
Happy reading all
“Ahh apa Hart akan menyukai hadiah yang ku berikan ini?” pikir Alexa.
Ternyata sang istri telah mengingat hari ulang tahun suaminya di kejauhan hari. Dia telah memesan hadiah spesial untuk Hart dan berniat memberikannya saat malam nanti. Disisi lain, Hart sendiri sedang di sibukkan dengan semua pekerjaan nya. Dirinya sampai lupa untuk pergi makan siang karena terlalu banyak berkas berkas yang harus di selesaikan.
Telpon berdering, Hart melihat nama yang tertera disana. Ternyata itu dari Genta, mengetahui sahabatnya yang sibuk dengan acara pernikahan dia pun mengizinkannya untuk tidak berangkat bekerja dulu. Setelah itu Hart mematikan handphone nya dan melanjutkan kerja.
Alexa yang sudah selesai pergi ke dapur membantu Mama dan mertuanya membuat kue. Mereka akan merayakan ulang tahun Hart setelah acara tahlilan Papa Alexa usai. Pukul 11:00 waktu pulang nya si kembar. Alexa akan bersiap siap menjemputnya, baru saja melangkahkan kaki menuju mobil, tiba tiba terdengar klakson dari luar gerbang. Dia berjalan membukanya ternyata itu Bu Mitha bersama Yue dan Aiden.
“Baru saja Buna mau jemput kalian,” ujar Alexa.
“Maaf ya Bu, si kembar pulang bersama saya. Ini sekalian mau mampir ke rumah ibu ngasih ini. Sebagai tanda ucapan makasih dari saya buat Bu Alexa,” ucap Mitha menyodorkan sebuah kotak kecil.
“Wah gak perlu Bu, saya ikhlas bantuin nya. Boleh saya buka hadiahnya?”
“Silahkan,” jawab Mitha.
Mitha memberikan sebuah vocher belanja kepada Alexa sesuai apa yang di katakan Yue padanya. Benar saja saat mengetahui hadiahnya Alexa terlihat senang. Aiden dan Yue tersenyum.
“Sepertinya Papa tidak ada dirumah Aiden,” ujar Yue.
“Bagus dong Yue, berarti Bu Mitha tidak bertemu dengan Papa.”
“Iya kamu benar, masuk yuk aku gerah ingin ganti pakaian.”
Si kembar pamit pada Buna nya dan Bu guru. Didalam rumah, terlihat lah kakek-nenek mereka yang sedang sibuk menyiapkan semuanya.
“Wah cucu Oma udah pada pulang. Makanan udah ada di meja, kalian ganti lah baju setelah itu turun.”
“Siap Bu negara!” Yue dan Aiden dengan kompak memberikan hormat.
Beberapa menit kemudian keduanya sudah berada di meja makan. Menatap banyaknya hidangan di meja, sampai membuat mereka bingung harus menyantap yang mana dulu.
“Aiden tolong ambilkan aku donat rasa strawberry itu sama kue yang seperti persegi,” pinta Yue.
“Merepotkan saja, duduknya disini aja biar lebih gampang. Ngapain sih jauh jauh,” ujar sang kakak.
“Gal mau, aku akan tetap disini. Cepat Aiden ambilkan aku mohon.”
Aiden menghela napasnya, dia tidak akan pernah menang jika melawan Yue, “ Baiklah nih.”
“Xie Xie Aiden,” ucap Yue dengan bahasa mandarin. Sedangkan kalanya menyipitkan mata.
Disaat sedang asik makan, Yue tiba tiba saja bertanya.
“Aiden jika besar nanti apa yang akan kamu lakukan?”
“Aku akan seperti Papa,” jawabnya singkat dengan roti yang masih ada di dalam mulut.
“Astaga Aiden. Aku bertanya bukan untuk menjadi seperti siapa tapi apa yang akan kamu lakukan nanti jika sudah dewasa?”
“Hehehe, aku gak tahu Yue. Gimana nanti aja ikuti alur hidup kita. Akan seperti apa dewasa nanti,” jawabnya cengengesan.
Perbincangan terhenti karena datangnya Alexa. Sang Buna kembali sembari membawa hadiah dari Mitha untuk Hart. Yue melirik pada Aiden dan keduanya tertawa. Melihat anak anaknya aneh Alexa pun bertanya namun tak di jawab dan malah mengalihkan topik.
Tak terasa hari begitu cepat ke sore. Semua persiapan sudah selesai tinggal menunggu malam tiba. Guru ngaji si kembar pun telah datang bersama dengan Habil.
“Tunggu ya Pak, Yue sama Aiden nya sedang berpakaian.”
“Iya Bu,” jawabnya sambil tersenyum.
Tak lama kemudian turunlah si kembar. Seperti biasa Aiden menyapa Habil, dia sangat ingin mengajak bicara namun anak itu masih terlihat malu.
“Iya Yue, ya sudah kita menuju tempat ngajinya.”
Setelah kepergian Yue dan yang lain, Hart pulang. Terlihat wajah Hart yang begitu lelah, “Tolong buatkan aku teh sayang.”
Alexa mengangguk lalu pergi ke dapur. Saat sang istri sedang membuat teh, Hart melihat kado yang tergeletak di meja. Dia buka kado tersebut dan betapa kaget serta kesalnya Hart mengetahui isi dari kado itu.
“Milik siapa kado ini!!” ujar Hart dengan kesal.
Alexa, Mama, Papa langsung menghampiri Hart. Mereka bertanya apa yang terjadi.
“Astaga Hart itu mainan tikus. Maafkan aku tidak mengeceknya terlebih dahulu karena itu hadiah ulang tahun untuk mu dari gurunya si kembar,” ujar Alexa.
“Singkirkan itu!”
Sang istri dengan cepat mengambil mainan tersebut. Baru kali ini melihat Hart yang begitu kesal dan marah. Wajar saya jika Hart seperti itu, karena dia sudah sangat lelah dengan pekerjaan di kantor di tambah kejutan yang tak terduga dari Mitha.
“Ini teh nya Hart,” ucap Alexa.
Hart mengambil teh yang di sodorkan istrinya. Setelah itu dia pergi ke kamar untuk membersihkan diri yang sudah bau keringat.
Pukul 19:00. Acara tahlilan di mulai dengan sangat lancar seperti biasanya. Aiden melihat Habil yang duduk sendirian karena jauh dari gurunya. Dia pun mengajaknya ke kamar untuk berbicara.
“Duduk saja jangan malu,” ucap Aiden dengan ramah.
“Terima kasih.”
“Mainan kamu sangat banyak Aiden. Semuanya terlihat bagus saat berada di dalam kamarmu,” ucap Habil melihat suasana kamar Aiden yang begitu adem.
“Nih, aku berikan untuk mu Habil. Aku harap kamu mau menerima nya.”
Aiden memberikan beberapa mainan miliknya kepada Habil. Dia sudah terlalu banyak memiliki itu semua, jadi untuk apa dia terus simpan jika tidak terpakai.
“Aku akan mengambil satu saja Aiden, terima kasih.”
“Hm baiklah Habil. Oh iya kamu sekolah dimana?”
“Aku tidak sekolah,” jawabnya.
“Maafkan aku,” ujar Aiden dengan pelan.
“Tidak papa.”
Suara langkah kaki terdengar menuju kamar Aiden. Alexa mengetuk pintu memanggil mereka untuk keluar karena akan segera merayakan hari ulang tahun Hart.
“Ayo keluar sayang, semua orang sudah berkumpul.”
“Iya Buna,” jawab Aiden.
Terlihatlah semua orang yang sudah berkumpul di bawah. Hanya keluarga besar dan teman Hart saja yang datang merayakan. Wajah yang tadinya kesal kini terlihat bahagia dan terukir senyuman di bibir Hart.
“Papa, Papa aku punya hadiah buat Papa,” teriak Yue.
“Mana sayang coba Papa lihat.”
Yue menyodorkan kado kecil kepada Papanya, “ Nih tapi Papa bukanya jangan sekarang nanti di kamar saja.”
“Apasih kado dari putri Papa, bikin penasaran saja.”
“Aku juga punya hadiah buat Papa,” sahut Aiden.
Hart mencium kening putranya dan mengambil kado yang di berikan Aiden padanya. Terlihat kado dari sang putra lebih besar dari Yue, awalnya Hart ingin melihat isi kado tersebut namun di larang oleh Aiden.