
...︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽︽...
...CERITA INI HANYA FIKTIF BELAKA, MOHON MAAF JIKA ADA KESAMAAN YANG HADIR TANPA DISENGAJA....
...INI HANYA CERITA FIKTIF JADI JANGAN SAMPAI TERBAWA KE DUNIA NYATA....
...SEKIAN TERIMAKASIH....
...______________________________________...
...—H A P P Y R E A D I N G—...
...______________________________________...
SEORANG pria memfokuskan pandangannya pada tawa seorang wanita cantik yang duduk tepat di sebelahnya. Senyumnya tiba-tiba mengembang bersama letup hangat yang menjalari degup jantungnya. “Aduh nggak kuat, yang lagi kasmaran mah emang beda,” lontar Ega menyenggol lengan wanita beranak satu di sebelahnya.
“Dunia milik berdua, kita Cuma ngontrak ya bang?” timpal Tian tertawa menggoda.
Mendengar itu membuat Nika melirik ke arah Arsa, pria itu masih terdiam menatapnya, Nika hanya mengangkat kedua bahunya acuh.
“Pantes aja sih, mau nikah cepet-cepet, Dokter Arsa takut kena tikung lagi tuh, Ka!”
Mendengar pernyataan Tian membuat Nika hanya bisa melontarkan tawa.
“Gue rasa sih iya,” sahut Ega tak mau kalah.
“Tau tuh, Aca!” jawab Nika sekenanya. Tiga pasang mata itu kini menatap kearah Arsa seolah menuntut kejelasan. “So, Dokter Arsa. What the answer?”
“…ARSA!” lontar Nika jengah Ketika Arsa masih tenggelam dalam lamunannya. “Lu mikir apaan sih?” kesal Nika menatap calon suaminya itu yang baru saja terbangun dalam buaian ekspetasi.
Bukannya menjawab Arsa justru tertawa, tapi tak lama terhenti ketika raut wajah masam Nika muncul. “Ada apa, kok pada natap gue?”
“Ck, jadi Dokter Arsa apa alasan anda menikah dengan Nika dengan waktu yang dibilang cukup cepat ini?” ulang Tian.
“Apa ya?” jawab Arsa sembari berfikir, “Mungkin karena gue udah kenal dia dari lama jadi, nggak perlu lagi pacarana basa-basi. Dan lagi the number one, gue nggak mau dia salah milih pelukan lagi.”
Tawa Nika menyembur mendengar jawaban Arsa, “Jaminan apa sampai lu yakin kalau kali ini gue berada dalam toxic relationship?”
“Because I have big love to you, because, saya Amada Arsa Bentang Ilham bakal berjuang untuk kebahagiaan Annika sesuai janji saya sama orang-orang yang sayang sama kamu,” jelas Arsa. “Sesuai ucapan saya juga ‘kalau Annika belum mendapatkan rumah yang paling benar dan nyaman, maka Arsa yang akan berusaha jadi rumah tersebut’ so, Ra, apalagi yang buat lu masih nggak yakin?” tanya Arsa masih sabar atas setiap keraguan dalam benak calon istrinya tersebut. Ia paham kegagalan dan kehancuran Nika adalah pukulan terberat yang menghantui kisah hidup wanitanya itu.
Nika menggeleng langsung berhambur dalam dekapan hangat Arsa melepaskan kerguannya pada sorot penuh keyakinan calon suaminya tersebut. “Ternyata temen jamet gue bisa serius juga,” godanya tersenyum malu di balik peluk Arsa.
“Dan temen jamet lu ini yang bakal lu liat waktu bangun tidur.”
“Tian, yuk susul mereka,” kode Ega menaik turunkan alisnya. Baik Nika maupun Arsa melepaskan dekapan mereka setelah sadar bahwa masih ada sepasang pria-wanita yang menatap mereka dengan keirian.
“Resmi cerai aja belum, minimal tunggu setahun lagi deh,” jawab Tian menyuapi anaknya makan.
Ega tersenyum lebar langsung memeluk putra semata wayang Tian dengan gemas membuat pria kecil itu menangis dan membuat keributan di restoran tersebut. “Ih, bang Ega!” kesal Tian memukul lengan milik Ega. Pria itu tak menggubris, ia tampak berusaha menenangkan calon anaknya tersebut.
“Girang banget jadi nikah sama janda,” sindir Nika yang teringat setiap malam dalam waktu satu bulan ia harus mendengarkan curhatan Ega yang sedang jatuh cinta pada seorang wanita bersuami sebelah kontrakannya, siapa yang akan menyangka kalau wanita itu adalah Tian, teman semasa kuliah Nika dahulu.
“My dream comes true,Ka!”
“Emang agak lain dia, Ka. Mimpi kok nikah sama janda,” lontar Tian tak habis pikir, sementara Nika hanya bisa tertawa.
“Tapi, jarang loh Ti, ada cowok kayak gue,” sahut Ega .
“Punah, lu mah udah punah, Bang!” jawab Tian.
“Lestariin dong, Ti. Perbanyak Ega junior.”
Tian reflek menggeleng.
“Kenapa gitu?” tanya Ega kaget melihat reaksi Tian.
“Masa anak gue cita-citanya sama anehnya kayak Bapaknya, Nikah sama janda.”
Yang disana tertawa kecuali jagoan Tian hasil pernikahannya dengan Fayyadh yang sebentar lagi resmi berakhir. Arsa melempar senyum sembari menggengam lembut jemari lentik milik Nika.
“By the way, nanti kalian mau punya anak berapa?” tanya Ega tiba-tiba.
...꒰🖇꒱...
“Dua belas nggak buruk kok,Ra,” bujuk Arsa masih tak gentar.
“Jangan ngawur deh, Ca!” jawab Nika jengah.
“Dua belas, yang bener aja, gila kali.”
“Oke, tiga belas. Biar bisa main futsal bareng dan yang satu lagi jadi wasitnya.”
Nika menghembuskan nafasnya berat, sebelum menatap dengan nyalang ke arah kekasihnya tersebut. “Gimana nggak kamu aja yang hamil, Ca. Makin ngaco tiba-tiba jadi tiga belas.”
“Namanya wish ‘kan nggak ada yang tau,” ucap Arsa masih tak merasa bersalah.
“NO and NO.”
Arsa mengalah, mengangguk lembut sembari merangkul calon istrinya tersebut. “So, berapa?”
“Apanya?”
“Anak,” lontar Arsa menatap lembut ke arah Nika. Wanita itu tampak berfikir, menaruh jemari telunjuknya pada dagu membuat Arsa tersenyum gemas. “Tiga.”
“Dikit amat.”
“Apanya yang dikit?” tanya Nika tak terima. “Kayak yakin aja jadi nikah.”
“DIh, ngomongnya begitu sih. Perlu sekarang kita ke KUA?”
Nika tak menjawab memilih tertawa dalam rangkul hangat Arsa. “Percaya deh Pak Dokter. Pak Dokter kalau punya wish ‘kan harus terwujud.”
“Your wrong!” jawab Arsa mencubit gemas pipi chubby wanita yang telah menjadi sahabatnya sedari kecil tersebut. “Nggak semua harapan berjalan sesuai rencana. So, nggak semua keinginan gue terwujud, Ra. Gue rasa lu tau itu semua ‘kan?”
“…tapi yang pasti, milikin lu, dan jadi rumah terakhir yang nyaman buat Sabrina Annika Theodora itu sebuah keharusan…”
“…Cita-cita terbesar gue adalah, jadi suami lu.”
“Bullshit!” balas Nika menepuk pelan pipi milik calon suaminya tersebut, sebelum memalingkan wajah menyembunyikan wajahnya yang memerah akibat salah tingkah. Arsa tertawa langsung membawa tubuh Nika ke hangat dekapannya.
“Gue nggak janji, kalau lu sama gue bakalan terus bahagia. Tapi, bakal gue usahakan.” Arsa tersenyum sembari menahan degup jantungnya.
“Gue nggak nyangka jamet peliharaan gue bisa romantis juga. Biasanya ngomong doang tanpa aksi,” sindir Nika.
“Sumpah, Ra. Kali ini gue serius.”
Nika mengangguk, benar, sorot mata pria dihadapannya tak perlu ia ragukan. Wanita itu menyelami perasaan besar cinta Arsa yang dimiliki untuknya.
“Makasih, Ca. udah jatuh hati sama cewek yang banyak kurangnya ini.”
“Salah, lu cewek terkeren yang pernah gue kenal.”
“Bunda?” tanya Nika melunturkan raut wajah Bahagia milik Arsa.
Tak ada percakapan romantis setelahnya, hanya ada kebungkaman dan rasa bersalah Nika terhadap Arsa. Ia lupa, mau ia ikut andil sekalipun hubungan anak dan ibu itu selamanya tak akan pernah membaik.
“Gue tadi liat sesuatu yang lucu di salah satu outlet di sana,” tunjuk Arsa pada sebuah toko pernak-pernik lucu wanita yang beberapa langkah telah mereka lewati.
“Mau beli?”
“Iya buat lu.”
“ayo!” ajak Nika, tapi langkahnya terhenti ketika ia merasakan Arsa diam ditempatnya berdiri.
“Gue mau ngasih surprise buat lu, kalau lu ikut jatuhnya bukan surprise.”
Nika mendengus melepas genggamannya bersama Arsa sebelum berjalan menjauh sampai di depan toko tersebut.
“Silahkan masuk Pak Dokter,” ucap Nika dengan wajah kesal.
Arsa berjalan masuk sembari tertawa meledek, “Jangan jauh-jauh biar bisa gue pantau. Gue takut ada yang nyulik calon istri gue.”
“Siapa juga yang minat sama gue,” jawab Nika mendorong Arsa untuk memasuki toko tersebut.
“GUE!” lontar Arsa sebelum menghilang dari jajaran rak yang telah tersusun dengan rapi. gelenggan penuh keheranan Nika berikan sembari arah pandangnya beralih pada lantai bawah mall yang dimana terdapat beberapa anak kecil yang sedang beramin mobil listrik.
Senyumnya terukir, begitu menyayat hati mengingat mendiang Sakha dan mimpinhya.
“Mommy kangen kamu sayang,” lirihnya begitu pilu. “Andai kamu maasih hidup, Mommy pasti udah wujudin semua mimpi kamu sayang.”
“Yang kehilangan disini bukan cuma kamu aja,” ucap seseorang berdiri di sebelah Nika tanpa permisi. wanita itu menatap ke pria yang suaranya tak asing, sebelum tertawa menertawakan nasibnya yang mengenaskan.
“Manusia di bumi itu milyaran, tapi kenapa harus kamu dan kamu lagi yang usik saya?”
“Kenapa? Bukannnya saya juga sama kehilangannya?” tanyanya sendu. “Apa seorang Papa ngggak berhak bilang kalau saya terpukul atas kematian anaknya sendiri?”
“Anak? Kematian Sakha bukannya kemauan Kak Fayyadh?” tanya balik Nika penuh emosi.
“Bisa jangan bahas masa lalu, Ka?”
“Saya tau, saya bukan Papa yang baik untuk Sakha.”
“Kak Fayyadh salah, Nika kira permasalahan ini udah selesai, tapi kak Fayyadh tetep batu.”
“Maksud kamu apa?” tanya Fayyadh tak terima.
“Berapa kali Nika harus jelasin, kalau Kak Fayyadh bukan Papa-nya Sakha? Dan stop buat ngaku-ngaku. Nika muak dengernya, bahkan setelah Sakha nggak ada Kak Fayyadh nggak pernah sadar diri.”
“Saya udah tawarkan buat tes DNA? Apa perlu bongkar mak—”
“Ya, Nika tau. Secara DNA seratus persen bahwa Sakha anak Kak Fayyadh. Tapi, keputusan Kak Fayyadh buat nyuruh Nika ngebunuh janin yang nggak bersalah udah buktiin Kak Fayyadh emang nggak mengharapkan kehadiran Sakha.”
Fayyadh menggeleng. “Kamu salah, Ka!” jawab Fayyadh. “Waktu itu, saya nggak punya banyak pilihan. Dan itu yang bisa saya kasih jalan keluar buat kamu. Tapi, kenyataan berubah bukan? Saya berniat buat jadi Papa yang baik buat Sakha, tapi kamu nggak ngasih saya wakt—”
“Kenapa NIka harus kasih waktu buat orang yang berniat bunuh Sakha?”
“KARENA SAYA NGGAK PUNYA BANYAK PILIHAN!” bentar Arsa langsung menarik tangan Nika secara kasar, membawanya masuk ke sebuah lorong yang dimana toko-tokonya telah tutup. Wanita itu berontak hendak mengeluarkan suara untuk meminta tolong tapi ancaman Fayyadh begitu mengerikan untuknya. “Saya bawa pisau, Ka. Saya mohon untuk kali ini aja kamu dengerin saya, saya janji nggak lukain kamu kalau kamu nurut.”
“Salah. Nika bukan Tian dan Nika bukan Nika yang polos jaman kuliah dulu.” Nika dengan paksa melepas cekalan erat tangan Fayyadh.
“Saya tau waktu itu saya salah buat ancam kamu, terus ninggalin begitu aja tanpa tanggung jawab, tapi kasih saya waktu buat buktiin dan tepatin semua janji saya.”
Nika meneteskan air mata, dengan tatapan tajam nan menusuk ia menatap manik mata mantan kekasihnya tersebut. “Bullshit!” lontarnya. “Miris banget, Kak. Ngemis-ngemis buat balikin kepercayaan Nika yang udah hancur sehancur-hancurnya.”
“…Kak Adel dan Tian udah pergi dari Kak Fayyadh `kan? Karena itu Kak Fayyadh ngemis?”
“…dengan alasan apa Kak? Alasan kak Fayyadh dan cinta sama Nika?”
“YA!”
Dengan mata yang memerah oleh linangan air mata yang tak kunjung berhenti Nika mulai menampar pipi Fayyadh pelan hingga tenaganya perlahan kencang. “Sadar, Kak! SADAR!”
“…cukup buat Nika ngerasa jadi perempuan terbego di dunia ini. Cukup buat Nika mual dengan janji bullshit yang selalu kak Fayyadh buat. Berhenti buat ngejar dan berusaha bangun cinta Nika buat Kak Fayyadh yang udah pupus.”
“…Kak Fayyadh liat ini?” tanya Nika menunjukkan benda bulat dari emas yang tersemat di jari manis kiri. “Sebentar lagi Nika bakal nikah, Nika punya seseorang yang nggak akan pernah ninggalin Nika dalam situasi apapun, jadi bisa lepasin Nika?”
“…cinta itu nggak harus tentang memiliki. Perasaan kita aja udah beda, Kak. Sedikitpun nggak ada nama Kak Fayyadh di hati Nika. Jadi, Nika mohon berhenti buat terus berobsesi buat dapetin Nika lagi, lupain semuanya dan melangkah ke jalan yang berbeda,” jelas Nika penuh penekanan.
“Nika harap Kak Fayyadh ngerti.” Nika Bersiap melangkahkan kakinya untuk berlalu pergi. Ia tahu, bahwa Arsa pasti mencarinya.
“Gue ngerti, seribu persen gue ngerti!” jawab Fayyadh yang bosan membungkam. “Tapi, gue nggak mau lepasin lu gitu aja.”
“…KALAU LU NGGAK BISA JADI MILIK GUE, MAKA NGGAK ADA SEORANGPUN YANG BERHAK BUAT MILIKIN LU!” lontar Fayyadh mendekap Nika, menaruh sebuah pisau yang tampak baru itu beberapa senti dari leher Nika.
“Kak, lu gila ya?” tanya Nika dengan suara gemetar. Matanya terpejam, ia menangis histeris sekarang. Dia memang merindukan Sakha tapi bukan dengan cara yang seperti ini.
Fayyadh tersenyum, seolah menyambut pria di ujung lorong yang tiba dengan nafas yang memburu. “Lu maju, calon istri lu bakal nyusul anak gue.” Mendengar ucapan itu membuat Nika membuka kelopak matanya.
“Anak lu?” tanya Arsa dengan nada meremehkan. “Lu yang nurutin ngidam Nika selama hamil? Lu yang nemenin Nika waktu lahiran, atau lu yang adzanin Sakha? Atau lu yang pan—”
“BUKAN GUE! EMANG BUKAN GUE! TAPI TANPA ADANYA GUE, SAKHA NGGAK BAKAL ADA DI DUNIA INI.”
“Hey bung! Gue juga bisa kali asal ada rahim yang siap nampung, lu tau apa bedanya gue sama lu? Gue bertanggung jawab sama anak yang lahir dari cewek yang gue cintai. Nggak kayak lu, NGGAK KAYAK LU YANG LEPAS TANGGUNG JAWAB DAN DENGAN ENTENGNYA NYURUH PACAR LU BUAT ABORSI, BEGO!!!” jelas Arsa berlari memperkikis jaraknya dengan Fayyadh dan Nika.
Nika terdorong, dengan gemetar ia menyaksikan keributan yang terjadi antara Fayyadh dan Arsa. Dengan muka yang memucat ia merapal doa berharap ada orang yang menolong mereka. Dengan menyeret tubuhnya ia mendekati pisau yang terlempar bersamanya. Terlalu berbahaya jika benda itu tak segera disingkirkan.
“RA, LARI!” perintah Arsa.
“Bentar, Ca.”
“RA, GUE NGGAK TAU BERAPA LAMA GUE BISA BERTAHAN, LARI R—” belum sempat Arsa menyelesaikan ucapannya pria itu sudah terjatuh membentur lantai dengan teramat keras. Nika tertegun.
“Apa kata terakhir lu buat calon istri lu, Dokter Arsa?” tanya Fayyadh tersenyum lebar.
Arsa tak menjawab pria itu hanya menggeram sembari berusaha menahan rasa sakit, sementara Nika menangis dengan kencang. “Gue nggak nyangka, lu kangen sama Sakha `kan? Baik banget gue anter Mommy-nya.”
“…makasih dong sayang,” bisik Fayyadh membuat tangis Nika semakin kencang.
“PIKIRIN ANAK LU ANNIKA, BEGO!” lontar Arsa ketika pisau sudah menggores leher Nika.
Fayyadh terdiam, termenung menjauhkan benda tajam itu dari leher mantan kekasihnya. Arsa bernafas lega bersama Nika yang membuka matanya dengan penuh isak. “Tapi, Nika nggak bakal jadi milik gue `kan Dok? Kalau gitu berlaku juga buat lu.”
Detik selanjutnya hanya ada teriakan kesakitan Nika Ketika benda tajam itu menembus perutnya bersama suara teriakan Arsa yang menyeret tubuhnya berusaha menyelamatkan Nika. Darah mulai menembus keluar, perlahan membuat warna baju Nika berubah menjadi merah bersaa tubuhnya yang jatuh ke dinginnya lantai Mall. Fayyadh tertawa, menyaksikan kisah tragis dihadapannya sebelum berlalu pergi Ketika mendengar suara langkah kaki yang mulai mendekat.
“RA?” panggil Arsa berusaha memangku wanitanya tersebut, dengan linangan air mata dan tangan gemetar ia berusaha menahan pendarahan yang semakin banyak. Ia tau bahwa itu sangatlah serius. “Ra, bertahan Ra. Gue mohon, Ra.”
“Kak, ada apa?” tanya seseorang dengan panik menghampiri mereka berdua, sebelum teriakan histeris Ketika mereka berdua mendapati darah bercucuran dari perut Nika.
“Dek, bisa panggil ambulans di rumah sakit terdekat?” tanya Arsa. Dua siswi SMA itu mengangguk. Salah seorang diantara mereka sibul melakukan panggilan. “Dek, boleh saya minta tolong panggil orang, pria dewasa buat bantu saya angkat pacar saya? Tulang saya patah.”
Mereka mengangguk langsung bergegas pergi meninggalkan Arsa, ketika mereka memastikan ambulans sedang dalam perjalanan. “Ra, nggak lama kok. lu bertahan ya?” pinta Arsa.
Nika tersenyum mengusap wajah Arsa yang penuh peluh keringat.
“Tenang, Ca.”
Tak lama siswi SMA itu datang bersama salah seorang satpam mall, dibelakang mereka terdapat petugas medis yang bertugas di mall tersebut. Sedikit kesusahan dan bantuan Nika dipindahkan pada ranjang beroda. Menahan rasa nyeri di tulang rusuknya adalah jalan Arsa, rasa sakitnya tak seberapa dibanding harapan hidup untuk Nika, ia mendorong ranjang tersebut sampai di depan pintu masuk Mall dengan tanda tanya para penggunjung.
“Kak, pihak rumah sakit bilang ambulans yang sedang dalam perjalanan ke sini ke jebak macet di persimpangan jalan depan.”
“Di mall ini ada oksigen?” tanya Arsa berusaha menahan diri agar tidak panik.
Petugas medis itu mengangguk berlari menuju ruangan kantornya. Sementara Arsa masih berjuang menghentikan pendarahan di perut Nika menggunakan kedua tangannya.
“Bapak bisa nyetir mobil?” pria berseragam hitam itu mengangguk menjawab pertanyaan Arsa. “Ini pak,kunci mobil saya. Kita nggak punya banyak waktu, buat nyelamatin dia pak, saya mohon.” Arsa merogoh saku hoodie-nya dengan tangan kiri yang bersimbah darah.
“Mas tenang aja, saya ke parkiran sekarang sekalian kasih tau temen saya buat cek cctv dan buat laporan ke kepolisian,” jelas satpam mall itu berlari tanpa menunggu jawaban Arsa.
Peluh keringat Arsa tampak bercucuran, sementara senyum menghiasi wajah pucat milik Nika. “Ca, udah ya, lu istirahat gih. Nanti lu capek.”
“Dan gue biarin gitu aja lu pergi?” tanya Arsa kesal.
“Ca, jodoh, maut dan rezeki udah diatu—”
“Dan kita tetap harus berusaha Annika, jadi gue mohon bertahan sampai lu masuk UGD, gue mohon, gue tau lu kuat, jadi please jangan tinggalin gue sendirian, Ra.”
Nika menggeleng menahan tangan Arsa untuk terus berjuang, detik itu juga air mata pria yang menyandang gelar dokter itu turun begitu saja, kekasihnya tersenyum dengan wajah yang bersinar. “Gue pernah bayangin kalau kita nikah nanti kita tetep manggil satu sama lain gue-lu, lucu nggak sih?” tanya Nika tertawa kecil. “Tapi, gue bakal tetep mau dipanggil Mommy.”
“Berjuang ya, Ra. Kita wujudin itu bareng-bareng.” Arsa memohon tapi lagi gelenggan Nika berikan.
“Lu nggak kesepian dan lu nggak pernah sendirian, Ca. buka mata lu, banyak orang yang perduli dan sayang sama lu. Jadi, gue mohon jangan terpaku terus menerus sama gue. Lu juga punya kehidupan,” ungkap Nika dengan suara gemetar.
“MAS!” panggil satpam mall yang sudah membawa mobil Arsa ke depan pintu masuk Mall.
“Dek, terimakasih udah bantu saya ya,” pamit Arsa disusul kedatangan petugas kesehatan dengan sebuah tabung oksigen.
Dengan penuh kehati-hatian tubuh lemas Nika digotong masuk ke kursi tengah mobil. Mobil melaju, Arsa masih tetap menghentikan pendarahan, entah berapa lama ia berusaha menutup luka itu hingga tangannya keram, bahkan pisau milik Fayyadh masih menancap. Tangis Arsa semakin deras ketika merasakan kehangatan tubuh Nika mulai menghilang. “Ra, Please Ra, bertahan.”
“Ca, sakitnya kenapa bikin gue ngantuk ya?” tanya Nika sebelum mendapatkan bantuan pernafasan lewat tabung oksigen. Arsa menggeleng ketika mata Nika mulai menutup secara perlahan. Secara reflek tangan Arsa menghentikan pendarahan di perut Nika dan menepuk kedua pipi calon istrinya itu untuk segera membuka kelopak matanya.
Usahanya nihil, harapannya hampir putus, tubuhnya melemas. Hanya tangisnya yang terdengar. Arsa hancur untuk kedua kalinya.
“DOKTER ARSA!!!” panggil Kania yang sudah bersiap di depan pintu masuk UGD dengan ranjang beroda bersama perawat yang lain. Entah Arsa yang terlalu berlarut, atau mobil yang melaju terlalu cepat, mereka sudah sampai di rumah sakit tempat Arsa bekerja.
“DOKTER ARSA, SADAR!!!” pinta Kania. “Kita semua bakalan usahain yang terbaik, jadi Dokter Arsa harus kuat.”
“Kalau saya harus kehilangan orang yang saya sayang lagi gimana sus?” tanya Arsa dengan suara gemetar. Kania menatap manik mata rekan kerjanya tersebut, tak ada harapan hidup yang terlihat disana.
“Dokter meragukan rekan-rekan, dokter?” ucap Kania berusaha menenangkan.
“Kita itu sama-sama manusia `kan Sus?”
...꒰🖇꒱...
^^^‘Aku memang bukan pemusik yang dengan indah merangkai keindahanmu lewat bait-bait lirik lagu. Aku hanya seorang wanodya, yang bisa menyimpan indahmu pada lagu yang kudengar. Wanodya yang tak sempurna ini terlalu pelik untuk dicinta. Tapi, bolehkah indah tutur dan sikapmu ku lukis pada bait-bait kalimat yang menjuntai cerita? Menceritakan tentangmu pada paragraph penuh romansa yang selalu ku damba. Wahai tuan, wanodya ini menulis, menulis sebagai ucapan terimakasih atas rasa tulus yang kau berikan.’^^^
#dear “ABOUT YOU 1998”
Arsa tertegun, ia tak sengaja membaca sebuah note di catatan handpone milik Nika. Bukan, bukannya ia terlalu percaya diri. Tapi, hatinya dengan yakin mengatakan bahwa kata-kata indah itu memang ditakdirkan untuknya.
Tangisnya kembali pecah, entah berapa lama calon istrinya itu telah membalas perasaanya. Untuk sekarang ia hanya bisa berharap bahwa tuhan memberikan keajaiban agar dirinya bisa mewujudkan setiap ucapan yang selalu ia bicarakan dengan Nika.
“Dokter Arsa,” panggil Suster Kania yang baru saja keluar dari ruang operasi dengan suara tercekat.
Pria yang tampilannya tampak kacau itu bangkit berdiri, empat jam ia telah menunggu berharap cemas seraya merapal doa. “Kita semua sud—”
Tidak. Arsa tidak menunggu sampai Kania meneyelesaikan ucapannya pria itu berlari sebelum membeku menatap jendela besar ruangan operasi. Kakinya melemas, tubuhnya jatuh begitu saja. Pria itu menangis, memukul lantai rumah sakit menyalurkan perasaan yang terasa tak karuan untuknya.
“Tuhan, benci banget sama saya ya Sus?” tanya Arsa mengakhri kepedihan dengan tertawa kecil. “Saya kehilangan anak kecil yang sudah saya anggap sebagai anak saya sendiri, lalu sekarang?” Arsa menggantungkan ucapannya bersama tangis yang berderai.
Kania berjongkok mengusap lembut pundak rekan kerjanya tersebut. “Suster yang bilang saya harus berjuang, tapi tuhan nggak ngasih kesempatan itu,” ungkap Arsa dengan gemetar. Wanita itu langsung mendekap Arsa membiarkan pria yang pernah singgah dihatinya menumpahkan kesedihannya. Kania ikut menangis, merasakan pedih yang menggerogoti hatinya.
Dengan hati yang terkikis dan jiwa yang hancur, Arsa hanya bisa menangis, menangisi separuh hidupnya yang pergi. Mau seberapa banyak oksigen yang Arsa hirup dadanya akan terus terasa sesak bersama penglihatannya yang mengabur bersama air mata yang tak kunjung berhenti.
...‘tak ada kata selamat tinggal, jadi tolong tunggu aku, wanitaku.’...
✄ - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -- - - - -09-08-23𖠄ྀྀ