Yue And Aiden

Yue And Aiden
Bab 22 (YAA)



...HAPPY READING ALL...


Di kediaman Hart, keadaan rumah sudah sepi. Yue dan Aiden telah tidur di temani oleh Oma nya.


“Cantik,” ujar Hart memuji sang istri. Malam ini Alexa terlihat begitu sexy menggunakan pakaian merah. Mungkin itu yang dia bilang hadiah berikutnya untuk Hart saat dirumah.


Hart berjalan menghampiri istrinya yang sedang berdiri. Lalu wajahnya mendekat bahkan sangat dekat dengan Alexa. Tanpa aba aba lagi Hart langsung menyosor istrinya, mendapatkan perlakuan seperti itu Alexa pun tak menolak nya karena memang itu lah hadiah untuk Hart. Dia ingin membuat suaminya bahagia.


Saat sedang asik berciuman, tiba tiba saja pintu kamar mereka ada yang mengetuk. Hal itu membuat Hart berdengus kesal, namun saat membuka pintu dan melihat yang mengetuk wajahnya pun berubah menjadi manis.


“Ada apa sayang?” tanya Hart pada Yue. Gadis kecil itu memeluk boneka beruangnya, lalu mengatakan ingin tidur bersama Buna dan Papa.


Alexa tersenyum sedangkan Hart menghela napas. “Baiklah, ayo masuk.”


“Makasih Papa.” Yue berjalan masuk lalu melihat Buna nya yang berpakaian berbeda seperti malam malam lainnya. “Ahh Papa, kayaknya aku akan tidur dengan Aiden.”


“Kenapa sayang?” tanya Hart mengerutkan kening.


“Gak papa. Ya udah aku pergi ya, selamat malam.”


Hart heran dengan tingkah putrinya. Tapi itu membuat dirinya senang karena bisa melanjutkan yang tadi. Apa yang tertunda tadi pun mereka lanjutkan sampai lelah.


Pagi harinya Hart dan Alexa tak terlambat bangun. Suasana yang awalnya sepi kini berubah ramai karena adanya banyak anak anak. Sampai membuat Alexa, Mama dan mertuanya kewalahan mengurus mereka


“Hart kayak nya kasian juga kalo mereka gak sekolah, mau jadi apa besar nanti?” ujar Alexa.


“Nah benar Pah, gimana kalo mereka sekolah juga kayak kita?” sambung Yue.


“Anak anak sebanyak itu? Habis berapa juta untuk menyekolahkan mereka semua?” tanya Hart.


“Aiden, apa kita punya Papa yang pelit?” ucap Yue pada kakak nya.


“Tidak Yue. Kita hanya punya Papa yang baik hati, suka menolong seperti pahlawan.” jawabnya sibuk mengoles selai pada roti.


Alexa tertawa mendengar perkataan kedua anaknya yang sedang menyindir Hart.


“Baiklah Baiklah Papa akan urus semuanya, tapi nanti ya. Kerjaan Papa masih banyak kita tunggu rumah itu jadi lalu sekolahkan mereka satu persatu.”


“Yeayyy,” Yue dan Aiden terlihat senang dengan ucapan Papanya.


“Sayang aku antarkan mereka ke sekolah abis itu langsung ke kantor,” pamit Hart pada Alexa.


“Iya kamu hati hati. Oh iya tunggu Hart, nih kotak bekal buat kamu.”


“Makasih,” ucapnya sambil mencium kening Al.


...••••...


Sesampainya di sekolah, Yue dan Aiden terlihat bingung. Mereka berdua seperti mencari keberadaan seseorang.


“Sana masuk belajar yang pintar,” titah Hart lalu melajukan mobilnya.


“Aiden tumben ya Bu Mitha gak jaga gerbang?” tanya Yue heran.


“Cie Yue udah perhatian sama Bu Mitha sampai di tanyain gitu,” ejek Aiden.


“Enak aja perhatian, ngga lah. Aku cuman heran aja biasanya dia sudah berdiri di depan tapi kali ini tidak ada.”


“Iya sih tapi ya udah lah mungkin Bu guru sudah lelah, hehe.”


“Kalian berdua lagi bahas apa? Seru banget kayaknya,” ujar seseorang di belakang si kembar.


“Iya Bu. Ya udah kita masuk dulu,” pamit Yue sambil mencium lengan Mitha.


Pelajaran di sekolah berjalan lancar seperti biasanya. Namun, saat istirahat tiba Yue teringat dengan Uby yang harus menemani sang ibu berobat di luar negeri. Padahal baru saja menjalin persahabatan tapi sudah di tinggal.


“Yue ayo ke kantin,” teriak Aiden pada adiknya yang sedang menatap tempat duduk Uby.


Di tempat lain....., setelah kejadian yang menimpanya. Alya mengurung diri di kamar, dia tidak ingin bertemu dengan siapa siapa bahkan Genta. Kedua orang tuanya merasa khawatir akan keadaan Alya yang belum makan sama sekali. Mereka sudah menelpon Genta untuk membujuk sang anak namun tetap saja hasilnya.


“Saya pamit dulu ya Tante, mau kerumah Alexa nyuruh dia buat bujuk Alya.”


“Iya nak ajak Alexa kesini. Tante gak mau Alya jatuh sakit.”


Genta pun pergi kerumah Alexa, sesampainya disana dia terkejut dengan banyaknya anak anak. Setelah bertanya pada salah satu anak yang sedang bermain, Genta mengetuk pintu dan keluarlah Mama Hart.


“Eh Genta, Hart nya lagi di kantor kamu gak pergi juga?”


“Ngga Tante. Genta kesini mau cari Alexa, apa dia ada dirumah? Genta ada perlu,” ujarnya dengan sopan.


“Bentar Alexa lagi ada di belakang sama Mama nya, Tante panggilkan dulu ya kamu duduk aja.”


“Baik terima kasih Tante.”


Tak lama setelah itu muncullah Alexa dan langsung bertanya tentang sahabatnya. Genta menceritakan semuanya kepada Alexa, sampai perempuan itu tak percaya dengan apa yang terjadi pada Alya.


“Ya udah Gen antarkan aku kerumah Alya.”


“Iya,” jawabnya singkat. Genta berdoa supaya Alya mau keluar saat sang sahabat yang membujuknya. Dia tak ingin melihat calon istrinya itu berdiam diri terus dalam kamar tanpa makan.


“Ayo,” ajak Alexa.


Kembali pada si kembar, ternyata mereka berdua sedang di olok olok oleh anak kelas enam. Banyak yang bilang bahwa Yue dan Aiden adalah anak haram.


“Kamu jangan dengarkan perkataan mereka tutup saja telinga mu Yue,” titah Aiden.


“Kenapa mereka seperti itu? Apa kesalahan kita Aiden?” tanya Yue menangis.


Dari kejauhan seseorang memperhatikan semuanya. Ya, dia adalah Mitha. Guru itu tersenyum melihat si kembar yang di ejek dengan sebutan anak haram.


“Cukup! Hentikan!!”


Aiden terlihat sangat marah pada murid lain yang sudah mengolok-olok nya sampai membuat Yue menangis. Tak lama salah satu guru pria datang menghentikan semua dan membawa si kembar pergi.


“Kalian tidak kenapa-kenapa?” tanya sang guru.


“Tidak pak, terima kasih,” jawab Aiden.


“Sudah Yue jangan menangis,” sambungnya.


“Jangan kalian hiraukan perkataan mereka, tadi hanya candaan saja abaikan ya,” ujar si guru.


Mitha datang menghampiri, dia bertanya pada si guru pria apa yang terjadi. Guru licik itu menenangkan Yue seolah olah peduli padahal dia lah orang di balik semuanya.


“Tidak usah Bu, Yue biar aku yang tenangkan. Aku permisi dulu,” ujar Aiden dengan wajah datar.


“Baik, jaga adik mu.”


“Dasar anak anak menjengkelkan, jika saja kalian bukan anak dari Hart sudah aku culik dan jual,” ucapnya menatap kepergian Aiden dan Yue.


“Tapi hari ini aku merasa senang dengan semuanya,” sambung Mitha.