Yue And Aiden

Yue And Aiden
Bab 6 Alya menghilang



Setelah memberikan Hart minuman, Alexa pun pergi mengambil handphonenya. Dia segera menelpon balik Alya takut terjadi sesuatu sampai sahabatnya itu menghubunginya beberapa kali.


“Aish dimana Alya? Kenapa gak angkat telpon dari gue sih?” gerutu Alexa.


Dia sudah mencoba beberapa kali namun hasilnya sama. Handphone Alya malah tidak aktif dan Alexa mulai merasakan khawatir. Baru pertama kalinya Alya seperti ini.


“Hart... Hart, aku izin pergi ya,” teriak Alexa.


“Sudah malam begini kemana kamu akan pergi?”


“Alya, Hart. Alya, dia susah di hubungi aku khawatir sama dia. Takut terjadi sesuatu,” jelasnya.


Tiba tiba saja Hart mengambil kunci mobilnya, lalu mengajak Alexa pergi. Sang istri terdiam dan Hart membuyarkan lamunannya. “Jadi pergi gak?”


“Ahh iya jadi, ayo.”


Yue dan Aiden yang kebetulan belum tidur melihat Buna juga Papanya pergi terburu buru. Sebagai kakak, Aiden pun menyuruh Yue untuk pergi ke kamarnya. Menemani sang adik tidur dan membaca kan cerita.


Baru saja anak kecil itu akan memejamkan mata, tiba tiba terdengar suara bel pintu. Aiden berpikir jika itu Buna dan Papanya pasti tidak akan menekan bel.


“Siapa yang bertamu malam malam begini?” pikir Aiden dengan sedikit rasa takut. Sebab, hanya dia dan Yue yang berada dirumah sedangkan kedua orang tuanya entah pergi kemana.


“Kak Aiden di luar siapa?” tanya Yue.


“Gak tahu aku, mau kita lihat atau gimana?” tanya Aiden balik.


Di luar rumah seorang lelaki sedang menunggu di bukakan pintu. Ternyata ia adalah Avan adik dari Hart yang di suruh kakaknya untuk menjaga Yue juga Aiden.


Merasa lelah menunggu Avan pun berteriak memanggil kedua keponakannya. Setelah mendengar itu dua anak kecil tersebut menghela napas lega.


“Lama banget Om capek nunggu berdiri di luar,” ujar Avan dengan raut wajah masam.


“Hehe..., lama darimana cuman 10 menit doang Om Avan berdiri di luar,” sahut Yue dengan wajah polosnya.


“Dah dah pasti kalah gue lawan nih dua bocil. Ayo masuk gak baik kita lama lama di luar, eum kok kalian berdua belum tidur sih?”


“Lah Om Avan sendiri kenapa kesini?” tanya Aiden.


“Perintah Papa kamu Om Avan kesini. Mereka pergi bukan? Makanya Om disuruh buat jagain kalian, padahal Om lagi kumpul sama pacar dan temen temen.”


Selesai bicara dengan dua keponakannya, Avan menyuruh mereka untuk pergi tidur. Sayangnya, menyuruh Yue juga Aiden tidak semudah itu. Selalu saja Avan harus membuat wajah lucu yang bisa bikin keduanya tertawa puas.


“Kayaknya habis ini gue harus minta gaji sama bang Hart. Ngurus bocil ternyata susah juga, cuman tidur aja repot banget.”


“Ayo Om buat wajah lucu. Kami janji setelah itu akan pergi tidur.”


Avan menghela napas dan setelah itu membuat wajah lucu. Sudah beberapa kali hasilnya nihil, dua anak kecil tersebut sama sekali tidak tertawa. Justru mereka merasa bosan dan pergi begitu saja meninggalkan Om nya.


Disisi lain Alexa dan Hart masih mencari Alya. Tak lupa Genta pun ikut mencari, dia merasa khawatir juga dengan sahabat kecilnya.


“Alya lu dimana sih?” tanya Genta.


Dan saat sedang melihat kanan kiri mencari keberadaan Alya. Tak di duga Genta melihat istrinya sedang berada di luar bersama pria lain. “Shila? Bukannya dia pamit kerumah Mama karena sakit, tapi kok?”


Wajah Shila terlihat bahagia apalagi tangan pria yang bersamanya memegang pinggang dirinya.


“Apa apaan ini!!” ujar Genta kesal.


“Genta?” ucap Shila terkejut atas keberadaan suaminya.


“Ngapain kamu disini? Dan siapa pria ini? JELASKAN SHILA!!”


“Gue pacarnya Shila, kenapa?” ujar lelaki yang bersama istri Genta. Tak menunggu lama dengan amarah menggebu Genta pun memukul pria tersebut sampai berdarah di ujung bibirnya.


Shila melototkan matanya, dia menelan ludah karena selingkuhannya itu telah memberitahu sang suami bahwa mereka berpacaran. Orang orang yang melihat pertengkaran Genta dengan pacar Shila ikut melerainya. Mirisnya sang istri malah memilih pergi bersama sang pacar. Dia sama sekali tidak berniat untuk menjelaskan masalah sebenarnya.


Genta berjalan menuju mobil dia terus memukul mukuli mobilnya dengan keras. “Kenapa! Kenapa kamu tega Shil, apa salah dan kekurangan aku sampai kamu pergi bersama pria lain? APA SHIL! APA SALAH AKU!!!”


Hart dan Alexa yang kebetulan lewat tak sengaja melihat Genta yang sedang mengomel sendiri. Keduanya pun menghampiri. “Lu kenapa Gen?” tanya Hart sembari memegang pundaknya.


“Shila Hart, Shila. Dia tega pergi dengan cowok lain,” ujar Genta.


“Hah?” sahut Alexa dan Hart bersamaan.


“Gak mungkin dong Gen, tadi waktu kita ketemu di toko lu dan dia terlihat baik baik aja. Gimana bisa istri lu pergi dengan pria lain?” ucap Alexa.


“Gue lihat dengan mata kepala gue sendiri Al. Dan barusan gue berantem sama cowoknya, Shila memilih pergi sama tuh bajingan. Gue izinin dia pergi malam karena kata dia Mama nya sakit parah dan meminta dia untuk datang. Namun, saat gue mau nemenin dia katanya gak perlu karena sudah di jemput supir Mertua gue.”


“Sabar bro, nanti juga istri lu balik dan minta maaf,” ujar Hart menenangkan.


“Tapi Hart kalo cewek sudah selingkuh apa cowok nya masih mau menerima dia?” tanya Alexa pada sang suami.


Pertanyaan itu membuat kedua cowok terdiam. Hart ingin sekali menjitak kepala sang istri karena telah berbicara seperti itu didepan Genta. Situasi yang tidak pas untuk temanya itu.


“Apa gue pisah aja sama Shila?” ucap Genta yang membuat Hart dan Alexa terkejut.


“Lu kan baru 4 bulan menikah Gen, masa mau pisah sih?”


“Tapi Hart, gue terlanjur kecewa sama Shila.”


Hart menatap istrinya dan Alexa hanya menggelengkan kepalanya tanda tak tahu harus berbuat dan berkata apa.