Yes, Boss

Yes, Boss
Selamat Malam



Shane dengan gembira melihat usaha Jillian untuk menyembunyikan kengerian mendengar pernyataan yang sama sekali tidak disangka wanita itu. Melihat usaha Jillian tersebut membuat Shane benar-benar merasa terhibur. Ini menyenangkan, lebih menyenangkan dari dugaannya. Rona merah di wajah Jillian jelas menunjukkan kemarahan, tetapi wanita itu berhasil mengendalikan diri.


Shane merasa kagum karena ketenangan Jillian yang tidak berubah meski berbagai macam emosi berkelebat di mata Jillian. Andai Shane tidak menemukan kesalahan pada CV wanita itu, ia tidak akan menyadari sikap aneh Jillian. Mungkin ia akan menganggap jika Jillian adalah gadis pendiam yang tidak mudah menunjukkan perasaan.


Shane sungguh penasaran sampai kapan Jillian bersembunyi. Shane akan terus mendesak Jillian sampai wanita itu keluar dari persembunyiannya. Ia tidak akan membiarkan seekor burung gagak betina bersarang di rumahnya dengan bebas sambil memata-matainya. Sepanjang perjalanan, Shane memikirkan kira-kira apa masalahnya dengan wanita gagak ini. Untuk mengetahui hal itu, Shane terpaksa mengorbankan privasinya dengan mengundang wanita itu ke rumahnya. Memberikan tugas-tugas yang tidak pernah Shane berikan kepada karyawan lainnya.


Jika Jillian datang untuk menggali informasi darinya, maka Shane juga melakukan hal yang sama. Kamera-kamera mikroskopik yang dipasang di seluruh penjuru rumah akan mengawasi setiap pergerakan gadis itu. Mengetahui Jillian tidak menyadari hal itu membuat Shane merasa menang, selangkah lebih unggul dari Jillian.


Awalnya, Shane bahkan ingin memasang kamera dengan mengaktifkan suara di kamar Jillian, namun ia mengurungkan niat tersebut karena menyadari ada batasan dalam beberapa hal. Dan alasan lainnya adalah Jillian wanita yang cukup mempesona yang mungkin saja bisa mempengaruhinya jika mendengar dan melihat apa yang dilakukan Jillian.


"Apa ada yang ingin kau tanyakan sebelum kita masuk ke dalam kamar masing-masing?" Shane melihat mata Jillian terlihat lelah. Hampir-hampir ia merasa bersimpati. Namun ia tidak akan melakukannya. Di matanya, Jillian tidak lebih dari seekor burung pemakan bangkai. Burung pemakan bangkai yang cantik, tetap saja pemakan bangkai. Shane tidak akan membiarkan dirinya terperdaya.


"Ada yang ingin kau tanyakan, Jilly?" ia mengulang pertanyaannya dengan nada lembut mendayu. Jika Jillian pikir bisa menjebak Shane dengan pesonanya, makan Shane juga akan menggunakan anugerah yang diberikan padanya untuk menjerat wanita itu. Bukankah wanita sangat lemah dengan omongan para pria yang sebagian besar merupakan omong kosong belaka.


"Tidak. Tidak ada yang ingin kutanyakan," Jillian menggelengkan kepala.


"Baiklah, selamat beristirahat, Jilly." Shane mengeluarkan jurus mautnya, menampilkan senyum malaikat yang begitu menawan. "Seperti yang sudah kujanjikan sebelumnya, Yora sudah mengirim semua keperluanmu sesuai ukuran yang kau katakan. Kuharap kau menyukainya. Semuanya ada di dalam lemari." Tanpa menunggu respon dari Jillian, Shane menarik pintu penghubung tersebut. Tersenyum penuh arti membayangkan reaksi Jillian ketika melihat semua pakaian-pakaian yang dipilihnya untuk wanita itu. Pakaian musim panas.


Kesenangannya dengan Jillian baru saja akan dimulai!


___


Senja sudah pergi berganti dengan malam. Yang dilakukan Jillian hanya duduk sejak kakinya mendarat di lantai kamar yang akan menjadi daerah kekuasaannya untuk waktu yang tidak ditentukan. Ia seperti patung hidup, memaksa otaknya bekerja bagaimana caranya ia bisa menyelesaikan misi ini dengan cepat.


Otaknya benar-benar tidak bisa bekerja. Bagaimana bisa bekerja jika telinganya fokus mendengar pergerakan di kamar sebelah dimana hanya pintu yang menjadi pembatas keduanya.


Jilly berdiri, melangkahkan kaki secara perlahan di lantai keramik menuju pintu yang tidak memiliki kunci. Menempelkan telinga di daun pintu. Tidak ada yang terdengar selain debaran jantungnya.


Meski tidak mendengar suara apa-apa, Jilly tetap tidak memiliki keberanian untuk mandi. Reputasi buruk Shane yang bersangkutan dengan wanita membuatnya harus tetap waspada. Shane benar mengatakan bahwa ia tidak akan masuk ke kamar wanita jika tidak diundang, Jilly tahu bahwa mulut tidak akan terbakar hanya karena menyebut api.


Tubuhnya sudah lengket dan berkeringat. Jilly tidak akan bisa tidur sebelum mandi. Ia harus memastikan Shane tidur dengan nyenyak, baru lah ia akan mandi. Pertanyaannya, jam berapa Shane akan tidur? Mungkin saja pria itu tidak tidur sama sekali. Bukankah para pria yang gila kerja tidak memiliki waktu tidur berkualitas.


Jilly kembali menatap pintu penghubung yang tidak dikunci. Tergoda ingin menerjang masuk ke kamar Shane dengan harapan ia menangkap basah pria itu bercinta dengan liar dan sadis bersama salah satu koleksi wanitanya.


Skandal seksual adalah rahasia yang paling mudah terkuak. Dulu, mengetahui siapa wanita yang dikencani Shane dalam satu waktu adalah hal yang sangat mudah. Semudah saat menikmati kacang sambil menonton bola. Tapi sekarang berbeda, entah apa yang terjadi pada Shane Hamilton Torres, hubungan percintaan dan kegilaannya terhadap wanita mulai jarang terekspos. Pria itu kini melakukannya secara diam-diam. Jillian yakin itu.


Cahaya remang rembulan masuk melalui jendela tinggi dan kirai pintu balkon yang belum ditutup. Tergoda ingin memandang keluar, Jilly melintasi ruangan. Ia butuh udara untuk menyejukkan hati dan pikirannya.


Jillian menarik tirai dan terkesiap dengan pemandangan malam yang tersaji. Kamar itu memiliki balkon pribadi. Ia melangkah ke balkon, disambut sinar bulan dan bintang.


"Selamat malam, Jilly,"


Suara dalam dan ceria itu mengejutkan Jillian. Sontak saja ia menoleh. Ia begitu takjub dengan pemandangan langit malam dimana bulan menjulang tinggi menyinari semesta hingga tidak sadar bahwa balkon itu terlalu luas untuk dinikmati sendiri olehnya.


Jillian mencengkram kuat pagar balkon begitu menyadari pemandangan lain yang membuat seluruh tubuhnya tersengat aliran listrik.


Dengan rambut basah dan hanya mengenakan celana pendek hitam yang menggantung rendah di pinggul, Shane berjalan mendekat, berdiri di samping Jillian. Jillian menahan napas, merutuki Shane dengan umpatan yang ia tahu. Di balik umpatan yang ia lontarkan diam-diam, ia juga tidak bisa menghentikan hatinya untuk memuji otot-otot yang begitu sempurna.


"Malam yang indah, bukan?"


Jillia tidak lantas menjawab. Ia sibuk menyesali dirinya yang menoleh menatap pria itu. Jillian kembali memalingkan wajah, menatap pemandangan di depannya. Namun, pemandangan sinar bulan yang begitu indah yang tadi membuatnya terkesiap, kini terasa berbeda. Fokusnya sudah tidak sama. Meski sudah tidak melirik ke arah Shane, tapi hidungnya masih bisa mencium dengan jelas aroma citrus gel mandi yang digunakan pria itu.


"Tadinya begitu," akhirnya Jilly berhasil mengeluarkan suara.


Mendengar jawaban Jilly, Shane tertawa rendah. "Sepertinya kehadiranku tidak diharapkan."


Jilly tidak menanggapi, otaknya sedang berpikir bagaimana ia harus pergi dari balkon. Apa yang harus ia katakan.


"Kau belum mandi?"


"Apakah ada aturan lain yang kulewatkan? Misalnya, aku harus mandi berapa kali dalam satu hari?"


Shane kembali tertawa, "Tidak, kau hanya cukup menyambutku dengan riang. Parasmu yang cantik akan membuat para pria mengabaikan kemalasanmu tentang mandi, dan omong-omong...." Shane secara mendadak mencondongkan tubuh ke depan, bertingkah layaknya chihuahua, mengendus aroma Jillian.


"Wangimu manis, enak."


"Kuanggap itu pujian. Selamat malam, Shane." Jillian melenggang santai, meninggalkan Shane yang terkejut dengan cara wanita itu menyebut namanya. Terdengar begitu berbeda. Merdu dan menggelitik.