Yue And Aiden

Yue And Aiden
Bab 26 (YAA)



Keesokan harinya si kembar pergi ke sekolah bersama Avan. Seperti biasa sang guru telah menunggu para muridnya di depan gerbang, Mitha memalingkan wajahnya saat Om si kembar itu memandangnya.


“Sadar Van, dia bukan cewek baik. Jangan mencintainya lagi,” gumam Avan.


“Kita masuk dulu ya Om,” ucap Yue pada Avan. Setelah berpamitan dan mencium tangan Omnya, mereka berdua melanjutkan langkahnya menuju kelas. Tiba tiba Mitha menghentikannya lalu bertanya akan kondisi Hart dirumah sakit. Mendapat pertanyaan seperti itu Yue pun memasang wajah malas.


“Papa baik,” jawab Aiden. Sang kakak tahu jika adiknya itu malas untuk menjawab pertanyaan gurunya. Melihat tingkah Yue yang seperti itu Mitha merasa kesal karena hanya Yue lah yang susah untuk dia dekati.


Tempat lain, seorang kakek tua menyuruh anak buahnya untuk mengawasi si kembar. Entah apa yang direncanakannya dia ingin sekali membawa Yue dan Aiden. “Baik boss.” Tiga lelaki berpakaian hitam rapih pergi menuju sekolah si kembar.


Hari ini sekolah dasar Nusa Bangsa akan melaksanakan kegiatan seperti lomba melukis, pentas seni, dan lainnya. Si kembar terdiam melihat teman temannya ternyata datang bersama kedua orang tuanya. Aiden mengelus punggung adiknya sambil tersenyum.


“Baiklah anak anak, lomba melukis akan di lakukan sebelah kanan, menyanyi di sebelah kiri. Lalu setelah itu acara pentas seni, bagi anak anak yang mengikutinya harap menunggu dikelas masing masing sambil berlatih terlebih dahulu.”


Semua murid membubarkan diri kecuali anak anak yang langsung memulai lombanya. Aiden dan Yue mengikuti perlombaan yang sama yaitu melukis. Alya dan Genta datang karena titah dari Alexa untuk menjaga si kembar, sedangkan dirinya menjaga sang suami. Alya berteriak memanggil nama Yue, saat menoleh gadis kecil itu memberikan sebuah senyuman manis.


1 jam berlalu, lomba melukis selesai. Kini si kembar bisa santai sembari menunggu pengumuman juara. Mereka berdua pergi menghampiri Alya yang sedang duduk bersama calon suaminya. Yue tersenyum dan terdengar suara dari perutnya menandakan jika dirinya lapar. Saat menuju kantin mereka berempat berpapasan dengan Mitha, guru itu terus memandang tak suka kepada Alya.


“Hey, udah nggak usah di lihatin terus,” ujar Genta.


“Kesel aja sama tuh cewek. Urat malunya udah putus kali, bisa bisanya suka sama Hart.”


“Udah udah, nggak kasian tuh sama si kembar. Mereka udah kelaparan mending kita cepat ke kantin aja.”


“Iya iya sayang,” ucap Alya dengan nada manja. Mitha yang melihat itu merasa geli.


Sesampainya di kantin. Genta langsung memesan makanan dan minuman. Dua orang lelaki yang sedang duduk membuat Genta menaruh curiga. Sebab, saat diperhatikan dua orang itu terus menerus menatap ke arah Yue dan Aiden.


“Bagaimana ini? Ternyata mereka bersama orang lain.”


“Tunggu saja, kita akan beraksi jika kedua orang itu tidak bersama mereka.”


“Baik.”


Genta kembali ke mejanya. Dia berbisik kepada Alya tentang dua orang lelaki yang menurutnya mencurigakan. “Dimana?” tanya Alya melirik kanan kiri.


“Meja sebelah sana, dua lelaki berpakaian hitam,” jawab Genta. Alya melihat ke arah yang ditunjukkan Genta.


“Tante,” ucap Yue membuat Alya terkejut.


“Iya kenapa sayang?”


“Papa gimana? Apa Tante sudah melihat keadaan Papa tadi pagi?”


“Sudah. Kamu tenang saja, Papa Hart sudah sehat dan Buna ada disana menjaganya. Nanti kita pulang dari sini langsung kerumah sakit jenguk Papa ya,” jawab Alya mengelus lembut rambut Yue.


“Aiden makan yang banyak biar kuat kaya Om,” ucap Genta.


“Baik Om,” sahut Aiden memberikan hormat. Genta merasa gemas dengan tingkah dua anak di depannya itu, dia semakin ingin segera menghalalkan Alya.


Dirumah sakit Alexa sedang menyuapi suaminya. Entah apa yang merasuki Hart, lelaki itu terus saja menggoda Alexa sampai membuat pipi istrinya memerah. Saat Hart akan mencium sang istri tiba tiba pintu terbuka, ternyata yang datang adalah kedua orang tuanya dan sang mertua. Hart mendapat pukulan kecil dari Mamanya karena telah membuat dirinya khawatir.


“Sakit Mah, Hart nggak salah apa apa juga.”


“Apa yang terjadi? Kenapa kamu bisa masuk rumah sakit hah?! Buat orang tua khawatir aja,” omel sang Mama.


“Hart nggak papa, cuman sakit biasa.”


“Aduh sayang kamu pulang saja dulu bersihkan diri. Biar Mama dan Papa yang jaga Hart disini.”


“Ah nggak usah Mah, Alexa disini aja.”


“Sudah nurut saja, kamu pulang dulu lalu kesini lagi. Sekalian bawa baju untuk suami mu juga.”


“Ya udah Alexa pulang dulu ya Mah, Pah.” Al pun pamit pada mertuanya. Dia pulang bersama sang Mama.


Saat di perjalanan Alexa berkata pada Mamanya agar berhenti terlebih dahulu karena dirinya akan memeriksa kondisi panti yang sedang di renovasi itu. Setelah melihatnya mereka berdua melanjutkan perjalanan menuju rumah.


Ternyata guru ngaji si kembar berada dirumahnya. Terlihat anak anak sedang belajar bersama guru itu, raut wajah bahagia terpancar dari anak anak itu.


“Assalamualaikum,” ucap Alexa dan Mamanya.


“Wa'alaikumsalam,” jawab semuanya.


“Maaf mengganggu.”


“Tidak apa Bu,” ujar sang guru. Alexa masuk ke kamar membersihkan diri lalu menyiapkan pakaian untuk Hart.


Genta yang telah izin kepada Alya untuk pergi kini telah berada disamping dua lelaki mencurigakan itu. Dia berbicara dengan wajah terus melihat acara, lelaki disampingnya menatap Genta.


“Apa tujuan kalian disini?” tanya Genta langsung.


“Bukan urusanmu,” jawab lelaki itu.


“Gue tahu tujuan kalian, dari awal gue udah curiga kalo kalian berniat ingin melakukan hal buruk pada Yue serta kakaknya. Jangan harap tujuan lu berdua tercapai, gue nggak akan biarin siapapun berniat jahat pada mereka.”


“Bagaimana dia bisa tahu tujuan kita disini?” bisik lelaki satunya. Genta tersenyum mendengar ucapan lelaki tersebut. Jelas saja dirinya tahu, dari cara mereka memandang si kembar sudah terlihat mencurigakan, apalagi mereka berdua terus saja mengikuti kemana si kembar pergi. Setelah berbicara Genta pergi, dua lelaki itu kesal karena Genta. Mereka segera menelpon bosnya dan langsung melapor.


Keduanya pergi setelah telpon ditutup. Alya bertanya pada Genta apa yang dia bicarakan dengan dua lelaki mencurigakan itu?


“Nggak ada apa apa, jam 11 nih acara udah mau selesai. Kita menunggu sampai pengumuman juara apa langsung berangkat ke rumah sakit?” ujar Genta mengalihkan topik.


“Tunggu saja, nggak enak sama para guru,” ucap Alya.


“Iya Om tunggu aja, aku penasaran siapa juara lomba melukisnya. Is nggak sabar,” sambung Yue.


“Kamu mengantuk Aiden?” tanya Alya.