Yue And Aiden

Yue And Aiden
Bab 9 Juara lomba matematika



Alya mengajak Yue dan Aiden kembali pada Papanya. Terlihat disana Hart sedang duduk menunggu sang istri sadar sambil memegangi tangannya.


“Lu beruntung Al, Hart sangat sayang sama lu. Menurut gue kejadian yang lu alami waktu itu bukanlah musibah, buktinya sekarang lu bisa mendapatkan lelaki yang sayang dan cinta sama lu,” gumam Alya memandang sahabat nya yang sedang terbaring lemah.


Genta merangkul pundak Alya. Mereka saling tatap lalu Alya menyingkirkan lengan Genta dengan pelan.


“Ayo Tante kita masuk lihat Buna," ajak Yue menarik lengan Alya.


Mereka berempat masuk, ternyata didalam sana masih ada Bu guru Mitha yang sedang berdiri menatap Hart.


“Bu guru kan sedang sakit, kenapa ibu tidak pulang untuk istirahat?” ujar Yue yang membuat Papanya melirik ke arah dia. Aiden menyenggol tangan adiknya dan Yue tersenyum.


“Maafkan anak saya Bu, Yue tidak bermaksud mengusir mungkin maksudnya dia menyuruh ibu istirahat dirumah karena harus mengajar besok,” ucap Hart tersenyum sedikit.


Mitha menatap Yue sebentar, lalu tersenyum dan pamit pergi. Setelah dia keluar Alya mengikutinya dan menghentikan langkah Mitha.


“Halo saya Alya sahabat Alexa,” sapanya.


“Iya, ada apa ya? Apa anda ada urusan dengan saya?!”


“Maaf jika lancang, apa Bu Mitha menyukai pak Hart?”


Pertanyaan itu membuat Mitha terdiam.


“Ah mana mungkin saya menyukai lelaki yang sudah memiliki istri. Apalagi istrinya sangat cantik dan masih muda, punya anak kembar yang pintar juga cerdas. Tidak mungkin Bu Alya, saya tidak menyukai pak Hart.”


“Syukurlah, lagipula Hart tidak akan tergoda oleh wanita lain. Dia sangat mencintai istrinya, pernikahan mereka pun sudah cukup lama. Sekali lagi maafkan saya jika pertanyaan tadi lancang.”


Mitha tersenyum sambil mengangguk dan dia pun pamit pergi pada Alya.


Genta datang bertanya pada Alya apa yang dia bicarakan dengan guru itu. Sedangkan di luar sana Mitha sedang mengoceh sendiri. Namun perasaan nya senang karena Alexa terluka dan kini terbaring di rumah sakit. “Hart sangat tampan dan aku cantik. Bagaimana bisa lelaki seperti Hart menikah dengan wanita tak cantik itu, Alexa sangat tidak cocok menjadi istri Hart.”


Seorang perempuan yang tak sengaja lewat menghentikan langkahnya setelah mendengar nama Hart. Ya, itu adalah Agnia mantan pacarnya. Dia menghampiri Mitha dan bertanya, setelah tahu mantan kekasihnya ada didalam Agnia pun segera masuk.


Mitha mengangkat sebelah alisnya. Dia ikut penasaran siapa wanita yang barusan bertanya tentang Hart. Namun karena tangannya yang masih sakit terluka akibat kejadian itu dia pun memutuskan untuk pulang saja.


Agnia bertanya pada resepsionis dan dia pun menemukan kamar istri Hart.


Tok..tok.., “permisi.” Hart, Alya dan Genta berbalik badan melihat siapa yang datang. Betapa terkejutnya dua cowok itu setelah tahu bahwa Agnia lah yang mengetuk pintu. Alya, Yue juga Aiden mengernyitkan dahi.


“Boleh aku masuk?” tanya Agnia mengintip.


“Silahkan,” sahut Hart dingin.


“Eum..., lama gak ketemu ya kita. Bagaimana kabar kamu Hart? Dan siapa wanita yang terbaring ini?” ujar Agnia basa basi.


“Gue baik dan iya ini istri gue. Dua anak kecil itu Yue dan Aiden, anak gue.”


Agnia melihat kedua anak Hart. Dia terdiam lalu memberikan senyum manis, Yue dan Aiden pun membalas senyuman itu.


“Hay Genta, apa kabar. Eum ini istri lu kah?” tanya Agnia sembari menunjuk Alya.


“Eh bukan, saya teman Alexa bukan istri Genta,” jawab Alya gugup. Dia masih merasa canggung dengan Genta yang berada di sampingnya. Setelah itu Agnia pamit pada semuanya, sebelum pergi dia memberikan sebuah permen lollipop pada anak anak Hart yang kebetulan dia bawa untuk anaknya yang di rawat.


“Makasih Tante,” ucap Yue dengan ramah.


“Sama sama sayang,” jawab Agnia.


...----------------...


Keesokan harinya Hart membangunkan Yue dan Aiden. Dia menyuruh anak anaknya untuk pergi kesekolah, Hart tidak ingin mereka berdua tidak masuk.


“Biar Papa yang jaga Buna.”


“Papa gak kerja?” tanya Aiden.


“Tidak, Papa sudah minta Om Genta buat urus semua pekerjaan Papa di kantor.”


“Baiklah, Papa jangan lupa sarapan ya. Aku sama Aiden gak mau kalo Papa ikutan sakit kayak Buna,” ujar Yue.


“Alya tolong,” ucap Hart dan di angguki sahabat istrinya.


Alya mengantarkan dua anak sahabatnya pulang kerumah untuk berganti pakaian. Setelah itu mereka bertiga berangkat kesekolah. Sesampainya disana, Aiden dan Yue langsung disambut oleh guru yang lain, mereka memberitahu jika Yue juga Aiden telah di daftarkan mengikuti perlombaan matematika.


Dua anak kembar tersebut sedikit kaget sebab mereka tak belajar kemarin dan informasi yang diberikan sangat mendadak. Alya mengelus kepala mereka dan memberikan semangat.


“Ughh, baiklah. Aku dan Aiden akan berusaha semaksimal mungkin untuk menang dalam lomba matematika ini,” ujar Yue menghela napas.


Setelah kepergian Yue, Aiden. Alya bertanya kepada guru mengapa mereka memberikan informasi begitu mendadak. Namun guru yang ada disana memberitahu bahwa dirinya telah mengirim pesan pada Mitha selaku wali kelasnya. Sayangnya handphone Mitha tidak aktif sejak kemarin.


“Mitha,” gumam Alya.


“Baiklah Bu kami permisi,” ujar si guru. Alya mengangguk. “Saya titip si kembar ya Bu,” ucapnya.


••


••


••


“Wow Aiden ternyata didalam sangat banyak siswa dari sekolah lain, pantas saja jika didepan sana banyak sekali mobil.”


“Iya Yue, bagaimana sebelum itu kita baca baca buku dahulu. Kita tidak belajar dan harus mempersiapkan semuanya dengan matang. Agar nilai kita yang paling bagus.”


“Kamu benar,” sahut Yue lalu membuka tasnya dan mengambil buku yang begitu tebal.


Buku yang di berikan pihak sekolah dua Minggu lalu. Buku tersebut sangat tebal, entah siswa seumuran mereka mampu membacanya atau tidak apalagi di buku tersebut terdapat soal soal yang harus di kerjakan setiap halaman nya. Seminggu sekali para guru akan menjelaskan materinya.


Sekolah mereka memang beda dari sekolah lainnya. Disana murid kelas 2 SD saja sudah di ajarkan bahasa Inggris dan bahasa lainnya.


Satu jam kemudian. Yue dan Aiden di panggil oleh guru, mereka telah selesai membaca dan siap untuk mengikuti perlombaan. Saat di atas, Yue melihat jika murid lain datang bersama orang tua mereka untuk menyaksikan anak anaknya berlomba. Dia merasa sedih sebab Buna nya berada dirumah sakit terbaring lemah dan Papanya sedang berjaga.


Aiden memegang pundak adiknya. Dia tersenyum sambil menganggukkan kepala, mengucapkan kata semangat.


“Semangat Aiden,” sahut Yue dengan lantang.


Alya yang ternyata masih ada disana pun menghubungi Hart. Memperlihatkan si kembar lewat Vidio call, kebetulan saat itu Alexa sudah siuman.


\*\*\*\*\*\*\*\*


“Baiklah waktu sudah habis, semua murid harus menyimpan pensil kalian, tidak ada yang masih menulis. Panitia akan segera mengambil kertas yang telah kalian isi.”


Setelah kertas jawaban di ambil, semua murid pergi istirahat bersama kedua orang tuanya. Kecuali, Yue dan Aiden. Mereka berdua duduk di kuris penonton sambil menyantap roti yang diberikan Alya waktu pagi.


“Halo,” ucap seseorang dari belakang.


Yue dan Aiden membalikkan badannya. Dan saat melihat orang yang menyapa nya tadi, mereka terkejut. Karena yang datang adalah Buna, Papanya.


“Buna, Papa.”


“Gimana sayang apa kamu bisa mengerjakan soalnya?” tanya Alexa yang terduduk di kursi roda.


“Bunaaa, akhirnya Buna bangun. Aku khawatir kemarin benarkan Aiden?”


“Iya Bun,” ucap Aiden.


“Maafin Buna ya udah bikin kalian berdua khawatir. Lain kali Buna akan lebih berhati hati lagi.”


Perbincangan mereka terhenti setelah terdengar suara mic speaker. Panitia menyuruh para murid yang mengikuti perlombaan untuk kembali berkumpul ditempat semula.


“Semuanya harap duduk ditempat masing-masing. Kami akan membaca kan pemenang dari lomba matematika ini, terdapat satu juara umum, tiga juara dan tiga juara harapan. Total semua juara tujuh, kalian berdoa lah siapa tahu di antara banyaknya siswa yang ikut lomba ini, ada nama kalian yang tercantum.”


Setelah bicara panjang lebar. Panitia mulai membacakan juara, mula mula dia menyebutkan nama murid dari sekolah lain, lalu murid sekolah lain juga. Dan pada akhirnya saat penyebutan juara umum, sekolah Yue dan Aiden lah yang mereka sebut. Semua bersorak dengan kemenangan yang ketiga kalinya.


Anak anak kelas enam SD ikut merayakan acara tersebut dengan menampilkan pentas. Hari Senin yang begitu cerah dan cuaca yang sangat panas tidak membuat mereka capek. Semua terus berjalan lancar sampai sore hari.


“Hari ini hari yang sangat panjang kita sekolah Aiden. Aku sedikit lelah namun senang juga karena kita mendapatkan juara umum,” keluh Yue.


“Wah anak anak Buna hebat, sebagai hadiah kalian berdua mau apa dari Buna dan Papa?” potong Alexa.


“Kita tidak mau apa apa Bun, Aku dan Yue hanya ingin Buna kembali sehat,” jawab Aiden memeluk Buna nya.


“Yang di katakan Aiden benar. Aku tidak ingin hadiah apapun selain kesehatan Buna. Dan untuk Papa, Yue mau agar Papa selalu ada disisi Buna mau itu dalam keadaan senang ataupun sedih.”


Hart tersenyum mengelus rambut putrinya.


“Kamu jangan khawatir sayang, Papa akan terus bersama Buna. Tidak akan meninggalkannya dalam keadaan apapun.”


“Baiklah, oh iya. Apa Tante Alya sudah pulang? Kenapa dia tidak melihat kami berdua?” tanya Yue.


“Tante Alya melihat kalian kok. Cuman dia ada urusan makanya langsung pulang.”


“Ohhh,” ucap Yue. Setelah itu dia mengajak kakak dan orang tuanya untuk pulang.