SEKIAN TERIMAKASIH....


...______________________________________...


...—H A P P Y  R E A D I N G—...


...______________________________________...


PANDANGAN tajam seolah dirasakan oleh Nika, Adri maupun Deena terus menerus menatapnya sejak pertama ia menginjakkan kaki ke salah satu ruang yang biasa digunakan oleh BEM. “Lu berdua biasa aja liatnya,” sindir Fayyadh yang menyadari ketidaknyamanan Nika.


“LU BERDUA!” lontar Deena tajam. “Akhir-akhir ini makin deket, gue liat juga di status instagram tempo hari ke karnaval.”


Fayyadh menghembuskan nafasnya dalam. “Tempo hari gue sama Nika nggak jalan berdua, tau sendiri ada adek gue sama bokap Nika, dan lagi emang kenapa kalau gue sama Nika deket?” tanya balik Fayyadh.


“Lu sama dia dah jadian 'kan?” interogasi Adri kepada Nika. Nika hanya terdiam, masih takut terhadap seniornya itu.


“Mundur lu, Nika takut sama lu!”


“Buset dah dikira gue setan,” jawab Adri tak terima. “Ya emang lu mirip setan!” sahut Deena. “Nyambung ae lu nenek lampir!” balas Adri.


“Ribut mulu lu, jodoh nanti,” lontar Fayyadh.


“NAJIS!”


“OGAH!”


Nika maupun Fayyadh tertawa melihat respon Deena maupun Adri. “Gini deh tujuan lu pada pengen tau tentang status gue sama Nika apaan?”


“Gue sama nenek lampir taruhan, kalau lu sama Nika ampe pacaran yang kalah dapet hukuman,” jelas Adri.


“Jadi siapa yang apa?” tanya Fayyadh. “Maksud gue siapa yang nebak gue sama Nika jadian?”


“Kenapa? Beneran?“ tanya balik Deena tersenyum. “Please bilang kalau itu boongan!”


Fayyadh hanya menggelengkan kepalanya heran, melirik arloji di pergelangan tangannya sebelum beralih menatap ke arah Nika. “Urusannya udah selesai 'kan?” mendengar pertanyaan Fayyadh membuat Nika menganggukan kepalanya. “Gue sama Nika pamit dulu!”


“Mau ngapain lu berdua? Pacaran?” tanya Adri dengan senyum lebar.


“Pala lu! Gue mau bimbingan skripsi, si Nika ada kelas,” jawab Fayyadh. “Lu berdua cepet nyusul gue dah biar bisa wisuda bareng, ribut mulu kerjaanya,” timpal Fayyadh sebelum benar-benar berlalu pergi.


“Kak?” panggil Nika membuat Fayyadh menghentikan langkahnya. Kini mereka berdua berdiri di lorong dekat ruang BEM. “Apa?”


“Selamanya bakal begini terus?”


“Maksudnya?”


Nika menggeleng, tersenyum hambar sebelum pergi meninggalkan Fayyadh seorang diri. Pria itu menghembuskan nafasnya kasar meremas kasar cincin dalam genggamannya ia memejamkan matanya yang lelah.


“AH SIALAN!” umpat Fayyadh sembari memukul tembok di sampingnya.


“Santai masbro, cinta memang keras,” lontar Adri yang berdiri di pintu masuk ruang BEM. Fayyadh hanya mematung, otaknya menebak sudah sejak kapan temannya itu disana. “Tenang bang, gue baru berdiri disini waktu denger lu teriak tadi.”


Fayyadh menghembuskan nafasnya, duduk lemas bersandar pada dinding. “Bro! Lu kalau ada apa-apa cerita aja sama gue sambil ngopi, tapi lu yang bayar!”


“Plong kagak nambah stress gue!” jawab Fayyadh kesal.


“Bercanda elah, hidup lu serius amat dah! Ayo, sebelum lu bimbingan ngopi dulu. Ada yang mau gue tanyain sama lu!”


“Tanyain apaan?”


Adri tak menjawab memilih menyunggingkan senyumnya sebelum berlalu pergi. “BURUAN WOY!”


Dilain tempat Nika yang masih kesal dengan Fayyadh terus menerus mengomel sepanjang jalan menuju gedung dimana kelasnya nanti akan berlangsung. Ia juga bingung ada apa dengannya. Hembusan nafas terdengar, lebih persis seperti orang frustasi.


“NIKA!” panggil Tian maupun Priya bersamaan. Dengan reflek mendengar namanya disebut Nika menghentikan langkahnya, sembari tersenyum ia menghampiri kedua sahabatnya yang sudah bersiap masuk ke dalam gedung.


Priya merengutkan bibirnya kesal. “Lu kemana aja sih! Gue nungguin lu dateng tau nggak!” protesnya.


“Tau nih, Ka! Gue nemenin si Priya dua jam. Bayangin dua jam waktu berharga gue terbuang,” curhat Tian dibalas decakan sebal Priya. “Nggak ikhlas nggak usah nemenin kali!” sindir Priya tajam.


“Mulai lagi deh, ribut!” kesal Nika.


“Muka lu kenapa kusut amat,” tanya Tian menyadari raut wajah sahabatnya itu. Nika menggeleng. “Lu tadi nggak dianter sama Papih lu?” lagi Nika menggeleng menjawab pertanyaan Tian. “Kan bener Ya! Percuma lu nunggu dua jam ampe berlumut juga!”


Priya hanya bisa memasamkan wajahnya. Benar kata Tian. “Terus lu ke kampus naik apa?” tanya Priya lebih penasaran dibanding rasa kesalnya.


“Tadi, bareng sama Kak Fayyadh,” jawab Nika pelan.


“WHAT!!!!” lontar Tian heboh membuat Priya yang berdiri disebelah gadis itu terkejut bukan main.


“LEBAY LU!” omel Priya berulang kali mengusap dadanya. “Kok bisa?” lanjut Priya. “Nih ya, bang Fayyadh aja belum tentu mau ke kampus bareng gue dari Jakarta ke Depok, kok dia mau?”


“Lu ada hubungan sama dia?” tebak Tian tiba-tiba.


Nika tampak mematung sesaat sebelum menghembuskan nafasnya dengan sebal. “Pada kenapa sih? Tadi Kak Deena sama Kak Adri sekarang lu,” ungkapnya jengah.


“Aduh Nika lu tinggal jawab iya or nggak gitu aja ribet,” sindir Priya. “Lagian nih ya, kedekatan lu sama si Fayyadh tuh udah sampek kemana-mana belum aja lu tau!”


“Lu 'kan adiknya kenapa nggak nanya langsung aja?” jelas Nika masih bingung harus menjawab apa.


Priya berdecak kesal. “Andai lu tau, Si Fayyadh itu beda banget dari tampilan di kampus deh, demi Tuhan gue nggak boong!” Baik Nika maupun Tian memandang lekat wajah serius Priya. “Dan kalau gue boleh jujur gue menentang dengan keras hubungan lu sama dia kalau emang bener kalian jadian.”


“Ni lu ngomong begini karena nggak mau 'kan misi lu buat deketin Papihnya Nika gagal?” curiga Tian.


“Sumpah deh, gue nggak perduli soal itu. Yang terpenting mau Nika ataupun Lu, Tian, gue nggak mau dari kalian jadi pacarnya Si Fayyadh, titik!” pertegas Priya dengan suara menggebu.


“..Sumpah Nik, sekalipun lu jatuh hati sama dia gue harap lu kubur dalam-dalam, ini semua demi kebaikan lu!”


“Lu sakit ya Ya?” tanya Tian sembari tertawa. Priya memasamkan wajahnya berlalu pergi meninggalkan kedua sahabatnya, “TERSERAH TAPI GUE NGGAK BAKAL IKUT CAMPUR KALAU LU PADA BENERAN JATUH CINTA SAJA DIA!” melihat kepergian Priya membuat Tian berlari menyusul kepergian sahabatnya dengan wajah panik. “PRIYA TUNGGU WOI!!”


Sementara Nika hanya diam mematung mendengar pernyataan Priya yang berbeda dari biasanya. Gadis itu benar-benar serius kali ini, bahkan raut wajahnya berbeda dengan seriusnya Priya saat sedang bergosip. Menggelengkan kepalanya pelan Nika menepis pikiran anehnya. Mungkin ini hanya sedikit ujian bukan?


“Gue harus percaya sama Kak Fayyadh, itu kunci dalam sebuah hubungan, kepercayaan!”


...꒰🖇꒱...


Suara dentuman dari speaker terdengar, Nika yang merasa tidak memiliki perkerjaan dilapangan hanya terduduk di bawah pohon yang begitu rindang. Cuaca hari ini sangat terik, matanya menyipit melihat beberapa temannya dari divisi peralatan dan keamanan tampak melakukan tugasnya, termasuk Adri yang tampak berdiri di panggung mengetes suaranya dengan bernyanyi.


Bukannya malas, ia saat ini tengah mengatur nafas sambil ikut membantu menggunting beberapa kertas untuk acara doorprize yang akan diadakan di akhir acara. Tawanya terdengar ketika suara milik Adri terdengar fals.


“Udah lama?” tanya seseorang yang tiba-tiba saja duduk di sebelahnya. “Sini aku bantu,” tawarnya menggulung kertas yang sudah kecil. “Masih marah?”


“Nggak,” jawab Nika.


“Coba cerita ada apa?” tanya Fayyadh lembut. Nika mengatur nafasnya sebelum memberanikan diri menatap wajah Fayyadh lekat. “Hubungan kita ini bener 'kan kak?”


Fayyadh tersentak sebelum memandang balik wajah Nika penuh tanda tanya. “Okay, bisa dijelasin akar permasalahannya?”


“Tadi, waktu aku jalan ke kelas ketemu Priya sama Tian,” Nika menghentikan ucapannya menarik nafas dalam. “Mereka nanya tentang hubungan aku sama kamu, dan intinya Priya nggak suka kalau kita sampai pacaran.”


“Kamu bilang ke Priya kalau kita pacaran?” Tanya Fayyadh takut.


Nika menggeleng membuat Fayyadh menghembuskan nafasnya lega. “Bukannya kamu yang bilang jangan kasih tau siapa-siapa tentang kita?”


“Good girl!” puji Fayyadh mengusap lembut pipi Nika.


“Kita mau sampai kapan begini? Maksud aku kit—”


“Ini alasan kamu marah tadi pagi?” tanya balik Fayyadh memotong ucapan Nika. Gadis itu mengangguk. “Kita baru aja mulai, sebaiknya kita rahasiain ini dulu sampai waktunya pas, bisa 'kan?” Fayyadh menatap manik mata Nika penuh harap.


Dengan hembusan nafas berat Nika mengangguk. “Jangan lama-lama ya, aku capek kalau harus nyari alasan kenapa aku sama kamu deket tapi kita nggak punya status.”


“Kamu tuh ada-ada aja tau nggak, lebih capek lagi kalau kita kasih tau mereka tentang hubungan kita. Dengerin, mereka cuma pengen tau boro-boro perduli ke kita, ngerti?” Nika mengangguk membuat senyum Fayyadh mengembang. “Pacar aku nurut banget sih, gemes banget.”


“Jangan gombal!” lontar Nika.


“Masa nggak boleh gombal ke pacar sendiri, kan aku suka liat pipi kamu merah, lucu!” goda Fayyadh membuat Nika memukul lengan pria tersebut.


“..tuh 'kan salting!”


“KAK FAYYADH!!!” kesal Nika memandang Fayyadh kesal. “Nika, semalem 'kan kita udah buat kesepakatan jangan panggil aku ‘kak’ kalau cuma ada kita berdua, oke?”


“Dimaafkan cantik. Mau pulang nggak? Kalau ke-sorean nanti kita kejebak macet,” tawar Fayyadh.


Nika melirik arloji dipergelangan tangannya. “Gladi resiknya belum selesai, nggak apa-apa kalau kita pulang?”


“Tugas kita udah selesai, nih kertasnya dah selesai aku gulung. Tugas kita yang asli tuh nanti diakhir acara, Ayo, kalau kamu ragu kita ijin ke Adri!” ajak Fayyadh bangkit berdiri dan mengulurkan tangannya untuk Nika.


Tanpa ragu Nika menerima uluran tangan itu sembari tersenyum. “Belum makan ya? Lemes amat,” ungkap Fayyadh melihat Nika yang limbung.


“Tau aja,” jelas Nika. “Pulang mau sekalian makan nggak?” tawar Fayyadh.


“Nggak, kata kamu kalau kita ke-sorean nanti macet, aku mau makan dirumah aja,“ Jawab Nika menolak tawaran Fayyadh. “Bukan berarti aku nggak mau makan bareng kamu ya!”


“Kirain bosen makan bareng aku,” sindir Fayyadh membuat Nika terkejut bukan main. “Nggak gitu ih!”


Fayyadh hanya tertawa. “Iya aku paham, nanti habis event selesai kita makan mie ayam, mau?”


“MAU!!!” jawab Nika penuh semangat.


“Jadi cemburu aku,” lontar Fayyadh membuat Nika menatap kekasihnya penuh tanya. “Pacar kamu itu aku atau Mie Ayam?”


“Kamu cemburu sama Mie Ayam?”


“Kalau iya aku gila dong!” jawab Fayyadh diakhiri tawa. “Tapi kalau boleh jujur aku pengen jadi Mie ayam aja biar bisa bikin kamu bahagia.”


“Mulai deh,” ucap Nika sementara Fayyadh hanya tersenyum menatap wajah kekasihnya itu dari samping. “Terimakasih sudah lahir ke dunia Annika.”


Nika terdiam mendengar ucapan Fayyadh sementara pria itu sudah berjalan terlebih dahulu menghampiri Adri. “WOY ADRI! DRI! BERHENTI DULU!!!”


“Apaan ganggu ae lu!” kesal Adri.


“Gue ama Nika mau cabut duluan, takut kena macet,” jelas Fayyadh membuat Adri berdecak. “Cielah balik tinggal balik, lagian Depok-Jakarta mah kagak semacet Jakarta-Depok,” jawab Adri.


“Tetep aja, namanya jaga-jaga.”


“Balik bareng lagi lu berdua? Udah ngapa tinggal bilang lu jadian aja ribet bener,” protes Adri membuat Fayyadh mendelik takjub.


“Lah siapa lu ngatur,” ucap Fayyadh balik. “Lagian gue mau ke Jakarta mau ambil laptopnya si Priya, laptop gue lemot bener mau ngetik Skripsi juga.”


“Buset udah nyampe mana lu? Gue ngajuin judul aja belum diacc sama tuh dosen!” curhat Adri mengasihani nasibnya.


“Mangkannya nyicil kayak gue dari semester lima, biar bisa lulus cepet, lu sih buang waktu mulu kagak jelas,“ ungkap Fayyadh menyombongkan diri.


Adri berdecak kesal. “Pergi aja lu makin lama makin buat gue iri. Lain kali dah gue mampir kos-an lu mayan nginep gratis.”


“Lu dateng ke gue ada perlunya doang.”


“Ya itu artinya lu temen gue bro! Istilahnya tempat gue pulang,” jawab Adri menyunggingkan senyum.


“Najis!”


“Sialan lu Yadh, pergi lu!” usir Adri kesal. Sementara Nika yang baru saja sampai melihat perdebatan kedua seniornya itu dengan tatapan bingung. “Ka, lu beneran belum jadian ama ni medusa versi cowok?” tanya Adri sedikit menyindir Fayyadh.


“Kiasannya kagak ada yang lain gitu buat gambarin gue?” protes Fayyadh tak terima.


Adri tak menggubris masih menunggu jawaban dari Nika. “Gimana Ka?”


“Udah ngobrol ama lu nambah buang waktu!” putus Fayyadh ketika melihat Nika hendak membuka suara. “Suruh siapa ganggu gue konser,” jawab Adri.


“Konser suara lu ngalahin knalpot rx-king noh!” sindir Fayyadh membuat Adri siap mengeluarkan kata mutiara.


“AYO KA LARI KALAU LU KAGAK MAU LIAT BARONGSAI NGAMUK!” ajak Fayyadh menarik tangan kekasihnya itu untuk berlari menjauh.


Fayyadh melirik ke belakang sedikit menunjukkan raut wajah penuh ejekan yang semakin membuat emosi Adri memuncak. Pria itu tertawa sementara Nika terdiam menikmati setiap waktu yang terasa melambat ketika melihat tawa Fayyadh terbit.


“Udah Ka, gue capek!” ungkapnya melepaskan genggaman tangan dan berhenti bersandar pada salah satu dinding pos jaga di area parkir. “Kamu mau minum?” tawar Nika menyerahkan botol minum miliknya. Fayyadh mengangguk, langsung memindahkan isi air dalam botol itu ke dalam perutnya.


“Kamu sih nyari gara-gara sama Kak Adri,” ucap Nika.


“Seru! Kapan lagi liat barongsai marah,” jawab Fayyadh diakhiri tawa. “Nggak boleh Rasis!” peringat Nika.


“Iya sayang, aku bercanda, ini!” Fayyadh menyerahkan kembali botol dalam genggamanya pada sang pemilik. “Ayo pulang!” ajak Fayyadh mengenggam tangan Nika lagi. “Kapan-kapan kita nonton yuk!”


Nika yang baru saja selesai dipasangkan helm oleh Fayyadh menyatukan alisnya. “Kapan?”


“Kalau aku selesai skripsi gimana? Jangan deh, kelar sidang?” tawarnya. Nika hanya mengangguk. “Ayo naik! Udah mendung. Nggak lucu kalau nanti kamu kehujanan, bisa kena omel Om Khalil nanti.”


“Jangan lebay deh, Papih nggak segalak itu.”


Fayyadh hanya tertawa. “Bener juga,” jawabnya. Tak lama suara deru mesin motor milik Fayyadh terdengar kendaraan roda dua itu perlahan keluar dari area kampus bersama semilir angin yang menyapa lembut wajah keduanya. “Maaf ya aku nggak bisa ngajak kamu jalan atau anter jemput kamu naik mobil,” ungkap Fayyadh.


“Kamu tuh kenapa bahas itu lagi sih!” tanya Nika kesal. “Mau naik apapun itu asal sama kamu aku mau-mau aja kok.”


“WOY CEWEK GUE DAH BISA GOMBAL WOY!” teriak Fayyadh membuat Nika dengan reflek memukul punggung pria tersebut. “Ditunggu ya neng gombalan lainnya, abang salting soalnya.”


“Lebay kamu!”


“Love you too!!”


“Gila!”


“FAYYADH GILA KARENA UDAH JATUH CINTA SAMA ANNIKA!!!!” Dan detik selanjutnya Nika hanya bisa menyembunyikan wajahnya di pundak lebar milik Fayyadh. Teriakan Fayyadh berhasil membuat beberapa pengguna jalan melihat ke arah mereka.


Sementara sambil mengendarai motornya Fayyadh ikut tersenyum geli. Bersama Nika hatinya terus bermekaran dengan ribuan kupu-kupu yang terus bergejolak dalam perutnya.


“I love you, Annika,” bisik Fayyadh mengecup punggung tangan milik Nika yang melingkar apik di pinggangnya.


“Aku takut,” bisik Nika membuat Fayyadh memelankan laju motornya. “Takut kenapa?”


“Kisah kita terlalu indah, terasa fatamorgana buat hubungan dalam dunia nyata,” jelas Nika. “Aneh aja.”


“Wajar, kamu baru kali ini pacaran. Jadi, aku bakal lakuin yang terbaik buat kamu Ka. Aku janji!” jawab Fayyadh seolah obat penenang untuk Nika.


Nika mengangguk. “Bisa cintai aku sewajarnya? Aku nggak mau diantara kita ada yang terluka cuma gara-gara cinta yang berlebihan,” usul Nika.


Fayyadh hanya terdiam kembali melajukan kendaraannya kali ini lebih kencang membuat Nika mau tak mau melingkarkan tangannya lebih erat. Nika mengerti, Fayyadh menolak ucapannya tadi.


Hingga roda motor itu terhenti pada depan rumah milik Nika Fayyadh masih membungkam mengabaikan ucapan Nika yang ia lontarkan sepanjang jalan. “Maaf.” lagi, Fayyadh menghembuskan nafasnya berat sebelum mengeluarkan sesuatu dalam saku jaketnya.


Meraih jemari Nika sebelum memakaikan benda itu pada jari kekasihnya. “Tadi pagi aku mau kasih ini ke kamu, tapi kamu keburu marah. Dipake ya, nyampe aku bisa kasih cincin yang lebih dari ini,” ucap Fayyadh lembut.


“It's so beautiful, kamu kapan beli ini?” tanya Nika masih memandang cincin di jemari kirinya dengan mata berbinar.


“Kemarin, aku emang belum bisa beli yang lebih mahal lagi, mungkin kamu bisa beli cincin kayak gitu lima, tapi mohon diterima ya, aku janji suatu saat aku bakal kasih yang lebih baik,” jelas Fayyadh, Nika menggelengkan kepalanya tak setuju dengan ucapan Fayyadh. “Aku suka, jadi jangan ngomong gitu lagi ya. Whatever soal price, tapi maksud dan effort kamu yang bikin aku kagum. Makasih ya?”


Fayyadh tersenyum langsung membawa masuk Nika dalam dekapannya. “Sama-sama sayang.”


“EKHEM!” mendengar suara berat itu membuat Fayyadh maupun Nika melepaskan pelukan mereka dengan terkejut.


“Sore, Om Khalil,” Sapa Fayyadh.


“Nggak boleh peluk-pelukan,” tegur Khalil.


“Maaf Om, Fayyadh tadi bahagia aja, oh ya Om besok jangan lupa dateng ke acara event ya, mulainya sore,” ucap Fayyadh dibalas anggukan oleh ayah kekasihnya tersebut. “Kalau gitu Fayyadh permisi dulu Om, sore!”


“Sore juga,” jawab Khalil.


“HATI-HATI!” peringat Nika dibalas klakson oleh Fayyadh. “Papih besok beneran mau dateng? Bukannya mau ada meeting?”


Khalil menggeleng, menatap lurus manik mata putrinya. “Papih bakal ganti waktu, Papih mau support kamu seribu persen!” jelas Khalil. “Papih kebiasaan lebay, persis kayak Kak Fayyadh.”


“Kamu beneran serius sama Fayyadh?” tanya Khalil meragu.


“Kenapa Papih ngomong gitu?” tanya balik Nika heran.


Khalil hanya menggelengkan kepalanya heran, raut khawatir dengan ketidaknyamanan tercipta dengan jelas dalam wajahnya.


“Kamu sudah dewasa Nika, Papih cuma harus mengingatkan dan bimbing kamu, kamu tetap anak kecil di mata Papih.”


Nika terdiam. Kalimat Khalil berhasil membuatnya termenung seolah ada makna lain dalam setiap kata yang terselip disana.


“Pih, Nika sayang sama Papih!” ucap Nika tiba-tiba langsung memeluk yang sudah memasuki kepala empat itu.


✄  - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -- - - - -11-04-23𖠄ྀྀ