
Happy reading all
•••
•••
•••
Selesai berbincang dan makan, Aiden mengajak Yue dan Uby kembali ke kelas. Saat akan masuk seorang wanita tua berdiri didepan mereka, menghalangi jalan.
“Ibu,” ujar Uby. Yue dan Aiden saling tatap, keduanya baru pertama kali melihat ibu teman barunya itu. Wajah wanita yang berada di hadapannya terlihat sangat pucat. Dan tanpa Aiden sadari dia langsung memegang tangan ibu Uby.
Wanita tua itu terkejut tangannya di genggam oleh Aiden. “Kamu siapa?” tanyanya mengernyitkan dahi.
“Maaf Bu, aku khawatir sama ibu. Apa ibu sedang sakit?” sahut Aiden.
“Wajah ibu sangat pucat,” sambung Yue.
Si wanita menelan ludahnya, dia terharu atas perkataan Aiden yang mengkhawatirkan nya. Lalu setelah itu dia membawa Uby ke ruangan guru.
“Kamu kenapa Aiden? Wajah mu sangat jelek jika seperti itu,” ujar Yue.
“Yue aku merasa khawatir sama ibu itu.”
“Sudahlah, aku tahu perasaan mu.”
Pukul 11.00. Bel pulang berbunyi Yue dan Aiden berlari menuju mobil Papanya yang sudah menunggu didepan gerbang. Didalam mobil, si kembar menceritakan tentang ibu teman mereka. Hart mengelus kepala putranya, merasa beruntung memiliki anak anak yang sangat baik dan pintar juga peduli terhadap sesama. Di umur yang belum segitu, pemikiran mereka berdua sudah seperti orang dewasa.
“Akhirnya sampai,” ujar Yue.
Anak perempuannya berlari menuju pintu dan Hart memperingatinya agar hati hati. Sang istri pun berdiri didepan menyambut kedatangan anak dan suaminya. Lalu tak lama datanglah Alya bersama dengan Genta. Pasangan baru itu memberikan undangan pernikahan, Alexa, Hart dan si kembar terkejut sekaligus bahagia mendapatkan kabar baik dari mereka berdua. Akhirnya cinta Alya tidak bertepuk sebelah tangan lagi.
“Nanti gue datang ke acara kalian, siap menemani dari awal sampai akhir.”
“Makasih Alexa, lu memang sahabat gue yang setia.”
“Ehem ehem Tante Alya sama Om Genta bakal nikah, nanti jangan lupa masak dagingnya yang banyak ya. Aku dan Aiden siap membawa baskom dari rumah,” ujar Yue mencairkan suasana.
“Iya sayang tenang saja. Om Genta akan memesan daging yang sangat banyak untuk kalian. Asal bisa menghabiskan semuanya aja.”
“Aku akan menyuruh Aiden memakannya. Perutku sangat kecil Tante, entar besar lalu meledak. Duaaarrr,” sahut Yue dengan wajah lucu. Alya mencubit pipi anak sahabatnya. Si kembar sudah dia anggap sebagai anak, tingkah nya yang lucu hampir membuat Alya tak karuan menahan kegemasan mereka berdua.
Hart menyuruh Genta dan Alya masuk, baru saja melangkahkan kakinya datang lagi sahabat mereka yang tak lain Ardan bersama istrinya. “Wah reuni nih kita,” ujar Alexa.
“Sudah sudah kalian mau terus bicara didepan?” potong Hart. Lalu dirinya menyuruh si kembar untuk masuk duluan dan berganti pakaian.
Semuanya masuk melanjutkan obrolan mereka. Dan tak mereka sadari hari pun sudah mulai sore, suara ketukan terdengar dari luar. Alexa pamit pada teman temannya untuk membukakan pintu. Ternyata yang mengetuk ialah Habil bersama gurunya.
“Assalamualaikum Bu,” ujar guru Habil.
“Terima kasih.”
Hart berdiri melihat guru ngaji anak anaknya sudah datang. Dia memanggil Yue dan Aiden untuk turun kebawah. Setelah mendengar teriakan Papanya, mereka muncul, senyuman terpampang di wajah Aiden saat melihat Habil.
“Baiklah pak kalo begitu saya akan mengajarkan anak anak di sana, permisi.”
Hart menganggukkan kepalanya pelan.
“Hart lu yang nyuruh si kembar belajar ngaji?” tanya Genta.
“Gak, gue aja gak kepikiran buat nyuruh mereka ngaji. Kemarin Aiden merasa kagum sama suara anak kecil itu saat melantunkan ayat suci Al-Quran.”
“Ohh kirain inisiatif dari bapaknya. Ternyata anaknya sendiri yang mau, lu beruntung Hart punya anak kayak mereka berdua. Cantik—ganteng pinter pula.”
“Gue juga gak nyangka. Oh iya, malam ini kalian datang kan buat tahlilan?”
“Datanglah ya kali kagak. Abis dari rumah lu gue bakal pergi kerumah Alya, buat bicarain acara nanti sama keluarganya,” ucap Genta melirik calon istrinya.
“Kapan kalian nikahnya?" tanya Raisa. Dia memberanikan diri untuk berbicara pada Alya.
“Nih,” sodor Alya memberikan undangan pada Raisa.
“Makasih ya.”
Ditempat si kembar, mereka berdua sangat lancar dalam membaca iqra. Sang guru mengetes keduanya pada halaman terakhir betapa kagumnya dia mendengar bacaan Aiden dan Yue yang cukup baik.
“Bacaan kalian sudah sangat bagus, jika pak guru mengetes kalian sekali lagi bagaimana?”
“Tidak papa Pak, aku malah senang. Dengan cara dibaca berulang kali maka kita akan cepat hafal dan lancar. Oh iya pak, apa membaca Al-Qur'an harus dengan suara yang merdu?” ujar Aiden dengan semangatnya.
“Begini nak Aiden. Membaca Al-Qur'an memang paling enak dengan suara yang merdu. Namun, kita juga harus memperhatikan tajwid nya. Sebelum menggunakan suara yang enak, maka kita terlebih dahulu belajar tentang tajwid, cara membaca Al-Qur'an yang benar dan baik.”
“Tajwid itu apa?” tanya Yue dengan wajah polos.
“Tajwid adalah membaguskan bacaan huruf atau kalimat Al-Qur'an satu persatu dengan terang, teratur, perlahan dan tidak tergesa-gesa. Seperti yang pak guru bilang tadi, tajwid dapat membuat bacaan Al-Qur'an kita menjadi benar dan baik. Kita tidak boleh membacanya dengan asal.”
“Oh begitu, baiklah mulai sekarang aku akan belajar tajwid,” seru Yue.
“Bagus, kita harus belajar sejak dini. Sebab jika kita sudah dewasa nanti akan di sibukkan oleh pekerjaan. Banyak orang yang berhenti belajar Al-Qur'an padahal mereka sewaktu kecilnya merupakan orang yang sangat rajin. Yue dan Aiden jika sudah besar nanti jangan pernah berhenti/ bosan dalam hal mengaji.”
Si kembar menganggukkan kepalanya paham atas ucapan pak guru sedangkan Habil hanya mendengarkan saja.
“Sudah pukul setengah enam sore, belajarnya cukup sampai disini ya. Besok kita lanjutkan lagi dan mulai belajar tentang tajwid.”
“Baik, aku gak sabar menunggu besok.”