ABOUT YOU 1998

ABOUT YOU 1998
. .THE ENDLESS CONFUSION



...︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽...


...CERITA INI HANYA FIKTIF BELAKA, MOHON MAAF JIKA ADA KESAMAAN YANG HADIR TANPA DISENGAJA....


...INI HANYA CERITA FIKTIF JADI JANGAN SAMPAI TERBAWA KE DUNIA NYATA....


...SEKIAN TERIMAKASIH....


...______________________________________...


...—H A P P Y  R E A D I N G—...


...______________________________________...


SEBUAH tawa terdengar dari seorang wanita yang tampak berdiri menghadap sudut ruang, dengan tangan kiri ia masukkan ke dalam saku jas putihnya, tangan kanannya bergerak terus menggeser slide gambar pada sebuah aplikasi.


“Ini waktu kerja, bukan buat main handphone,” tegur seseorang mengagetkan wanita tersebut.


“Dokter Arsa! Ngangetin aja tau nggak,” jawabnya memejamkan mata sembari mengelus dada miliknya, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya apalagi nafas hangat Arsa tadi yang terasa di telinganya. “Dokter udah liat instagram belum?”


“Kenapa?”


Menyodorkan benda pipih di tangannya dengan cekatan Kania menggeser slide demi slide agar Arsa bisa melihat apa yang membuatnya tertawa. “Semalam ada acara dari anak Koas, ya acara perpisahan gitu, tau nggak? Banyak suster yang bilang acaranya kurang meriah soalnya nggak ada bintang utama kita,” jelas Kania.


Arsa hanya diam, sebelum akhirnya merebut handphone milik Kania. Di slide terakhir ada dua orang yang amat ia kenal, mereka tampak mengobrol.


“Dokter Arsa tau nggak siapa bintang utamanya?” tanya Kania tak memperdulikan barang pribadi miliknya masih di tangan Arsa. “Dokter Arsa jawabannya!” sahutnya riang.


“Ini, saya kembalikan handphone kamu,” ucap Arsa dengan terburu.


“Eh Dokter Arsa mau kemana? Tungguin saya!!!” wanita itu bersusah payah menyusul langkah lebar milik Arsa, sementara tangannya sibuk memasukkan handphone ke dalam saku kanan jas dokter miliknya, karena kurang hati-hati, benda persegi panjang tersebut terjun bebas hingga membuat dunia Kania terhenti detik itu juga, ditatapnya kepergian Arsa yang semakin jauh tanpa mendengar teriakannya.


Arsa, terus berjalan, bersama pikirannya yang mengacau, meski sedikit buram, meski mereka bukan poin dalam foto tersebut dapat ia lihat, bahwa senyum di wajah Sakha adalah bukti bahwa kesehatan pria kecil itu mulai membaik.


Tapi, bukan itu masalahnya. Dengan tubuh yang semakin kurus dan wajah lelah adalah pukulan terbesar Arsa ketika melihat sosok Nika. Hampir seminggu pria itu meninggalkan dua orang yang amat ia cintai. Hampir seminggu ia sengaja tak pernah membuka handphone agar niatnya tak goyah.


Hari ini, semua berantakan, perasaanya rindunya menghancurkan ego yang selama ini ia pendam.


...꒰🖇꒱...


“Kak Nika?” Panggil Sakha lesu, menatap kakaknya dari atas ranjang rumah sakit.


“Why?”


“Masih lama? Sakha bosen, mau jalan-jalan,” ungkapnya berterus terang.


Nika menggeleng melirik tumpukkan halaman yang masih harus ia terjemahkan. Sementara dengusan kesal terlontar dari bibir mungil Sakha. “KAK NIKA NGGAK SERU! KALAU MASIH ADA KAK ARSA SAKHA PASTI UDAH JALAN-JALAN KELILING RUMAH SAKIT SEKARANG!”


“Sakha, Kak Nika 'kan lagi kerja, sekarang Kak Nika cuma bisa kerja remote, kamu sabar dulu ya sampai kak Nika nemuin perawat buat kamu,” bujuk Nika menghampiri pria kecil tersebut.


“Sakha maunya sama Kak Nika, nggak mau sama orang lain, titik!”


“Kalau gitu ijinin Kak Nika kerja lagi ya? Biar bisa ajak Sakha jalan-jalan.”


“Tapi, janji ya habis kak Nika selesai kita jalan-jalan?” tanya Sakha tak percaya, Nika tersenyum mengangguk sebelum berakhir memeluk gemas pria kecil tersebut.


Kembali melangkah, ke salah satu space kosong di dekat jendela, Nika mendaratkan bokongnya pada sebuah karpet kecil dimana beberapa lembar kertasnya tampak berserakan. Hari ini, ia harus menyelesaikan permintaan client-nya, menerjemahkan runtutan surat berkata bahasa Indonesia ke dalam bahasa Inggris. Wanita itu mendengus, pikirannya benar-benar diuji sekarang.


Tangannya sibuk mengetik dengan pikirannya yang langsung men-translate setiap kata yang ia baca, berulang kali ia me-revisi memastikan tidak ada kalimat typo, dan berulang kali ia memastikan bahwa grammar miliknya sudah benar.


“Ayo Nika semangat, sedikit lagi kamu kelar!!!” ucapnya tersenyum lebar, mencoba meyakinkan dirinya sendiri.


Sebelum kembali ke lembaran kertas, matanya beralih mendapati suara dengkuran kecil dari atas. Disana, Sakha tampak terlelap sembari memeluk mainan leggo miliknya. Nika menyunggingkan senyum.


Mungkin, jika Sakha tak hadir dalam hidupnya ia akan terus menjadi gadis manja, menjadi gadis yang melakukan sesuatu sesukanya.


Bukan Mamih yang terlalu jahat, tapi ketegasan wanita itu berhasil menyadarkan Nika bahwa dirinya punya tanggung jawab atas keputusannya enam tahun lalu, mempertahankan Sakha untuk ia besarkan.


“Terimakasih ya Sakha, Terimakasih, Mommy bakal berusaha buat hidup kamu lebih baik lagi, jadi tolong bertahan sedikit lagi untuk Mommy, dan wujudin semua dream kamu,” lirih Nika menatap hangat anak semata wayangnya tersebut.


Tak lama suara ketukan pintu terdengar, Nika yang tengah melamun merancang destinasi wisata bersama dengan Sakha terburu-buru bangkit berdiri, hingga ia tak sengaja tersandung akibat tali tas miliknya.


“Bang Arjun?”


Pria dihadapannya terdiam mengamati Nika. “Lu abis jatuh? Mana yang sakit?”


“Nggak kok bang, cuma kesandung dikit aja,” balas Nika tersenyum lebar membuat Arjuna tertawa.


“Lu itu kebiasaan, kalau ada Arsa disini pasti udah dijitak sama tuh bocah,” ungkap Arjuna melangkah masuk.


Nika hanya tertawa sedikit terburu membereskan beberapa lembar kertas dan laptop miliknya yang masih berantakan di atas sofa kecil di ruangan tersebut.


“Banyak banget kerjaan lu, lagi ngejar setoran?”


Arjuna mengangguk. “Kalau lu perlu apa-apa bilang aja ke gue Ka, jangan sungkan.”


“Pasti sungkan si bang,” jawab Nika berterus terang. “Nika udah banyak repotin Arsa, dari tenaga dia bahkan sampe urusan rumah sakit Sakha, jadi cukup di Arsa aja, bang Arjuna fokus aja sama rencana pernikahannya.”


“Nggak bisa gitu Ka, gimanapun lu udah gue anggep sebagai adik sendiri. Masa seorang abang tega liat adiknya banting tulang cari nafkah?” bela Arjuna meluruskan. “Gimana kondisi Sakha? Lu harus pindah ke kamar yang lebih baik lagi, Ka.”


“Nika rasa disini udah cukup Ka, cuma ini yang di cover sama asuransi Nika, lagipula kata dokter kondisi Sakha udah mulai baikan, jadi aman kok!”


Pria di samping Nika menghembuskan nafasnya, sulit untuknya membujuk Nika. Dipandangnya penjuru ruang rawat kelas satu tersebut dengan seutas senyum ia kembali melontarkan pertanyaan.


“Selama ini lu tidur disini?” tanya Arjuna menunjuk sofa yang tengah ia duduki.


“Kadang disini, kadang tidur di ranjang sama Sakha, atau di lantai. Arsa juga kadang gitu, alhasil dia minta di kerokin gara-gara masuk angin,” jawab Nika diakhiri tawa sumbang.


“Kebetulan bahas bocah batu, ada yang mau gue kasih ke lu,” lontar Arjuna tiba-tiba membuat Nika mengerutkan alisnya.


Pria itu tampak mengeluarkan sesuatu dari saku jas santai miliknya, sebuah kotak persegi kecil dengan beludru bewarna merah. “Cincin? Bang Arjun mau ngelam—”


“Nggak mungkin gue mau lamar lu, Ka! Gimana nasib calon gue, lagian keburu abis duluan gue sama Arsa,” potong Arjuna cepat mengklarifikasi.


“So?”


“Gue nggak yakin ini buat siapa tapi satu rumah yakin this for you!”


“Satu rumah? Arsa pulang ke rumah pondok indah?” tanya Nika terkejut, semenjak pria itu berhasil mendapat gelar dokter dan perbedaan pendapatnya dengan Bunda membuat Arsa tak pernah pulang kerumah meskipun Arjuna memaksanya.


“Kaget ya? Sama gue juga,” sahut Arjuna. “malam sebelum Arsa berangkat, tiba-tiba dia pulang kerumah, nggak ada angin, nggak ada hujan, langsung masuk kamar ambil koper, terus mau cabut lagi, tapi Bunda cegat dia sambil marah-marah.”


“...lu tau Arsa gimana 'kan Ka? demi bela lu, demi yakinin Bunda kalau lu nggak seburuk yang Bunda sangka tuh bocah cosplay malin kundang,” jelas Arjuna di akhiri tawa.


“Maaf ya bang, keluarga Bang Arjun berantakan gara-gara Nika.”


Arjuna menggeleng. “Ngomong apaan lu Ka? Gue juga setuju, Bunda terlalu ter-provokasi sama keluarga besar dia buat nolak lu jadi calon menantunya, apalagi cuma gara-gara kesalahan lu di masa lalu, terlalu kekanak-kanakan menurut gue.”


“...back to topic. Gue nemuin ini di atas meja belajar Arsa, lu tau figura foto lu sama Arsa pas wisuda dia 'kan? Nah dia taro di belakang situ. Gue percaya tuh bocah pulang pasti nggak cuma buat ambil koper aja.”


“...jadi, gue serahin ini ke lu, daripada berdebu di kamar dia sampai kapan tau, sayang Ka.” Arjuna menyelesaikan penjelasannya sambil menyodorkan kotak beludru tersebut. Sebuah senyum seketika terbit di wajah Nika.


“Kalau begitu, Nika nggak bisa nerima ini.”


“Kenapa?”


“Belum jelas siapa penerima cincin ini, jika sekalipun Nika orangnya maka Nika pengen Arsa sendiri yang ngasih cincin ini ke Nika, bukan dari orang lain, Bang.”


Arjuna menyunggingkan senyumannya, kembali memasukkan kotak beludru itu ke dalam saku jas miliknya sambil menatap Nika bangga. “Adik gue nggak perjuangin orang yang salah Ka.”


“Salah, Arsa buang waktu dia cuma buat perjuangin ****** kayak Nika.”


“Berapa kali gue harus bilang sama lu, setiap orang punya masa lalu, baik lu maupun gue, mau itu baik atau buruk, Ka! Setiap orang bisa berubah dengan belajar tentang kesalahan di masa lalu 'kan? Dan lu udah nerapin itu dalam hidup lu!” perjelas Arjuna menggebu-gebu.


“Setiap orang terlalu gampang buat inget kesalahan di masa lalu bang,” sahut Nika tersenyum hambar.


Baik Arjuna maupun Nika akhirnya terdiam, membiarkan detik jarum jam terdengar memecah keheningan.


“Lu nggak berhak buat nyiksa diri lu sendiri cuma karena omongan orang lain, Ka.”


“...dan gue juga nggak tau setegar apa lu bertahan sampai detik ini, gue cuma bisa dukung lu, dukung setiap keputusan lu. Sorry kalau gue maksain pendapat gue ke lu,” ucap Arjuna tak enak hati, Nika hanya mengangguk.


“Ada seseorang yang harus lu temuin.”


“Siapa?”


“Lu nggak akan pernah tau kalau lu nggak temuin dia, Ka,” jawab Arjuna serius.


Dengan ragu Nika bangkit berdiri. “Tenang, Sakha biar gue yang jagain.”


“Thanks Bang.” Nika melangkah pergi, dengan ribuan pertanyaan yang menghantui, bersama detak jantung yang ikut berpacu tak karuan, ia berulang kali meremas ujung bajunya menetralkan kegugupan, wanita itu terdiam, di ambang pintu ruang rawat.


“Bunda?” panggilnya berjalan mendekat ke arah wanita berumur dengan hijab panjang menjuntai tersebut.


Yang dipanggil membalikkan badan, wajahnya sedikit teduh dibanding saat pertemuannya terakhir dengan Nika. Tangannya langsung ia tarik sebelum Nika sempat mencium punggung tangan miliknya.


“Saya nggak mau terlalu lama bertemu kamu, malas buang energi,” peringatnya. “Jadi, saya bakal to the point.”


“Gimana perasaan kamu ke anak saya Arsa?”


Nika terhenyak, tak percaya atas pertanyaan tersebut, dengan tubuh kaku dan bibir yang semakin merapat ia hanya diam memandangi wanita dihadapannya dengan kikuk. Tapi tatapan bosan dari Bunda berhasil membuat beberapa kalimat mencuat begitu saja, bahkan mengejutkan Nika sendiri.


✄  - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -- - - - -26-05-23𖠄ྀྀ