
Shane tidak bisa melepaskan pandangannya dari wajah Jillian. Tidak biasanya ia seperti itu dan sudah sejak dua tahun terakhir ini ia tidak terlalu peduli dengan kehadiran wanita. Apa yang menarik dari sekretaris barunya tersebut. Pertanyaan itu lah yang selalu melayang-layang di pikirannya dan hingga detik ini, saat Jillian melayaninya dengan senyuman, ia juga belum menemukan jawabannya. Seperti ada magnet dalam diri Jillian yang menarik dirinya agar menatap wanita itu disaat mereka sedang berdekatan seperti ini.
Jika pribadinya masih seperti dahulu, mungkin ia tidak akan sungkan-sungkan untuk merayu dan mengajak Jillian ke atas ranjangnya. Bukannya besar kepala, Shane sangat mengetahui kemampuannya dalam menaklukkan pertahanan seorang wanita, tidak terkecuali seorang Jillian. Shane sadar betul bahwa dirinya cukup menarik perhatian Jillian. Berulang kali ia menangkap basah wanita itu mencuri pandang ke arahnya saat mereka berada di balkon, baik pagi ini atau pun tadi malam. Shane melihat dengan jelas gestur tubuh Jillian yang tidak nyaman saat berada di dekatnya. Artinya, kehadirannya memberi pengaruh pada diri wanita itu.
Namun, Shane juga tidak memungkiri bawa sejak melihat foto Jillian di kantor Yora, jantungnya bereaksi. Jillian wanita yang cukup menarik berdasarkan penampilan fisiknya. Sebagai lelaki normal, ia cukup tergoda ingin melancarkan aksinya untuk merayu Jillian, merasakan gadis itu. Tapi ia tahu ia tidak mungkin akan melakukannya. Shane sudah pensiun menjadi pria brengsek sejak dua tahun lalu, sejak Tuhan memberi kesempatan hidup kepadanya. Ia tidak akan mencemari hidupnya lagi disaat tubuhnya bukan lagi miliknya sepenuhnya.
Shane dengan segera menggelengkan kepala, mengenyahkan pikirannya dari kejadian mengerikan dua tahun lalu.
Kembali ia memusatkan perhatiannya pada wajah Jillian seraya memasukkan sendok ke dalam mulutnya. Ia mengamati Jillian secara blak-blakan dan penuh penilaian yang sudah lama tidak pernah ia lakukan. Sambil mengamati wajah Jillian, ia juga mengasah otaknya, mencoba mengingat wajah yang tidak begitu asing tersebut. Di mana ia bertemu dengan Jillian sebelumnya. Ia sangat yakin dengan hal itu.
Dengan mencermati Jillian dengan seksama, Shane berharap bisa mengingat pertemuan mereka. Jillian memiliki postur tubuh yang kecil dibandingkan wanita pada umumnya. Gaun sederhana yang dikenakan Jillian memperlihatkan kaki mulusnya yang ramping. Sinar matahari pagi memantul di wajah Jillian, menegaskan kulitnya yang halus dan bercahaya. Jillian tidak menggunakan riasan wajah dan Shane setuju jika wanita itu memang tidak membutuhkan riasan apa pun. Jillian sudah terlihat segar dan cantik meski tanpa dempulan make up.
Shane tidak bisa membayangkan jika Jillian adalah karyawan sebenarnya, di mana ia dan wanita itu diharuskan bertemu sepanjang hari. Shane tidak mungkin mengabaikan desiran gairah dalam dirinya. Jantung yang berpacu lebih kuat dari biasanya. Dan ini sangat amat mengganggunya. Jillian adalah ular berbisa yang sangat cantik. Ia harus mengingat hal itu. Jangan sampai ia lengah.
"Mau sampai kapan kau berdiri seperti itu?"
"Aku akan duduk setelah selesai melayanimu," Jillian masih menyunggingkan senyum indahnya.
"Aku tidak suka makan sendiri. Duduk dan ambillah sarapanmu."
Jillian menuruti permintaan Shane dengan langsung duduk dan menuangkan kopi untuk dirinya sendiri.
"Dengan makan bersama, akan lebih mudah bagimu melayaniku."
Jillian menganggukkan kepala, "Ya, aku di sini untuk melayanimu, membuat hidupmu lebih mudah," ucapnya sopan. Tapi Shane bisa melihat bahwa Jillian mengertak giginya, menahan kekesalan.
"Aku senang dilayani wanita cantik. Omong-omong, kau menyukai pilihan pakaian yang kusiapkan."
"Ya, terima kasih. Aku sangat tersanjung. Kukira aku akan mengenakan seragam pelayan seperti yang ada di dalam drama." Ini adalah suara hati Jillian yang sesungguhnya. Lebih memilih seragam pelayan daripada pakaian branded yang kurang bahan.
"Seragam pelayan tidak akan cocok untuk wanita cantik sepertimu."
"Well, kau sangat murah hati. Terima kasih. Tapi di mana aku bisa menemukan pakaian yang lebih layak untuk kugunakan ke kantor."
"Kau tidak membutuhkannya karena hari ini kita tidak akan ke kantor." Shane hampir tertawa melihat mimik wajah Jillian yang terkejut mendengar pernyataannya. Ia akan menyiksa Jillian dengan mengurung wanita itu di rumahnya sepanjang hari.
"Jadi kita akan beristirahat di sini sepanjang hari. Lupakan keramaian kota, lupakan pekerjaan, pemandangan di sini sangat indah. Ada pantai yang bisa kau gunakan untuk berjemur. Aku memiliki banyak tabir surya yang bisa dioleskan ke tubuhmu." Shane menyapukan pandangannya ke bahu Jillian yang terekspos.
"Aku menyukai kulitku, tidak berniat mengubahnya," tidak ada senyum menawan yang dipaksakan lagi. Suara Jillian juga terdengar sinis.
"Tapi aku ingin ke pantai, kau harus menemaniku, Jilly. Aku butuh seseorang untuk memegang handukku dan beberapa hal lainnya."
Shane melebarkan kedua sudut bibirnya, membentuk senyuman puas tanda kemenangan melihat hidung mancung Jillian kembang kempis.
Tujuan Shane adalah meruntuhkan ketenangan Jillian yang merupakan topeng belaka.
"Aku juga menyediakan bikini dan pakaian pantai lainnya. Kau bisa mengganti pakaianmu setelah kau menghabiskan sarapanmu." Shane tidak memberikan celah pada Jillian untuk menyela dan menolak perintahnya.
____
Jillian menarik napas kasar setelah ia berada di kamarnya. Pipinya terasa pegal karena harus tersenyum penuh drama di hadapan Shane. Jika Shane terus-terusan menuntut pelayanan kepadanya, kapan ia bisa melaksanakan aksinya. Pria itu tidak membiarkannya istirahat sama sekali.
"Kenakanlah pakaian yang membuatmu nyaman, Jilly. Bukan pakaian yang berpotensi menarik perhatian para pria."
Terdengar suara Shane dari kamar sebelah. Jillian mengatupkan bibirnya rapat-rapat, tidak ingin meladeni celotehan Shane. Tidakkah pria itu sadar bahwa pakaian yang tersedia, semuanya berpotensi menarik perhatian karena kurangnya bahan.
Jillian segera keluar dari kamarnya yang langsung disambut Shane dengan tatapan geli secara terang-terangan.
"Aku sangat yakin dan percaya dengan kecantikan yang kupancarkan tanpa mempertontonkan bagian tubuhku, Mr. Torres." Jillian kembali mengenakan pakaian yang ia gunakan saat sedang melakukan wawancara. "Aku sudah siap menemanimu. Silakan," Jillian mempersilakan Shane untuk berjalan mendahuluinya.
Sepanjang mereka berada di pantai, Shane memberikan begitu banyak perintah yang tidak masuk akal. Astaga, sumpah demi apa pun, mengurus tiga balita lebih mudah bagi Jillian dibandingkan satu bayi raksasa seperti Shane, pria egois. Satu-satunya pekerjaan yang belum ia lakukan adalah mengeringkan tubuh pria itu. Hanya untuk membuka botol minuman saja, pria itu membutuhkan bantuannya. Shane juga memintanya mengipasi tubuhnya. Benar-benar menguji kesabaran Jillian. Hampir-hampir ia mencekik leher Shane saat pria itu memejamkan mata menikmati kipasan yang ia berikan.
Dasar bayi raksasa egois! Tidurlah selamanya!
Shane membuka matanya, manik mereka beradu, kemudian Shane berkata dengan nada ditarik-tarik, "Jangan mengutukku di dalam hati hatimu, Jilly."
Manik Jillian membola sempurna karena terkejut.
"Ya ampun, kau sungguh mengutukku, Jilly?"