Yue And Aiden

Yue And Aiden
Bab 23 (YAA)



...HAPPY READING ALL...


Alexa telah sampai di rumah Alya, dia disambut hangat oleh kedua orang tua sahabatnya. Setelah itu Alexa langsung di antarkan ke depan kamar, mereka berharap jika Alexa yang membujuk maka Alya mau keluar.


“Semoga Alexa bisa membuat Alya keluar,” ujar Genta.


Disisi lain, Aiden sedang berusaha menghibur Yue yang masih menangis. Baru kali ini mereka berdua di olok sampai begitu nya oleh teman teman. Bel telah berbunyi semua murid masuk kembali ke kelasnya masing-masing. Lalu datanglah Mitha karena sekarang jam nya dia mengajar. Guru licik itu menghampiri dan menatap si kembar.


“Sudah nangisnya sekarang waktunya belajar,” ujar Mitha.


Yue tidak menanggapi ucapan dari gurunya itu. Dan tak sengaja Aiden melihat Mitha menyunggingkan bibirnya setelah berkata seperti itu pada Yue.


“Baiklah anak anak buka buku kalian,” ujarnya dan memulai pelajaran.


Di kantor, Hart kedatangan tamu. Ya, dia adalah Ardan cowok yang dulu di sukai istrinya. Cowok itu sengaja datang ke kantor Hart untuk berkerja sama dengannya. “Baik saya setuju, semoga kerja sama kita berdua membuahkan hasil yang bagus.” Ardan pergi keluar dari ruangan Hart, dia kagum dengan apa yang di miliki suami Alexa.


“Lu beruntung Al bisa kenal sama Hart, semoga hidup lu selalu tenang dan bahagia,” gumam Ardan sebelum dirinya benar benar pergi dari kantor Hart.


Kembali pada Alexa, setelah berusaha keras akhirnya sang sahabat mau keluar dari kamar. Dia menangis di pelukan Alexa sejadi-jadinya. Melihat itu hati sang mama terasa sakit putri semata wayangnya telah ternodai oleh orang lain. Berharap mendapatkan awal yang bahagia malah kebalikannya yang keluarga dapat.


“Sudah Al, kamu gak perlu cemas. Genta lelaki yang baik dia akan menerima kamu apa adanya. Semuanya sudah terjadi dan biarkan orang orang laknat itu mendapatkan ganjaran nya di dalam jeruji penjara.” Alexa terus mengusap punggung Alya, menenangkan sang sahabat agar tetap kuat.


“Aku malu, sebagai seorang perempuan tidak becus menjaga diri. Dan aku tidak bisa membela saat di nodai waktu itu karena keadaan ku yang terikat.”


“Genta maafkan aku, ini semua salah Shilla. Dia yang udah membuat masa depan aku hancur!” sambungnya dengan tangis yang semakin pecah. Alexa terus menerus menghibur sang sahabat, dia tidak tahu jika di sekolahan anaknya, si kembar pun sama terpuruknya karena ejekan teman-temannya.


Bagaimana perasaan nya nanti saat tahu jika anaknya di katakan anak haram? Mungkin dia pun akan merasa sedih dan butuh penenang.


“Kamu makan ya Alya, jangan sampai sakit pernikahan kamu sama Genta sebentar lagi. Aku harap kamu bisa melupakan kejadian itu dan bisa menerimanya,” ujar Alexa. Alya hanya diam saja mendengar perkataan Alexa, dia tidak tahu harus menjawab apa sebab melupakan semua itu tak segampang yang Alexa pikirkan.


“Ya sudah nak sebaiknya kamu makan ya. Mama khawatir sama kamu.”


Alya mengangguk, dia makan di suapi sang Mama. Genta hanya memandang wajah calon istrinya itu, dia merasa bersalah karena yang menyebabkan semuanya adalah Shilla mantan istrinya yang tak terima.


“Astaga sudah pukul sebelas siang, maaf Tante, Om. Alexa pamit pulang ya lagi banyak kerjaan dirumah. Sekalian mau jemput si kembar di sekolah,” izin Al.


“Oh iya nak, terima kasih ya sudah mau membujuk Alya. Hati hati sayang,” jawab Mama Alya.


Alexa pergi dari rumah Alya setelah berpamitan. Dia di antarkan Genta menuju sekolah si kembar, sesampainya di sana terlihat kedua anaknya sudah menunggu bersama pak satpam. Alexa heran dengan raut wajah Yue yang murung tidak seperti biasanya.


“Yue kenapa?” tanya Al pada Aiden. Anak perempuannya itu langsung masuk kedalam mobil Genta setelah mencium lengan sang Buna.


“Nanti aku ceritakan dirumah Bun,” jawab Aiden.


Tak berapa lama mereka berempat telah sampai di rumah. Nampak mertua dan mama nya sedang sibuk mengurus anak anak. “Assalamualaikum.”


“Waalaikumsalam,” jawab semua orang yang ada dirumah.


“Yue kenapa, Al?” tanya Mama.


“Al juga gak tahu Mah. Tunggu Aiden ganti pakaian dia akan menceritakan semuanya,” jawabnya.


Saat sedang duduk menunggu sang putra turun, Alexa di datangi seorang anak kecil yang lebih muda dari si kembar, anak itu memberikan hasil gambarnya. “Ini untuk Tante.”


“Ini adalah gambar keluarga Tante,” ucap si anak.


“Wah terima kasih sayang, kenapa kamu gambar keluarga Tante?”


“Karena..., karena aku tidak memiliki keluarga. Jadi aku gambar Tante dan mereka saja,” jawabnya menunjuk ke arah si kembar lalu pergi.


“Astaga aku salah bertanya kayak gitu,” pikir Alexa.


Aiden duduk disamping Buna nya. Dia terdiam dan mulai menceritakan kenapa Yue bersikap murung. Betapa kagetnya Alexa mengetahui jika si kembar mendapatkan ejekan seperti itu, hatinya merasakan sakit.


“Buna kenapa?” tanya Aiden melihat raut wajah Buna nya yang seketika berubah.


“Tidak, Buna gak papa kok. Kamu bermain sama mereka Buna akan menyiapkan makan siang sebentar lagi Papa kamu pulang.”


“Baik.”


Alexa pergi ke kamar ingin menelpon Hart namun dia urungkan, karena tidak nyaman jika berbicara lewat handphone. Dia pun memutuskan untuk bicara setelah suaminya pulang nanti.


Didalam kamar Alexa terdiam memikirkan bagaimana bisa kedua anaknya di katakan seperti itu oleh teman temannya. Dimana orang yang mengejek nya adalah anak anak SD.


“Apa orang tua mereka yang menyuruh untuk mengejek Yue dan Aiden?” pikir Alexa.


“Tapi gak mungkin juga, selama si kembar berada disana semuanya baik. Bagaimana bisa anak anak itu....?”


Terdengar teriakan anak anak menyambut kepulangan Hart. Alexa pun turun kebawah melihat suaminya. “Hart aku perlu bicara sama kamu.”


“Apa?” Hart terlihat sangat lelah, sang istri menjadi ragu untuk menceritakan masalah anak anaknya.


“Tidak Hart, mandi sana setelah itu kita makan bersama.”


“Bagaimana reaksi Hart jika tahu anaknya di ejek? Apa dia akan menegur anak anak itu atau tidak?! Ahh sudahlah lebih baik aku yang mengurus masalah itu.”


Hart telah sesuai dengan ritual mandinya. Di meja makan sudah banyak anak anak yang menunggu kedatangan Hart untuk makan.


“Ada apa dengan Yue?” tanya Hart.


“Mungkin dia lelah dengan kegiatan di sekolahnya,” jawab Alexa.


Hart tidak bertanya lagi dia melanjutkan makannya. Pukul 17:00, Habil bersama sang guru telah datang kerumah. Seperti biasa semua anak anak yang berada dirumah Hart ikut belajar mengaji dengan si kembar. Hari sudah gelap, acara berdoa untuk Papa Alexa pun di mulai sampai pukul 09:00 malam.


“Biar aku yang bereskan semuanya, kamu tidurkan saja si kembar.”


“Mereka sudah tidur Hart setelah belajar tadi. Oh iya besok si kembar biar sama aku berangkat ke sekolah.”


“Kenapa? Alya gimana, apa dia sudah bisa di bujuk?”


“Sudah, bolehkan Hart. Aku akan menunggu Yue dan Aiden sampai pulang nanti.”


“Boleh boleh saja, ingat jika ada orang yang membicarakan kamu jangan dengarkan mereka. Menghindar saja,” ujar Hart.