
Hart penasaran karena istrinya itu begitu lama membukakan pintu. Dia menyusul kedepan dan melihat kehadiran Genta juga Alya. Setelah berbincang sedikit di luar, mereka semua masuk. Yue dan Aiden terlihat senang karena kedatangan Alya.
“Tante cantik kenapa wajahnya begitu?” tanya Yue.
Alya mencoba tersenyum didepan anak anak Alexa. “Kenapa dengan wajah Tante? Apa gak cantik seperti biasanya ya atau kenapa?”
“Ahh tidak kok. Tante Alya selalu tampil cantik tapi lebih cantik Buna nya Yue, hehe. Oh iya Tante, aku sama kak Aiden bakal pergi liburan apa Tante sama Om Genta mau ikut?”
“Tidak sayang, ini kan liburan keluarga. Buat apa Tante sama Om Genta ikut,” jawab Alya menolak sambil melirik Alexa.
“Kita kan keluarga,” ujar Aiden menghampiri mereka.
Yue yang mendengar perkataan kakaknya langsung membenarkan. Dia memaksa Alya dan Genta untuk ikut berlibur bersamanya. Dengan wajah imut juga menggemaskan membuat kedua orang itu menerima ajakan.
“Kalo kita bicara terus kapan makannya, dan kapan pergi liburannya?” potong Alexa.
Beberapa menit berlalu, mereka semua siap pergi. Dan sesampainya di tempat tujuan, Yue juga Aiden terlihat sangat gembira. Mereka berdua menuntut Alexa, Hart, Alya juga Genta pergi membeli es krim. Belum lama mereka berada disana tiba tiba saja mood Yue berubah karena kehadiran Bu guru Mitha. Guru tersebut menyapa Hart dengan sangat ramah.
“Tante mau temenin Yue gak?” ujar Yue dengan wajah cemberut.
“Kemana?"
“Kita pergi kesana yuk Tante, aku mau cerita.”
“Baiklah,” jawab Alya. Dia izin pada Alexa untuk membawa anaknya ke tempat yang di tunjukkan Yue. Sedangkan Buna dan Papanya masih mengobrol dengan Mitha. Aiden bermain bersama dengan Genta.
Alya menyuruh Yue duduk di pangkuannya. Dia bertanya apa yang akan anak kecil itu katakan padanya. Yue pun menceritakan ketidaksukaan dia terhadap gurunya. Alya mengangkat sebelah alis, “kenapa kamu tidak suka? Guru kamu sepertinya baik. Apalagi dia juga cantik.”
“Tante harus tahu, aku sering memperhatikan dia. Cara berbicara dengan Papa sangat berbeda, tadi saja yang di sapa hanya Papa. Padahal kan ada Buna, Tante sama Om Genta juga.”
Alya mengangguk dia baru sadar bahwa Mitha hanya menyapa Hart saja. Lalu Yue melanjutkan ceritanya dan Alya mengangguk-angguk mengerti. Mungkin Yue takut jika Papa nya itu akan berpaling dari Buna nya. Sebab memang benar Mitha adalah wanita cantik di tambah lagi masih muda.
Saat keduanya asik, di sebrang sana terjadi sesuatu. Alya dan Yue yang penasaran pun menghampirinya. Dan betapa terkejutnya mereka saat melihat Alexa yang tengah tergeletak di bawah. Yue menangis bertanya pada Papa nya apa yang terjadi. Namun Hart tak menjawab dia panik lalu menggotong istrinya.
“Gen udah telpon ambulan?” tanya Alya yang ikutan panik.
“Sudah kok mungkin bentar lagi datang.”
Yue dan Aiden terus menerus menangis melihat Buna nya yang bercucuran darah. Beberapa menit kemudian ambulan pun tiba, Hart segera memasukkan istrinya. Lalu meminta Genta dan Alya menjaga anak anaknya.
“Sabar ya Yue, Aiden. Buna kalian gak kenapa kenapa kok, mending kita susul Buna dan Papa kamu kerumah sakit.”
Mitha tersungkur lemah, kaget. Lalu Alexa pun membantunya bangun berdiri. Sayangkan perbuatan baik dia malah membuat dirinya terkena tusukan.
Di saat Alexa tengah kesakitan menahan tusukan itu, Mitha hanya diam tak membantu sama sekali. Bahkan dia seperti sengaja tidak segera memanggil Hart yang masih berkelahi.
Sampai pada akhirnya Hart selesai, dan Mitha langsung menutupi luka Alexa agar darahnya tidak terus menerus mengalir keluar. Di tengah Hart menceritakan kejadiannya, dokter datang menghampiri. Dia memberitahu keadaan Alexa yang selamat walau sempat kehabisan darah.
Orang orang yang ada disana pun menghela napasnya lega. Mitha keluar dari ruangan lain, terlihat tangannya yang di perban. Lalu bertanya tentang keadaan Alexa.
“Bagaimana Alexa?”
“Dia gak kenapa kenapa,” jawab Hart.
Yue menatap Mitha dengan tatapan tajam. Anak kecil itu mulai berpikiran buruk tentang gurunya. Dia mengira jika kejadian yang Buna nya alami adalah ulah dari Bu guru Mitha. Alya yang sedari tadi memperhatikan Yue pun langsung mengajaknya pergi dari sana, izin pada Hart dengan beralasan membeli minum.
“Aiden ayo,” ajak Genta.
“Hart gue ajak Aiden pergi menyusul Alya ya,” izinnya.
“Tolong jaga anak anak dulu, gue mau lihat Alexa.”
“Siap.”
Di kantin rumah sakit, Alya mengelus kepala Yue dengan lembut. Dia meminta anak sahabatnya itu untuk bercerita padanya. Namun Yue menggelengkan kepala, dia malah mengalihkan topik dengan meminta Alya membelikan sosis bakar.
Alya menghela napasnya, dia paham dengan perasaan Yue. Aiden dan Genta menghampiri mereka berdua. Sang kakak memeluk adiknya agar tidak terlalu sedih dengan keadaan Buna nya. Lagipula dokter sudah berkata jika Buna nya baik baik saja. Di saat Alya dan Genta sedang sibuk mengantri, Yue mulai cerita pada Aiden.
“Aiden aku benar benar tidak suka sama Bu Mitha, kenapa dia masih ada disini?”
“Aku tidak tahu alasan kamu membenci Bu Mitha Yue. Tapi saat aku dan Om Genta akan pergi menyusul mu, tak sengaja aku melihat Bu Mitha tersenyum sembari melihat kedalam ruangan Buna.”
“Sebenarnya alasan aku tidak suka sama Bu Mitha adalah karena dia selalu bertingkah manis di depan Papa. Aku gak mau jika nanti Papa akan tergoda sama dia.”
“Eum kata kamu tadi Bu Mitha tersenyum melihat ruangan Buna? Apa maksudmu Aiden? tanya Yue penasaran. Saat Aiden akan menjawab datanglah Alya dan Genta dengan membawa sosis juga minuman.
“Kalian berdua sedang bahas apa? Sepertinya seru, apa Tante Alya boleh tahu?”
“Ah tidak Tante. Aku sama Aiden hanya bicara tentang kotak pensil aku yang hilang. Sebenarnya hari ini Buna akan membelinya namun yang terjadi malah begini,” ujar Yue yang seketika raut wajahnya berubah sedih.