
Happy reading all
Malam hari, semua warga sudah mulai berdatangan untuk acara tahlil. Hart yang dikenal sebagai laki laki yang sibuk akan pekerjaannya pun ikut berkumpul bersama bapak bapak lain. Sedikit warga yang tahu jika Hart adalah seorang lelaki yang sangat baik. Namun, karena kesibukannya itu mereka semua mengira keluarga Albert tidak pandai dalam bersosialisasi.
Acara berjalan lancar seperti biasanya. Semua pulang kerumah masing-masing kecuali Genta dan Ardan. Hart mengajak kedua temannya untuk berbicara, setelah itu dia mengatakan jika dirinya ingin membangun sebuah panti. Genta sedikit kaget mendengarnya setahu dia Hart cowok yang tak ingin tahu tentang kehidupan orang lain. Hart pun menjelaskan bahwa itu adalah keinginan si kembar.
“Kok anak anak lu bisa berpikiran mau membangun sebuah panti?” tanya Genta penasaran.
“Gue gak tahu Gen, nanti deh gue tanya mereka. Lagipula niatnya baik kenapa gue harus nolak kemauan si kembar? Gue sebagai Papa selagi bisa mengabulkan keinginan Aiden dan Yue kenapa ngga kan?” ujar Hart.
“Anak di umur segitu tapi udah kayak anak dewasa aja pemikirannya. Alexa waktu hamil ngidam apa Hart sampe bisa anak anaknya cerdas kayak gitu?” ucap Ardan.
“Istri dia mah waktu hamil kagak pernah minta aneh aneh. Mungkin bisa menghasilkan anak seperti si kembar turunan dari Mak-Bapaknya.”
Hart menatap Genta, “yang di tanya siapa yang jawab siapa. Dasar,” ujarnya.
“Hahaha gue mewakilkan pak Hart yang terhormat.”
Ardan berdiri dia pamit pulang pada tuan rumah dan Genta. Karena tak tega meninggalkan Raisa yang tengah hamil di tinggalkan sendirian dirumah. Kini tinggal Hart dan Genta, sahabatnya itu berbisik mengajak Hart untuk melihat teman temannya yang lain balapan di malam minggu.
“Kampret lu Hart, sakit kepala gue.”
“Ya lu ngada-ngada, mau Alexa marah marah sama gue hah!!”
“Marah marah kenapa?” potong Alexa yang datang tiba tiba. Kedua cowok itu cengengesan lalu Genta izin pamit pulang.
“Gak papa Al, eh si kembar udah tidur belum?” ujar Hart.
“Belum tuh mereka mau Papanya yang bacain cerita. Coba deh kesana samperin udah larut malam ini.”
“Iya iya,” jawabnya. Hart melangkahkan kakinya menuju kamar sang anak.
“Anak Papa belum tidur, gak ngantuk atau gimana?”
“Belum Pah 5 menit lagi kita akan tidur.”
“Tumben Yue tidur bareng kak Aiden? Biasanya pisah kamar.”
“Hehe lagi mau sama kak Aiden aja Pah,” jawabnya cengengesan.
Alexa yang berada di bawah mendengar anak anaknya dan sang suami tertawa. Dia pun menghampiri mereka, saat pintu kamar terbuka tidak ada suara pun yang terdengar. Alexa menyipitkan matanya menatap sang suami serta si kembar dengan serius.
“Buna sini,” ajak Yue.
“Kamu ya. Bukannya suruh mereka tidur malah di ajak bercanda,” omel Al pada Hart.
“Lihat sayang Buna kalian marahin Papa,” adu Hart pada anak anaknya.
Mereka berempat tertawa bersama. Alexa menyadari bahwa dirinya merasa nyaman dan bahagia bersama Hart. Selama ini dia masih bingung dengan perasaan yang ada didalam hatinya.
“Oh iya, tadi Aiden bicara tentang panti maksudnya apa? Aiden menyuruh Papa buat panti asuhan atau gimana?”
“Kemarin saat pulang sekolah gak sengaja Aiden lihat panti di dekat toko cake yang sepertinya sudah tak terurus. Tapi masih banyak anak anak yang tinggal disana. Aku gak tahu apa disana ada orang dewasanya yang mengurus atau tidak.”
“Iya Pah Yue juga sering lihat kalo berangkat dan pulang sekolah.”
Hart mengangguk dia dan Alexa saling tatap. Keduanya mengerti apa yang di maksud si kembar sekarang. “ Baiklah nanti kita coba pergi kesana, Papa mau lihat lihat dulu apa benar itu panti atau hanya rumah kosong yang di pakai anak anak jalanan untuk istirahat.”
Aiden dan Yue mendekat pada Hart. Mereka berdua memeluk Papa nya dengan sangat erat, terlahir dari keluarga yang memiliki segalanya tidak membuat mereka merasa di atas atau sombong. Sikap rendah hati yang di miliki mampu menarik perhatian orang orang sekitar. Mengajarkan sikap toleransi, ramah dan berbuat baik pada anak merupakan kewajiban kedua orang tuanya. Jika sikap itu terus tertanam sampai sang anak dewasa maka orang tuanya telah berhasil mendidiknya.
“Sudah setengah sebelas lebih baik kalian berdua segera tidur. Besok sekolah Papa gak mau kalian bolos atau terlambat,” ujar Hart melepas pelukan kedua anaknya.
“Oke siap pak boss!”
Hart mengelus kepala Yue dan Aiden serta menciumnya. Setelah itu dia keluar bersama Alexa, Hart terkejut saat istrinya menggenggam tangannya secara tiba tiba. Tidak mau mengatakan apapun dia membalas genggaman tersebut.
“Hart makasih ya udah mau hidup sama aku,” ucap Alexa tiba tiba.
“Sama sama, aku akan terus bersama kamu dan si kembar. Jangan takut atau berpikiran bahwa aku akan meninggalkan kamu. Apapun yang terjadi kita akan terus bersama sama.”
“Iya aku hanya tak menduga aja pertemuan yang singkat membuat kita bertahan sampai 10 tahun lamanya.”
Hart menyimpan jari telunjuk di bibir Alexa. Dia tak ingin mendengar sepatah kata pun dari sang istri, Hart mendekati wajahnya sedangkan Alexa memejamkan mata. Apa yang Al pikirkan salah, dia menebak bahwa suaminya akan mencium namun nyatanya tidak. Hart hanya meniup wajahnya saja dan mengelus kepala.
Sedikit rasa kecewa dalam hati Alexa. Saat dia akan pergi ketempat tidur tangan Hart menarik tangannya. Dengan cepat Alexa pun memeluk sang suami, tanpa aba aba lagi Hart mencium bibir istrinya dengan sangat lembut.
“Makasih sudah menerima aku apa adanya,” ujar Hart lalu melanjutkan permainan nya lagi.
•••
•••
Pagi harinya, Aiden dan Yue berdiri di depan kamar Buna Papanya. Si kembar menunggu untuk di antarkan kesekolah, sampai pukul 07.00 masih belum keluar kamar juga kedua orang tuanya. Tak lama datanglah Oma mereka menanyakan apa yang di lakukan cucunya itu.
“Oma, ini Papa sama Buna tumben belum keluar kamar? Apa mereka semalam tidak tidur dan sekarang belum bangun?” tanya Yue dengan wajah polos.
”Coba sebentar Oma ketuk pintunya, kali kalian sudah sangat terlambat mending pergi minta antarkan Opa aja.”
“Baiklah, Oma tolong bangunkan Papa sama Buna. Aku dan Aiden akan berangkat sekarang,” ujar Yue.
Si kembar berangkat bersama dengan Kakeknya. Sesampainya disekolahan Bu Mitha yang sudah menanti kedatangan Hart pun terlihat senang setelah melihat mobil lelaki pujaannya telah datang.
Betapa terkejutnya setelah tahu yang keluar dari mobil seorang lelaki tua, seketika senyuman yang terpampang pudar begitu saja.
“Pagi Pak, tumben bukan Pak Hart yang anterin si kembar?” ucap Bu Mitha.
“Hart sedang sibuk bersama istrinya semalam, jadi dia belum bangun.”
“Sibuk? Semalam? Apa mereka.....?” pikir Mitha.