Yes, Boss

Yes, Boss
Negosiasi Yang Gagal



"Ba-bayi raksasa? Itukah sebutanmu padaku? Ba-bayi raksasa?!" Shane terlihat syok.


Baru kali ini ia mendapat sebutan menggelikan seperti itu dari seorang wanita. Yang biasa ia dengar adalah kata-kata memuja yang selalu terlontar dari mulut para pengagumnya. Shane, kau lah Jagoanku. Shane, kau bandit sekali! Ouh, Shane, priaku yang menggairahkan. Shane! Rupamu sangat tidak manusiawi, tolong puaskan aku!


Semua memuji fisik dan kemampuannya. Tidak ada yang meragukannya dan memang Shane tidak akan membiarkan orang lain meragukannya.


Hari ini, seorang wanita yang pelit akan senyuman, menyamakannya dengan bayi! Oh Tuhan, apa yang bisa dilakukan seorang bayi selain mengoceh meminta dilayani. Ya, benar! Pointnya itu, Shane!


Seketika pria itu terbatuk-batuk setelah mendapat bisikan yang entah dari mana asalnya.


"Hanya karena kau melayaniku sehari, kau menyebutku bayi?!" Shane benar-benar tidak percaya ia akan menerima istilah menggelikan itu. Antara terima tidak terima.


"Hampir 48 jam aku melayanimu." Jilly menyahut dengan tenang. Ketenangan yang mampu membuat Shane sedikit emosi.


Sejak kapan? Kata itu kembali menyelubung dengan lantangnya. Sejak kapan emosinya bisa dipermainkan seorang wanita. Wanita asing yang baru ia kenal dalam hitungan hari.


"Dan hanya karena hitungan jam tersebut lantas kau merasa layak memberiku sebutan."


"Kurasa mulutku adalah milikku sepenuhnya."


Ucapan Jilly justru mengundang Shane melirik ke bibir wanita itu. Otak liar pria itu seketika aktif. Bagaimana kira-kira rasa bibir Jillian?


"Ini tidak adil." Shane bergumam malas, segera mengalihkan fokusnya sebelum ia menyerang Jillian hanya karena ingin mengetahui rasa bibirnya. Bisa-bisa Jillian menambah sebutannya. Bayi raksasa mesum! Sejak kapan bayi bisa berbuat mesum?


"Aku sudah menjelaskan bahwa aku bukan pria yang tidak bisa menuangkan teh ke dalam cangkirnya sendiri. Ingat, aku hanya dengan sengaja mengerjaimu."


"Dan itu tidak lucu!"


"Caramu menyusup ke kantor bahkan rumahku juga tidak lucu."


"Aku salah faham."


"Ya, kau memang selalu salah faham."


"Sekarang, apa sebenarnya yang sedang kita bahas."


"Sebutanmu kepadaku."


Jillian memutar bola matanya dengan jengah.


"Aku tetap tidak bisa menerima tawaranmu untuk menjadi pengasuh, tapi aku akan berusaha mengembalikan uangmu."


"Aku akan segera membayarnya!"


Shane mengulumm senyum melihat pupil Jillian yang bergetar. Shane dengan mudah mengetahui jika wanita itu tidak memiliki uang sebanyak yang dikeluarkan Shane pada Daisy.


"Aku bertanya, kapan waktunya?"


"Secepatnya, segera!"


"Hm,"


"Apa arti gumaman itu. Berbicaralah dengan jelas."


"Itulah yang kau lakukan sejak tadi. Kau mengatakan ingin mengambil kembali bayimu tapi kau tidak mengatakan dengan jelas kapan kau akan mengembalikan uangku."


"Kau tidak percaya padaku?!"


Shane menggaruk hidung, menatap Jillian dengan tatapan geli yang dibuat-buat. "Memangnya kau siapa, Miss Nelson, ah, maksudku Mrs. Nelson."


"Aku tidak akan kabur hanya karena utang."


"Apa susahnya mengumbar janji. Bukankah itu memang keahlian para wanita. Manis dalam merayu pada akhirnya melupakan apa yang terucap."


"Sepertinya kau sedang menceritakan pengalaman pahitmu tentang wanita. Sorry, aku tidak tertarik mendengar kisahmu."


Terdengar tawa rendah yang begitu menggelitik. Entah dimana letak kalimat Jillian yang terdengar lucu sehingga pria itu tertawa.


"Sayang sekali, jika kau berkenan mendengarkannya mungkin aku akan berbaik hati menghanguskan utangmu."


"Kau kira aku anak kecil yang bisa kau bodohi dengan iming-iming satu buah permen."


"Tidak ada anak kecil yang memiliki lekukan tubuh yang indah sepertimu, Jilly." Shane dengan sikap kurang ajar yang ditunjukkan secara terang-terangan melemparkan pandangan menilai yang seolah mampu menelanjangii Jillian.


"Kemana matamu melihat, brengsek?"


"Di mataku, kau tidak terlihat seperti anak kecil sama sekali dan aku tidak pernah memberi iming-iming kepada seorang anak kecil." Shane mengidikkan bahu dengan tidak acuh. Pun ia berdiri dati kursinya yang diikuti Jillian dengan segera.


"Aku tidak bisa memberikan Sal kepadamu sebelum uangku kembali." Shane mencondongkan tubuhnya secara tiba-tiba, Jillian hampir jatuh karena bergerak secara refleks. "Aku sangat perhitungan dengan orang luar yang bersikap sinis kepadaku dan aku juga tidak mempercayaimu meski kau sangat manis. Selamat malam," Shane dengan lancangnya mendaratkan bibirnya di pipi kiri Jillian, membuat gadis itu sontak cegukan dan Shane mengabaikannya begitu saja dengan meninggalkan Jillian dengan cegukannya.