
...HAPPY READING ALL...
“Ada apa sama guru kalian?”
“Eh Oma, gak papa kok. Oh iya, ini simpan dimana?” ujar Aiden.
Oma nya menyipitkan mata melihat tingkah dua cucunya itu. Dia merasa ada yang sedang di sembunyikan oleh si kembar. “Ya sudah simpan saja disitu, nanti biar Oma yang bawa ke bawah.”
Yue dan Aiden mengangguk mengerti, lalu mereka berdua merapihkan sisanya.
Di tempat lain, Alya yang masih di kurung terus berusaha menyelamatkan diri. Tak sengaja salah satu anak buah Shilla menjatuhkan sebuah gunting. Dia tak menyadarinya dan dengan cepat Alya pun menyembunyikan gunting tersebut. Saat mereka sedang pergi, kesempatan Alya untuk melarikan diri dari tempat itu.
“Gue harus cepat pergi dari sini,” gumam Alya.
Beberapa menit kemudian ikatan itu pun terlepas, Alya berjalan pelan berusaha tidak mengeluarkan bunyi sedikitpun agar kedua anak buah Shilla tidak mengetahuinya. Saat akan membuka jendela yang berada di atas, tak sengaja Alya melihat keberadaan Genta bersama Ardan yang sedang berdiri.
“Gentaa aku disini..., tolong Gen.”
Belum sempat memanggil nama calon suaminya, dua orang jahat itu keburu datang dan langsung menurunkan Alya. Mereka kembali mengikat tangan dan kaki serta membungkam mulut Alya agar tidak berteriak. Shilla yang melihat Genta pun sedikit gugup saat cowok itu menghampirinya.
“Kamu ngapain di tempat kayak gini Shil?” tanya Genta sembari celingak-celinguk.
“Eh, ini eum aku kehilangan dompet. Kayaknya di sekitaran sini deh.”
“Oh, butuh bantuan kita buat nyariin dompet lu?” sahut Ardan.
”Gak usah takut merepotkan kalian berdua.” Datanglah dua anak buahnya. “Bu, ini dompet nya apa bukan?”
“Ahh iya ini dompet saya, terima kasih ya pak. Ya sudah Gen, aku pergi dulu ya dompetnya udah ketemu juga.”
“Kita juga mau pergi lanjut cari Alya.”
Saat Genta dan Ardan akan melangkahkan kakinya, terdengar suara seorang perempuan dari dalam gedung. Dua lelaki yang masih ada di sana pun saling tatap.
“Gen,” ujar Ardan.
“Mau kemana pak?” tanya anak buah Shilla. Mereka berdua mencoba menghentikan langkah Genta dan Ardan yang ingin masuk ke dalam.
“Sepertinya di dalam ada seseorang, saya ingin melihatnya. Takut itu calon istri saya yang sedang menghilang.”
“Tidak mungkin pak, di dalam sana tidak ada seorang pun.”
Ardan terus memperhatikan mimik wajah dari dua orang itu. Nampak mereka seperti panik saat Genta memaksa untuk masuk. “Kenapa kalian berdua yakin kalo di dalam sana tidak ada seseorang?”
Pertanyaan Ardan membuat keduanya tak berbicara, justru mereka langsung menyerang nya. Wajah tampan Ardan dan Genta memar setelah mendapat serangan mendadak.
“Lu nyari ribut ya!” ujar Ardan emosi.
“Banyak bacot lu!” jawabnya dan lanjut menyerang. Perkelahian pun terjadi, Ardan menyuruh Genta untuk segera masuk memeriksa sedangkan dirinya akan melawan dua orang tersebut. Shilla yang sudah di tengah jalan merasa cemas, dia memutuskan untuk berputar dan kembali ke tempat dimana dia mengurung Alya.
Benar saja saat Shilla sampai terlihat dua anak buahnya sedang berkelahi dengan Ardan. “Sial! Apa Genta sudah tahu kalo di dalam ada Alya?”
“Gue harus cari jalan buat bawa Alya pergi, jangan sampai Genta nemuin calon istrinya itu. Gue gak mau mereka menikah,” sambungnya.
Shilla berjalan pelan agar tak di ketahui oleh Ardan. Dia pergi ke arah belakang, saat mengintip di sebuah jendela tiba tiba saja ada yang menepuk pundaknya. Sontak Shilla pun terkejut di tambah dengan orang yang mengagetkan nya itu.
“Gue udah curiga dari awal sama lu! Sekarang ikut gue, jujur sama Genta kalo lu yang nyulik Alya.”
“Udah lah gue tahu lu bohong. Sekarang ikut gue ngehadap Genta,” ucap Ardan sedikit kesal. Wanita yang tidak dia kenal itu terus menerus menepis tuduhan dari Ardan. Sedangkan di dalam sana, Genta sudah menemukan calon istrinya dengan keadaan terikat.
Setelah membuka ikatan Alya, Genta bertanya siapa orang yang telah menculiknya. Lalu datanglah Ardan bersama dengan Shilla. “Kenapa lu ikat Shilla?”
“Tanya sendiri,” ujar Ardan mendorong tubuh Shilla sampai tersungkur.
Genta membantu Shilla berdiri, Alya yang melihat itu menatap tajam pada perempuan yang sedang di pegang calon suaminya. Ardan memperhatikan raut wajah Alya yang seperti menyimpan dendam.
“Gak papa kan Shil?” tanya Genta.
“Udah lah Gen, gak usah peduli sama cewek kayak dia! Kasian Alya,” tutur Ardan.
“Lu jadi cowok kasar banget sih, dia cewek gak seharusnya lu perlakukan kayak gitu.”
Ardan tertawa mendengar ucapan Genta di ikuti oleh Alya. “Calon istri lu aja ketawa denger kek gitu.”
“Memang pantas, cewek kayak dia ngapain di kasihani. Iblis!!” pekik Alya menyunggingkan bibir.
Merasa sudah sangat kesal pada Shilla, Alya pun menjambak perempuan itu dengan kasar. Genta mencoba melerai mereka berdua, namun setelah mendengar penjelasan Ardan dia pun terdiam memandangi Shilla. Di luar, dua lelaki yang sudah Ardan ikat itu di bawa kedalam. Mereka di suruh menunjukkan dalang penculikan Alya kepada Genta.
“Kami hanya di suruh,” ucapnya.
“Heh! Lu berdua juga menikmatinya kan? Merenggut kehormatan Alya kemarin?” sahut Shilla.
Mendengar itu wajah Genta memerah, dia salah sudah membentak Ardan hanya untuk membela Shilla. Alya berjalan ke arah dua lelaki itu lalu menamparnya dengan keras beberapa kali.
“INI TAMPARAN BUAT KALIAN YANG UDAH AMBIL KEHORMATAN GUE!”
“PUKULAN INI EMANG COCOK MENDARAT DI WAJAH LAKI LAKI YANG GAK TAHU MALU!” sambung Ardan.
Alya menghela napas, dia masih merasa kesal dan juga marah. Namun apa boleh buat, semuanya sudah terjadi. Sebelum pergi dia menampar Shilla, lalu Genta dengan murkanya memukul anak buah Shilla sampai tak sadarkan diri. Merasa belum cukup Genta menendang mereka dan di hentikan oleh Alya.
“Sudah lah Gen, kayaknya kita tidak bisa menikah. Aku udah gak layak lagi buat jadi istri kamu,” ujarnya sambil menundukkan kepala.
“Kamu gak boleh bilang gitu Al, aku akan tetap menerima kamu apa adanya.”
“Tapi Gen.....”
“Sebaiknya kita pergi,” potong Ardan. Dia teringat dengan istrinya yang di tinggalkan sendiri dirumah dalam keadaan hamil.
“Bentar, mau di apakan dia?” ujar Genta menunjuk ke arah Shilla.
“Laporin aja,” sahut Ardan.
“Biarin aja,” jawab Alya membuat Genta dan Ardan menatapnya.
Mereka bertiga pun pergi meninggalkan Shilla yang duduk di lantai bersama dua anak buahnya.
•Sekuat apapun kita menjaga, jika dia tidak di takdirkan untuk kita maka semua akan percuma.”
Jangan lupa beri vote, like, komen and bantu share.
Makasih buat yang udah setia sama cerita Author, hehe Wo Ai Ni all*.