Yes, Boss

Yes, Boss
Saling Bermain Peran



"Jangan mengutukkan di dalam hati hatimu, Jilly."


Manik Jillian membola sempurna karena terkejut.


"Ya ampun, kau sungguh mengutukku, Jilly?" mata Shane berkilat-kilat geli.


Sosok seperti Jillian sebenarnya bukanlah orang yang mudah ditebak jika tidak diperhatikan dengan seksama dan benar-benar teliti. Dan Shane juga baru tahu jika dirinya memiliki kemampuan menebak isi pikiran seseorang. Ia mungkin saja mengenal Jillian sebelumnya, tapi menebak apa yang sedang dipikirkan seseorang bukanlah hal yang biasa ia lakukan. Ia tidak peduli tentang penilaian, makian, umpatan seseorang kepadanya. Tapi, jika Jillian yang melakukannya ia peduli. Wanita asing yang terasa tidak asing itu entah kenapa Shane merasa ada ikatan diantara mereka yang tidak bisa ia jelaskan.


Baginya, Jillian begitu dekat tapi sulit untuk dijangkau. Sesaat ia merasa sangat mengenal Jillian, sesaat ia merasa sangat asing. Jillian penuh dengan teka teki yang memaksanya berpikir dengan keras untuk menemukan jawaban yang tepat.


Namun, dari semua kebingungan dan tanda tanya tersebut, Shane tidak memungkiri bahwa ia menikmati kebersamaan yang baru berlangsung selama hitungan jam. Wajah cantik Jillian membuat matanya segar. Tingkah laku Jillian menjadi hiburan tersendiri baginya.


"Jangan membenciku, Jilly," ucapnya secara asal.


Jillian kembali menunjukkan reaksi terkejut. Wanita itu tersentak, menarik tangannya yang mengipas-ngipas menjauh dari atas wajah Shane. Shane yang tidak serius dengan ucapannya tadi, terang saja dibuat bingung. Ia juga terkejut menemukan wajah Jillian yang seolah menegaskan bahwa benar jika Jillian sangat membencinya. Teka teki semakin bertambah. Mengapa Jillian membenciku? Pikiran itu membuat jantungnya berpacu lebih cepat seakan tidak menerima kebencian wanita itu.


"Aku tidak mengutukmu. Aku tidak menguasai seni mengumpat atau pun memaki."


"Oh yeah?" Shane menukik sebelah alisnya dan seperti biasa, ia menyunggingkan senyum geli yang terkesan meremehkan. Percayalah, ia sangat mahir melakukan hal itu, membuat ekspresi menjengkelkan yang bisa membuat gula darah seseorang melonjak.


"Aku tidak salah menyukaimu kalau begitu. Selain gesit, kau juga sangat sopan. Memaki dan mengumpat memang tidak cocok denganmu. Kutebak kau juga tidak suka main belakang."


"Main belakang?" pupil Jillian melebar, tersirat kemarahan di sana.


"Ya, main belakang. Seperti mengutuk dalam hati. Menyusun rencana tanpa sepengetahuanku untuk menyerangku atau mungkin bergosip tentang keburukanku di belakangku. Main belakang seperti itu yang kumaksud, Jilly. Memangnya main belakang seperti apa yang kau pikirkan."


"Ah!" Shane menjentikkan jarinya sebelum Jillian sempat membuka mulut untuk membalas pertanyaan nyelenehnya yang memang sangat ambigu. "Otakmu sangat bersih dan polos, tidak mungkin kau memikirkan hal-hal yang jorok, bukan?"


Semua kata-kata yang dilontarkan Shane, sejujurnya terdengar sangat sarkas. Jillian pun sepertinya sangat menyadari hal itu. Terbukti dari gestur tubuhnya yang bergerak tidak nyaman.


"Kurasa apa yang kita bahas ini bukan bagian dari tugasku."


Dan ular berbisa yang sangat cantik ini sangat pintar berkelit untuk menyelamatkan diri. Shane membatin.


"Tentu saja. Ambilkan aku minum,"


"Baik, Sir."


Saat Jillian mengulurkan gelas kepadanya, Shane menolak untuk menerima. Pria itu hanya bergeming. Ya, ia sangat menikmati perannya sebagai pria manja yang pemalas. Saat tadi pagi ia mengurungkan niatnya untuk meminta Jillian menyuapinya demi melihat senyum riang di wajah wanita itu pupus. Saat ini, karena mengetahui bahwa asisten pribadinya tersebut sangat membencinya, ia akan menyiksa Jillian dengan hukuman yang menggelikan ini.


"Minuman Anda, Sir."


"Kedua tanganku sedang sibuk, Jilly." Shane mengangkat kedua tangannya yang menggenggam ponsel. "Tapi aku sangat haus, tenggorokanku benar-benar terasa sangat kering."


Jillian langsung mengubah posisi duduknya dengan lebih dekat ke kepala Shane. Tanpa berkata apa-apa, hanya dengan senyuman palsu penuh sandiwara, Jillian mendekatkan sedotan ke mulut Shane, Shane masih tidak bergerak sama sekali.


Jillian berdehem, pipinya merah merona dan Shane hampir meledakkan tawanya karena merasa menang. "Maaf, kau harus membuka mulutmu agar sedotannya bisa masuk."


Shane membuka mulutnya, menyedot minumannya tanpa mengalihkan tatapannya dari Jillian yang memalingkan wajah darinya.


"Aku akan mengipasimu."


"Terima kasih, Jilly." Shane memasang wajah terharu yang dibuat-buat.


"Sudah menjadi tugasku memastikan kenyamananmu, Sir."


Shane tersenyum lebar, memamerkan gigi putih cemerlangnya yang mengundang tanya di benak Jilly, pasta gigi seperti apa yang digunakan Shane hingga menciptakan deretan gigi yang begitu putih dan rapi.


"Kuharap kau juga tidak keberatan untuk membaca beberapa artikel untukku." Shane memberikan tabletnya tanpa menunggu jawaban dari Jillian. Ia akan membuat Jillian kebosanan setengah mati. Artikel-artikel finansial bukanlah bacaannya yang menyenangkan.


"Kau langsung menyodorkan tabletmu, artinya kau tidak ingin mendengar penolakan, Mr. Torres."


Shane mengangguk, biasanya ia sangat kesal dengan seseorang yang memanggilnya dengan sebutan yang berubah-ubah, tetapi saat Jilly yang melakukannya, justru terdengar sangat menyenangkan. Bagi Shane itu bukti bahwa Jillian sangat waspada dengannya.


"Tidak ada boss yang menyukai penolakan, Jilly."


Shane ingin mendengar bantahan lagi dari asistennya tersebut, tapi Jillian tipikal wanita yang penuh perhitungan. Wanita itu tahu kapan ia harus menyerang dan kapan akan berhenti. Dan Jillian memilih mulai membaca artikel membosankan tersebut dengan mimik riang seakan-akan dia sedang membaca undian dimana namanya tertulis sebagai pemenang.


Setelah setengah jam, Jillian mengakhiri tugasnya dan mengembalikan tablet tersebit kepada Shane.


"Siapkan pakaian dan air mandiku."


"Baik, akan segera kusiapkan. Kau ingin air mandi dengan suhu seperti apa? Super panas atau super dingin?"


Shane terdiam sejenak, di samping dendam rahasia yang disembunyikan Jillian terhadapnya, wanita itu juga benar-benar melakukan tugas dengan baik, dengan memikirkan kenyamanan juga kebutuhannya. Apakah ini juga bagian dari akting? Ya, Shane menganggap demikian.


"Bagaimana jika kau membuatnya sesuai kesukaanmu."


"Baik."


Shane memperhatikan punggung Jillian yang menjauh meninggalkannya. Kegembiraan berdesir di setiap pembuluh darahnya. Shane benar-benar tidak ingat kapan terakhir kali ia bersenang-senang saat seperti sekarang ini. Cara Jillian melayaninya seolah-olah wanita itu terlahir memang untuknya, untuk melayaninya. Dan tekad Jillian yang berakting memainkan perannya sama menyenangkan untuk disaksikan.


Shane harus memastikan bahwa Jillian akan mendapat penghargaan begitu semua ini berakhir.


Berakhir?


Senyum di wajah Shane pupus seketika. Ia tidak menyukai kata itu.


Apa yang terjadi? Apakah aku juga sudah mulai menikmati peran sebagai playboy manja?


Peran yang tidak pernah atau pun ingin dimainkannya meskipun ia sangat kaya.


Apakah karena Jilly yang memainkan peran sebagai budak, peran pria manja yang pemalas ini terasa sangat menyenangkan?


Shane beranjak, mengenyahkan pertanyaan-pertanyaan bodoh itu dari benaknya. Jika ada yang harus kalah dalam drama ini, ia harus memastikan bahwa orang tersebut bukanlah dirinya.