
...︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽...
...CERITA INI HANYA FIKTIF BELAKA, MOHON MAAF JIKA ADA KESAMAAN YANG HADIR TANPA DISENGAJA....
...INI HANYA CERITA FIKTIF JADI JANGAN SAMPAI TERBAWA KE DUNIA NYATA....
...SEKIAN TERIMAKASIH....
...______________________________________...
...—H A P P Y R E A D I N G—...
......______________________________________......
SUARA dentuman musik terdengar penyanyian lagu Indonesia Raya adalah salah satu sesi awal dalam event ini. Nika disini, berdiri tak jauh dari panggung menatap Adri yang tengah bersiap akan melakukan sesi penyambutan sebagai ketua dari event ini.
“NIKA!!!” panggil Tian semangat berlari ke arah sahabatnya itu.
“Santai Ti, jangan lari-lari,” peringat Nika. Tian mendengus, “telat lu! Gue dah nyampe baru lu bilang!”
“Lagian ada apaan si nyampe lu lari-lari segala?” tanya Nika heran.
“Aduh, ya gue semangat mau dukung lu lah. Nih ya gegara ini Event waktu lu buat gue tuh berkurang tau nggak,” protes Tian. “Pokoknya gue nggak mau tau kelar event lu harus ikut gue jalan-jalan!”
Nika tertawa mengangguk pasrah. “Priya mana?”
“Dia nggak bilang sama lu?”
“Bilang apaan?” tanya Nika bingung.
“Priya chat gue, dia ada urusan gitu ke butik sama nyokap dia, katanya fitting baju,” jelas Tian. “Lagian lu aneh banget ada gue disini yang dicari malah tante julid!”
“Ya 'kan lu sama Priya itu kayak perangko sama surat, nggak bisa dipisahin,” jawab Nika.
“Najis banget gue,” lontar Tian tak terima.
“By the way Ti, lu disini sampai acara kelar?”
Tian mendelik. “Gila. Yang ada gue nggak bisa masuk rumah gegara pagernya udah dikunci, paling gue balik sebelum maghrib.”
“Apa rasa balik jam segitu, the guest star-nya aja belum muncul.”
“Nika gue tuh masih waras ya, lagian 'kan gue bisa liat kali di youtubenya BEM santai,” jelas Tian.
“Terserah lu deh!”
“Yaudah gue mau cari spot bagus dulu,” pamit Tian. “Buru-buru amat,” sindir Nika. Tian tersenyum melirik ke arah belakang. “Bye gue nggak mau jadi orang ketiga, bye Nika! Bye kak Fayyadh!!”
Mendengar nama Fayyadh disebutkan membuat Nika menengok ke arah belakang. Benar saja, pria itu berjalan menghampirinya dengan seutas senyum. “Kok nggak siap-siap?” tanya Nika.
“Siap-siap? Mau ngapain?”
“Habis Adri 'kan kamu ngasih sambutan.” Fayyadh mengangguk mendengar ucapan Nika, matanya masih fokus menatap gadis itu. “Nanti mau aku sebut nggak?”
“Ngapain disebut? Mau dapat bantuan dari pemerintah?” gurau Nika langsung mendapat decakan sebal oleh Fayyadh. “Aku bercanda sayang, lagian kamu aneh, kamu yang bilang kita backstreet aja!”
“Aku 'kan mau ngetes kamu Annika,” jelas Fayyadh.
“Oh ngetes doang,” ucap Nika kesal.
“Cie ngambek cie!” goda Fayyadh.
Nika menaruh tangannya dipinggang, dengan wajah menantang dia berujar. “SIAPA YANG NGAMBEK?”
Fayyadh tertawa membuat Nika semakin kesal. “Tuhan nggak adil, masa kamu ngambek aja keliatan lucu, kalau cowok lain liat gimana?”
“GOMBAL MULU! PERGI! PERGI! PERGI!” usir Nika mendorong Fayyadh menjauh pergi.
“Iya iya aku pergi, nanti perhatiin aku baik-baik ya diatas,” pinta Fayyadh. “Iya iya sono buruan!”
Fayyadh melambaikan tangannya sebelum berjalan mendekati Deena. Adri sudah diatas panggung, mengucapkan kata terimakasih dan permintaan maaf. Tak lama kini giliran Fayyadh, pria itu sempat tersenyum ke arah Nika membuat gadis itu menyembunyikan wajahnya yang memerah.
Rasa salah tingkah Nika buyar mendapati handphonenya terus menerus berbunyi, dengan sedikit heran ia melihat layar handphone miliknya. Sebuah nomer tak dikenal menghubunginya. Dengan kebingungan ia menggeser ikon telfon berwarna hijau tersebut. “Halo?”
Suara di sebrang sana membuat Nika terdiam, senyumnya yang tadi mengembang kini tampak luntur. Seolah dunianya terhenti Nika berlari menuju ke luar area kampus sambil meneteskan air mata. Mengabaikan setiap sapaan yang diberikan beberapa orang yang mengenalinya. Sedikit kebingungan ia terus mencoba menghentikan beberapa angkutan umum.
“NIKA!!!”
Nika menengok ke sumber suara mendapati Fayyadh yang tampak mengatur nafasnya. Gadis itu langsung berhambur kedalam tubuh Fayyadh menangis sejadinya disana. “Ka? Ada apa?”
“Papih, Papih kecelakaan,” jelas Nika terus terisak. Fayyadh yang terkejut sedikit kebingungan ditambah tangisan Nika yang tak kunjung berhenti. “Kamu tunggu disini, aku ambil motor. Sekarang Papih kamu ada dimana?”
“Ru-rumah sakit nggak jauh dari ka-kampus.” Fayyadh mengangguk. Hanya satu, hanya satu rumah sakit di sekitar kampus mereka. Melepaskan pelukan Nika, Fayyadh berlari menuju parkiran. Ia terus berusaha mengatur emosinya, saat ini ia harus menjadi penenang dan tameng untuk kekasihnya tersebut.
...꒰🖇꒱...
“Kamu mau sampai kapan begini terus?” tanya Fayyadh melihat Nika yang masih melamun menatap halaman rumahnya dari jendela kamar. “Nika, kamu daritadi sudah coba hubungi Mamih kamu, tapi belum ada tanggapan, kamu istirahat ya?”
Nika masih setia mematung berharap wanita yang pernah menemani Khalil selama lima belas tahun itu menelponnya kembali.
“Tadi Eyang kamu juga udah konfirmasi kalau bakal nerusin kabar duka itu,” lagi, Fayyadh tak gentar.
Lambaian bendera kuning itu semakin membuat Nika meneteskan kembali air matanya. Beberapa jam yang lalu rumah ini ramai, tapi sekarang terasa hampa bersama tubuh kaku Khalil yang langsung dikebumikan selepas maghrib tadi.
“Kenapa Papih ninggalin Nika ya?” tanya Nika sendu. “Menurut kamu, Nika belum bisa jadi anak yang baik ya?”
“..tapi, kalau difikir bener juga. Nika egois, Nika sumber utama Papih sama Mamih cerai.”
“Kamu jangan ngelantur,” peringat Fayyadh.
“Itu kenyataannya. Kalau aku nyusul Pap—”
“KAMU NGOMONG APA HAH?!” bentak Fayyadh bangkit berdiri. Nika tersenyum bersama tetes air matanya yang semakin deras. “ULANGIN SEKALI LAGI!” Nika meringis, merasakan cengkraman erat di dagunya. Kini ia tampak gemetar ketakutan melihat kekasihnya tersebut.
“Ma-maaf,” lirihnya terus menerus.
Fayyadh melembutkan tatapannya, menatap Nika penuh iba sembari menghapus jejak air mata yang tersisa. “Nika, aku bakal ada disamping kamu, tapi bisa janji satu hal?”
“Apa?” tanya Nika balik menatap tatapan milik Fayyadh.
Pria itu tak menjawab langsung meraup bibir milik milik Nika. Sementara gadis itu berusaha memberontak. Ini salah. Itu yang otaknya fikirkan.
“NIKA!!!” bentak Fayyadh membuat gadis itu kembali menangis. Ia hanya bisa pasrah berharap keajaiban terjadi detik ini, berharap bahwa kematian Khalil itu hanya sebuah mimpi. Atau harapan bahwa supir dan pembantu rumahnya pulang dengan cepat dari kegiatan belanja.
Tangisnya terus terisak tapi tamparan Fayyadh yang diberikan terus menerus membuat Nika tak kuasa. “DIEM!!!”
Menatap takut ke arah Fayyadh membuat Nika merapalkan doa. Bahwa apa yang ia lakukan tepat saat kematiannya Papihnya tidak berdampak buruk pada Khalil. ‘Pih maafin Nika, Pih,’ lirihnya dalam hati.
Mencoba memberontak hanya akan berakhir sia-sia untuk Nika, apalagi Fayyadh terlihat layaknya orang kesetanan. Seperti orang asing, Fayyadh tampak berbeda dari Fayyadh yang biasanya. Di detik terakhir Nika baru teringat akan ucapan Priya. Gadis itu hanya bisa tersenyum sebelum menutup mata membiarkan Fayyadh yang terus sibuk dengan tubuh Nika. Samar pria itu memanggil nama kekasihnya berulang kali hingga menampar pipi Nika agar gadis itu tersadar.
‘Pih, ajak Nika pergi juga.’
...꒰🖇꒱...
Berulang kali Fayyadh mondar mandir dalam kamarnya. Berulang kali juga ia mencoba menghubungi Nika. Kejadian semalam berhasil membuatnya bersalah.
“GILA LU FAYYADH!” runtuknya. “Kalau dia hamil gimana!”
Pria itu memukul dinding disebelahnya berusaha mencari cara, tapi nafasnya terus gusar mendapati bahwa Nika tak kunjung menjawab telfonnya.
“GILA! GILA!”
“SIALAN!!”
Sementara di lain tempat Nika termenung menatap kosong dinding kamarnya. Ia memeluk tubuhnya erat. Sejak terbangun tadi Nika tak kunjung beranjak pergi. Hanya melamun bersama pikirannya yang kusut.
Suara dering telfon terus terdengar. Ia tidak perduli, dengan jelas ia tau dari siapa panggilan itu dikirim.
“Non, mari sarapan dulu, Bibi udah siapin makanan kesukaan Non Nika,” ucap Bi Nani berdiri di ambang pintu. Nika menggeleng. “Tapi, Non belum makan dari semalam.”
“..ini tirai jendelanya bibi buka ya? Kamarnya enggap nggak bagus buat kesehatan Non Nika,” ucap Nani menatap iba anak majikannya itu yang tampak berbeda.
Diterangi cahaya lampu tidur diatas nakas Nika kembali menggeleng. Nani hanya mengangguk, semenjak kedatangannya setelah berbelanja untuk kebutuhan penggajian semalam. Dan Fayyadh yang dengan gusar keluar dari rumah milik majikannya tersebut Nika hanya terus terdiam sejak ditanya.
“Non, Nika tau kehilangan orang tua yang disayangin itu berat. Tapi Non tetap harus makan ya?” bujuk Nani.
“Mamih?” lirih Nika dengan suara serak.
Nani hanya menghembuskan nafasnya dengan berat. “Belum ada kabar Non dari Nyonya, nanti saya coba hubungi kediaman di Jogja ya, tapi Non harus janji buat makan ya?”
“..mau bibi suapin?”
“Bibi, boleh pergi,” ucap Nika memalingkan wajahnya menatap cahaya yang berhasil menerobos masuk dari celah tirai jendela. “Dimakan ya Non,” peringat Nani sebelum pergi.
“Bi, kalau ada Kak Fayyadh kesini bilang Nika nggak mau ketemu ya?” pinta Nika membuat Nani mengangguk.
Memori semalam yang begitu menyakitkan begitu saja terlintas membuat Nika meneteskan kembali air matanya. Dengan terisak gadis itu memukul dirinya berulang kali, terus melontarkan cacian tentang tubuhnya yang telah kotor.
Ribuan kata maaf ia lontarkan, gadis itu kini benar-benar rapuh. Sandarannya telah pergi bahkan pria yang mengaku menjadi tameng adalah perusak paling nyata dalam kehidupannya.
Nika hancur. Teriakannya terdengar begitu pilu. Rasa malu dan berdosanya mendominasi kesedihan itu.
Seharusnya malam Nika mengirimkan doa terbaik, bukan melakukan tindakan yang melukai hati Khalil.
“Pih, maafin Nika pih.”
“Maaf.”
Ia menggadah berusaha menahan air matanya agar tidak tumpah tapi rasanya percuma air itu terus menetes lebih deras. Dengan kasar ia hapus air mata itu dengan punggung tangannya hingga wajahnya memerah.
“PERSETAN TAMENG!!!” lontar Nika berlari menghancurkan cermin rias di dalam kamarnya dengan kursi kecil yang selalu ia duduki saat berdandan. Kepalanya kini serasa akan meledak. Gadis itu bahkan akan merusak apa pun yang ia lihat. Mengacaukan beberapa barang yang telah ia susun dengan begitu rapi.
Hatinya hancur, jiwanya rapuh, pikirannya berantakan, sama persis seperti gambaran kamar Nika sekarang.
Jatuh lemas, bersandar pada salah satu dinding ia menenggelamkan wajahnya pada lipatan paha. Ia kembali menangis dalam kesendiriannya.
Ia menangisi nasibnya yang tak jauh beda dari seorang pelacur. “Pih, Nika mohon kembali, Nika takut Pih. Dunia jahat, termasuk pria baik yang jadi tokoh utama setiap cerita Nika ke papih.”
“Pih, Nika takut.”
✄ - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -- - - - -12-04-23𖠄ྀྀ