Yue And Aiden

Yue And Aiden
Bab 16 (YAA)



Happy reading all


••


••


••


Raut wajah Mitha berubah, padahal hari ini niatnya dia akan memberikan hadiah ulang tahun untuk lelaki pujaannya. Namun, Tuhan memang tidak merestui itu semua, setelah bersapaan dengan Papa Hart. Mitha pun pamit masuk untuk mengantarkan Yue dan Aiden ke kelas.


Ditempat lain, Alya dan Genta sedang sibuk dengan urusan pernikahan mereka nanti. Menyebarkan undangan pada teman temannya dan kerabat dekat. Saat itu pula Genta tak sengaja melihat mantan istrinya bersama seorang lelaki, Shilla menangis karena lelaki yang bersamanya memukul dirinya. Awalnya Genta tak ingin membantu masalah mereka, namun Alya menyuruh nya untuk memisahkan.


“Jadi cowok kok kasar,” ujar Genta memegang tangan lelaki yang akan menampar Shilla.


“Lu siapa? Jangan ikut campur sama urusan gue!!”


“Gue bukan siapa siapa, harusnya lu malu melakukan kekerasan pada seorang wanita di tempat umum. Mending lu pergi atau gue telpon polisi.”


Lelaki itu langsung pergi meninggalkan Shilla, Genta dan Alya. Sang mantan berterimakasih, dia meminta maaf atas semua kesalahannya pada Genta.


“Gue udah lupa semua, oh iya Shil. Ini jangan lupa datang,” ucap Genta menyerahkan undangan pada mantan istrinya.


“Kamu mau nikah Gen?” tanya Shilla lalu melirik pada Alya yang berada di samping Genta.


“Iya Shil kalo kamu gak sibuk datang ya nanti. Aku dan calon istriku permisi, mau lanjut bagiin undangan.”


Shilla hanya mengangguk saja tidak berkata apa-apa. Raut wajahnya terlihat tidak suka pada Alya, dia menatap dengan tatapan yang kesal dan cemburu.


“Gue gak terima Genta menikah lagi, sedangkan gue? Apapun caranya gue bakal dapetin hati Genta seperti dulu lagi.”


Pukul 09.00. Alexa dan Hart baru bangun dari tidurnya nyenyak nya. Mereka berdua terkejut saat melihat jam, segera lah Alexa turun mencari keberadaan Mamanya untuk menanyakan si kembar. Setelah tahu Yue dan Aiden sudah pergi sekolah di antarkan Opa nya Alexa pun menghela napas.


“Nyenyak banget ya tidurnya? Ngapain aja semalam, ehem.”


Alexa melihat Mamanya, dia tertunduk lalu izin pamit kembali ke kamar. Hart yang sudah mandi pun pergi kebawah, dia mendapatkan telpon dari bawahannya untuk segara datang ke kantor.


“Dasinya gak bener tuh,” ujar Alexa.


“Benerin dong sayang,” jawab Hart. Alexa melangkah ke arah suaminya dia membenarkan dasi.


“Makasih,” ucap Hart. Setelah mengucapkan selamat kasih dia pun pergi. Saat Alexa akan menutup pintu kamar Hart kembali hanya untuk mengedipkan mata pada istrinya.


“Apa?" tanya Alexa


“Gak papa, ya udah aku pamit ya.”


Kali ini Hart benar benar pergi. Alexa senyum senyum sendiri melihat tingkah Hart yang seperti tadi. “Lu bikin gue salting Hart, aish.”


Kembali pada si kembar, mereka berdua tak melihat keberadaan Uby. Dia pun bertanya pada teman yang lain, namun teman temannya tak mengetahui.


“Aiden, Uby kemana ya? Tumben gak masuk sekolah, dia kan anaknya rajin berangkat?” tanya Yue melihat kanan kiri.


“Aku juga gak tahu. Padahal hari ini aku mau mengajak dia ikut ngaji nanti sore. Oh iya Yue, apa dia gak masuk karena ibunya sakit? Kemarin kan kita lihat wajah ibu Uby sangat pucat.”


“Benar juga Aiden, sayangnya aku gak tahu dimana Uby tinggal. Seandainya kita tahu aku akan mengajak Papa untuk menjenguk.”


“Nanti kita tanya guru saja. Yue coba rapihin rambutku dong sepertinya berantakan,” pinta Aiden.


“Aku memang tampan dari lahir,” ujar Aiden dengan sangat percaya diri.


“Sudah ku duga dia akan bilang begitu.” Aiden tertawa kecil mendengar ucapan adiknya.


Bu Mitha telah memasuki kelas. Semua murid berdiri mengucapkan salam, setelah itu sang guru memulai pelajaran. Materi telah Bu Mitha jelaskan, kini waktunya anak anak SD itu untuk maju kedepan mengerjakan soal. Seperti biasa, anak emas dari sekolahan itu selalu maju terlebih dahulu dari teman temannya yang lain.


Setiap soal yang tertulis di depan dapat si kembar jawab dengan tepat. Setengah wali murid yang mengantarkan anak anaknya berdecak kagum.


“Si kembar itu hebat ya Bu, Ibu,” ujar salah satu wali murid yang sedang menunggu anaknya.


“Mereka anak emas disini Bu, tapi sayang gak pandai bergaul kayak anak anak lain. Dan denger denger juga nih Bu, mereka kan anak hasil hamil di luar nikah.”


“Wah kok saya baru tahu ya, jangan ngomong sembarangan Bu. Emangnya ibu ini tahu darimana?”


“Saya tahu dari tetangga saya, dia kan dulunya pernah tinggal di dekat Buna nya si kembar.”


“Ouhh...., tapi saya tetap bangga Bu sama mereka. Telah menjadi anak anak yang cerdas serta tahu sopan santun.”


Tanpa ibu ibu itu sadari, ternyata perbincangan mereka terdengar oleh si kembar. Mereka yang masih kecil dan belum paham apa apa berpikir apa itu anak hasil hamil di luar nikah?


“Aiden ayo ke kantin,” ajak Yue.


“Aku mau ke ruang guru buat minta alamat Uby, Yue. Kamu duluan saja nanti aku menyusul.”


“Gak jadi deh mending aku ikut kamu aja.”


“Ya sudah ayo.”


Di depan ruangan salah satu guru bertanya, dan Aiden pun menjawab. Dengan senang hati si guru menyuruh keduanya masuk dan menunggu selagi dia menuliskan alamat rumah Uby.


Tidak lama kemudian mereka berdua pamit kembali ke kelas. Di depan pintu sudah ada Mitha yang menunggu.


“Astagfirullah, kaget aku.”


“Kamu kenapa Yue?" tanya Mitha.


“Ibu bikin kaget aku, ngapain disini Bu dan kenapa gak masuk aja?”


“Ibu sengaja menunggu kalian disini. Kalo boleh bisakah ibu yang mengantarkan kalian pulang ke rumah? Sekalian mau memberikan hadiah ini pada orang tua kamu,” ujar Mitha menunjukkan sebuah kado yang ada di tangannya.


Yue melirik pada Aiden. Anak kecil itu sebenarnya tidak mau namun dia teringat apa hadiah yang akan gurunya itu berikan pada Papa nya.


“Baiklah Bu, hari ini saja aku dan Aiden akan pulang bersama ibu. Terima kasih,” ucap Yue memberikan senyum.


Si kembar pamit, Aiden bertanya pada adiknya itu mengapa dia mau di antarkan pulang oleh guru yang dia benci.


“Tumben kamu bersikap manis di depan Bu Mitha?”


“Hehe Aiden. Apa kamu lupa hadiah apa yang akan Bu Mitha berikan pada Papa? Coba kamu ingat,” ujarnya.


Aiden menyimpan tangannya di dagu, lalu tersenyum. “ Tikus mainan? Astaga Yue aku jadi tidak sabar melihat reaksinya saat tahu kalo Papa sangat jijik terhadap tikus.”


“Oh iya, kira kira Buna ingat gak ya sama ulang tahun Papa? Apa Buna udah membeli kado atau belum? Aku gak mau jika yang memberikan hadiah duluan pada Papa Bu guru Mitha.”