
...HAPPY READING ALL...
Keesokan harinya Alexa sudah siap mengantarkan si kembar sekolah. Tak di sangka Alya datang dan ingin ikut, mereka pun pergi bersama.
“Udah baikan?” tanya Al.
“Iya, Genta mempercepat acara pernikahan kita. Minggu ini jangan lupa hadir ya Al ajak si kembar juga.”
“Okey,” jawabnya. Setelah berbincang sedikit mereka pun berangkat. Kini Alexa yang menceritakan tentang keluarganya yang akhir akhir ini selalu dibicarakan oleh ibu ibu disekolah.
“Lu pernah bicara pada Hart kan? Dan mungkin dia bicara seperti itu karena ucapan lu kemarin,” ucap Alya.
“Iya juga, ahh sudah lah Alya.”
Tak terasa mereka telah sampai di depan sekolah. Sudah terdapat Mitha disana, menunggu murid muridnya datang. Alya menyipitkan matanya melihat Mitha yang seperti menyunggingkan bibirnya saat bersapaan dengan Alexa.
“Buna, Tante kita masuk ya,” ujar Aiden.
“Buna sekarang nunggu kalian sampai pulang ya, belajar yang rajin.”
Aiden dan Yue pun masuk kedalam disusul Mitha. Alya mengajak Alexa untuk pergi ke kantin sekolah, dan saat sudah ada disana. Sang sahabat berbicara ketidaksukaan dirinya kepada guru si kembar. Alya juga menceritakan tentang dimana dia bersama Yue berbicara berdua.
“Bu Mitha baik loh Alya, Yue juga kayaknya baik baik saja sama gurunya,” ujar Alexa tak percaya.
“Jangan terlalu percaya, mungkin lu bicara kek gitu karena profesi nya yang sebagai guru. Manusia sifatnya mana ada yang tahu dia baik atau jahat. Dan lu harus tahu Al, hati manusia itu bisa berubah kapan saja mereka mau.”
Alexa hanya diam mendengarkan ucapan sahabatnya. Dia pun mulai ragu dengan kebaikan Mitha kepadanya, dan teringat dimana Mitha memberikan hadiah ulang tahun kepada Hart. “Oh iya Alya. Gurunya Yue kok bisa tahu ya hari ulang tahunnya Hart?”
“Mungkin dia nyari tahu tentang Hart,” jawabnya sambil menyantap bakso yang telah dia pesan.
Saat akan membalas ucapan Alya, tiba tiba saja Avan menelpon pada Alexa. Adik Hart itu memberitahu bahwa sang kakak sedang berada dirumah sakit. Alexa yang mengetahui hal tersebut pun langsung pamit pada Alya dan menitipkan si kembar. Di lorong sekolah Alexa berpapasan dengan Mitha, guru itu menghentikannya dan bertanya. “Kok buru buru sih Bu? Si kembar kan belum pulang.”
“Iya Bu, suami saya ada dirumah sakit. Ya sudah pamit dulu nitip anak anak,” jawabnya.
“Hah?! Hart masuk rumah sakit?” gumam Mitha.
Beberapa waktu kemudian, Al datang. Disana sudah terdapat Avan yang sedang berdiri menunggu Hart.
“Gimana keadaan Hart? Kok bisa sih dia masuk rumah sakit, emangnya apa yang terjadi Van?”
“Bang Hart lagi di periksa. Tadi pas aku sama temen temen mau pergi kuliah gak sengaja lihat bang Hart di keroyok orang orang, setelah itu aku bawa deh langsung kerumah sakit,” jawab Avan.
“Oh iya kayaknya bang Hart ditusuk, tadi Doni sempet bantu cegah agar pendarahannya berhenti.”
Alexa terkejut tahu jika sang suami di tikam orang, teman teman Avan yang juga ada disana pamit karena harus berkuliah. Sedangkan dirinya tidak berangkat menjaga Alexa yang shok dan khawatir akan keadaan Hart. “Mbak Al duduk dulu bentar lagi dokter keluar kok, semoga aja bang Hart gak kenapa kenapa ya.”
Benar saja setelah Avan berbicara, keluarlah dokter dan satu suster. Mereka memberitahu keadaan Hart yang baik baik saja. Alexa dan Avan menghela napas lega mendengar perkataan dokter.
“Baik saya permisi,” ucap sang dokter.
“Boleh saya masuk ke dalam Dok?” tanya Alexa dan di angguki sang dokter.
“Avan ayo,” ajak Al.
“Tante telpon Buna, aku mau lihat keadaan Papa,” pinta Yue.
“Baiklah.” Alya pun mengambil ponselnya lalu menelpon Alexa. Setelah menunggu beberapa saat, terlihatlah Hart yang sedang terbaring, Aiden dan Yue terus menerus bertanya apa yang terjadi pada Papanya membuat Alexa bingung harus menjawab apa karena dua anaknya itu terlalu memberikan banyak pertanyaan.
“Bwaa,” ucap Avan di balik telpon dan membuat si kembar terkejut dengan wajah Omnya itu.
“Om Avan! Ngagetin kita aja, kirain penampakan," omel Yue.
Avan tertawa melihat reaksi dua keponakannya yang kaget akan kejahilan dirinya. Dia pun meminta maaf pada si kembar, setelah itu bel masuk kembali berbunyi Alya mematikan telpon menyuruh Yue dan Aiden masuk kelas.
“Tante habis pulang sekolah kita susul Buna ya,” ucap Yue sebelum pergi.
Ditempat lain, orang orang yang telah memukul Hart sedang menghadap pada atasannya. Lelaki tua yang merupakan bos mereka memberikan sejumlah uang. Dia memuji kerja anak buahnya yang telah berhasil melukai Hart walau tidak langsung mati.
“Lakukan pekerjaan kalian lagi besok, ingat! Bawa mereka berdua dan jangan sampai terluka.”
Genta yang mendapatkan kabar tentang Hart dari Alya langsung meluncur kerumah sakit. Setibanya disana, dia bertanya pada Alexa.
“Pantas saja gue tunggu di kantor gak datang datang, ternyata masuk rumah sakit.”
“Iya Gen, tolong handle semua pekerjaan Hart dulu ya.”
“Sudah Al, semuanya udah gue kerjain. Dan iya, tadi gue lihat tempat yang lagi di renovasi itu rame.”
“Kan banyak tukang pasti rame lah Gen,” ujar Alexa.
“Bukan gitu Al. Tapi..., ah entahlah gue gak sempet mampir, buru buru soalnya. Alya belum datang? Gue dapet kabar tentang Hart dari dia tadi,” ucap Genta sembari melirik kanan kiri mencari calon istrinya.
Alexa menggelengkan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan Genta. Avan yang sedang duduk sambil memainkan ponselnya dipukul pelan oleh teman kakaknya itu, mereka berdua pun berbincang-bincang sedangkan Alexa pamit untuk membelikan kedua cowok itu minuman.
“Van gimana kuliah lu?"
“Kek biasa. Bang, jadi gini nih ya gue tuh suka sama cewek tapi kayaknya dia gak suka sama gue.”
“Tahu darimana lu kalo tuh cewek gak suka sama lu?”
“Ya nebak aja sih, soalnya kemarin pas gak sengaja ketemu di cafe. Gue lihat wallpaper handphonenya poto cowok. Jadi menurut bang Genta gue harus ngapain? Mundur atau gimana?!”
“Cewek yang lu suka emangnya kayak gimana?”
“Cantik, sexy, baik. Selain itu dia juga kerjanya sebagai guru.”
“Kenapa lu gak minta saran sama Hart atau Alexa aja sih? Gue gak tahu harus jawab apa,” ujar Genta.
“Gak berani bang, soalnya tuh cewek lebih tua dari gue. Entar kalo bilang sama bang Hart atau mbak Al gak di izinin lagi.”
“Kayak gimana sih mukanya, jadi penasaran gue.”
Avan memberikan ponselnya pada Genta, dan betapa terkejutnya dia setelah tahu cewek yang adik Hart suka.