Yue And Aiden

Yue And Aiden
Bab 13 (YAA)



Happy reading all


•••


•••


•••


Keesokan harinya Alexa membangunkan Yue dan Aiden. Setelah itu dia kembali ke kamar melihat Hart apakah sudah bangun atau melanjutkan tidurnya.


“Punya suami tidurnya kebo banget,” ujar Alexa mencoba membangunkan Hart.


“Eummm...., jam berapa?” tanya Hart menggeliat dan masih memejamkan mata.


“Jam 06.00, bangun Hart mandi terus antarkan si kembar ke sekolah,” jawab sang istri.


“Emang si kembar udah bangun?”


“Udah, cepetan nanti Mama kamu ngomel loh. Emang nya mau pagi pagi kena marah Mama?”


“Iya iya, bangunin Al.” Hart menyodorkan tangannya pada Alexa.


Hart menunggu istrinya itu, namun karena terlalu lama dia pun membuka mata. Dan keberadaan Alexa sudah tidak ada lagi, dia sedikit kesal dengan tingkah sang istri yang selalu bersikap biasa terhadapnya. Walau berumahtangga sudah cukup lama, sikap Alexa tetap sama. Tidak ada kata romantis dalam hubungan mereka kecuali saat didepan orang tua.


Setelah itu Hart bersiap siap dan turun ke bawah menemui yang lain. Sarapan pagi telah selesai, Yue dan Aiden pamit pergi sekolah bersama Papanya. Didalam mobil dua anak itu terus menerus menanyakan tentang mereka yang akan belajar mengaji dengan gurunya Habil. Hart mengangguk atas pertanyaan yang kedua anaknya berikan.


Tak lama kemudian mereka sampai di gerbang sekolah. Seperti biasa selalu ada Bu Mitha yang berjaga menunggu murid muridnya. “Pagi Pak Hart, Aiden, Yue,” sapanya.


“Pagi,” ucap Hart dan anak anak.


“Belajar yang rajin ya,” ujar Hart sebelum masuk mobil. Mitha sedari tadi terus memperhatikan Hart, matanya tak pernah lepas dari pandangan cowok di depannya.


“Suami orang memang beda, selalu menggoda.”


Mitha tersenyum, dia memandang ponselnya. Ternyata poto Hart dia jadikan sebagai wallpaper handphonenya, entah dapat darimana poto tersebut. Yue dan Aiden yang sedang duduk melihat salah satu temannya sendirian, dia tak ikut bermain dengan teman yang lain. Sudah lama si kembar memperhatikan anak tersebut, dan kini mereka pun berniat untuk menghampirinya dan mencoba untuk mengajak anak itu bicara.


“Uby, boleh aku duduk disini?” tanya Yue. Anak yang bernama Uby itu hanya diam dan tak menatap wajah Yue. Dia memandang keluar jendela melihat teman teman lain yang sedang asik bermain.


“Eum boleh aku jadi teman kamu?” tanya Yue kembali. Kali ini Uby pun melihat ke arah Yue, terlihat raut wajahnya yang sedang sedih. Uby menghela napas, “Yue aku tidak butuh teman. Jadi enyah lah dan kembali duduk di kursi mu.”


“Aku gak punya teman, jadi bisakah sekarang kita menjadi sahabat?”


“Kamu punya Aiden, jadi bersahabat lah dengannya.”


Aiden yang mendengar perkataan Uby seperti itu pun langsung angkat bicara. Dia paham jika Uby adalah anak pendiam, namun perkataannya tadi bisa saja membuat Yue sedih yang seperti mengusirnya. Padahal niat mereka baik ingin mengajaknya berteman.


“Kami berdua tidak memiliki teman, maka dari itu aku dan Yue ingin mengajakmu sebagai teman kami. Dan tolong Uby, ucapan mu barusan sangat kasar. Seperti mengusir adikku,” ujar Aiden dengan tatapan dingin.


“Hehe gak papa kok jadi, apakah kamu mau berteman sama aku?” Uby menganggukkan kepalanya dan Yue pun tersenyum senang.


“Bagaimana dengan aku?” tanya Aiden.


“Kita bertiga teman,” sahut Yue.


Setelah mengobrol sedikit, bel masuk berbunyi dan sang guru datang. Pelajaran di mulai semua murid mendengarkan dan memperhatikan apa yang gurunya jelaskan. Beberapa jam kemudian bel kembali berbunyi menandakan istirahat.


“Yue ibu mau bicara sama kamu,” ucap Mitha sebelum meninggalkan kelas.


“Ibu mau bicara apa sama aku?”


“Begini, ibu mau tanya. Papa Hart menyukai benda apa ya? Besok kan ulang tahunnya, jadi ibu mau memberikan Papa Yue hadiah.”


“Ibu kan bukan siapa siapanya Papa. Kenapa harus repot-repot memberikan hadiah?” ujar Yue sedangkan Aiden hanya mendengarkan mereka berbicara.


“Ibu hanya mau mengucapkan terima kasih sama Buna kamu dia kan sudah menyelamatkan Ibu atas kejadian kemarin.”


“Harusnya Bu guru memberikan hadiahnya ke Buna bukan Papa,” jawab Yue yang sudah merasa bosan di tambah perutnya mulai berbunyi cacing didalam seperti sedang berdemo.


“Nih anak tinggal jawab pertanyaan gue apa susahnya sih, daritadi banyak tanya banget. Sabar Mit sabar, lu harus nakluk—in hati anaknya dulu,” gumam Mitha yang mulai kesal.


“Ibu kenapa diam?” tanya Yue.


“Ibu gak papa kok, jadi Papa Hart suka benda atau hadiah apa? Ibu akan memberikan dua hadiah, satu untuk Papa Yue dan satunya untuk Buna.”


“Ya udah deh aku kasih tahu, Papa itu sukanya sama mainan tikus. Dan untuk Buna dia sangat suka dengan voucher belanja. Kalo ibu memberikan Buna Yue itu pasti Papa sangat berterima kasih.”


Aiden melototkan matanya setelah mendengar kata mainan tikus. Sebenarnya Hart sangat jijik dan takut dengan mainan yang Yue ucapkan. Entah apa yang ada di pikiran adik perempuannya itu mengatakan jika Papanya sangat mainan tersebut.


“Kok Papa Yue suka sama mainan tikus sih?” tanya Mitha menyipitkan mata. Dia sedikit curiga pada muridnya itu.


“Iya Bu selera Papa itu beda. Bahkan waktu mainannya di ilangin Buna Papa marah banget,” jawab Yue dengan raut wajah serius.


Aiden melihat wajah adiknya seperti itu ingin rasanya dia tertawa. Sedangkan Mitha mengucapkan terima kasih atas info dari Yue. Setelah kepergian sang guru, Aiden menegur adiknya.


“Yue apa yang kamu lakukan? Gimana kalo nanti Papa marah pada Bu Mitha?”


“Aku hanya, ahh sudahlah Aiden. Perutku laper lebih baik kita ke kantin. Ajak juga Uby,” jawab Yue.


“Baiklah, aku mengerti apa yang sedang kamu rencanakan Yue. Tapi jangan kamu berkata seperti itu lagi, tidak baik. Kalo Buna tahu pasti dia akan memarahi kamu karena sudah berbohong.”


“Buna tidak akan marah padaku jika Buna tahu kalo guru kita ingin mengambil Papa dari dia. Sekarang kamu tahu kan apa penyebab aku tidak menyukai Bu guru?”


Aiden hanya menghela napasnya dia akan mengikuti apa yang di lakukan nanti oleh adiknya itu.