
Si kembar dan orang tuanya pun pulang kerumah padahal Hart ingin Alexa untuk kembali ke rumah sakit. Namun istrinya itu keras kepala, dia ingin pulang dan tak mau berlama-lama di sana.
“Buna, malam ini aku mau tidur bareng ya,” ujar Yue.
“Iya sayang, Aiden mau tidur bareng Buna juga kah?”
“Tidak Buna. Kalo aku ikut tidur sama Buna terus Papa gimana? Kasurnya kan kecil mana cukup berempat.”
Hart mengelus putranya. Dia bangga memiliki anak anak yang sangat cerdas dan pintar. Terdengar suara ketukan dari pintu depan, Aiden berjalan membukanya. Ternyata Oma dan Opa nya yang datang. Anak kecil itu terlihat bahagia dan langsung memeluk.
“Wah cucu Oma yang buka pintunya," ujar Mama Hart.
“Iya Oma, Buna lagi sakit jadi...,” ucapnya terpotong. “Buna sakit apa sayang?” tanya Oma.
“Eh ada Mama,” ujar Alexa datang melihat.
“Kamu sakit apa sayang? Alexa kenapa Hart, kok sampe pakai kursi roda segala?” tanya Mama Hart panik. Perempuan yang sudah tidak muda lagi itu khawatir dengan menantunya. Terlihat dari raut wajah yang cemas itu.
“Aku gak papa kok Mah, cuman sakit biasa aja. Gak perlu khawatir,” sahut Alexa tersenyum.
“Beneran gak papa?” tanya Mama Hart menyorotkan matanya.
“Iya Mah, Al gak papa kok.”
“Kamu ya Hart, istri dijaga dong jangan sampai begini,” ujarnya sambil mencubit pelan pada sang anak.
“Kita gak masuk nih dan terus ngobrol di sini?” ucap Papa Hart.
Alexa dan Hart mempersilahkan masuk, Aiden menuntun Opa nya yang sudah tak muda lagi. Yue yang melihat Oma, Opa nya datang langsung memeluk mereka. Gadis kecil itu menyatakan rindunya yang sudah lama tak bertemu.
Tak terasa hari sudah mulai gelap. Kedua orang tua Hart menginap dirumah anaknya. Alexa yang kesusahan pun dibantu oleh sang suami, melihat pasangan itu kedua orang tuanya merasa senang. Kisah yang tak di awali dengan rasa cinta namun lambat laun mereka berdua bisa saling peduli dan menyayangi. Ditambah kehadiran si kembar, Yue dan Aiden.
“Aku merasa beruntung Hart bisa bertemu dengan Alexa walau dengan pertemuan yang kurang mengenakkan,” ujar Mama Hart pada suaminya sembari melihat sang anak yang sedang membantu istrinya.
“Sudah takdir namun dengan awal yang kurang bagus. Tapi sudahlah, lagipula semuanya sudah lewat. Kini kita harus pokus dengan masa depan jangan melihat pada masa lalu.”
“Iya, tapi aku benar benar bahagia setiap melihat si kembar. Mereka begitu pintar tumbuh menjadi anak yang sangat baik.”
Sang suami hanya menganggukkan kepalanya atas perkataan istrinya. Lalu Alexa dan Hart datang mengajak kedua orang tuanya untuk makan malam bersama. Saat di meja makan Yue juga Aiden memberitahu Oma, Opa nya jika mereka baru saja memenangkan lomba matematika di sekolah.
“Cucu Oma emang pintar, selamat ya sayang.”
“Terima kasih Oma,” ucap Aiden dan Yue bersamaan.
“Mari makan, maaf ya Mah kalo makanannya hanya segini. Stok makanan sudah habis Alexa belum sempat ke pasar.”
“Tidak papa sayang, segini aja sudah cukup. Mending kamu istirahat jangan banyak gerak Mama gak mau kamu tambah sakit. Biar Hart yang urus semuanya,” ujar Mama nya sembari melirik pada sang anak.
“Iya iya biar aku yang belanja besok,” sahut Hart mengerti dengan tatapan Mama nya.
Mereka sekeluarga melanjutkan makan, sampai pada pukul 21:00 Alexa mengajak kedua anaknya untuk tidur. Seperti yang dibilang Yue ingin tidur bersama Buna nya. Dia pun berlari menuju kamar sang Buna dengan riang. Sedangkan Aiden tetap di kamarnya, Hart menjaga putranya sampai terlelap lalu pergi ke kamar.
“Iya, sudah kamu istirahat saja biar aku yang melanjutkan cerita untuk Yue.”
“Gak perlu sebentar lagi juga dia tidur,” jawab Alexa.
“Ya sudah, kalo gitu aku saja yang membacakan cerita manis pada mu agar cepat tidur, istirahat.”
Alexa menyipitkan matanya dia heran mengapa suaminya itu bersikap begitu. “Apa hah? Salah kah aku membacakan cerita untuk kamu?” ujar Hart.
“Ngapain juga kamu bacain cerita buat aku. Udah gede gak usah, yang ada aku tidak bisa tidur.”
Hart menghiraukan ucapan istrinya. Dia langsung pergi kesamping Alexa, duduk dan membuka buku cerita. Terlihat raut wajah Alexa yang aneh, Hart sudah menebak jika Alexa tidak bisa bernapas seperti dulu. “Setiap dekat dengan ku selalu saja begitu,” ledek Hart.
Alexa menghela napas. “Fiuhh!! Aish Hart.”
“Kamu unik ya masa manusia bisa lupa caranya bernapas. Sudah lah gak usah di bahas lagi lebih baik cepetan tidur. Aku akan membacakan ceritanya.”
Hart mulai membaca, dan mata Alexa pun sedikit demi sedikit terpejam. Sang suami menatap wajah istrinya yang terlihat begitu cantik. Dia tak menyangka bisa memiliki Alexa yang pastinya banyak di incar oleh kaum Adam. Tiba tiba dirinya teringat dengan nama seseorang yang pernah Alexa sebutkan saat mereka pertama kali bertemu. Ya, nama itu adalah Ardan cowok yang sangat Alexa cintai.
“Ahhhk, gue berharap yang namanya Ardan gak akan muncul di kehidupan keluarga gue.”
••
••
••
Keesokan harinya, keluarga Albert sudah berkumpul di ruang tamu. Hart pamit pada kedua orang tuanya untuk mengantarkan Yue, Aiden ke sekolah lalu dirinya pergi ke pasar membeli bahan makanan.
“Jangan lupa bawa kertas yang sudah aku tulis tadi,” ucap Alexa pada sang suami.
“Iya,” jawabnya.
“Kertas apa sayang?” tanya sang Mama.
“Cuman kertas belanjaan aja Mah.”
Hart sudah sampai di sekolahan anaknya. Seperti biasa Mitha selalu menunggu para muridnya didepan gerbang memastikan tidak ada anak kelasnya yang terlambat. Saat melihat Hart yang mengantarkan si kembar, Mitha langsung merapihkan pakaiannya.
“Pagi pak Hart,” sapa Mitha dengan tersenyum.
“Pagi juga Bu,” jawab Hart.
Aiden melihat Yue, dia mengerti perasaan adiknya itu. Aiden pun angkat bicara dengan mengingatkan Papanya yang akan pergi ke pasar. Setelah itu Hart pamit pada kedua anaknya.
“Papa pergi ya kalian belajar yang rajin.”
“Baik Pah, hati hati.”
Yue dan Aiden pergi masuk ke kelas.