Yue And Aiden

Yue And Aiden
Bab 27 (YAA)



Aiden menggelengkan kepala. Namun, matanya berkata lain.


“Cuci muka yuk,” ajak Alya.


Mereka berdua pun pergi ke kamar mandi. Setelah menunggu beberapa menit akhirnya Aiden keluar. Wajahnya nampak segar, ketampanannya sangat terlihat begitu jelas saat lelaki kecil itu mengusap.


Alya berjalan di depan Aiden, dan tanpa dirinya sadari bahwa anak itu tidak ada di belakangnya. Begitu tahu Aiden menghilang Alya panik dan langsung memberitahu Genta.


“Gen gimana ini? Aiden nggak ada, aku takut Alexa marah kalo anaknya hilang saat sama aku.”


“Udah jangan mikir yang aneh-aneh dulu. Mending kita cari takutnya dia cuman mampir di kantin atau tempat lainnya. Ayo,” ujar Genta mencoba menenangkan Alya.


Yue melihat kepanikan di wajah Alya, dia bertanya apa yang terjadi? Tapi gadis kecil itu malah tak di tanggapi. Mitha yang memperhatikan dari kejauhan pun ikut heran mengapa Alya begitu terlihat panik.


“Apa terjadi sesuatu? Kenapa tuh cewek panik banget?” tanya Mitha pada dirinya sendiri.


Disisi lain, Aiden kini sedang bersama orang orang yang sejak pagi mengawasi dirinya. Dugaan Genta tentang para lelaki itu benar, ternyata mereka mengincar si kembar.


“Nggak ada panik-paniknya nih anak, padahal dia sedang kita culik,” ujar salah satu pelaku.


Aiden terlihat santai, tidak ada kepanikan sedikitpun diwajahnya. Tak berapa lama mereka sampai di sebuah rumah yang begitu mewah. Aiden sedikit kagum saat melihatnya, para lelaki itu membawanya masuk lalu keluar seorang lelaki tua.


“Ini bos, tapi maaf hanya satu yang kami bawa.”


Aiden mengerutkan keningnya heran, dia bertanya-tanya siapa lelaki tua didepannya itu. “Kakek siapa? Kenapa bawa aku ke sini?”


“Aiden, apa kabar nak?”


“Kok kakek tahu nama aku? tanyanya dengan polos.


Bukannya menjawab pertanyaan Aiden, lelaki itu malah menyuruh anak buahnya untuk membawa anak Hart tersebut ke dalam kamar. “Diam di sini! Jangan melakukan apapun yang membuat bos kita marah. Aku akan membawakan mu makanan, tunggu!”


“Waahh, rumah ini benar benar besar dan mewah dibandingkan rumah Papa. Tapi siapa kakek itu? Kenapa aku dibawa ke sini? Apa dia teman Opa dan Oma?”


Saat sedang melihat-lihat isi kamar, terdengar suara orang mengobrol. Aiden pun mendekatkan telinganya dengan pintu. “Jadi mereka bukan teman Opa sama Oma? Ngapain nyulik aku dan apa untungnya bagi mereka?” gumam Aiden. Lelaki kecil itu baru menyadari jika dirinya sedang di sandera.


“Genta gimana ini? Aiden nggak ada di sekolah, aku takut terjadi sesuatu sama dia.”


“Kita hubungi Alexa dan Hart aja, mereka harus tahu.”


“Kamu mau mereka marah sama aku karena nggak bisa jaga Aiden?”


“Mau bagaimanapun kita harus kasih tahu mereka. Dengan begitu kita bisa cari sama-sama.”


“Terserah.” Genta menelpon Hart dan menceritakan hilangnya Aiden di sekolah. Mendengar anaknya menghilang, Alexa pun dengan panik menyusul ke sekolah bersama Mamanya.


“Maaf ya Al, Aiden hilang.” Alya menunduk meminta maaf. Dia takut jika sahabatnya itu marah kepadanya.


“Iya nggak papa Alya, ini bukan salah kamu.”


“Kalian udah cek CCTV?” ucap Hart tiba-tiba. Ternyata dia datang bersama orang tuanya. Melihat kedatangan Hart, Mitha pun tersenyum lalu menghampiri mereka semua.


Hart terdiam, dia tidak menyapa balik guru anaknya tersebut. Tanpa menunggu lama Genta dan Alya pergi memeriksa CCTV yang ada di sekolah. Setelah dilihat ternyata yang membawa Aiden adalah orang orang pagi tadi. Hart mengerutkan keningnya, bertanya siapa lelaki berpakaian hitam tersebut kepada Genta.


“Gue udah curiga sama mereka sejak awal, jadi kita mau lapor polisi atau gimana Hart?”


“Emangnya siapa mereka?”


“Gue juga nggak tahu. Yang pasti dari pagi tadi mereka semua terus mengawasi si kembar.”


“Kamu punya musuh Hart?" tanya Alexa menatap wajah suaminya.


“Nggak lah.”


“Terus kenapa mereka mau menculik si kembar?”


“Ya aku nggak tahu, udahlah lebih baik kita cari Aiden. Aku nggak mau terjadi apa-apa sama anak kita.”


Mereka semua membubarkan diri setelah melihat CCTV, Mitha masih bingung apa yang terjadi pada keluarga itu. Setelah melihat tidak adanya keberadaan Aiden, dia pun sadar telah terjadi sesuatu pada anak muridnya.


“Buka kunci brankas ini!” titah si lelaki tua. Aiden tak mengerti apa yang dimaksud lelaki tersebut.


“Aku nggak tahu,” jawab Aiden.


“Buka ini atau saya akan melukai Papa kamu!”


“Aku emang nggak tahu kek, gimana caranya membuka brankas. Dan kenapa kakek minta aku yang membukanya? Bukannya ini milik kakek, seharusnya kakek yang buka.”


“Saya tahu kalo kamu bisa membuka kunci brankas ini. Jangan banyak tanya lagi cepat buka atau saya....”


Aiden menghela napas, dia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. “Apa yang kakek ini pikirkan, kenapa dia berpikir jika aku bisa membuka brankas miliknya? Bagaimana mungkin.”


Melihat anak didepannya yang tidak melakukan apa-apa, dia pun mulai merasa kesal dan meninggalkan kamar. Menyuruh anak buahnya menjaga. Diruang tamu, kakek itu menelpon seseorang lalu mengomel. Tidak ada yang berani mendekat kepadanya saat sedang marah. Semua anak buah yang ada didalam langsung pergi keluar karena takut akan terkena lempar dan lainnya.


Hart dan Alexa masih mencari keberadaan anaknya. Keduanya tidak melapor pada polisi, karena takut jika para penculik itu akan melakukan hal yang tak di inginkan. Genta, Alya dan orang tua Hart pun sama, mereka masih sibuk berkeliling mencari Aiden. Yue yang tidak ikut harus menunggu kepulangan kakaknya dirumah bersama anak-anak panti.


“Pak guru, apa Aiden baik-baik aja?” tanya Yue pada guru ngajinya.


“Tenangkan diri kamu, Yue. Aiden pasti baik-baik aja berdoa pada Allah supaya kakak kamu cepat ditemukan.”


“Iya pak.”


Hari semakin gelap, namun Hart dan yang lain masih belum kembali membuat anak gadisnya khawatir. Habil dan anak-anak lain mencoba untuk menghibur Yue agar tidak terlalu sedih. “Aiden pasti ketemu kok, aku yakin. Ayo makan dulu Yue kamu harus mengisi perut agar tidak kosong,” ucap Habil.


“Benar Yue, kamu harus makan. Kalo Papa dan Buna tahu kamu nggak mau makan pasti mereka sedih, putri kesayangannya sakit,” sambung pak guru.


“Aiden udah makan?”


“Kakak kamu pasti sudah makan, jangan khawatir dia kan lelaki yang kuat dan cerdas.”


Pukul 20.00, Alexa dan yang lain memutuskan untuk pulang terlebih dahulu. Memeriksa keadaan Yue dan anak-anak panti. Sesampainya dirumah, terlihat mereka semua sedang berdoa bersama agar Aiden cepat ditemukan. Alexa menitikkan air mata, merasa terharu pada mereka semua yang telah peduli terhadap anaknya.